Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PEMBARUAN VISUAL LOGO HTII SEBAGAI UPAYA REBRANDING ORGANISASI PROFESI NON PROFIT Amalia Setyowulan; Endah Setyaningsih; Asrullah Ahmad
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v3i2.10095

Abstract

Professional organization is a forum for the scientific community in a branch or across science and technology, or a field of professional activity guaranteed by the state to develop professionalism and professional ethics in society [1]. Some of the well-known professional organizations include the Indonesian Doctors Association (IDI), the Indonesian Teachers Association (PGRI), the Indonesian Architects Association (IAI). There are also specific professional organizations, including the Indonesian Interior Design Association (HDII), the Association of Indonesian Landscape Architects (IALI), and the Indonesian Illuminating Engineering Society (HTII). HTII was founded on 7 May 1991 in Jakarta, and is the only forum in the lighting sector in Indonesia. Currently HTII members are more specific, namely the professional circles of illuminating engineering. This is evidenced by the HTII social media which only has 213 followers, for some people this figure does sound a lot, but for an organization that was founded in 1991 this figure is felt to be very small. This can then become the basis for HTII to make efforts to introduce the name, image of the organization and vision mission that has been carried for a long time, in order to expand the network both from professionals, prospective young professionals and nonprofessionals who are interested in knowledge lighting. Rebranding is necessary because HTII already has a logo and visual identity but does not have other supporting media. On the other hand, the logo from HTII is also considered to lack good clarity in legibility in a certain size scale. For this reason, in this PKM, one of the rebranding efforts is to create a new logo design for HTII. Currently, 5 new logo designs have been produced, which are ready to be defined ABSTRAK:Organisasi profesi, merupakan wadah bagi masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas ilmu pengetahuan dan teknologi, atau suatu bidang kegiatan profesi yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat [1]. Beberapa organisasi profesi yang sudah banyak dikenal antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Terdapat juga organisasi profesi yang spesifik, antara lain Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII), Ikatatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII). HTII didirikan pada 7 Mei 1991 di Jakarta, dan merupakan satu-satunya wadah di bidang pencahayaan di Indonesia. Saat ini anggota HTII lebih ke kalangan spesifik saja yaitu kalangan profesional teknik iluminasi. Hal ini dibuktikan dengan media sosial HTII yang hanya memiliki 213 followers, bagi sebagaian orang angka ini memang terdengar banyak, namun bagi organisasi yang berdiri dari tahun 1991 angka ini dirasa sangat sedikit. Hal ini kemudian bisa untuk menjadi dasar bagi HTII untuk melakukan upaya dalam mengenalkan nama, citra organisasi dan visi-misi mulia yang diusung sejak lama, agar bisa memperluas jaringan baik dari kalangan profesional, professional muda dan non profesional yang tertarik akan ilmu pencahayaan. Rebranding diperlukan karena HTII sudah mempunyai logo dan identitas visual namun belum memiliki media-media pendukung lain. Di sisi lain logo dari HTII juga dianggap kurang memiliki clarity yang baik secara keterbacaan dalam skala ukuran tertentu. Untuk itu dalam PKM ini, salah satu upaya rebranding adalah dengan membuat desain logo baru untuk HTII. Saat ini telah dihasilkan 5 desain logo baru, yang siap untuk ditetapkan.
ROBO SOCCER SEBAGAI MEDIA EDUKASI PENGENALAN TEKNOLOGI ROBOTIKA PADA SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Yohanes Calvinus; Endah Setyaningsih
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.121 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8047

Abstract

Robotics technology has now become a technological requirement for all students, both at the elementary school, junior high school and high school level. In fact in some private and public schools the need for education in robotics technology is only a discourse and cannot be realized properly. Many of these schools are trying to work with several agencies providing private education services for robotics. The lack of human resources and knowledge about robotics among high school students has caused these students to not know or lack in participating in the event that should have been the driving force behind the industrial revolution 4.0 about automation and robotics. Even in Jakarta there are not many competitions in the form of robotics competitions that can be participated by high school students. The community engagement team at Tarumanagara University conducted workshops and robot competitions in the form of robo soccer, which also functioned as a media for robotics technology education for high school students. High school students are introduced to robot components in the form of electrical and mechanical components, also about programming. Students are also asked to assemble these components and the results are in the form of robo soccer. These high school students are very happy and enthusiastic about this activity, because curiosity about robots can be achieved. Students from various schools are also active in participating in the Edurobocup Contest organized by the Electrical Engineering study program at Tarumanagara University. It is hoped that this activity can be routinely carried out every year, so that robotics technology can be known while students are still in high school.ABSTRAK:Teknologi Robotika saat ini telah menjadi suatu kebutuhan teknologi bagi seluruh pelajar, baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Menengah Atas. Kenyataannya di beberapa sekolah swasta dan negeri kebutuhan pendidikan akan teknologi robotika ini hanya menjadi wacana dan belum dapat terealisasi dengan baik. Banyak sekolah-sekolah tersebut berusaha bekerjasama dengan beberapa instansi penyedia jasa pendidikan swasta untuk robotika. Minimnya sumber daya manusia dan pengetahuan tentang robotika di kalangan siswa SMA menyebabkan siswa tersebut tidak tahu ataupun kurang dalam mengikuti ajang yang seharusnya menjadi pendorong kemajuan revolusi industri 4.0 tentang otomasi dan robotika. Bahkan di Jakarta belum banyak kompetisi berupa perlombaan robotika yang dapat diikuti oleh siswa SMA. Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Tarumanagara melakukan workshop dan lomba robot berupa robo soccer, yang sekaligus difungsikan sebagai media edukasi teknologi robotika bagi siswa SMA. Siswa SMA dikenalkan tentang komponen robot yang berupa komponen elektrik dan mekanik, juga tentang pemrograman. Siswa juga diminta merakit komponen-komponen tersebut dan hasilnya berupa robo soccer. Siswa SMA ini sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini, karena keingintahuan tentang robot dapat tercapai. Siswa dari berbagai sekolah juga aktif dalam mengikuti Lomba Edurobocup yang diselenggarakan oleh program studi teknik elektro Universitas Tarumanagara. Diharapkan kegiatan ini dapat rutin dilakukan tiap tahun, sehingga teknologi robotika dapat dikenal saat siswa masih di SMA
PENCAHAYAAN KANDANG SAPI DI PETERNAKAN SAWALAKSA BUANA DESA CIMAUNG, JAWA BARAT Endah Setyaningsih; Yohanes Calvinus; Hadian Satria Utama; Alfina Putri Mulyo
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i2.12933

Abstract

Sawalaksa Buana Farm was established in 2015, in Cimaung village, West Java. The area is about 1200 m2, there are two cages in the area. The first cage was used as a feedlot with a capacity of 24 bulls. The second cage, used as a cow shed for breeding, has a capacity of 20 cows. Another area is a cattle feed warehouse and a fermentation area for making feed. Cow food is the result of processing corn stalk waste by fermentation, and the Sawalaksa Buana farm produces this food. Corn stalk waste is obtained from farmers around the farm. The lighting system in the enclosure and the surrounding environment uses LED bulbs, 28 watts of power. Installation of lights in the area around the cage without using a lamp housing, both for the inside and outside/the environment. In accordance with the shape of this LED lamp, its use is more appropriate for the inside of the room, but in this farm, besides being used for the cage area, it is also used for the outside, namely the environment and around the road. The partners' problems are lack of understanding in the selection and placement of LED lights, already using LED lights, but lack of detailed specifications, selection of shapes and lamp housings that are not appropriate for lighting around the cage and for the area around the road. The solution offered is in the form of retrofitting lights on the cowshed and its environment to optimize the use of LED lights and lamp housings. The method of implementing PKM is in the form of field surveys, analyzing and replacing lamps and lamp houses in cattle pens and their environment. The results obtained from the lighting of the cage can be optimized, namely by using the type of lamp according to its designation, the use of the lamp housing and the selection of the appropriate lamp power. Thus, the purpose of implementing this PKM can be fulfilled.ABSTRAK:Peternakan Sawalaksa Buana berdiri tahun 2015, di desa Cimaung, Jawa Barat. Luas area sekitar 1200 m2, terdapat dua kandang di area tersebut.  Kandang pertama dipakai sebagai kandang penggemukan berkasipasitas 24 ekor sapi jantan. Kandang kedua, dimanfaatkan sebagai kandang sapi betina untuk pembibitan/breeding, berkapasitas 20 ekor sapi betina. Area lain berupa gudang makanan sapi dan area fermentasi pembuatan pakan. Makanan sapi berupa hasil pengolahan limbah batang jagung dengan cara difermentasi, dan makanan ini diproduksi sendiri oleh peternakan Sawalaksa Buana. Limbah batang jagung diperoleh dari petani sekitar peternakan. Sistem pencahayaan pada kandang dan lingkungan sekitarnya menggunakan lampu bohlam LED, daya 28 watt. Pemasangan lampu pada area sekitar kandang tanpa menggunakan rumah lampu, baik untuk bagian dalam dan luar/lingkungan. Sesuai dengan bentuk lampu LED ini, penggunaannya lebih tepat untuk ruangan bagian dalam, namun di peternakan ini, selain digunakan untuk area kandang, juga untuk bagian luar yaitu lingkungan dan sekitar jalan. Permasalahan mitra adalah kurang paham dalam pemilihan dan penempatan lampu LED, sudah menggunakan lampu LED, namun spesifikasi kurang detil, pemilihan bentuk dan rumah lampu yang kurang tepat untuk pencahayaaan sekitar kandang dan untuk area sekitar jalan. Solusi yang ditawarkan berupa retrofit lampu pada kandang sapi dan lingkungannya untuk mengoptimalkan penggunaan lampu LED dan rumah lampu. Metode pelaksanaan PKM berupa survei lapangan, menganalisis dan penggantian lampu dan rumah lampu pada kandang sapi dan lingkungannya. Hasil yang diperoleh pencahayaan kandang dapat dioptimalkan, yaitu dengan penggunaan jenis lampu sesuai peruntukannya, penggunaan rumah lampu dan pemilihan daya lampu yang sesuai. Dengan demikian tujuan pelaksanaan PKM ini dapat terpenuhi
Analisis Pencahayaan Malam Hari Terowongan Pasar Rebo Jakarta Timur Endah Setyaningsih; Jeanny Pragantha
TESLA: Jurnal Teknik Elektro Vol 19, No 1 (2017): TESLA: Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.674 KB) | DOI: 10.24912/tesla.v19i1.308

Abstract

Pencahayaan terowongan harus dirancang dengan baik, karena salah satu manfaatnya adalah untuk menjamin keselamatan dan keamanan pengguna kendaraan bermotor yang melewati terowongan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan memberikan tingkat pencayahaan yang cukup di dalam terowongan baik pada siang hari maupun malam hari. Pencahayaan yang baik bila memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pencahayaan (iluminansi) dan luminansi terowongan Pasar Rebo yang ada di Jakarta Timur, selanjutnya akan dievalusi dan diberikan rekomendasi mengenai sistem pencahayaan terowongan yang diperlukan. Metode pelaksanaannya adalah dengan melakukan pengukuran luminansi dan iluminansi  pada permukaan jalan di dalam terowongan. Hasilnya diperoleh bahwa luminansi dan iluminansi malam hari pada terowongan Pasar Rebo jauh melebihi dari standar SNI, demikian juga dengan tingkat kerataan pencahayaan di permukaan jalan yang kurang baik. Sementara itu pencahayaan jalan sebelum maupun sesudah terowongan Pasar Rebo mempunyai iluminansi dan luminansi yang telah memenuhi standar SNI, yaitu antara 15 lux – 20 Lux. Akibatnya bila pengendara akan memasuki terowongan Pasar Rebo pada malam hari akan mengalami kekaburan mata beberapa saat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan di terowongan belum memberikan performansi pencahayaan terowongan yang baik untuk pencahayaan malam hari.
Pengaruh Distorsi Harmonik pada Compact Fluorescent Lamps Endah Setyaningsih; Hang Suharto; Christian Christian
TESLA: Jurnal Teknik Elektro Vol 18, No 2 (2016): TESLA: Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.034 KB) | DOI: 10.24912/tesla.v18i2.299

Abstract

Lampu CFL adalah salah satu beban non-linier yang menggambarkan gelombang yang terdistorsi yang mengandung harmonik. Harmonik adalah perkalian integer secara periodik terhadap frekuensi fundamental. Harmonik-harmonik yang timbul tersebut dapat memperburuk kualitas dari lampu CFL, salah satu akibatnya adalah memperpendek umur lampu tersebut karena overheating yang terlalu berlebihan. Harmonik-harmonik yang timbul tersebut dapat dihitung dengan Total Harmonic Distortion. Penelitian ini membahas mengenai pengaruh distorsi harmonik pada lampu CFL, serta membuat Low Pass Filter untuk mereduksi nilai THD. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian pengaruh nilai  terhadap nilai faktor daya, perbandingan nilai THD, faktor daya dan iluminasi lampu mahal dengan lampu murah. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, nilai  memiliki pengaruh negatif terhadap nilai faktor daya. Nilai THD dan faktor daya pada lampu mahal tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan lampu murah, sedangkan nilai iluminasi pada lampu mahal memiliki perbedaan yang signifikan dengan lampu murah. Nilai  dan iluminasi pada lampu yang belum dipasangi filter lebih besar dari lampu yang sudah dipasangi filter, dan filter berhasil mereduksi 88,03% nilai  dari lampu CFL.
PEMBUATAN WEBSITE SEBAGAI SARANA UNTUK MEMPROMOSIKAN ORGANISASI PROFESI Jeanny Pragantha; Endah Setyaningsih; Sacchio Orlando; Harley Leo Liman
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.024 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17699

Abstract

HTII (Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia or Indonesian Illuminating Engineering Society) is a professional organization whose members are people who meet qualifications in the field of illumination based on education, experience, and expertise in the lighting field and who have great interest in this field. This organization was founded on May 7, 1991 in Jakarta by Ir. T W Simbolon, MSc and Ir. Ketut Kontra, MSc. One of the visions and missions of HTII is the implementation of the construction and management of illumination facilities by Indonesian workers and cooperating with related institutions, associations/organizations, and industries, either directly or indirectly, either nationally or internationally. At the age of 30, not many people know about this organization. Social media Instagram is the only way to inform HTII's activities to public. With only 318 followers, it shows that this organization is less well known to the public. The HTII website was designed which aims to introduce and promote HTII activities to the general public. To create an HTII website, it is necessary to prepare hardware that can run the website to be created, namely Shared hosting that supports PHP and MySQL databases as well as software with minimum specifications, namely MySQL Database version 5.7; PHP version 7, the latest web browsers such as Google Chrome, Firefox, Safari, and the like. The HTII website can be accessed at: http/htii.or.id. With this website, it is hoped that HTII can be better known to the public through the information displayed and website users can relate to HTII.
PERANCANGAN WEBSITE SEBAGAI MEDIA INFORMASI UNTUK ASOSIASI PROFESI HIMPUNAN TEKNIK ILUMINASI INDONESIA Endah Setyaningsih; Jeanny Pragantha; Amalia Setyowulan; Asrullah Ahmad
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.844 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17752

Abstract

A profession ideally has a professional association, which can be a space for professionals with certain scientific fields and disciplines to carry out activities in accordance with scientific disciplines and ethics. The formation of associations is carried out legally and has clear recognition from the government. Professional associations that aim to become a forum for the professional community should have several alternative information media as an extension of the organization's arm for professionals and the public. Some of the information media that are currently widely used are web pages, Instagram, and YouTube. The Indonesian Illuminating Engineering Society (HTII) is one of the professional associations whose existence has been sufficiently recognized in Indonesia. Established on 7 May 1991 in Jakarta, until now it is still very active in various activities in the field of illumination. The development of HTII is not followed by the presence of information media that can be reached by many people, one of which is the existence of a web site. HTII once had a website page, but there was no continuous improvement, so there was no website page. For this reason, the purpose of implementing this PKM is to create a website page. The existence of a website is a form of communication and information for members and for online registration of new members. This PKM implementation method is in the form of designing a website design, while the program is carried out by other PKM implementers, so that a complete HTII website is formed. The design of the HTII website page uses a design thinking approach in designing the User Interface. Later this website will then be tested heuristically to people who are experts in the field of information and technology. In this activity, a dummy design draft has been produced in the form of an interface page in the form of an offline visual template which is in the program process stage towards a prototype in the form of an interactive page. Suatu profesi idealnya memiliki asosiasi profesi, yang bisa menjadi ruang bagi kalangan professional dengan bidang keilmuan dan disiplin tertentu untuk berkegiatan sesuai dengan disiplin dan etika keilmuan.  Pembentukan asosiasi dilakukan secara legal dan pengakuan yang jelas dari pemerintah. Asosiasi profesi yang bertujuan untuk menjadi wadah bagi masyarakat profesional sebaiknya memiliki beberapa alternatif media informasi sebagai perpanjangan tangan organisasi bagi profesional dan masyarakat umum. Beberapa media informasi yang saat ini banyak dipakai berupa website, instagram, dan youtube. Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII) merupakan salah satu asosiasi profesi yang keberadaannya telah cukup diakui di Indonesia. Berdiri pada 7 mei 1991 di Jakarta, hingga saat ini masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan di bidang iluminasi. Perkembangan HTII kurang diikuti dengan kehadiran media informasi yang bisa dijangkau banyak orang, salah satunya adanya website. HTII pernah memiliki website, tapi kurang dilakukan perbaikan berkelanjutan, sehingga menjadi tidak ada websitenya. Untuk itu sebagai tujuan pelaksanaan PKM ini dilakukan pembuatan website. Adanya website adalah sebagai bentuk komunikasi dan informasi bagi para anggota dan untuk pendaftaran anggota baru secara online. Metode pelaksanaan PKM ini berupa merancang desain website, sementara untuk programnya dilakukan oleh pelaksana PKM lainnya, sehingga terbentuk secara lengkap website HTII. Perancangan halaman website HTII menggunakan pendekatan desain thinking dalam merancang User Interface. Nantinya website ini kemudian akan diuji secara heuristic kepada orang-orang yang ahli di bidang informasi dan teknologi. Dalam kegiatan ini telah dihasilkan draft dummy desain yang berupa halaman antarmuka berupa visual template offline yang sedang dalam tahap proses program menuju prototipe berbentuk halaman interaktif.
PELAKSANAAN PENGAMBILAN DATA PENCAHAYAAN SIANG DAN MALAM HARI PADA TEROWONGAN CISUMDAWU DI DESA CILENGSER Endah Setyaningsih; Jeanny Pragantha; Luthfi Arifandi
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.255 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.18075

Abstract

A tunnel is a road that is surrounded by structures, generally the elevation of the road is below ground level. The Cileunyi-Sumedang-Dawuan Toll Tunnel (Cisumdawu Tunnel) is part of the Cisumdawu toll road, which is in located in Cilengser Village. The Cisumdawu Tunnel is currently under construction, as well as the installation of its lighting, both for night and day lighting. Tunnel lighting at night has a light intensity that is equivalent to the surrounding street lighting, but during the day you must consider the presence of sunlight which has a very high light intensity. For this reason, during the day what needs to be paid attention to is the front of the tunnel, which is the part when the driver starts to enter the tunnel. Due to the surrounding toll road, which is still under construction, the Cisumdawu tunnel is not yet accessible to the public. For this reason, on this occasion it was used for the implementation of PKM, in the form of data collection of day and night lighting. The method is to measure the lighting during the day and night along the tunnel using a light meter. The result of the PKM implementation is the data of day and night tunnel lighting. Data was taken for 2 days, the first day was carried out during the day, and the second day was carried out at night. The benefit of this data is to determine the quality of tunnel lighting, namely the lighting must provide sufficient luminance and illumination for drivers along the tunnel in both dry and wet conditions and must not cause glare. The implementation of this PKM is limited to data collection, then in terms of analysis it will be continued as research material.Terowongan adalah jalan yang sekelilingnya tertutup oleh struktur, umumnya elevasi jalan tersebut di bawah permukaan tanah. Terowongan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Terowongan Cisumdawu) merupakan bagian dari jalan tol Cisumdawu, yang berada di Desa Cilengser. Terowongan Cisumdawu saat ini sudah selesai dalam pembangunannya, demikian juga pemasangan lampu untuk pencahayaan, baik untuk pencahayaan malam hari maupun siang hari. Pencahayaan terowongan pada malam hari mempunyai intensitas cahaya yang setara dengan pencahayaan jalan sekitarnya, namun pada siang hari harus mempertimbangkan adanya cahaya matahari yang mempunyai intensitas cahaya sangat tinggi. Untuk itu pada siang hari yang perlu menjadi perhatian adalah bagian muka terowongan, yaitu bagian saat pengemudi mulai masuk terowongan. Sehubungan dengan masih adanya jalan tol sekitarnya yang masih dalam proses pembangunan, terowongan Cisumdawu belum bisa diakses untuk umum. Untuk itu pada kesempatan ini digunakan untuk pelaksanaan PKM, berupa pengambilan data pencahayaan siang dan malam hari. Metodenya yaitu dengan melakukan pengukuran pencahayaan pada siang dan malam hari sepanjang terowongan dengan menggunakan alat ukur cahaya. Hasil dari pelaksaan PKM adalah adanya data pencahayaan terowongan siang dan malam hari. Data  diambil selama 2 hari, yaitu hari pertama dilakukan pada siang hari mulai pukul sepuluh pagi, dan hari kedua dilakukan pada malam hari mulai pukul tujuh hingga tengah malam. Manfaat data ini untuk mengetahui kualitas pencahayaan terowongan yaitu pencahayaan harus memberikan luminansi dan iluminansi yang cukup bagi pengemudi di sepanjang terowongan baik pada kondisi kering maupun basah dan tidak boleh menimbulkan silau. Pelaksanaan PKM ini dibatasi pada pengambilan data, selanjutnya dalam hal analisisnya akan dilanjutkan sebagai bahan penelitian.
PERANCANGAN DAN REALISASI AUTOMATIC DIMMING LIGHT PADA LABORATORIUM PENDIDIKAN Venny Venny; Endah Setyaningsih; Yohanes Calvinus
TESLA: Jurnal Teknik Elektro Vol 24 No 1 (2022): TESLA: Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tesla.v24i1.18444

Abstract

Lighting is one of the main aspects that has an important role in production activities, especially in the medium-scale industrial production process. To get optimal lighting performance, a light source is needed that can meet the needs of lighting levels in accordance with the Indonesian National Standard (SNI) regarding lighting for medium-scale industrial workplaces or laboratory rooms of educational institutions. Based on the need for a good lighting system, a system in the form of Automatic dimming light was designed that can be programmed to meet the lighting standards according to SNI. The lamp has a controller design concept that automatically uses a 10 watt bulb which is able to provide 500 lux lighting at a distance of 40 cm from the table surface. Using the light intensity sensor module to read the light intensity value so that the lighting can be processed by Arduino Uno and then forwarded to the bulb. It aims to provide adequate lighting in accordance with the desired standard, which is 500 lux ABSTRAK:Kehidupan sehari-hari orang selalu membutuhkan pencahayaan yang bersumber pada lampu. Pencahayaan merupakan salah satu aspek utama yang memiliki peran penting dalam kegiatan produksi, terutama pada proses produksi industri skala menengah. Untuk mendapatkan kinerja pencahayaan yang optimal maka dibutuhkan suatu sumber cahaya yang dapat memenuhi kebutuhan tingkat pencahayaan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai pencahayaan tempat kerja industri skala menengah atau ruangan laboratorium lembaga pendidikan. Pencahayaan yang cukup untuk bidang laboratorium pendidikan menurut SNI adalah sebesar 500 lux. Atas dasar kebutuhan akan sistem pencahayaan yang baik ini, dirancanglah sebuah sistem berupa Automatic dimming light yang dapat diprogram untuk memenuhi standar pencahayaan sesuai SNI. Lampu ini memiliki konsep rancangan pengontrol secara otomatis menggunakan sistem dimmer yang mampu memberikan pencahayaan sebesar 500 lux pada jarak 40 cm terhadap permukaan meja ataupun dapat mengurangi tingkat pencahayaan jika sistem mendeteksi tingkat pencahayaan sudah cukup memenuhi standar menurut SNI. Sistem ini menggunakan input yang berupa sensor intensitas cahaya untuk pembacaan nilai intensitas cahaya agar pencahayaan. Sistem akan diproses oleh Arduino Uno untuk melanjutkan perintah kepada modul dimmer agar dapat bekerja menambahkan atau mengurangi tingkat pencahayaan hingga mencapai nilai yang telah ditetapkan sesuai dengan SNI. Hal tersebut akan diteruskan ke output yang berupa sebuah lampu. Hal ini bertujuan agar dapat memberikan pencahayaan yang dikeluarkan sudah cukup sesuai dengan standar yang diinginkan yaitu 500 lux.
PENCAHAYAAN UNTUK TANGGA SEDERHANA MENUJU AREA WISATA POS MATI DESA GIRITENGAH KECAMATAN BOROBUDUR Endah Setyaningsih; Titin Fatimah; Fransiska Iriani Roesmala Dewi; Yohannes Calvinus; Asrullah Ahmad3; Bayu Ade Pramudia; Luthfi arifandi
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 3 (2022): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v5i3.22486

Abstract

Giritengah Village is located at the southern tip of Borobudur District, about 5 km to the southwest from Borobudur Temple. This village has a background in the Menoreh hills and has unspoiled natural conditions. In accordance with its natural conditions, the community seeks to optimize it to become a tourist destination village. Giritengah village tourism destinations are natural tourism, cultural tourism, and educational tourism. One of the natural tourist attractions is the Pos Mati, which is a place that offers interesting views from the top of the hill, and you can enjoy the sunrise. The journey to reach the top of the Pos Mati is done by walking through a simple stair which is still in the form of dirt. Meanwhile tourists must travel starting in the early hours of the morning with with road conditions that are still dark. This is the problem of the partners. As a solution, install LED lights on these simple stairs. The methode of implementing community service (PKM) is in the form of a science and technology solution, namely the application of LED lighting technology for outdoor lighting. The result of the PKM activity was the installation of a filament bulb LED lamp as lighting for the simple staircase area. Tourists who leave in the early hours of the morning when it is pitch dark, heading to the Pos Mati to enjoy the sunrise, are helped by the lighting. Lighting with illuminance of 2-5 lux can identify parts of the stairs, so that it is expected to increase security and avoid accidents. So, the lighting makes the tourists more comfortable visually. With good management and a comfortable area, tourists will not mind being charged a fee when they come to the Pos Mati. Part of this levy fee is used to reimburse the cost of PLN'selectricity, which currently draws its power from one of the residents' houses. ABSTRAK :  Desa Giritengah terletak di ujung selatan Kecamatan Borobudur, berjarak sekitar 5 km ke arah barat daya dari CandiB orobudur. Desa ini berlatar belakang perbukitan Menoreh dan memiliki kondisi alam yang masih alami. Sesuaik kondisi alamnya masyarakat berupaya mengoptimalkan untuk menjadi desa tujuan wisata. Destinasi wisata desa Giritengah adalah wisata alam, wisata budaya, dan wisata edukasi. Salah satu tempat wisata alam adalah Pos Mati,yaitu tempat yang menyajikan pemandangan menarik dari atas bukit dan dapat menikmati sunrise. Perjalanan untuk mencapai puncak Pos Mati dilakukan dengan jalan kaki melewati tangga sederhana yang masih berupa tanah.Sementara itu wisatawan harus melakukan perjalanan pada dini hari dengan kondisi jalan yang masih gelap. Hal inilah yang menjadi permasalahan dari pihak mitra. Sebagai solusinya dilakukan pemasangan lampu LED di tangga sederhana tersebut. Metode pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat berupa solusi Ipteks, yaitu penerapan teknologi lampu LED untuk pencahayaan luar ruang. Hasil dari kegiatan PKM adalah terpasangnya lampu LED filament bulb sebagai pencahayaan untuk area tangga sederhana. Wisatawan yang berangkat pada dini hari saat kondisi gelap gulita, menuju Pos Mati untuk menikmati sunrise, terbantu dengan adanya pencahayaan. Pencahayaan dengan iluminansi sebesar 2-5 lux, mampu untuk mengenali bagian-bagian tangga, sehingga diharapkan dapat meningkatan keamanan dan terhindar dari kecelakaan. Jadi adanya pencahayaan membuat para wisatawan lebih nyaman secara visual. Dengan adanya pengelolaan yang baik dan area yang nyaman, maka wisatawan tidak akan keberatan jika akan dikenai retribusi pada saat datang ke Pos Mati. Biaya retribusi ini sebagian dipakai untuk penggantian biaya listrik PLN, yang saat ini pengambilan dayanya dari salah satu rumah warga.