Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Efektivitas Edukasi Kesehatan Reproduksi terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang Penyakit Menular Seksual di SMA Corpatarin Jakarta Dewi, Yusra; Hardiati, Iis Sri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.19155

Abstract

ABSTRAK WHO melaporkan bahwa kasus infeksi menular seksual mengalami peningkatan. Pada tahun 2022 diperkirakan terdapat 374 juta infeksi baru pada orang berusia 15–49 tahun. Di Indonesia pada periode Januari-Maret 2023 kasus infeksi menular seksual mencapai 13.067 kasus. Tingginya masalah kesehatan reproduksi remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan dan menjadi masalah serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Minimnya pengetahuan remaja disebabkan karena kurangnya informasi yang didapatkan terkait dengan penularan infeksi menular seksual. Upaya dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit menular seksual yaitu dengan memberikan edukasi kepada remaja supaya mereka lebih mengerti tentang masalah kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual.Mengetahui efektivitas  Edukasi  Kesehatan  Reproduksi  Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual. Quasi experiment  dengan rancangan one group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Tingkat pengetahuan remaja tentang PMS sebelum diberikan edukasi kesehatan reproduksi mayoritas berpengetahuan cukup (59.6%) dan sesudahnya berpengetahuan baik (91,5%). Edukasi kesehatan reproduksi efektif terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual p value 0,000.Edukasi kesehatan reproduksi efektif terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual.  Kata Kunci: Edukasi, Pengetahuan, Remaja, Penyakit Menular Seksual  ABSTRACT WHO reports that cases of sexually transmitted infections are increasing. In 2022, it is estimated that there will be 374 million new infections in people aged 15–49 years. In Indonesia, in the period January-March 2023, cases of sexually transmitted infections reached 13,067 cases. The high level of adolescent reproductive health problems in Indonesia is increasingly worrying and is a serious problem that must be addressed immediately by the government. The lack of adolescent knowledge is due to the lack of information obtained regarding the transmission of sexually transmitted infections. Efforts to increase knowledge about sexually transmitted diseases are by providing education to adolescents so that they understand more about reproductive health problems and sexually transmitted diseases. Knowing the effectiveness of Reproductive Health Education on Increasing Adolescent Knowledge About Sexually Transmitted Diseases. Quasi experiment with a one group pretest-posttest design. The sampling technique used random sampling. The level of adolescent knowledge about STDs before being given reproductive health education, the majority had sufficient knowledge (59.6%) and afterward had good knowledge (91.5%). Reproductive health education is effective in increasing adolescent knowledge about sexually transmitted diseases p value 0.000. Reproductive health education is effective in increasing adolescent knowledge about sexually transmitted diseases.  Keywords: Education, Knowledge, Adolescents, Sexually Transmitted Diseases
Hubungan Tingkat Stress dan Perilaku Konsumsi Makanan Cepat Saji terhadap Kejadian Dismenore pada Remaja Putri di Kelas X SMA Anwarul Hidayah Mahdalena, Mahdalena; Hardianti, Iis Sri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i2.16633

Abstract

ABSTRACT Dysmenorrhea is a pain that generally occurs during menstruation due to contractions of the uterine muscles due to an imbalance of prostaglandin hormones. Dysmenorrhea is experienced by many women in the world with more than 50% of women in every country known to have dysmenorrhea. In Indonesian society, especially among teenagers, fast food has become a habit and part of the lifestyle. Adolescence is prone to stress due to many changes such as physical, psychological, hormonal and social changes. Based on the above, the researcher is interested in conducting a study entitled "The Relationship Between Stress Levels And Fast Food Consumption Behavior To The Incidence Of Dysmenorrhea In Adolescent Girls In Class X Of Anwarul Hidayah High School In 2024". To Determine The Relationship Between Stress Level And Fast Food Consumption Behavior To The Incidence Of Dysmenorrhea In Adolescent Girls In Class X Of Anwarul Hidayah High School In 2024. This study used quasi-analytical with a cross-sectional research design. Sampling used purposive sampling technique with a sample of 40 respondents. Data collection uses questionnaire sheets. The data techniques included univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using the SPSS program chi-square test. The results of the study showed that there was a relationship between stress levels and the incidence of dysmenorrhea, showing that the results of the chi-square statistical test obtained a p-value of 0.029 < α (0.05), and the stress level with the incidence of dysmenorrhea showed that the results of the chi-square statistical test obtained a p-value of 0.015 < α (0.05). There is a significant relationship between stress levels and fast food consumption behavior on the incidence of dysmenorrhea. It is hoped that students will maintain a healthier diet and lifestyle. Keywords: Stress Levels, Fast Food, Dysmenorrhe  ABSTRAK Dismenore merupakan rasa nyeri yang umumnya terjadi pada saat menstruasi akibat adanya kontraksi otot uterus karena ketidakseimbangan hormon prostaglandin. Dismenore dialami oleh banyak wanita di dunia dengan lebih dari 50% wanita di setiap negara diketahui mengalami dismenorea. Di masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan remaja, makanan cepat saji sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari gaya hidup. Konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat mempengaruhi status gizi. Status gizi pada remaja mempengaruhi fungsi organ tubuh, pertumbuhan, dan terganggunya fungsi reproduksi. Masa remaja rawan terhadap stres disebabkan banyak terjadinya perubahan seperti perubahan fisik, psikologis, hormonal dan sosial. Berdasarkan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Tingkat Stress Dan Perilaku Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kejadian Dismenore Pada Remaja Putri Di Kelas X SMA Anwarul Hidayah Tahun 2024”. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Tingkat Stress Dan Perilaku Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kejadian Dismenore Pada Remaja Putri Di Kelas X SMA Anwarul Hidayah Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan quasi analitik dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel 40 responden. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner. Teknik data termasuk dalam analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square program SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat stress dengan kejadian dismenore menunjukkan hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p-value 0,029 < α ( 0,05),dan tingkat stress dengan kejadian dismenore menunjukkan hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p-value 0,015 < α  (0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dan perilaku konsumsi makanan cepat saji terhadap kejadian dismenore. Diharapkan siswi lebih menjaga pola makan dan pola hidup yang sehat. Kata Kunci: Tingkat Stress, Makanan Cepat Saji, Dismenore.
Efektivitas Perawatan Tali Pusat dengan Metode Mengunakan ASI terhadap Durasi Waktu Pelepasan Tali Pusat di Ruang VK RS Siloam Kebon Jeruk Hardiati, Iis Sri; Fitrianti, Ajeng Kartika
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i11.19745

Abstract

ABSTRACT Efforts to prevent Omphalitis infection or umbilical cord infection and Tetanus Neonatorum are umbilical cord care. Good and proper umbilical cord care will have a positive impact, namely the umbilical cord will fall off on the 5th and 7th days without any complications, while the negative impact of improper umbilical cord care is that the baby will experience Tetanus Neonatorum. Based on the results of a preliminary study at Siloam Hospital Kebon Jeruk, the results of the last 2 months of data in October were obtained from 33 mothers giving birth and in November 19 mothers gave birth, each mother had a different way of caring for her baby's umbilical cord. The results of interviews conducted with 10 mothers showed that 7 mothers cared for the umbilical cord by leaving it open and 3 mothers using alcohol gauze. The general objective of this study is to determine the effectiveness of umbilical cord care using the method of using breast milk on the duration of umbilical cord release. Quantitative research type with research design using quasi experiment with control group pre-test post-test approach. Parallel design is used to compare between two independent groups (group comparison), namely control group and intervention group. has been conducted at Siloam Hospital Kebon Jeruk in December 2024 - January 2025. The population in this study were babies born at Siloam Hospital Kebon Jeruk totaling in the period December 2024 - January 2025. Sample calculation using Lemeshow formula totaling 52 respondents. Sampling using total sampling divided into 2 control and intervention groups. Data collection using observation sheets is calculated in days. Data analysis is univariate (frequency distribution) and bivariate (mannwithney). It is known that respondents showed the time of umbilical cord release in the control group (open) an average of 5.85 median 6, standard deviation 1.084, and a minimum release time value of 4 days and a maximum of 7 days. In the intervention group (ASI) the average value was 4.58, a median value of 4 standard deviation 0.703, and a minimum release time value of 4 days and a maximum of 6 days. There is a difference between the ASI method and the open method on the length of umbilical cord release in newborns at Siloam Hospital Kebon Jeruk p value <0.001 (P<0.05). There is a difference in the length of time for the umbilical cord to fall off between the ASI method and the open method, namely that the ASI method falls off 1.27 days faster than the open method. Keywords: Effectiveness, ASI and Open Methods, Umbilical Cord Release ABSTRAK Upaya untuk mencegah infeksi Omphalitis atau infeksi tali pusat dan Tetanus Neonatorum adalah perawatan tali pusat. Perawatan tali pusat yang baik dan benar akan menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat akan puput pada hari ke-5 dan hari ke-7 tanpa ada komplikasi, sedangkan dampak negatif dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami penyakit Tetanus Neonatorum. Berdasarkan hasil studi pendahuluan RS Siloam kebon jeruk diperoleh hasil dari data 2 bulan terakhir pada bulan oktober diperoleh 33 ibu melahirkan dan bulan november 19 ibu melahirkan  masing-masing ibu memiliki cara yang berbeda dalam merawat tali pusat bayinya. Hasil wawancara yang dilakukan pada 10 ibu diperoleh hasil bahwa 7 orang ibu  merawat tali pusat dengan membiarkanya terbuka dan 3 orang ibu  dengan menggunakan kassa alkohol. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui efektivitas perawatan tali pusat.dengan metode mengunakan asi terhadap durasi waktu pelepasan tali pusat. jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan quasi eksperiment dengan pendekatan control group pre-test post- test. Desain pararel digunakan untuk membandingkan antar dua kelompok (group comparison) independen yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. telah dilakukan di RS Siloam Kebon Jeruk bulan Desember 2024 – Januari 2025 .Populasi pada penelitian ini adalah bayi yang lahir di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk berjumlah dalam rentang waktu Desember 2024 – Januari 2025. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lemeshow berjumlah 52 responden. Pegambilan sampel mengunakan total sampling dibagi menjadi 2 kelompok kontrok dan intervensi.Pengambilan data menggunakan lembar observasi dihitung dalam hari. Analisis data secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (mannwithney).  Diketahui responden menunjukan waktu pelepasan tali pusat pada kelompok kontrol ( terbuka )  rata- rata 5,85  median 6, standar devisiasi 1,084, serta nilai waktu lepas minimum 4 hari dan maksimal 7 hari. Pada kelompok ntervensi ( ASI ) didapatkan nilai rata 4,58, nilai median 4 standar devisiasi 0,703, serta nilai waktu lepas minimum 4 hari dan maksimal 6 hari. Ada perbedaan dengan metode ASI dan metode terbuka terhadap lama pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di RS Siloam Kebon Jeruk  p value < 0,001 (P<0,05). Metode ASI dengan metode terbuka terdapat selisih lama tali pusat puput yaitu metode ASI lebih cepat puput 1,27 hari dibandingakn metode terbuka. Kata Kunci: Efektifitas, Metode  ASI  dan Terbuka, Pelepasa Taali Pusat
Peran Perawat dalam Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Program PAP Smear pada Wus di Poli Kebidanan RSUD Karawang Dewi, Nunik Kurnia; Hardiati, Iis Sri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i12.19750

Abstract

ABSTRACT Cervical cancer is one of the number one causes of death caused by cancer in women in developing countries. Cervical cancer cases in Indonesia increased to 36,633 (17.2%) with 234,511 deaths. Cervical cancer cases can actually be prevented in several ways, one of which is early detection with the pap smear method and also supported by nurse support when undergoing a screening procedure with the pap smear method. The support of nurses as health workers is also an important role in increasing women's interest or willingness to carry out early detection examinations with the pap smear method. To analyze the role of nurses in women of childbearing age in decision-making for early detection of cervical cancer by the pap smear method. This research was conducted with a quantitative approach, with a cross sectional research design. Sampling was taken by Simple Random Sampling of 24 people. The quantitative approach analysis was carried out using frequency distribution for univariate analysis and T-test test for bivariate analysis. The relationship between the role of nurses and decision-making in women of childbearing age in carrying out pap smears is seen from the results of the T-test test of 0.467 with a p-value of 0.000 which means that there is a significant relationship between the role of nurses and decision-making in women of childbearing age in early detection with the pap smear method.From the results of the study, it is known that there is a significant influence between the role of nurses or health worker support in the decision-making of women of childbearing age in early detection of cervical cancer using the pap smear method. The majority of women of childbearing age have a supportive attitude towards the implementation of pap smear as much as 83.3%, full support from health workers, especially nurses as much as 100%, and the implementation of pap smear for women of childbearing age as much as 58.3%. Keywords: Cervical cancer, Pap Smear, Nurse Support  ABSTRAK Kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian nomor satu yang disebabkan oleh kanker pada wanita di negara berkembang. Kasus kanker serviks di Indonesia meningkat berjumlah 36,633 (17,2%) dengan kematian sejumlah 234.511. Kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan beberapa cara salah satunya dengan deteksi dini dengan metode pap smear dan juga ditunjang dengan dukungan perawat saat menjalani prosedur skrining dengan metode pap smear. Dukungan perawat sebagai tenaga kesehatan juga merupakan suatu peran penting dalam meningkatkan minat atau kemauan wanita untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini dengan metode pap smear.Untuk menganalisis peran perawat pada wanita usia subur dalam pengambilan keputusan deteksi dini kanker serviks dengan metode pap smear. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, dengan rancangan penelitian cross sectional. Pengambilan sampel diambil secara Simple Random Sampling sebanyak 24 orang. Analisis pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi untuk analisis univariat dan uji T-test untuk analisa bivariat. Adanya hubungan antara peran perawat dengan pengambilan keputusan wanita usia subur dalam melaksanakan pap smear dilihat dari hasil uji T-test sebesar 0,467 dengan p-value 0,000 yang berarti adanya hubungan yang signifikan antara peran perawat dengan pengambilan keputusan pada wanita usia subur dalam deteksi dini dengan metode pap smear. Dari hasil penelitian diketahui adanya pengaruh yang signifikan antara peran perawat atau dukungan tenaga kesehatan pada pengambilan keputusan wanita usia subur dalam melakukan deteksi dini kanker serviks menggunaan metode pap smear. Mayoritas wanita usia subur memiliki sikap yang mendukung pada pelaksanaan pap smear sebanyak 83,3%, dukungan penuh dari tenaga Kesehatan khususunya perawat sebanyak 100%,  dan pelaksanaan pap smear pada wanita usia subur sebanyak 58,3%. Kata Kunci: Kanker serviks, Dukungan Perawat, Pap Smear