Sumarno, Yuel
STT Bethel Indonesia Jakarta

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Resiliensi spiritual menghadapi disruption religious value di masa pandemi Covid-19 pada lembaga keagamaan Pantan, Frans; Benyamin, Priskila Issak; Handori, Johni; Sumarno, Yuel; Sugiono, Sadrakh
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.352

Abstract

The Covid-19 pandemic has not yet provided a clear way of when this problem will end. It is precisely the opposite fact that is obtained, namely the increasing number of its spread. Of course, this can be a problem in cultivating the value of God's Word. The value that departs from the fruit of the Spirit is not well heeded and deeply ingrained. Therefore, a strategy is needed to increase spiritual resilience in order to survive during a pandemic. The methodology used in this research is descriptive qualitative with data collection techniques is a case study through data triangulation. The results of the study suggest that spiritual resilience can be seen from the intensity of prayer together with groups or families, exemplary through face-to-face worship meetings. There are also symbolic interactions when religious institution activities are carried out online. It creates an understanding of thinking and acting in the meaning of thoughts, understanding about oneself, and their relationship in the middle of social interactions. It is the ultimate goal to mediate and interpret the meaning in the community where the individual lives and socializes. AbstrakPandemi Covid-19 belum memberikan jalan terang kapan akan berakhir. Hal ini dapat menjadi masalah dalam penanaman nilai Firman Tuhan terkait Sembilan buah Roh; menjadi tidak terperhatikan dengan baik dan tertanam pada jemaat. Oleh karenanya, diperlukan strategi dalam meningkatkan ketahanan spiritual agar dapat tetap survive pada masa pandemi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah studi kasus melalui triangulasi data. Hasil penelitian mengemukakan bahwa ketahanan spiritual dapat dilihat dari intensitas doa bersama dengan kelompok atau keluarga, keteladanan melalui pertemuan-pertemuan ibadah secara tatap langsung. Terdapat juga interaksi simbolik ketika kegiatan lembaga keagamaan yang dilaksanakan secara online. Implementasi penanaman nilai firman tuhan menjadi salah satu strategi dalam rangkamembuat suatu pemahaman berpikir, selain itu terdapat juga aktualitas tindakan yang dipikirkan terlebih dahulu, pemahaman mengenai diri dan hubungannya dengan interaksi sosial. Strategi-strategi tersebut bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat dimana individu tersebut menetap dan bersosialisasi.
Pendidikan Kristiani dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan: Interseksionalitas pemikiran Dietrich Bonhoeffer tentang relasi sosial-ekonomi Sumarno, Yuel
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1034

Abstract

This study examines the role of Christian education in realizing sustainable development, particularly in the socio-economic dimension re-lated to SDG 1 (No Poverty), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), and SDG 10 (Reduced Inequalities). Using an intersectional approach, this research examines the role of Christian education in shaping character, promoting economic self-reliance, and fostering social cohesion. Dietrich Bonhoeffer’s concepts of Stellvertretung (vicarious responsibility) and being-for-others serve as the theological framework to underscore the pu-blic dimension of Christian faith. The findings suggest that Christian edu-cation can serve as a transformative agent, integrating faith, practical skills, work ethics, and social solidarity. Vocational education, the empowerment of vulnerable groups, and the formation of ethical leadership establish Christian education as a strategic means of addressing inequality, struc-tural poverty, and marginalization. Accordingly, the proposed new para-digm is that sustainable development should not rely solely on economic growth but must also integrate spirituality and social justice.   Abstrak Penelitian ini menelaah peran pendidikan Kristiani dalam me-wujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada dimensi sosial-ekonomi yang berhubungan dengan SDGs 1 (No Poverty), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 10 (Reduced Inequalities). Dengan me-nggunakan pendekatan interseksional, penelitian ini mengkaji kontribusi pendidikan Kristen dalam membentuk karakter, memperkuat kemandi-rian ekonomi, dan membangun kohesi sosial. Pemikiran Dietrich Bonhoef-fer tentang Stellvertretung (tanggung jawab perwakilan) dan being-for-others (hidup bagi orang lain) dijadikan kerangka teologis untuk menegas-kan dimensi publik iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani dapat menjadi agen transformatif yang mengintegra-sikan iman, keterampilan praktis, etika kerja, dan solidaritas sosial. Pendi-dikan vokasional, pemberdayaan kelompok rentan, dan pembentukan ke-pemimpinan etis menjadikan pendidikan Kristiani sarana strategis untuk mengatasi ketimpangan, kemiskinan struktural, dan marginalisasi. De-ngan demikian, paradigma baru yang ditawarkan adalah pembangunan berkelanjutan tidak semata bertumpu pada pembangunan ekonomi, tetapi juga pada integrasi spiritualitas dan keadilan sosial.