Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Perancangan Sistem Informasi Daerah Aliran Sungai Terpadu Kepulauan Riau Azizah, Diana; Lestari, Febrianti; Apdillah, Dony; Rathomi, M. Radzi; Sabriyati, Deni; Pamungkas, Dimas Nugraha
JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK) Vol 9, No 2 (2025): November
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jpp-iptek.2025.v9i2.6882

Abstract

Sistem Informasi Pengelolaan Daerah aliran sungai (DAS) diperlukan sebagai wadah untuk informasi dan koordinasi lintas stakeholder yang mengelola wilayah sungai. Universitas Maritim Raja Ali Haji bermitra dengan Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Provinsi, Kepulauan Riau merancang Dashboard Sistem Informasi DAS Terpadu (SIPDAST) Kepulauan Riau yang dilaksanakan melalui proses diskusi terpumpun (focus group discussion) untuk menjaring data dan informasi potensi, isu dan konflik pengelolaan DAS di wilayah Kepulauan Riau yang berfokus pada Pulau Bintan, Batam, Karimun, Natuna dan Lingga. Kegiatan ini dilaksanakan selama bulan Oktober hingga November 2024 di Batam. Hasil rancangan dashboard SIPDAST Kepulauan Riau di antaranya terdapat navigasi-bar yang berisi atribut/fitur beranda, karakteristik DAS secara biogeofisik dan sosial, peta, karakteristik, perencanaan, monitoring serta pengaduan. Hasil dari perancangan dashboard ini dikelola oleh Bappeda Kepulauan Riau sebagai administrator sedangkan Balai Pengelolaan DAS Sei Jang Duriangkang Kepulauan Riau menjadi user. SIPDAST ini menjadi akselerasi keberlanjutan sumber daya air melalui smart integrated watershed management berbasis karakteristik Kepulauan Riau berupa landscape dan seascape kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Masih belum semua kawasan DAS di wilayah Kepulauan Riau yang diinput dalam sistem informasi ini sehingga diperlukan keberlanjutan dari program ini yang diharapkan dapat menjangkau kawasan DAS seluruh pulau di Kepulauan Riau.
OPTIMALISASI INFRASTRUKTUR PENUNJUK ARAH UNTUK PENINGKATAN LITERASI SPASIAL DI WILAYAH PESISIR DESA TEMBELING Sabriyati, Deni; Topati, Galih; Akmal, Nur; Gustiarni, Melly Putri; Septiani, Gina; Oktavilady, Nitia; Ikhsan, Fhazli Maulana; Azni, Nur; Samudro, Bimo
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i1.8311

Abstract

ABSTRACT The 16th community service program (KKN) of raja ali haji maritime university (umrah) was held in tembeling village, bintan regency, riau islands. The purpose of this program was to introduce spatial literacy to the community and tourists through road signs. This initiative arose due to the lack of existing signs and the damage to old and illegible information boards, which made navigation difficult for the community and visitors. The implementation process consisted of five main steps: conducting a location survey, designing the layout, preparing tools and materials, producing signs, and socializing them to the community. The results of this activity include the installation of eight directional signs at educational facilities, places of worship, community routes, and other social locations. Despite challenges such as weather conditions and material limitations, these obstacles were overcome through collaboration between students, village officials, and the local community. This program has demonstrated positive impacts by improving accessibility, strengthening spatial identity, and encouraging community participation. Therefore, these signs not only serve as navigation tools but also as symbols of collaboration and sustainable village development. ABSTRAK Kuliah kerja nyata (KKN) ke-16 dari universitas maritim raja ali haji (umrah) dilaksanakan di Desa Tembeling, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tujuan dari program ini adalah untuk mengenalkan literasi spasial atau ruang kepada masyarakat dan wisatawan melalui plang nama jalan. Inisiatif ini muncul karena kurangnya rambu-rambu yang ada dan rusaknya papan informasi yang sudah tua dan tidak terbaca, sehingga menyulitkan navigasi bagi masyarakat dan pengunjung. Proses pelaksanaannya terdiri dari lima langkah utama: melakukan survei lokasi, mendesain tata letak, menyiapkan alat dan bahan, memproduksi rambu-rambu, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan ini meliputi pemasangan delapan rambu penunjuk arah di fasilitas pendidikan, tempat ibadah, rute komunitas, dan lokasi sosial lainnya. Meskipun menghadapi tantangan seperti kondisi cuaca dan keterbatasan material, kendala tersebut berhasil diatasi melalui kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Program ini telah menunjukkan dampak positif dengan meningkatkan aksesibilitas, memperkuat identitas spasial, dan mendorong partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, rambu-rambu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat navigasi, tetapi juga sebagai simbol kolaborasi dan pembangunan desa yang berkelanjutan.
The PEMETAAN POTENSI CARBON STOCK MANGROVE MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL 2A DI KAWASAN SILVO EKOWISATA, TANJUNGPIAYU Azzahra Maulidina; Febrianti Lestari; Diana Azizah; Deni Sabriyati; Andi Zulfikar; Esty Kurniawati
Jurnal Perikanan Darat dan Pesisir (JPDP) Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Perikanan Darat dan Pesisir (JPDP) Oktober 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan Global merupakan fenomena meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, daratan, dan laut. upaya mitigasi yang dapat dilakukan ialah dengan cara penyerapan karbon dari vegetasi mangrove. Untuk itu tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui estimasi stok karbon mangrove pada Kawasan Silvo ekowisata Tanjungpiayu. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah citra sentinel 2a dan data karbon setinggi dada (DBH). Analisis yang digunakan adalah alometrik, regresi, dan indeks NDVI. Hasil penelitian didapatkan luasan mangrove Kawasan silvoekowisata adalah 214 Ha dan terbagi atas 4 kategori; non vegetasi (8 Ha), kerapatan jarang (28 Ha), kerapatan sedang (41 Ha), dan Kerapatan Lebat (137 Ha). Sedangkan data stok karbon didapatkan hasil rata-rata 17,24 Ton/Ha, dengan stok karbon tertinggi berada pada 52,97 Ton/Ha dan nilai stok karbon terendah berada pada plot 7 sebesar 8,8 Ton/Ha. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut dengan indeks vegetasi lainnya pada lokasi yang sama ataupun berbeda.
ESTIMASI SERAPAN KARBON PADA PERMUKAAN MANGROVE DI PERAIRAN TANJUNG PIAYU KOTA BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU Sehat Muda Hasibuan; febrianti lestari; Diana azizah; Rika anggraini; Deni sabriyati
Jurnal Perikanan Darat dan Pesisir (JPDP) Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Perikanan Darat dan Pesisir (JPDP) April 2023
Publisher : LPPM Universitas Bina Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan tanjungpiayu memiliki kawasan area mangrove yang sangat luas dan masih tergolong rapat, dan keanekaragaman jenis mangrove serta minimnya data penelitian tentang serapan dan stok karbon mangrove sehingga tujuan penelitian adalah menghitung biomassa, stok karbon dan serapan karbon yang ada pada ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan September – Desember 2023. Metode penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik observasi langsung kelapangan. Penetapan lokasi penelitian menggunakan teknik rundom sampling sistematis dengan memilih 9 titik transek, dan juga adanya kondisi karakteristik ekologi ekosistem mangrove yang terdapat di kawasan perairan estuari Tanjungpiayu Kota Batam. Hasil penelitian, Dari 9 titik transek jenis mangrove yang dijumpai yaitu, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Mucronata, Bruguiera Cylindrica, Xylocarpus Granatum, Lumnitzera Littorea, dengan Rhizophora Apiculata paling dominan dijumpai dan memiliki kerapataan paling tinggi. Total serapan biomassa 330,21 ton/ha, total stok karbon 155,20 ton/ha, dan serapan CO₂ bernilai 569,06 ton/ha.
The presence of harmful algae in the coastal waters of Bintan Island, Riau Islands Tri Apriadi; Winny Retna Melani; Andi Zulfikar; Deni Sabriyati; Wahyu Muzammil; Nuralim Pasisingi
Depik Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.1.34135

Abstract

Environmental mitigation measures are being undertaken as a proactive approach to prevent the adverse consequences associated with Harmful Algal Blooms (HABs). Presently, there is a lack of comprehensive information regarding the occurrence of HABs in the waters surrounding Bintan Island, and routine monitoring to assess the potential for eutrophication is absent. This research should begin by gathering information about potential sources that contribute to the emergence of HABs, the specific types of algae with the capacity to trigger HABs The primary objective of this study is to identify the harmful algae species present in the coastal waters of Bintan Island. The research was conducted in August 2023, with the sampling process taking place at four specific locations within the coastal waters of Bintan Island. These sampling stations were selected deliberately to capture the varying activities predominant in each respective area. The microalgae found consisted of four groups, namely Bacillariophyta, Cyanophyta, Dinophyta, and Chlorophyta. Bacillariophyta is a group of microalgae with the highest abundance proportion at all observation stations. Harmfull Algae found in the coastal waters of Bintan Island generally come from the Dinophyta group of the types Ceratium sp., Peridinium sp., Prorocentrum sp., and Dinophysis sp. Harmful microalgae from the Dinophyta group were found at all research stations, with the highest proportion of abundance at Station 2 (6%) and the lowest at Station 3 (1%). The difference in these findings is thought to be due to the dynamics of the hydrosanographic parameters of the waters, especially nutrient concentrations.Keywords:BintanCeratiumDinophytaHarmfulMicroalgae
The presence of harmful algae in the coastal waters of Bintan Island, Riau Islands Tri Apriadi; Winny Retna Melani; Andi Zulfikar; Deni Sabriyati; Wahyu Muzammil; Nuralim Pasisingi
Depik Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.1.34135

Abstract

Environmental mitigation measures are being undertaken as a proactive approach to prevent the adverse consequences associated with Harmful Algal Blooms (HABs). Presently, there is a lack of comprehensive information regarding the occurrence of HABs in the waters surrounding Bintan Island, and routine monitoring to assess the potential for eutrophication is absent. This research should begin by gathering information about potential sources that contribute to the emergence of HABs, the specific types of algae with the capacity to trigger HABs The primary objective of this study is to identify the harmful algae species present in the coastal waters of Bintan Island. The research was conducted in August 2023, with the sampling process taking place at four specific locations within the coastal waters of Bintan Island. These sampling stations were selected deliberately to capture the varying activities predominant in each respective area. The microalgae found consisted of four groups, namely Bacillariophyta, Cyanophyta, Dinophyta, and Chlorophyta. Bacillariophyta is a group of microalgae with the highest abundance proportion at all observation stations. Harmfull Algae found in the coastal waters of Bintan Island generally come from the Dinophyta group of the types Ceratium sp., Peridinium sp., Prorocentrum sp., and Dinophysis sp. Harmful microalgae from the Dinophyta group were found at all research stations, with the highest proportion of abundance at Station 2 (6%) and the lowest at Station 3 (1%). The difference in these findings is thought to be due to the dynamics of the hydrosanographic parameters of the waters, especially nutrient concentrations.Keywords:BintanCeratiumDinophytaHarmfulMicroalgae
Philosophical Risk Transformation: A Systematic Review From Protection to Radical Adaptation in Indonesian Coastal Ontology Deni Sabriyati; Haznah Faizah AR
Journal of Maritime Policy Science Vol. 2 No. 3 (2025): December, 2025
Publisher : Center for Maritime Policy and Governance Studies. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmps.v2i3.7921

Abstract

Coastal regions in Indonesia are increasingly exposed to compound climate-related hazards sea-level rise, erosion, storm surges, and saltwater intrusion while also facing strong anthropogenic pressures, creating not only a management problem but a deeper philosophical crisis about how risk, nature, and human agency are understood.  Against this background, this study aims to systematically examine the philosophical transformation of coastal risk governance from a technocentric Protection, paradigm toward, Radical Adaptation within Indonesian coastal ontology, addressing the gap in philosophical (ontological, epistemological, and ethical) analysis of this transition.  Methodologically, the article applies a systematic literature review, synthesizing 94 selected sources (2010–2025, with seminal works for foundations) gathered through database searches (Scopus, Web of Science, ScienceDirect, and Garuda) and supplemented by semantic search, followed by structured extraction and content analysis using a priori thematic coding across ontology, epistemology, and axiology or ethics.  The findings indicate a clear shift in scholarship and practice: conventional protection strategies centered on engineering control are increasingly inadequate under accelerating uncertainty, while radical adaptation reframes risk as an intrinsic feature of coastal existence that requires coexistence, relationality, and transformative learning rather than defending the status quo.  This transformation is marked by (1) an ontological move from separation/domination to living-with-risk, (2) an epistemological move toward hybrid knowledge that integrates scientific approaches traditional ecological wisdom, (3) an ethical reorientation toward ecological solidarity, intergenerational justice, moral responsibility
OPTIMALISASI INFRASTRUKTUR PENUNJUK ARAH UNTUK PENINGKATAN LITERASI SPASIAL DI WILAYAH PESISIR DESA TEMBELING Deni Sabriyati; Galih Topati; Nur Akmal; Melly Putri Gustiarni; Gina Septiani; Nitia Oktavilady; Fhazli Maulana Ikhsan; Nur Azni; Bimo Samudro
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i1.8311

Abstract

ABSTRACT The 16th community service program (KKN) of raja ali haji maritime university (umrah) was held in tembeling village, bintan regency, riau islands. The purpose of this program was to introduce spatial literacy to the community and tourists through road signs. This initiative arose due to the lack of existing signs and the damage to old and illegible information boards, which made navigation difficult for the community and visitors. The implementation process consisted of five main steps: conducting a location survey, designing the layout, preparing tools and materials, producing signs, and socializing them to the community. The results of this activity include the installation of eight directional signs at educational facilities, places of worship, community routes, and other social locations. Despite challenges such as weather conditions and material limitations, these obstacles were overcome through collaboration between students, village officials, and the local community. This program has demonstrated positive impacts by improving accessibility, strengthening spatial identity, and encouraging community participation. Therefore, these signs not only serve as navigation tools but also as symbols of collaboration and sustainable village development. ABSTRAK Kuliah kerja nyata (KKN) ke-16 dari universitas maritim raja ali haji (umrah) dilaksanakan di Desa Tembeling, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tujuan dari program ini adalah untuk mengenalkan literasi spasial atau ruang kepada masyarakat dan wisatawan melalui plang nama jalan. Inisiatif ini muncul karena kurangnya rambu-rambu yang ada dan rusaknya papan informasi yang sudah tua dan tidak terbaca, sehingga menyulitkan navigasi bagi masyarakat dan pengunjung. Proses pelaksanaannya terdiri dari lima langkah utama: melakukan survei lokasi, mendesain tata letak, menyiapkan alat dan bahan, memproduksi rambu-rambu, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan ini meliputi pemasangan delapan rambu penunjuk arah di fasilitas pendidikan, tempat ibadah, rute komunitas, dan lokasi sosial lainnya. Meskipun menghadapi tantangan seperti kondisi cuaca dan keterbatasan material, kendala tersebut berhasil diatasi melalui kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Program ini telah menunjukkan dampak positif dengan meningkatkan aksesibilitas, memperkuat identitas spasial, dan mendorong partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, rambu-rambu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat navigasi, tetapi juga sebagai simbol kolaborasi dan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Inventarisasi Hasil Tangkapan Bubu di Perairan Dompak, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Sarah Rumaisha BR Ginting; Mega Vici Sinaga; Deni Sabriyati; Dedy Kurniawan; Susiana Susiana; Wahyu Muzammil
Akuatiklestari Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i1.4287

Abstract

Penelitian dilakukan di Perairan Dompak Kota Tanjungpinang yang merupakan salahsatu lokasi matapencaharian masyarakat dari sumberdaya perikanan tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasikan komposisi, jumlah dan bobot hasil tangkapan dari penggunaan bubu lipat dengan ukuran 4 cm, 4,5 cm, 5 cm, 5,5 cm, 6 cm, dan 6,5 cm di lokasi penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode survei. Prosedur penelitian meliputi survei lapangan, pengambilan hasil tangkapan, penanganan hasil tangkapan, serta identifikasi dan analisis hasil tangkapan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hasil tangkapan bubu ada 3 spesies yang ditemukan yaitu kepiting merah (Thalamita spinimana), kepiting okop (Myomenippe hardwikii) dan kepiting batu (Atergatis integerrimus). Hasil tangkapan pada 6 kategori ukuran mulut bubu terdapat perbedaan yang besar dilihat dari komposisi jenis tangkapan, yaitu didominasi oleh kepiting merah, sedangkan perolehan untuk kepiting batu hampir tidak ada. Perbedaan ukuran mulut bubu memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah tangkapan dan bobot tangkapan yang dihasilkan. Tangkapan terbanyak yaitu 13 ekor dengan bobot 686,3 gr dengan penggunaan bubu 4,5 cm, dan terendah diperoleh pada bubu ukuran 6 cm dengan tangkapan sebanyak 6 ekor dan bobot 336,1 gr.