Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EFISIENSI TEKNIS RANTAI PASOK JAGUNG TINGKAT PETANI DAN PENGUMPUL DENGAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) KECAMATAN BATANG KUIS, DELI SERDANG, SUMATERA UTARA Sakral Hasby Puarada; Riris Nadia Syafrilia Gurning; Wahyuni Umami Harahap
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v3i2.629

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sektor pertanian yang besar. dimana sektor pertanian tersebut terus berkembang pesat. Selain sektor pertanian yang besar, hasil pertanian yang sangat dikenal adalah tanaman pangan. Tanaman pangan merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam tanaman pangan meliputi tanaman padi, jagung dan kedelai serta ubi kayu. Tanaman pangan jagung merupakan salah satu komoditas yang memiliki sumber vitamin dan mineral. Pengukuran efisiensi kinerja manajemen rantai pasok menjadi menjadi alternatif penyelesaian masalah yang sedang berjalan dalam Tanaman Jagung melalui pengukuran kinerja dan efisiensi Kinerja rantai pasok. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Batang Kuis merupakan salah satu Kecamatan yang menjalankan rantai pasok jagung. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kinerja rantai pasok dan tingkat efisiensi kinerja rantai pasok jagung dari petani dan pengumpul. Metode pengukuran kinerja menggunakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) yang akan melihat hasil pengukuran berdasarkan indikator-indikator pengukuran. Kemudian untuk melihat dan membandingkan nilai efisiensi menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan membandingkan Desicions Making Unit (DMU) 1 dengan DMU lain yaitu pengumpul lain yang ada didalam objek penelitian. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dalam pengukuran kinerja petani mitra, didapatkan hasil bahwa ada tiga indikator dari pengukuran yang masih dikategorikan tidak baik (parity). Kemudian, dari hasil perbandingan efisiensi didapatkan bahwa ada 23 petani mitra yang  inefisien dikarenakan input yang dijalankan tidak maksimal sehingga output yang didapatkan belum efisien. Sementara itu, dalam perbandingan dan pengukuran efisiensi teknis kinerja antara pengumpul  rukun sena dan karya jagung didapatkan bahwa rukun sena lebih efisien dibandingkan dengan karya jagung. Artinya, input yang telah dijalankan sudah maksimal sehingga ouput yang didapatkan dikategorikan efisien.
Identifikasi Perubahan Fenologi Gulma Akibat Paparan Herbisida Glifosat dan Parakuat Dengan Dosis yang Berbeda Wahyuni Umami Harahap; Nurhajijah Nurhajijah; Wizni Fadhillah
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 25, No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrium.v25i2.9452

Abstract

Penurunan produksi yang tinggi akibat gulma menyebabkan adanya teknik pengendalian gulma. Salah satu teknik pengendalian gulma yang banyak diaplikasikan adalah penyemprotan dengan menggunakan herbisida. Masalah yang muncul akibat penggunaan herbisida antara lain munculnya gulma resisten herbisida, penurunan biodiversitas tumbuhan, peningkatan biaya produksi dan pencemaran pada tanah, air dan udara serta meningkatkan residu pestisia pada bahan pangan. Masalah ini harus segera diselesaikan dengan mencari rekomendasi penyemprotan yang lebih efektif dan efisien. Rekomendasi penyemprotan herbisida dapat diperoleh melalui penelitian. Hal ini yang menjadi dasar penulis untuk melakukan penelitian tentang pengaruh jenis dan dosis bahan aktif terhadap perubahan fenologi dan waktu kematian gulma. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan pertama adalah jenis bahan aktif herbisida yang terdiri dari dua taraf yaitu farakuat diklorida dan glifosat. Sedangkan perlakuan yang kedua adalah dosis herbisida yang terdiri dari tiga taraf yaitu 1,5 l/ha, 3 l/ha dan 4,5 l/ha. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa perubahan fenologi gulma dapat dilihat pada 1 HSP pada penyemprotan herbisida berbahan aktif farakuat diklorida sedangkan herbisida berbahan aktif glifosat pada 7 HSP. Waktu kematian gulma sangat dipengaruhi oleh jenis bahan aktif herbisida. Herbisida yang paling cepat mampu membunuh gulma adalah berbahan aktif farakuat diklorida.
Peningkatan Peran Petani dalam Pemanfaatan Berbagai Jenis Bunga Refugia Sebagai Upaya Pengembangan Wisata Sawah di Desa Pematang Johar Wahyuni Umami Harahap; Nurhajijah Nurhajijah; Dian Retno Intan
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 5, No 1 (2023): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v5i1.14302

Abstract

Wisata sawah merupakan tempat wisata yang menonjolkan sawah sebagai pusat wisata. Wisata Sawah berada di desa Pematang Johar, kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Wisata sawah dikelola langsung oleh Kepala desa.  Wiisata sawah menrupakan kerja sama antara petani padi pemilik sawah dengan pengurus desa dan masyarakat yang bersedia membuka warung makanan dan minuman di sekitar areal Wisata Sawah. Berdasrkan pengamatan yang telah dilakukan oleh tim Program Kemitraan Masyarrakat diketahui bahwa Wisata Sawah sudh dikelola dengan bagus namun masih kurang dalam penggunaan refugia. Refugia meningkatkan jumlah dan jenis musuh alami. Penanaman refugia yang mengikuti kaidah arsitektur pertamanan juga mampu meningkatkan nilai estetika lahan. Peningkatan nilai estetika yang tinggi pada lahan padi menjadi dasar dalam intensifikasi lahan menjadi agrowisata. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengunjung dan musuh alami di sawah sekitar Wisata Sawah. Pengabdian masyarakat dilakukan dengan penyuluhan, sosialisasi dan penanaman refugia. Data hasil kegiatan dianalisis dengan disajikan dalam bentuk grafik. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penanaman refugia di wisata sawah diminati oleh petani dan akan diaplikasikan di areal sawah masing-masing. Panitia pengurus wisata sawah juga menyatakan bahwa penggunaan refugia meningkatkan estetika Wisata Sawah yang mereka kelola.
Pemanfaatan Melati Air Echinodorus Paleofolius sebagai Fitoremediasi Kadar Chemical Oxigen Demand Limbah Cair di Wisata Sawah Pematang Johar Wizni Fadhillah; Rini Susanti; Wahyuni Umami Harahap; Rini Sulistiani; Sri Utami; Widihastuty
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 02 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i02.3552

Abstract

Wisata sawah Pematang Johar terletak di  Desa Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Ketersediaan air bersih yang  sangat minim di sekitar lahan sawah, menjadi alasan utama pengabdian dilaksanakan. Pengabdian bertujuan untuk menambah pengetahuan mitra dalam memanfaatkan melati air sebagai fitoremediator limbah  yang masuk ke areal  wisata, limbah yang kotor dan berbau menjadi bersih dan layak untuk digunakan. Kontribusi tim pengabdian kepada mitra  berupa sosialisasi dan edukasi tentang melati air sebagai fitoremediator. Kegiatan dilaksanakan di hari jum’at, 3 Januari 2025 di saung tengah sawah, dihadiri 20 orang yaitu mitra dalam hal ini perangkat Desa dan kader posyandu. Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan parameter  dalam pengujian kualitas air.  Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah: 1).Sosialisai dan edukasi, 2).Metode constructure wetland (Lahan basah buatan untuk mengolah limbah cair industry dan limbah cair domesik)  3) Analisa limbah. Kadar COD limbah awal 395,5 mg/L (diatas standard mutu air limbah) menjadi 96 mg/L (dibawah standard mutu limbah). Limbah yang berwarna hitam dan berbau busuk menjadi tak berbau dan tak berwarna. Melati air mampu menurunkan kadar COD, warna dan bau limbah cair.