Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP PADA PASIEN PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) DIABETES MELITUS TIPE 2 DI BEBERAPA PUSKESMAS KOTA BANDUNG Pasha, ED Yunisa Mega; Fatin, Mia Nisrina Anbar
Journal of Pharmacopolium Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v4i2.745

Abstract

Terapi jangka panjang diperlukan oleh semua penyakit kronis seperti Diabetes Melitus (DM) sehingga dapat berpengaruh pada kualitas hidup pasien. Berbagai faktor karakteristik dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien diantaranya sosio-demografi dan klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran karakteristik pasien serta menganalisis faktor-faktor karakteristik yang dapat berpengaruh pada kualitas hidup pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) DM tipe 2 di beberapa Puskesmas Kota Bandung pada bulan Februari sampai Mei 2019. Sebanyak 116 pasien memenuhi kriteria inklusi sebagai sampel penelitian. Intrumen yang digunakan adalah kuesioner Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quesionnaire (DQLCTQ) dalam bahasa Indonesia dengan metode Cross-sectional. Hasil gambaran karakteristik pasien lebih banyak perempuan, usia ≥ 63 tahun, tidak bekerja, pendidikan ≤ SMA, status menikah, tidak merokok, aktivitas fisik sedang-berat, ada penyakit penyerta, lama menderita DM < 6 tahun, dan kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL. Hasil analisis dengan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa perbedaan kualitas hidup antara faktor-faktor karakteristik tidak berbeda secara signifikan (p>0,05) dan hasil analisis dengan regresi linier menunjukkan bahwa tidak ada faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup.
POTENSI INTERAKSI OBAT DENGAN OBAT PADA PASIEN DEWASA DENGAN PNEUMONIA Fatin, Mia Nisrina Anbar; Pasha, ED Yunisa Mega
Journal of Pharmacopolium Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v4i2.746

Abstract

Pneumonia merupakan infeksi yang disebabkan mikroorganisme yang ditandai dengan adanya inflamasi pada parenkim paru. Mayoritas pasien pneumonia yang di rawat di rumah sakit mendapatkan obat dalam jumlah lebih dari lima. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko potensi interaksi obat. Interaksi obat merupakan salah satu penyebab adanya reaksi obat yang tidak dikehendaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat dengan obat serta mengetahui jumlah pasien yang mengalami potensi interaksi obat dengan obat dan risiko potensi interaksi obat dengan obat. Desain studi pada penelitian ini yaitu potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data diambil dari rekam medik pasien pneumonia di salah satu rumah sakit di Kota Bandung pada periode Januari-Desember 2018. Hasil didapatkan bahwa potensi interaksi obat yang dapat diidentifikasi sebesar 480 interaksi. Interaksi meliputi 261 interaksi mayor (54,38%), 214 interaksi moderat (44,58%), dan 5 interaksi minor (1,04%). Dari total 402 pasien, 48,51% pasien mengalami potensi interaksi obat dengan obat. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah obat dengan potensi interaksi obat dengan obat (nilai-p < 0,05). Pasien yang mendapatkan > 6 obat memiliki risiko 10,1 kali lebih tinggi mengalami potensi interaksi obat dengan obat dibandingkan dengan yang mendapatkan < 6 obat (IK 95% 6,0-16,9).
Hubungan Karakteristik Pasien BPJS Kesehatan dan Waktu Tunggu dengan Tingkat Kepuasan terhadap Pelayanan Resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Purwakarta Yulanda, Zella; Mutmainah, Siti Saidah; Pasha, ED Yunisa Mega
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.1.24

Abstract

Kesehatan merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat, yang dapat dipenuhi dengan memperoleh pelayanan prima. Tuntutan masyarakat terhadap kesehatan meningkat seiring dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Namun, tingginya minat masyarakat untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan tidak diiringi dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan, sehingga berpengaruh terhadap kualitas pelayanan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan karakteristik pasien BPJS Kesehatan dan waktu tunggu dengan tingkat kepuasan terhadap pelayanan resep di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian diperoleh bahwa gambaran tingkat kepuasan pasien dimensi tangibles dengan skor 59,8%, reliability 75,2%, responsiveness 62%, assurance 71,4%, dan empathy 66,4%. Hasil analisis hubungan diperoleh jenis kelamin (p=0,989), umur (p=0,192), pendidikan (p=0,132), pekerjaan (p=1,000), waktu tunggu (p=0,161). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tingkat kepuasan pasien BPJS Kesehatan Rawat Jalan dengan pelayanan resep di instalasi farmasi rumah sakit Purwakarta yaitu puas (66,96%) dan tidak terdapat hubungan antara karakteristik pasien dan waktu tunggu dengan tingkat kepuasan.
Utilization of Dairy Cow Milk For Community Health Empowerment in Cibiru Wetan Village, Bandung Regency Jafar, Garnadi; Fatmawati, Fenti; Anggraeni, Vina Juliana; Ziska, Rahma; Pasha, ED Yunisa Mega; Susilawati, Elis
Warta Pengabdian Andalas Vol 32 No 4 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.32.04.512-519.2025

Abstract

In Cibiru Wetan, Bandung, cows' milk production reaches 5,000 liters per day, but most of it is not absorbed by the cooperative because it does not meet quality standards and is ultimately wasted. This highlights the gap between production potential and post-harvest processing capabilities at the farmer level. Training in processing milk into yogurt using simple technology can reduce waste while also opening up opportunities for public health and local entrepreneurship. The community service activity entitled "Training on the Utilization of Cow’s Milk as a Health Product in Cibiru Wetan Village, Bandung Regency" aimed to empower local dairy farmers in managing excess or substandard milk by turning it into yogurt, a functional health product. The method consisted of direct education, practical demonstrations, and mentoring in yogurt production using simple fermentation techniques, followed by pre- and post-test evaluations. A pre- and post-test evaluation showed an increase in participants’ knowledge from 45% to 89% of the 25 participants, 80% successfully produced yogurt with acceptable sensory quality, and 60% expressed interest in selling it as a home business. These outcomes indicate that the training not only improved technical skills but also fostered local entrepreneurship, contributing to SDG 3 (Good Health and Well-being) and SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Most participants succeeded in producing yogurt with acceptable sensory quality and expressed interest in selling it. The activity showed that with adequate training and support, local communities can utilize available resources to improve health and economic outcomes. This program also encouraged sustainable practices and provided a model that could be replicated in other rural areas with similar conditions. The results underline the importance of community-based education and technology transfer in promoting food security and local entrepreneurship.