Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UJI STABILITAS SEDIAAN HAIR TONIC KOMBINASI EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amarillyfolius) DAN HERBA PEGAGAN (Centella asiatica) Septiani, Gina; Nofriyaldi, Ali; Endah, Srie Rezeki Nur
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.089 KB) | DOI: 10.22487/htj.v7i1.154

Abstract

Salah satu tanaman yang secara empiris dapat dimanfaatkan sebagai perawatan rambut adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) dan pegagan (Centella asiatica). Produk kosmetik di pasaran kebanyakan berasal dari produk sintetis berpotensi menyebabkan efek samping seperti pruritus dan iritasi lokal. Bentuk sediaan hair tonik dipilih karena sediaan ini cocok untuk penggunaan topikal pada rambut, lebih mudah pengaplikasiannya dan tidak lengket dibandingkan dengan sediaan semisolid. Penelitian ini bertujuan untuk menguji stabilitas sediaan hair tonic kombinasi ekstrak pandan wangi dan herba pegagan. Formula kombinasi yang digunakan yaitu perbandingan pandan wangi dan pegagan F 1 (kontrol), F II (2:3), F III (2,5:2,5), F IV (3:2). Pengujian stabilitas secara cycling test menunjukan secara oranoleptik semua formula baik, nilai uji pH antara 5,57-6,16, nilai uji viskositas 2,63-2,83 cps. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua formula kombinasi ekstrak pandan wangi dan herba pegagan memenuhi uji stabilitas
Effect of Different Extraction Method on Total Flavonoid Contents of Sansevieria trifasciata P. Leaves Extract: Pengaruh Perbedaan Metode Ekstraksi Terhadap Kadar Flavonoid Total Ekstrak Daun Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata P. Septiani, Gina; Susanti, Susanti; Sucitra, Fitria
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 7 No. 2 (2021): (October 2021)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2021.v7.i2.15573

Abstract

Sanseviera leaves (Sansevieria trifasciata P.) is a plant that contains flavonoids. Flavonoid in the health sector act as antibacterial, antioxidant, anti inflammatory and anti diabetic. The extraction method will determine the amount of substance on the plant extract. The purpose of this study was to determine the effect of different extraction method on total flavonoid contents of sansevieria leaves extract. The method used is an experimental by comparing meceration and soxhletation extraction method to the total flavonoid contents of sansevieria leaves extract using UV-Vis spectrophotometric. The results showed that the total flavonoid contents of the maceration extraction method was 13.934 mgQE/g or 1.39% higher than the soxhlet extraction method of 8.117 mgQE/g or 0.81%. The results of statistical tests showed that significant value of 0.001 (p<0.05), means that there is a significant effect between the contents of total flavonoids in maceration and soxhlet extraction methods.
Karakteristik Parameter Mutu Ekstrak Daun Afrika (Vernonia Amygdalina Del) Dan Penetapan Kadar Flavonoid Berdasarkan 3 Tempat Tumbuh Hakim, Sidiq Alimul; Septiani, Gina; Endah, Srie Rezeki Nur
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 2 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i2.389

Abstract

Pendahuluan: Daun Afrika, dengan nama latinnya Vernonia amygdalina Del, adalah salah satu tanaman obat yang digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit di berbagai belahan dunia. Telah dilaporkan bahwa tanaman Vernonia amygdalina Del digunakan untuk pengobatan diabetes, demam kuning, disentri, sembelit, malaria dan sakit perut di Afrika dan Asia. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik parameter mutu ekstrak dan analisis kadar flavonoid daun afrika (Vernonia amygdalina Del) berdasarkan 3 tempat tumbuh. Metode: Penelitian yang dilakukan tahapannya meliputi, Pengumpulan daun Afrika yang diambil dari 3 daerah berbeda yaitu dari daerah Padaherang, Dayeuh Luhur Dan Patimuan. Determinasi tanaman daun Afrika dilakukan di Laboratorium Universitas Padjajaran Bandung. Pembuatan simplisia dilakukan sesuai dengan tahapan standar. Skrining Fitokimia yang dilakukan untuk melihat secara kuantitatif senyawa yang terkandung di dalam ekstrak yaitu pengujian senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, dan polifenol. Pembuatan ekstrak daun afrika menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Dan untuk penetapan kadar flavonoid menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Kesimpulan: Dapat diperoleh nilai standarisasi ekstrak yaitu berbentuk ekstrak kental, berwarna hijau kehitaman, berbau khas, dan berasa pahit. Kadar senyawa yang larut air dari wilayah Padaherang 13,6%, Patimuan 12,6% dan Dayeuh Luhur 15,4%. Kadar senyawa larut etanol dari wilayah Padaherang 29,6%, Patimuan 22,7% dan Dayeuh Luhur 33,0%. Hasil kadar kandungan flavonoid total ekstrak yaitu untuk wilayah Padaherang 53,83 mg QE/g, Dayeuh luhur 28,83 mg QE/g, dan Patimuan 23,83 mg QE/g.
OPTIMALISASI INFRASTRUKTUR PENUNJUK ARAH UNTUK PENINGKATAN LITERASI SPASIAL DI WILAYAH PESISIR DESA TEMBELING Sabriyati, Deni; Topati, Galih; Akmal, Nur; Gustiarni, Melly Putri; Septiani, Gina; Oktavilady, Nitia; Ikhsan, Fhazli Maulana; Azni, Nur; Samudro, Bimo
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i1.8311

Abstract

ABSTRACT The 16th community service program (KKN) of raja ali haji maritime university (umrah) was held in tembeling village, bintan regency, riau islands. The purpose of this program was to introduce spatial literacy to the community and tourists through road signs. This initiative arose due to the lack of existing signs and the damage to old and illegible information boards, which made navigation difficult for the community and visitors. The implementation process consisted of five main steps: conducting a location survey, designing the layout, preparing tools and materials, producing signs, and socializing them to the community. The results of this activity include the installation of eight directional signs at educational facilities, places of worship, community routes, and other social locations. Despite challenges such as weather conditions and material limitations, these obstacles were overcome through collaboration between students, village officials, and the local community. This program has demonstrated positive impacts by improving accessibility, strengthening spatial identity, and encouraging community participation. Therefore, these signs not only serve as navigation tools but also as symbols of collaboration and sustainable village development. ABSTRAK Kuliah kerja nyata (KKN) ke-16 dari universitas maritim raja ali haji (umrah) dilaksanakan di Desa Tembeling, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tujuan dari program ini adalah untuk mengenalkan literasi spasial atau ruang kepada masyarakat dan wisatawan melalui plang nama jalan. Inisiatif ini muncul karena kurangnya rambu-rambu yang ada dan rusaknya papan informasi yang sudah tua dan tidak terbaca, sehingga menyulitkan navigasi bagi masyarakat dan pengunjung. Proses pelaksanaannya terdiri dari lima langkah utama: melakukan survei lokasi, mendesain tata letak, menyiapkan alat dan bahan, memproduksi rambu-rambu, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan ini meliputi pemasangan delapan rambu penunjuk arah di fasilitas pendidikan, tempat ibadah, rute komunitas, dan lokasi sosial lainnya. Meskipun menghadapi tantangan seperti kondisi cuaca dan keterbatasan material, kendala tersebut berhasil diatasi melalui kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Program ini telah menunjukkan dampak positif dengan meningkatkan aksesibilitas, memperkuat identitas spasial, dan mendorong partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, rambu-rambu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat navigasi, tetapi juga sebagai simbol kolaborasi dan pembangunan desa yang berkelanjutan.