Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Radikulomielopati servikal pascatrauma: laporan kasus Primandari, Rima Anindita; Rahmansyah, Mulia; Mustafa, Rima
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.113-119

Abstract

LATAR BELAKANGLaporan kasus ini bertujuan melaporkan kasus radikulomielopati servikal akibat spondilosis terinduksi pascatrauma pada seorang laki-laki paruh baya. DESKRIPSI KASUSSeorang laki-laki, 57 tahun mengalami kelemahan pada kedua lengan pascakecelakaan motor tunggal 6 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Mekanisme kejadian tidak jelas. Defisit neurologis yang didapatkan pada awal admisi, hanya berupa nyeri menjalar pada kedua lengan bawah hingga jari-jari tangan sesuai dermatom servikal C5-T1 kanan dan kiri, disertai kelemahan dengan kekuatan motorik ekstremitas atas 3333|3332. Hasil pemeriksaan radiografi servikal didapatkan adanya fusi korpus vertebra servikal C4-5, diduga ke arah proses degeneratif. Pasien juga dilakukan MRI servikal dengan hasil adanya bulging diskus C2-3, C4-5, C5-6 dan C6-7 yang menekan spinal cord disertai adanya penyempitan kanalis spinalis, dengan derajat herniasi terberat pada C4-5 (derajat 3). Keluhan membaik dengan penggunaan penyangga leher dan pemberian metilprednisolon dosis tinggi. Pascaperawatan penanda Hoffman-Tromner kanan positif, hal ini menyebabkan yang awalnya terdiagnosis sebagai radikulopati servikal berubah menjadi radikulomielopati karena didapatkan klinis keterlibatan medulla spinalis. KESIMPULANPenting bagi para klinisi untuk dapat segera memberikan penanganan sejak awal. Hal ini berkaitan dengan tata laksana dan prognosis pasien di masa yang akan datang.
STUDI LITERATUR: NYERI KEPALA PADA EPILEPSI Aswar, Andini; Hairunisa, Nany; Primandari, Rima Anindita; Larasari, Andira
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i1.12231

Abstract

Abstrak: Studi Literatur: Nyeri Kepala Pada Epilepsi. Epilepsi merupakan salah satu gangguan neurologi dengan rata-rata prevalensi 8% di seluruh dunia. Kelainan ini dapat disertai dengan berbagai komorbid salah satunya adalah nyeri kepala. Nyeri kepala dapat ditemukan pada 8-15% populasi epilepsi, dimana kelainan ini bisa terjadi sebelum, saat, atau setelah suatu episode bangkitan, dan bisa juga tidak berkaitan dengan bangkitan. Nyeri kepala pada epilepsi merupakan gejala yang sering sekali tidak terdiagnosis dan tidak diobati karena baik dokter dan pasien akan lebih fokus pada penyakit epilepsi sendiri dibanding nyeri kepalanya. Epilepsi adalah kelainan otak yang ditandai oleh kecenderungan terjadinya bangkitan epileptik dengan konsekuensi neurobiologi, kognitif, psikologi dan sosial. Nyeri kepala preiktal adalah nyeri kepala yang terjadi < 24 jam sebelum terjadinya bangkitan dan berlangsung sampai terjadinya bangkitan. Nyeri kepala iktal adalah nyeri kepala yang terjadi disertai dengan gambaran abnormal pada perekaman EEG. Nyeri kepala pasca iktal adalah nyeri kepala yang terjadi dalam waktu 3 jam setelah terjadinya bangkitan dan hilang spontan 72 jam setelah onset bangkitan. Nyeri kepala interiktal yaitu nyeri kepala yang tidak berkaitan dengan terjadinya bangkitan biasanya terjadi > 24 jam sebelum  dan > 72 jam setelah bangkitan epilepsi. Migrain merupakan nyeri kepala yang banyak ditemukan pada pasien epilepsi. Baik migrain dan epilepsi memiliki patofisiologi yang hampir sama sehingga apabila kelainan ini ditemukan pada epilepsi maka perlu dipertimbangkan pemberian OAE yang juga efektif untuk migrain.
EDUKASI MENGENAI EPILEPSI PADA LANSIA DENGAN RIWAYAT STROKE Fadhil, Rafly Afif; Munabari, Naula Jamal; Hanifah, Naura; Aulia, Nawal; Anindita, Neriza Putri; Maharani, Ni Putu Radel; Fadlyah, Nur Ashfiya; Amalina, Nur Khalisa; Azzahra, Ratu Nabila; Putra, Ridho Tri; Khairunnisa, Salma; Rizkiana, Salsabilla; Legita, Salsabilla Yana; Primandari, Rima Anindita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i1.22060

Abstract

Berdasarkan data dari WHO, terdapat sekitar 50 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan epilepsi. Di Indonesia sendiri, prevalensi epilepsi tercatat sebesar 8,2 per 1.000 penduduk, dengan insidensinya mencapai 50 kasus per 100.000 penduduk. Insidens tertinggi terutama pada kelompok usia anak-anak dan lansia. Telah dilakukan kegiatan Praktek Lapangan yang dilaksanakan di Kelurahan Krendang, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada tanggal 2-3 Desember 2024. Sasaran kegiatan ini adalah Ny. M, seorang lansia 75 tahun dengan riwayat stroke 13 tahun yang lalu. Penilaian kondisi Ny. M dilakukan dalam bentuk wawancara dan pemeriksaan fisik. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan Ny. M memiliki riwayat kejang sejak terkena stroke. Kejang masih terjadi bila Ny. M terlambat mengonsumsi obat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pengetahuan masyarakat terhadap epilepsi terutama lansia masih rendah, sehingga edukasi dan penanganan epilepsi pada lansia sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
EDUKASI DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA UNTUK OSTEOARTHRITIS PADA IBU RUMAH TANGGA DI KELURAHAN KRENDANG Susetyo, Angela Excellcia Larasaty; Ardillah, Dinda Rizky; Sorfina, Akialyn Naznin; Nugraha, Alfajri Febri; Asral, Akasyah Muhammad; Arsy, Alinda; Roza, Alzhika Khalisa; Arumdyta, Amanda Syadzwina Mecca; Thalia, Anita; Primaresti, Arella Fina; Faza, Arnira Nailah; Agustina, Almalia Rachma; Atmaja, Egi Martvi; Saubaki, Elisa Kezia; Primandari, Rima Anindita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v3i1.25106

Abstract

Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif sendi yang sering dijumpai pada populasi usia lanjut dan berhubungan dengan trauma berulang yang berlangsung dalam waktu lama. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di Kelurahan Krendang dengan fokus pada pendekatan kedokteran keluarga dengan menilai aspek bio-psikososial secara komprehensif. Sasaran kegiatan adalah Ibu M, 59 tahun, yang mengalami OA. Metode yang digunakan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian kondisi rumah dan lingkungannya, serta edukasi. Selain itu, dilakukan juga penilaian terhadap kondisi ekonomi dan dukungan keluarga udalam beradaptasi dengan penyakit kronis ini. Hasil kunjungan ini menunjukkan pentingnya penerapan pendekatan bio-psikososial pada pasien OA untuk meningkatkan fungsi dan kualitas hidup pasien di tingkat komunitas.
PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA DALAM PENANGANAN ANEMIA GRAVIS BERULANG PADA PEREMPUAN USIA DEWASA MUDA Maulia, Elita Dewi; Putri, Eridia Adristi Nasywa; Putri, Errica Atha Malya; Handoko, Kaila Nurkumala; Hasri, Malika Adira; Arasy, Muhammad Aqshal Darell; Hadyan, Mohamad Fahmi; Rhamadian, Muchammad Edrick Kevin; Shahab, Muhammad Samy; Zubizalleta, Muhammad Azmi; Musawwir, Muhammad Nur; Fitrianissa, Nabila Yudiantika; Ramdania, Nadhira Putri; Salsabila, Nadiyah; Primandari, Rima Anindita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v3i1.25221

Abstract

Anemia pada perempuan usia dewasa muda masih merupakan masalah kesehatan yang penting, terutama di daerah sosial-ekonomi rendah. Anemia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi anemia gravis dengan risiko komplikasi sistemik. Telah dilakukan Praktek Lapangan  di Kelurahan Krendang, Jakarta Barat pada Desember 2025.  Sasaran kegiatan adalah Nn. N, 18 tahun dengan riwayat anemia gravis kronik berulang. Kegiatan dilakukan dalam bentuk wawancara, pemeriksaan fisik, penilaian fungsi keluarga menggunakan F-APGAR, dan evaluasi kondisi tempat tinggal. Berdasarkan hasil kunjungan, Nn. N memiliki riwayat anemia gravis berulang hingga memerlukan transfusi darah, gangguan menstruasi, pola makan rendah zat besi, keterbatasan ekonomi, lingkungan rumah yang kurang layak huni, serta disfungsi keluarga tingkat sedang. Kombinasi faktor biopsikososial, dan dinamika keluarga berperan dalam terjadinya anemia gravis kronik dan terputusnya pengobatan pada Nn. N. Dapat disimpulkan bahwa perlunya pendekatan kedokteran keluarga yang mencakup tata laksana klinis, edukasi berkelanjutan, pendampingan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta penguatan dukungan emosional dan praktis sangat diperlukan untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki luaran jangka panjang