Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kegagalan Kemerdekaan New Caledonia Dari Prancis: Studi Kasus Perjuangan Suku Kanak Akbar, Ridwan Azhari; Firnas, Muhamad Adian; Fitriyanti, Rahmi
Kajian Hubungan Internasional Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences - Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the causes of the Kanak people's failed struggle in the New Caledonia independence referendum in 2018, 2020, and 2021. The Kanak people are an indigenous people who inhabited New Caledonia before the arrival of the French in 1853. The Kanak people have fought for their independence through referendums stipulated in the 1998 Noumea Agreement. This agreement provides for three referendums, but all referendums failed to make New Caledonia independent. Thus, the third referendum in 2021 marks the end of the Kanak people's struggle for independence, they are legally integrated into the French Republic as a final decision. This study uses the conceptual framework of "referendum" to determine the fate of independence, and "integration" as a colonial strategy aimed at maintaining control over its colonies. The research method used is qualitative which is descriptive analytical, an inductive approach, using primary and secondary sources, and library research data collection techniques. This study found that the causes of the referendum failure were a combination of political strategies, demographic imbalances between the Kanak people and immigrants, and a voting system that did not benefit the Kanak people. The dynamics of voting rights are also very significant in providing advantages for immigrants who can vote in a referendum that should be a referendum on the fate of the Kanak tribe. This study highlights that the referendum, which should be a democratic instrument, is used as a political tool to maintain decolonization in a modern form that is actually aimed at maintaining the colonial power. In the case of New Caledonia, the referendum has become a means to integrate the region into the French Republic, and sacrifice the right to self-determination of independence which should be the main focus of the decolonization process in the Non-Self Governing Territories (NSGT). Keywords: Referendum, Kanak tribe, New Caledonia ABSTRAK Penelitian ini menganalisis penyebab perjuangan suku Kanak yang gagal dalam referendum kemerdekaan New Caledonia pada 2018, 2020, dan 2021. Suku Kanak adalah suku asli yang menghuni New Caledonia sebelum kedatangan Prancis pada 1853. Suku Kanak telah berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya melalui referendum yang diatur dalam Perjanjian Noumea 1998. Perjanjian ini memberikan kesempatan tiga kali referendum, tetapi semua referendum gagal untuk membuat New Caledonia merdeka. Dengan demikian, referendum ketiga tahun 2021 menandai akhir perjuangan kemerdekaan suku Kanak, mereka secara sah terintegrasi ke dalam Republik Prancis sebagai keputusan yang final. Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual “referendum” untuk menentukan nasib kemerdekaan, dan “integrasi” sebagai strategi kolonial yang bertujuan mempertahankan kendali atas wilayah jajahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif analitis, pendekatan induktif, menggunakan sumber primer dan sekunder, teknik pengumpulan data studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa penyebab kegagalan referendum adalah kombinasi strategi politik, ketidakseimbangan demografi suku Kanak dengan warga pendatang, dan sistem pemilih yang tidak menguntungkan suku Kanak. Dinamika hak pilih juga sangat signifikan dalam memberikan keunggulan bagi warga pendatang yang bisa memilih pada referendum yang seharusnya menjadi referendum penentuan nasib suku Kanak. Penelitian ini menyoroti bahwa referendum yang seharusnya menjadi instrumen demokratis, tetapi digunakan sebagai alat politik untuk mempertahankan dekolonisasi dalam bentuk modern yang justru bertujuan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan kolonial. Dalam kasus New Caledonia, referendum telah menjadi sarana untuk mengintegrasikan wilayah tersebut ke dalam Republik Prancis, dan mengorbankan hak penentuan nasib kemerdekaan yang seharusnya menjadi fokus utama dari proses dekolonisasi di wilayah Non-Self Governing Territories (NSGT). Kata Kunci : referendum, suku kanak, new caledonia
The Islamic State and Thomas Hobbes: Views on the State, Law, and the Role of Religion Sugara, Robi; Fitriyanti, Rahmi; Idris, Faisal Nurdin
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 1 (2024)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i1.39937

Abstract

Abstract. This article explains the concept of an Islamic state from the perspective of Thomas Hobbes' book Leviathan. Although Hobbes does not explicitly discuss the Islamic state, the basic principles of his theory of the absolute state, natural law, and the role of religion in a state provide a framework that can be used to explain the basic principles of the Islamic state. This article uses a qualitative approach with textual analysis methods on Hobbes' major work, Leviathan, as well as relevant literature on the concept of an Islamic state. Based on critical and interpretive readings of the text, this paper identifies and analyses the main themes related to absolute power and the role of religion in governance according to Hobbes. This analysis highlights how a state applying Islamic law (Sharia) can be compared to the concept of the state from a Hobbesian perspective, particularly in terms of absolute power and religious regulation to maintain order and peace. This article also discusses the relevance of Hobbes' natural law in the context of Islamic law and how the principles of universal justice and morality are applied. The findings of this article show that although there are fundamental differences in the sources of legitimacy and the role of religion, the basic principles of Hobbes' theory remain relevant in understanding the dynamics that occur in Islamic states, particularly in the modern world. Keywords: Islamic State, Thommas Hobbes, Islamic Sharia, Power and Authority. Abstrak. Artikel ini menjelaskan konsep negara Islam dalam perspektif Thomas Hobbes melalui buku Leviathan. Meskipun Hobbes tidak secara eksplisit membahas negara Islam dalam bukunya, namun prinsip dasar teorinya tentang negara absolut, hukum alam, dan peran agama dalam suatu negara memberikan kerangka yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengertian negara Islam. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual terhadap karya utama Hobbes, Leviathan, serta literatur yang relevan mengenai konsep negara Islam. Berdasarkan pembacaan teks secara kritis dan interpretatif, tulisan ini mengidentifikasi dan menganalisis tema-tema utama terkait kekuasaan absolut dan peran agama dalam pemerintahan menurut Hobbes. Analisis ini menyoroti bagaimana negara yang menerapkan hukum Islam (syariah) dapat dibandingkan dengan konsep negara dalam perspektif Hobbesian, khususnya dalam hal kekuasaan absolut dan peraturan agama untuk menjaga ketertiban dan perdamaian. Artikel ini juga membahas relevansi hukum alam ala Hobbes dalam konteks hukum Islam dan bagaimana prinsip keadilan dan moralitas universal diterapkan. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan mendasar dalam sumber legitimasi dan peran agama, namun prinsip dasar teori Hobbes tetap relevan dalam memahami dinamika yang terjadi di negara-negara Islam, khususnya di dunia modern. Kata Kunci: Negara Islam, Thommas Hobbes, Hukum Syariah, Kekuasaan dan Otoritas.
The Islamic State and Thomas Hobbes: Views on the State, Law, and the Role of Religion Sugara, Robi; Fitriyanti, Rahmi; Idris, Faisal Nurdin
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i1.39937

Abstract

Abstract. This article explains the concept of an Islamic state from the perspective of Thomas Hobbes' book Leviathan. Although Hobbes does not explicitly discuss the Islamic state, the basic principles of his theory of the absolute state, natural law, and the role of religion in a state provide a framework that can be used to explain the basic principles of the Islamic state. This article uses a qualitative approach with textual analysis methods on Hobbes' major work, Leviathan, as well as relevant literature on the concept of an Islamic state. Based on critical and interpretive readings of the text, this paper identifies and analyses the main themes related to absolute power and the role of religion in governance according to Hobbes. This analysis highlights how a state applying Islamic law (Sharia) can be compared to the concept of the state from a Hobbesian perspective, particularly in terms of absolute power and religious regulation to maintain order and peace. This article also discusses the relevance of Hobbes' natural law in the context of Islamic law and how the principles of universal justice and morality are applied. The findings of this article show that although there are fundamental differences in the sources of legitimacy and the role of religion, the basic principles of Hobbes' theory remain relevant in understanding the dynamics that occur in Islamic states, particularly in the modern world. Keywords: Islamic State, Thommas Hobbes, Islamic Sharia, Power and Authority. Abstrak. Artikel ini menjelaskan konsep negara Islam dalam perspektif Thomas Hobbes melalui buku Leviathan. Meskipun Hobbes tidak secara eksplisit membahas negara Islam dalam bukunya, namun prinsip dasar teorinya tentang negara absolut, hukum alam, dan peran agama dalam suatu negara memberikan kerangka yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengertian negara Islam. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual terhadap karya utama Hobbes, Leviathan, serta literatur yang relevan mengenai konsep negara Islam. Berdasarkan pembacaan teks secara kritis dan interpretatif, tulisan ini mengidentifikasi dan menganalisis tema-tema utama terkait kekuasaan absolut dan peran agama dalam pemerintahan menurut Hobbes. Analisis ini menyoroti bagaimana negara yang menerapkan hukum Islam (syariah) dapat dibandingkan dengan konsep negara dalam perspektif Hobbesian, khususnya dalam hal kekuasaan absolut dan peraturan agama untuk menjaga ketertiban dan perdamaian. Artikel ini juga membahas relevansi hukum alam ala Hobbes dalam konteks hukum Islam dan bagaimana prinsip keadilan dan moralitas universal diterapkan. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan mendasar dalam sumber legitimasi dan peran agama, namun prinsip dasar teori Hobbes tetap relevan dalam memahami dinamika yang terjadi di negara-negara Islam, khususnya di dunia modern. Kata Kunci: Negara Islam, Thommas Hobbes, Hukum Syariah, Kekuasaan dan Otoritas.
KEKUASAAN DAN SIKLUS NEGARA: ANALISIS PEMIKIRAN POLITIK ‘ASHABIYYAH IBNU KHALDUN Zulkarnaen, Rafa Aydin; Fitriyanti, Rahmi; Azmi, Agus Nilmada
Ar Rasyiid: Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Ar Rasyiid: Journal of Islamic Studies
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Minhaajurroosyidiin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70367/arrasyiid.v3i2.33

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep ‘ashabiyyah dalam pemikiran politik Ibnu Khaldun dan perannya dalam pembentukan, keberlangsungan, juga keruntuhan kekuasaan negara. Berawal dari kritik terhadap dominasi Teori Politik Barat yang lebih menekankan aspek hukum dan institusional, penelitian ini meletakkan ‘ashabiyyah sebagai fondasi utama kekuasaan politik sebagaimana dijelaskan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka dengan pendekatan historis dan konseptual. Sumber utama penelitian adalah Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, yang didukung oleh berbagai kajian akademik kontemporer sebagai sumber sekunder. Hasil analisis memperlihatkan bahwa Ibnu Khaldun memandang kekuasaan politik sebagai fenomena sosial yang lahir dari solidaritas kelompok. ‘Ashabiyyah menyebabkan terbentuknya kepemimpinan, mobilisasi kolektif, dan dominasi politik satu kelompok atas kelompok lain. Negara tidak hanya muncul secara abstrak melalui kontrak sosial, melainkan melalui kekuatan sosial yang terorganisasi. Penelitian ini juga menegaskan bahwa Ibnu Khaldun mengembangkan Teori Siklus Negara, di mana negara mengalami fase pembentukan, kemakmuran, kemunduran, hingga keruntuhan. Melemahnya ‘ashabiyyah akibat kemewahan dan meningkatnya jarak antara penguasa dan masyarakat menjadi penyebab utama runtuhnya kekuasaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ibnu Khaldun memiliki keterkaitan tinggi dalam memahami dinamika politik modern. Meskipun konteks sosial berubah, kekuasaan tetap bergantung pada dukungan dan solidaritas sosial, baik dalam bentuk identitas politik, ideologi, maupun kepentingan kelompok. Dengan demikian, konsep ‘ashabiyyah dapat menjadi kerangka analisis alternatif yang memperkaya Studi Politik Kontemporer, khususnya dalam konteks masyarakat non-Barat.