Anjaya, Carolina Etnasari
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Rancang Bangun Pewartaan Injil pada Suku Nias melalui Sanggar Tari Mendrofa, Eriyani; Suseno, Aji; Anjaya, Carolina Etnasari
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.67

Abstract

Evangelism in Nias is something that is rarely done considering that Christianity has become the religion of the majority of the community. This religious status was obtained from birth because he followed the religion of his parents. However, this does not guarantee that someone has accepted Jesus as Lord and Savior, there are still churches that have not experienced being born again. That is why evangelism is still done in order to experience the new birth and become a true Christian. From the perspective of the Great Commission, preaching the gospel is a task that must be carried out by every believer. How evangelism is carried out in Nias, how dance culture studios serve as doors for evangelism, as well as the application of the Great Commission through culture are the main topics of discussion in this paper. The method used is a literature study with qualitative analysis, using books and research results on Nias. There are three stages of evangelism carried out, namely: introductions based on friendship (Fahuwusa), associations packaged in the form of dance studio exercises (angowuloa), and gospel preaching (Foturiaigo). The dance studio is an attraction for young Nias people to be willing to spend time together. The meeting will be accompanied by a prayer meeting and spiritual guidance. The purpose of this research can be used as a basis for preaching the gospel to the Nias people with a cultural approach.  AbstrakPewartaan Injil di Nias merupakan suatu hal yang jarang dilakukan mengingat agama Kristen telah menjadi agama mayoritas masyarakat.  Status agama tersebut diperoleh sejak lahir karena mengikuti agama orangtua. Namun, hal itu tidak menjamin seseorang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, masih juga terdapat jemaat yang belum mengalami lahir baru.  Itulah sebabnya penginjilan tetap dilakukan agar mengalami kelahiran baru dan menjadi Kristen sejati. Dalam perspektif Amanat Agung, pemberitaan Injil merupakan suatu tugas yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Bagaimana penginjilan dilakukan di Nias, dan seperti apa sanggar budaya tari menjadi pintu penginjilan, serta penerapan Amanat Agung melalui budaya merupakan pokok pembahasan dalam tulisan ini.  Metode yang dipakai adalah studi pustaka dengan analisis kualitatif, menggunakan buku-buku dan hasil penelitian tentang Nias. Ada tiga tahap penginjilan yang dilakukan yaitu: perkenalan yang dilandasi dengan dasar persahabatan (fahuwusa), perkumpulan yang dikemas dalam bentuk latihan sanggar tari (angowuloa), dan pemberitaan Injil (Foturiaigo).  Sanggar tari merupakan daya tarik bagi anak muda Nias agar bersedia meluangkan waktu berkumpul.  Dalam pertemuan tersebut akan disertai dengan persekutuan doa dan bimbingan rohani. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar untuk memberitakan Injil pada suku Nias dengan pendekatan budaya. 
Penderitaan Kristus dalam Formasi Spiritual yang Mengedukasi Orang Percaya Anjaya, Carolina Etnasari; Fernando, Andreas; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.52

Abstract

Di balik penderitaan Tuhan Yesus sejatinya ada prinsip-prinsip dan  makna yang sangat penting untuk dipahami dan teladani. Pemahaman penderitaan Tuhan di kayu salib tidak hanya sebatas pada perkara penebusanNya atas dosa manusia dan bukti kasihNya kepada umat manusia, namun lebih daripada itu. Tujuan penelitian memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai makna penderitaan Kristus dari perspektif pendidikan Kristen. Bagaimana sikap dan responNya dalam menjalani rangkaian penderitaan merupakan fokus penelitian ini dan melaluinya  menjadi refleksi orang percaya tidak hanya sebatas ketika menghadapi penderitaan, namun dalam menjalani totalitas kehidupan.  Hasil penelitian ini adalah pemahaman bahwa serangkaian kisah penderitaan Kristus memiliki makna pendidikan bagi orang percaya. Melalui rangkaian pengalaman penderitaan Tuhan Yesus, orang percaya mendapatkan pendidikan  mengenai formula kehidupan yang harus dijalani umatNya secara total. Orang percaya mendapatkan teladan nyata bagaimana kehidupan harus dijalani dan karakter apa yang harus dimiliki agar berkenan padaNya. Secara garis besar formula tersebut sebagai berikut:  pertama, kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai fondasi kehidupan. Kedua, hidup yang terus terhubung dengan Tuhan melalui doa dan firman Tuhan. Ketiga, perubahan pola pikir/akal budi dan penguasaan diri. Keempat, kekuatan bertahan dalam penderitaan. Kelima, pengampunan tanpa syarat. Keenam, rela melepaskan segala sesuatu- hidup tidak terikat dengan dunia. Ketujuh, kerendahanhati, melepaskan egoisme dan kepentingan diri. Kedelapan, bertanggungjawab secara total, berintegritas, rela berkorban, hidup penuh syukur  tanpa sungut-sungut  Kesembilan, percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan taat serta mengandalkanNya dalam segala perkara. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui kajian pustaka mengenai tema penderitaan dan penebusan Tuhan Yesus.
Tinjauan Eksistensi Roh Kudus dalam Dunia Virtual Toding, Sarah Priska; Anjaya, Carolina Etnasari
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.148 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.21

Abstract

This research is structured in order to provide an understanding to believers that the current virtual world has actually moved away from the quality of life that God wants. Even though God has given the Holy Spirit as a true guide for life. The research method uses a qualitative type, through reading and analyzing various relevant literature and basing the theory of understanding on the biblical text. The results show that life in the virtual era does not involve the Holy Spirit in it. This does not mean that the Holy Spirit does not exist and is unable to intervene in circumstances, but this is related to the free will that God gives to believers. The existence of the Holy Spirit needs to be presented to the life of the virtual world as the only guide. In this regard, there are several concrete steps that believers can take in order to be witnesses and glorify God in today's virtual life.Penelitian ini disusun agar dapat memberikan pemahaman kepada  umat percaya bahwa kehidupan dunia virtual saat ini sejatinya telah bergerak menjauh dari kualitas kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Padahal Tuhan telah memberikan Roh Kudus sebagai penuntun hidup yang benar. Metode riset dengan mempergunakan jenis kualitatif, melalui pembacaan dan analisa terhadap berbagai literatur yang relevan dan melandaskan teori pemahaman pada teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan dalam era virtual tidak melibatkan Roh Kudus di dalamnya. Hal ini bukan berarti Roh Kudus tidak ada dan tidak mampu mengintervensi keadaan, namun ini bertalian dengan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada orang percaya. Eksistensi Roh Kudus perlu dihadirkan pada kehidupan dunia virtual sebagai satu-satunya penuntun. Bertalian dengan hal tersebut terdapat beberapa langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh umat percaya agar dapat menjadi saksi dan memuliakan Tuhan dalam berkehidupan virtual masa kini.
Banalitas Spiritual Pemimpin Kristiani dalam Kajian Teologis Maleakhi 1:6-14; 2:1-9 Sugiyarto, Eko; Anjaya, Carolina Etnasari
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.164

Abstract

Spiritual quality is the main requirement for Christian leaders in carrying out their duties. The essence of Christian leadership is only fulfilled with an adequate spiritual quality, according to biblical standards. Today the world of Christian leadership has been polluted by spiritual banality, namely conditions characterized by shallowness or spiritual decline due to the influence of worldly principles or philosophies. This study aims to provide an overview of the spiritual banality among Christian leaders by the Book of Malachi study and its implications. The study method uses descriptive qualitative through a literature study approach. The study results conclude that tolerance towards worldly principles and philosophies is the root of spreading spiritual banality among Christian leaders today. Spiritual banality has implications for God's punishment because this situation is interpreted as deceiving people and an unholy life. Several actions can be taken together to prevent and overcome spiritual banality, namely through preventive and curative actions by churches, families, educational institutions, and the wider Christian community.  AbstrakKualitas spiritual menjadi syarat utama bagi para pemimpin Kristiani dalam menjalankan tugasnya. Tanpa kualitas spiritual yang memadai yaitu sesuai dengan standar Alkitab maka hakikat dari kepemimpinan Kristiani tidaklah terpenuhi. Faktanya, saat ini dunia kepemimpinan Kristiani telah tercemar oleh banalitas spiritual yaitu kondisi yang bercirikan pendangkalan atau kemerosotan spiritual sebagai pengaruh dari prinsip atau filosofi duniawi. Kajian ini bertujuan memberikan gambaran tentang banalitas spiritual yang terjadi di kalangan pemimpin Kristiani sesuai dengan kajian dari Kitab Maleakhi dan implikasi yang ditimbulkannya. Metode kajian menggunakan deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi pustaka. Hasil kajian menyimpulkan bahwa toleransi terhadap prinsip-prinsip dan filosofi dunia menjadi akar dari merebaknya banalitas spiritual di kalangan pemimpin Kristiani dewasa ini. Banalitas spiritual berimplikasi kepada hukuman Tuhan sebab keadaan tersebut dimaknai sama dengan penyesatan umat dan kehidupan yang tidak kudus. Terdapat beberapa tindakan yang dapat dilakukan secara bersama untuk mencegah dan mengatasi banalitas spiritual yaitu melalui tindakan preventif dan kuratif oleh gereja, keluarga, lembaga pendidikan maupun masyarakat Kristiani secara luas. 
Mamon dalam Kultur Penyembahan Orang Kristen Masa Kini Sihite, Franseda; Anjaya, Carolina Etnasari; Arifianto, Yonatan Alex
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.119

Abstract

The pace of technological progress today is able to make the world's life so beautiful and fun to live. Various living facilities form a complete, comfortable and enjoyable life. In this condition, mammon becomes the most sought after as a means of fulfilling the increasing needs of life. Mammon has known life and unwittingly God's people have placed it as the god of this age. Mammon today has mutated into many new variants, including the human person himself, money, wealth, and otherworldly facilities. Mamon in himself makes people love themselves and focus on efforts to realize their desires, ambitions, and desires. The method used in this article is descriptive qualitative. Research leads God's people to understand mammon mutations in the modern world and how to deal with them. The research concludes that the contribution of technology in life can be a means to praise service to others for glory in a true and pure manner. Mammon and anything in this world if used to worship God will bring people to eternal salvation. It takes courage to choose mammon worship that is full of using the world to worship God in spirit and truth. This courage is necessary because worshiping God means being separated from the world and living a life of suffering just like Him. AbstrakLaju pengembangan teknologi di masa kini mampu membuat kehidupan dunia begitu elok dan menyenangkan untuk dijalani. Pelbagai fasilitas membentuk hidup serba penuh kemudahan, nyaman dan menyenangkan. Dalam kondisi ini mamon menjadi sesuatu yang paling dikejar sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup. Mamon telah menyita kehidupan dan tanpa disadari umat Tuhan telah menempatkannya sebagai sesembahan zaman ini. Inilah kultur baru penyembahan dalam kehidupan. Mamon zaman ini telah bermutasi menjadi banyak varian baru antara lain pribadi manusia sendiri, uang, kekayaan dan fasilitas-fasilitas dunia lainnya. Mamon yang terkristal dalam bentuk diri sendiri menjadikan umat percaya mencintai dirinya dan hidup terfokus pada upaya memenuhi keinginan, ambisi dan napsu diri. Metode yang dipergunakan dalam artikel ini secara deskriptif kualitatif. Penelitian mengarahkan umat Tuhan untuk dapat memahami mutasi mamon dalam dunia modern dan bagaimana menghadapinya. Riset memberikan simpulan bahwa sumbangsih teknologi dalam kehidupan dapat menjadi sarana untuk kembali menuju penyembahan yang terpusat pada Tuhan secara murni melalui pelayanan kepada sesama demi kemuliaanNya. Mamon dan apapun yang ada di dalam dunia ini jika dipergunakan untuk menyembah Tuhan maka ia akan membawa umat percaya pada keselamatan kekal. Perlu keberanian umat percaya untuk mengalihkan penyembahan mamon yang penuh sukacita dunia kepada penyembahan Tuhan dalam roh dan kebenaran. Keberanian ini diperlukan karena menyembah Tuhan berarti harus sungguh berkomitmen untuk berpisah dari dunia dan hidup menderita sama seperti Dia.
Studi Kritis Konsep Mengenal Tuhan: Dualisme Berteologi dalam Bingkai Teori dan Aktualisasi Anjaya, Carolina Etnasari
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i2.222

Abstract

Kesalahan pemahaman konsep mengenal Tuhan membawa umat percaya pada kegagalan memenuhi kehendak Tuhan. Terjadi dualisme dalam berteologi sebagai usaha mengenal Tuhan antara berteologi hanya sebagai teori, terbatas pada pemikiran intelektual tanpa menghidupi firmanNya dan berteologi dalam aktualisasi yaitu dengan menghidupinya. Penelitian ini memiliki tujuan menggungah umat percaya untuk melakukan pemahaman ulang mengenai konsep mengenal Tuhan yang sesuai dengan Alkitab. Metode yang dipergunakan artikel ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dan dilengkapi dengan observasi di lapangan. Kesimpulan dalam riset ini adalah berteologi dalam usaha mengenal Tuhan secara benar tidak dapat dilepaskan dari aktualisasi yaitu menghidupinya dalam keseharian. Terdapat dua cara melakukan pengenalan Tuhan atau berteologi dalam aktualisasi yaitu: pertama dengan cara interaksi melalui doa- komunikasi yang benar kepada Tuhan, dan kedua dengan cara memperoleh informasi yang didapatkan melalui pembelajaran Alkitab. Kedua cara ini saling terkait satu sama lain dan tetap terus dilakukan seumur hidup umat percaya. Komitmen mengenal Tuhan berlaku selama-lamanya dan dapat dibuktikan melalui buah kehidupan. 
Kesadaran ekologis sebagai implikasi pendidikan kristiani: Sebuah refleksi Kejadian 1:26 Anjaya, Carolina Etnasari; Triposa, Reni; Arifianto, Yonatan Alex
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.715

Abstract

Artikel ini bertujuan memperlihatkan sebuah implikasi teologis dari pembacaan Kejadian 1:26. Melalui metode analisis interpretatif dari pembacaan ulang Kejadian 1:26 secara naratif, diperoleh implikasi tentang tanggung jawab manusia terhadap ciptaan yang lain. Artinya, sebagai simpulan, pembacaan ini memberikan konstruksi kesadaran ekologis bagi umat percaya.
TRANSFIGURED LEADERSHIP: KEPEMIMPINAN ALKITABIAH SEBAGAI FONDASI MITIGASI RISIKO DIGITAL Rini, Wahju Astjarjo; Fernando, Andreas; Anjaya, Carolina Etnasari
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.494

Abstract

In an increasingly digital era, Christian leaders face new challenges in managing digital risks. To face these challenges, Christian leadership needs to be based on the spiritual values ​​contained in the event of Christ's transfiguration. This article explores the meaning of Christ's transfiguration and its implications for contemporary Christian leadership. The concept of "Transfigured Leadership" can be a valuable approach for Christian leaders to face these challenges from the perspective of Christian spirituality. The method used is a descriptive qualitative analysis of the Bible and literature with related themes. The research results show that the transfiguration of Christ reveals the character of Christ as a sanctified Messiah, a leader whose life is pleasing to the Father, and a role model for His followers. Christian leadership values ​​that originate from the transfiguration of Christ require leaders who live in holiness, have a close relationship with God, humility, willingness to make sacrifices, obedience to their calling, and continuous self-transformation. By focusing on the example of Christ's leadership, Christian leaders are expected to implement leadership that is oriented toward spiritual transformation.
Evaluasi Program Belajar Literasi-Menulis di Prodi Magister PAK STT Ekumene Jakarta Melalui Model CIPP Fernando, Andreas; Anjaya, Carolina Etnasari
Jurnal Salvation Vol. 2 No. 2 (2022): Januari 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to evaluate the program using the CIPP (Context Input Process and Product) model for the learning to write program in the PAK Masters Study Program, Ecumenical Theology College Jakarta, which is labeled the Active Writing Masters program. The results of this evaluation are concluded: first, in terms of context, the Master of Active Writing program is very important and needed by the PAK Masters Study Program. Second, in terms of input, the program refers to the vision and mission of the PAK Masters Study Program. Third, in terms of process, the implementation of the Master of Active Writing program has been carried out well as an extra-curricular activity. Learning materials and implementation methods are as needed. Fourth, in terms of products, the results of the program are the publication of scientific papers or student research reports in several journals. Broadly speaking, the Master of Active Writing program has answered the needs and objectives set by the PAK Masters Study Program, STT Ecumenism, Jakarta. Abstrak: Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi program dengan model Context Input Process and Product) terhadap program belajar menulis di prodi Magister PAK Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta yang diberi label program Magister Aktif Menulis. Hasil evaluasi ini disimpulkan: pertama, segi konteks, program Magister Aktif Menulis sangat penting dan dibutuhkan oleh prodi Magister PAK. Kedua, segi input, program tersebut mengacu kepada visi misi prodi Magister PAK. Ketiga, segi proses, penyelenggaraan program Magister Aktif Menulis telah dilakukan dengan baik sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Materi pembelajaran dan metode pelaksanaan sesuai dengan kebutuhan. Keempat, segi produk, hasil program tersebut yaitu diterbitkannya karya tulis ilmiah atau laporan penelitian mahasiswa pada beberapa jurnal. Secara garis besar program Magister Aktif Menulis telah menjawab kebutuhan dan tujuan yang ditetapkan prodi Magister PAK STT Ekumene Jakarta.
Membangun Pemimpin Kristen Berintegritas: Menerapkan Nilai dan moralitas Alkitab untuk Menghindari Banalitas dalam Kepemimpinan Rini, Wahju Astjarjo; Arifianto, Yonatan Alex; Anjaya, Carolina Etnasari
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 5, No 1 (2024): Christian Education and Christian Leadership (June 2024)
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v5i1.209

Abstract

Christian leadership with integrity is urgently needed in a world full of banality. Banality, or apathy towards morality and ethics, can plunge Christian leaders into irresponsible and harmful actions. This manuscript discusses strategies to build Christian leaders with integrity by applying biblical values and morality. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that, first, the church must build a Christian leadership paradigm that is different from the banality of the world, by applying biblical values to build the character and morality of leaders with integrity so that it can inspire holy and meaningful Christian leadership. Thus, Christian leaders are able to be inspiring role models in leadership, build communities with strong spiritual organizations, and serve with sincere integrity and humility that respects others.AbstrakKepemimpinan Kristen yang berintegritas sangat dibutuhkan dalam dunia yang penuh dengan banalitas. Banalitas, atau sikap apatis terhadap moralitas dan etika, dapat menjerumuskan pemimpin Kristen ke dalam tindakan yang tidak bertanggung jawab dan merugikan. Artikel ini membahas strategi membangun pemimpin Kristen yang berintegritas dengan menerapkan nilai dan moralitas Alkitab. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa, pertama gereja harus membangun paradigma kepemimpinan Kristiani yang berbeda dari banalitas dunia, dengan menerapkan nilai-nilai Alkitab untuk membangun karakter dan moralitas pemimpin yang berintegritas  sehingga dapat menginspirasi kepemimpinan Kristen yang kudus dan bermakna. Dengan demikian, mereka para pemimpin Kristen mampu menjadi teladan yang menginspirasi dalam kepemimpinan, membangun komunitas yang organisasi kerohanian yang kuat, dan melayani dengan integritas yang tulus dengan kerendahan hati yang menghargai sesamanya.