Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

GAMBARAN PERAN KELUARGA DALAM MERAWAT ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) Aulia Fitri; Arif Widodo
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14187

Abstract

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk memiliki usia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, serta lebih dari 12 juta penduduk yang memiliki usia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Gangguan jiwa merupakan respon seseorang yang mengalami perubahan emosi, pola pikir, serta perilaku, sehingga dalam proses penyembuhannya perlu adanya peran keluarga dalam merawat orang dengan gangguan jiwa. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perawatan pasien. Keluarga berperan dalam mengantar berobat, mengingatkan minum obat, memberikan saran atau motivasi dan sebagainya, tetapi, tidak semua menjalankan peran tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam merawat orang dengan gangguan jiwa. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengambilan sampel pada penelitian ini berjumlah 5 partisipan dengan kriteria keluarga yang mengantar berobat di poli jiwa dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan teknik berupa wawancara atau interview. Analisis data pada penelitian ini, yaitu reduksi data, penyajian data, serta melakukan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa: Peran keluarga sebagai penyedia baik, (2) Peran keluarga sebagai pendorong sebagian besar baik, (3) Peran keluarga sebagai inisiator-kontributor sebagian besar kurang baik, (4) Peran keluarga sebagai pioner kurang baik, (5) Peran keluarga sebagai pengasuh baik.
Perilaku Pencarian Pengobatan terhadap Penyakit Tidak Menular pada Masyarakat Arkham Sukmana Aji; Arif Widodo
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 1 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i1.5606

Abstract

This study aims to determine community behavior in seeking treatment for PTM and the level of public knowledge about seeking therapy for PTM. The method used in this research is descriptive qualitative. The results obtained from this study are that most people seek treatment for PTM at a doctor's clinic, and the majority of community education are high school graduates. This study concludes that informants trust the doctor's clinic more, and there is a difference between the knowledge of informants who attend school and those who do not. Keywords: Medicine, Non-communicable Diseases, Behavior
Pengkajian Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran pada Ny. E di Ruang Larasati Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta Nindya Dewi Larasati*; Arif Widodo
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 3 (2023): Juni, socio-economics, community law, cultural history and social issues
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i3.25471

Abstract

: Salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan persepsi sensorik dan perseptualnya adalah halusinasi: mengalami pengalaman sensorik palsu tanpa stimulus nyata, seperti mendengar, melihat, mengecap, atau mencium. Masalah yang lebih serius akan muncul jika masalah ini tidak segera diselesaikan. Pasien yang mengalami halusinasi membutuhkan perawatan berkualitas tinggi. Banyaknya kasus lama di RSUD Surakarta menandakan perawatan pasien belum efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan pendekatan proses keperawatan dan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian ini melibatkan 14 pasien gangguan jiwa di Ruang Larasati yang mengalami halusinasi. Pengambilan sampel menggunakan metode purpose sampling. Pasien dapat mengidentifikasi halusinasinya setelah tiga minggu iterasi pertemuan dan melakukan SP I hingga SP IV. Ketika halusinasi terjadi, pasien mampu melakukan aktivitas yang telah dijadwalkan secara optimal dan mandiri, dan cara mengontrol halusinasi dengan minum obat telah dilakukan secara optimal. Kesimpulan penelitian ini adalah pasien dapat mengikuti jadwal harian dan melakukan SP seperti yang diinstruksikan oleh peneliti, dan pasien mengalami lebih sedikit halusinasi sebagai hasil dari berlatih mengendalikan halusinasi.
ANALISIS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK TERHADAP KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SMA N 2 SUKOHARJO Nera Bela Beauty Nur; Arif Widodo
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22304

Abstract

Seiring dengan kemajuan zaman, dengan dukungan internet media massa berhasil menghasilkan jaringan baru yang biasa dikenal dengan media sosial. Media Sosial Tiktok saat ini menjadi salah satu aplikasi paling populer di kalangan remaja dan media sosial yang dapat diandalkan untuk mengisi waktu luang anda. Dan dalam penggunaan media sosial TikTok pada remaja bisa berdampak terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan media sosial tiktok terhadap kesehatan mental remaja. Jenis penelitian yang dilakukan ini yaitu penelitian kuantitatif non eksperimental dengan menggunakan studi deskriptif dengan metode survey yang merupakan penelitian deskriptif . Dalam penelitian ini yang menjadi sampel yaitu siswa SMA N 2 Sukoharjo berjumlah 99 orang dengan mengisi kuesioner. Pengambilan sampel dari populasi penelitian dilakukan dengan teknik pengambilan Sampel Proporsional Random Sampling Hasil Analisa data uji statistik deskriptif dapat dilihat bahwa ada sebanyak 56 orang responden memiliki kesehatan mental tinggi dan sebanyak 34 responden memiliki kesehatan mental rendah. Berdasarkan uji statistik inferensial dapat diprediksi hasil korelasi antara penggunaan media sosial tiktok terhadap kesehatan mental remaja. Di SMAN 2 Sukoharjo didapatkan hasil p = 0.001, maka dapat disimpulkan adanya korelasi dari penggunaan media sosial tiktok terhadap kesehatan mental remaja di SMAN 2 Sukoharjo. Adanya korelasi dari penggunaan media sosial tiktok terhadap kesehatan mental remaja di SMAN 2 Sukoharjo. Semakin sering siswa menggunakan media sosial TikTok semakin baik Kesehatan mental siswa.
Health promotion to enhance the active role of Pabelan Village health cadres in preventing noncommunicable disease Arif Widodo; Ana Safira Salsabila; Farras Kens Daryngga
Community Empowerment Vol 8 No 8 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.9581

Abstract

Noncommunicable disease (NCDs) is a disease that cannot be diagnosed with certainty if the patient has no symptoms and complaints, where most of the deaths worldwide are caused by NCDs. Health promotion should be given to cadres in order to increase the knowledge and attitudes of Pabelan Village health professionals towards the prevention of NCDs. This community service aims to increase the knowledge and attitudes of health cadres in preventing NCDs. Program carried out in the form of health promotion and blood pressure check skills education. The results of the program showed an increase in the knowledge and attitudes of cadres after being given health promotion, and an increase in skills related to checking blood pressure.
THE INFLUENCE OF REPRODUCTIVE HEALTH PROMOTION ON INCREASING THE KNOWLEDGE OF SANTRI AT THE ANSHORUSSUNNAH MANTINGAN ISLAMIC BOARDING SCHOOL Farras Kens Daryngga; Arif Widodo
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol 6 No 1 (2024): In Progress issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v6i1.792

Abstract

Introduction: School is a place to obtain education and knowledge about reproductive health for teenagers. One of the educational models in Indonesia is Islamic boarding schools. Objectives: This research was conducted on 75 students of the Anshorussunnah Islamic Boarding School, Mantingan District, Ngawi Regency, research location in Ngrancang Village RT0 03 RW 06. Methods: This research is a type of quantitative research with a research design using a quasi-experimental approach with only pre-test post-test. Data analysis with Wilcoxon. Results: Based on the results of data analysis, after carrying out the Wilcoxon test, it was found that 75 research respondents experienced an increase in their scores. Conclusions: The results of testing the data above show the results (Asymp.sig. (2-tailed)) = 0.001 < α (0.05), so it can be concluded that there is a significant difference between the knowledge of students before and after the intervention given, namely counseling on adolescent reproductive health and premarital sexual intercourse in results of pre-test and post-test scores.
Deep Breathing Relaxation (DBR) untuk Menurunkan Kecemasan Pasien dengan Hemodialisa Savira Nida Ariestia; Arif Widodo; Kusnanto Kusnanto
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk427

Abstract

Hemodialysis can cause anxiety, especially in hemodialysis patients who have recently undergone hemodialysis for less than 6 months. One of the non-pharmacological therapies of choice is Deep Breathing Relaxation (DBR), an independent nursing intervention that can be used to treat patients' psychological problems. So a study is needed that aims to determine the effectiveness of Deep Breathing Relaxation (DBR) to reduce the anxiety of clients undergoing hemodialysis. This study was a case report using the application of DBR in 2 patients experiencing anxiety, then completing the HARS questionnaire in the pre- and post-therapy phases. The evaluation results showed a decrease in anxiety levels in 2 client patients undergoing hemodialysis at Ir. Soekarno, Sukoharjo Regency. It was concluded that DBR can reduce the anxiety level of clients undergoing hemodialysis for less than 6 months.Keywords: anxiety level; Deep Breathing Relaxation (DBR); hemodialysis ABSTRAK Hemodialisa dapat menimbulkan kecemasan, khususnya pada pasien hemodialisa yang baru menjalani hemodialisa kurang dari 6 bulan. Salah satu terapi nonfarmakologi pilihan adalah Deep Breathing Relaxation (DBR), suatu intervensi mandiri keperawatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah psikologis pasien. Maka diperlukan studi yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan Deep Breathing Relaxation (DBR) untuk menurunkan kecemasan klien yang menjalani hemodialisa. Studi ini merupakan laporan kasus menggunakan penerapan DBR pada 2 pasien yang mengalami kecemasan, kemudian dilakukan pengisian kuesioner HARS pada fase sebelum dan sesudah terapi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pada 2 pasien klien yang menjalani hemodialisa di RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo. Disimpulkan bahwa DBR dapat mengurangi tingkat kecemasan klien yang menjalani hemodialisa kurang dari 6 bulan.Kata kunci: tingkat kecemasan; Deep Breathing Relaxation (DBR); hemodialisa
Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kecemasan Lansia di Wisma Indrokilo Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Arif Widodo; Herlina Eka Hapsari
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.32336

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum dialami oleh orang lanjut usia. Tingkat ganguan kecemasan yang dialami pada lansia yang tinggal di panti werdha lebih tinggi dibandingkan lansia yang tinggal dengan keluarganya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Relaksasi Otot Progresif (ROP) terhadap kecemasan. Metode penilitian ini menggunakan one groub pre test-post test without control, pada penelitian ini peneliti tidak menggunakan kelompok control dengan jumlah responden 8 lansia. Lansia diberikan intervensi berupa terapi Relaksasi Otot Progresif (ROP) selama ± 30 menit. Hasil dari penelitian ini didapatkan tingkat kecemasan ringan dari 2 responden (25.0%) menjadi 5 reponden (62.5%) dan kecemasan sedang dari 6  responden menurun menjadi 3 responden (37.5%). Serta didapatkan nilai P Value
Kajian Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. S dengan Skizofrenia Tak Terinci di RSJD Dr. Arif Zainudin Sukoharjo Rafifah Luthfiah; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.32547

Abstract

Skizofrenia dibagi menjadi sembilan. Salah satu tipe yang dibahas yaitu skizofrenia tak terinci. Skizofrenia tak terinci termasuk jenis skizofrenia yang memenuhi kriteria umum skizofrenia, namun tidak tidak memenuhi kriteria untuk didiagnosis skizofrenia paranoid, hebrefenik atau katatonik. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-skizofrenia (Wibowo & Herdaetha, 2022). Gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pada fungsi jiwa yang meliputi perasaan, pikiran, tingkah laku, emosi, motivasi, kemauan, keinginan dan persepsi yang dapat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Salah satu tantangan kesehatan global adalah gangguan jiwa yang memiliki dampak signifikan dikarenakan prevalensinya yang tinggi dan penderitaan berat yang dirasakan oleh individu, keluarga, komunitas dan negara (Daulay & Simamora, 2020). Banyaknya pasien lama yang kembali dirawat di RSJD Surakarta menunjukkan bahwa perawatan pasien belum efektif. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan rencana studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Jenis rancangan serta pendekatan yang digunakan dengan penelitian yaitu studi kasusu menggunakan pendekatan proses keperawatan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28-30 desember 2023. Instrumen penelitian yang digunakan pada wawancara dengan penelitian sendiri dengan alat bantu pedoman pengkajian dan strategi pelaksanaan. Sedangkan instrument yang lain dengan menggunakan tensimeter, thermometer, saturasi oksigen dan timbangan. Populasi daam penelitian ini dilakukan pada Tn. S di bangsal gatot kaca RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta. Sample: sample diambil dengan cara teknik purpose sampling. Setelah dilakukan interaksi selama 4 minggu pertemuan dan melaksanakan SP 1 sampai SP IV, pasien mampu mengidentifikasi halusinasinya dan pasien mampu mengontrol hausinasinya dengan cara menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika halusinasinya halusinasinya muncul pasien mampu melakukan kegiatan terjadwal harian sesuai dengan waktunya, halusinasi yang pasien alami berkurang setelah pasien berlatih mengontrol halusinasi.
Efektivitas Terapi Okupasi Menggambar dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran Arsyifa Inneza Hermoko; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47096

Abstract

Latar Belakang : Halusinasi pendengaran merupakan gejala utama pada pasien skizofrenia yang dapat mengganggu perilaku dan interaksi sosial. Penatalaksanaan non-farmakologis seperti terapi okupasi menggambar dinilai efektif dalam menurunkan gejala halusinasi dan memperbaiki fungsi sosial pasien. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi okupasi menggambar dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia yang dirawat di RSJD Dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode: Karya tulis ilmiah ini menggunakan rancangan studi kasus dengan penerapan evidence based practice pada dua pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Intervensi berupa terapi menggambar dilakukan selama tiga hari, tiga kali sehari, masing-masing berdurasi 5–10 menit. Hasil: Hasil observasi menunjukkan penurunan frekuensi dan intensitas gejala halusinasi pada kedua subjek. Perilaku pasien menjadi lebih stabil, tidak lagi mondar-mandir atau berbicara sendiri, serta mampu membedakan realitas dan halusinasi. Kesimpulan: Terapi okupasi menggambar efektif menurunkan gejala halusinasi pendengaran dan meningkatkan fungsi sosial serta kognitif pasien skizofrenia