Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : MODELING: Jurnal Program Studi PGMI

Pendidikan Shalat pada Anak dalam Tafsir Al-Azhar Karya Hamka Muchammad, Achmad
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol 10 No 4 (2023): Desember
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i3.2599

Abstract

Pendidikan shalat merupakan suatu yang penting diterapkan pada anak. Demikian pentingnya sehingga Rasulullah Saw menaruh perhatian khusus atas pendidikan shalat pada anak, yakni memerintahkan mereka menjalankan shalat sejak usia tujuh tahun bahkan diperbolehkan memukul di usia sepuluh tahun manakala perintah tersebut tidak diindahkan. Sikap tegas tentu memiliki alasan yang logis, mengingat urgensi pendidikan shalat bagi masa depan calon generasi penerus tersebut. Tuntunan keagamaan perihal pendidikan shalat pada anak di atas tidaklah berlebihan, sebab pengajaran shalat pada anak yang terabaikan akan berdampak serius pada sang buah hati, mulai dari aspek internal dan eksternal mereka. Aspek internal, menyangkut bukti ketundukan calon generasi penerus tersebut pada Allah Swt kurang menancap dalam sanubarinya. Adapun faktor eksternal lebih pada nilai-nilai luhur – semisal keikhlasan, kejujuran, kedisplinan, kerja keras, kerja sama, dan lainnya -- yang terkandung dalam shalat niscaya akan lemah dalam mewarnai karakter anak-anak, sehingga pada gilirannya akan berdampak buruk terhadap pola interaksi sosialnya. Penelitian ini mencoba menawarkan solusi dalam bentuk rumusan metodik pendidikan shalat pada anak yang seringkali menjadi masalah karena relatif jarang ditemukan. Penentuan tafsir Al-Azhar sebagai area kajian dinilai sangat tepat karena kapasitasnya sebagai tokoh pendidikan di Indonesia, juga sebagai upaya mengelaborasi karya anak bangsa. Aspek keindonesiaan yang menjadi latar kenusantaraannya diharapkan mampu menjadi semacam jembatan yang menghubungkan secara merata pada anak-anak didik yang menjadi objeknya. Sehingga, pendidikan shalat yang dicanangkan dapat berjalan efektif serta menghasilkan capaian yang maksimal. Selanjutnya, penelitian ini termasuk dalam kajian kepustakaan (library research), dalam hal ini tafsir maudlu’i (tematik) dengan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif analitis.
Pendidikan Shalat pada Anak dalam Tafsir Al-Azhar Karya Hamka Muchammad, Achmad
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 10 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i3.2599

Abstract

Pendidikan shalat merupakan suatu yang penting diterapkan pada anak. Demikian pentingnya sehingga Rasulullah Saw menaruh perhatian khusus atas pendidikan shalat pada anak, yakni memerintahkan mereka menjalankan shalat sejak usia tujuh tahun bahkan diperbolehkan memukul di usia sepuluh tahun manakala perintah tersebut tidak diindahkan. Sikap tegas tentu memiliki alasan yang logis, mengingat urgensi pendidikan shalat bagi masa depan calon generasi penerus tersebut. Tuntunan keagamaan perihal pendidikan shalat pada anak di atas tidaklah berlebihan, sebab pengajaran shalat pada anak yang terabaikan akan berdampak serius pada sang buah hati, mulai dari aspek internal dan eksternal mereka. Aspek internal, menyangkut bukti ketundukan calon generasi penerus tersebut pada Allah Swt kurang menancap dalam sanubarinya. Adapun faktor eksternal lebih pada nilai-nilai luhur – semisal keikhlasan, kejujuran, kedisplinan, kerja keras, kerja sama, dan lainnya -- yang terkandung dalam shalat niscaya akan lemah dalam mewarnai karakter anak-anak, sehingga pada gilirannya akan berdampak buruk terhadap pola interaksi sosialnya. Penelitian ini mencoba menawarkan solusi dalam bentuk rumusan metodik pendidikan shalat pada anak yang seringkali menjadi masalah karena relatif jarang ditemukan. Penentuan tafsir Al-Azhar sebagai area kajian dinilai sangat tepat karena kapasitasnya sebagai tokoh pendidikan di Indonesia, juga sebagai upaya mengelaborasi karya anak bangsa. Aspek keindonesiaan yang menjadi latar kenusantaraannya diharapkan mampu menjadi semacam jembatan yang menghubungkan secara merata pada anak-anak didik yang menjadi objeknya. Sehingga, pendidikan shalat yang dicanangkan dapat berjalan efektif serta menghasilkan capaian yang maksimal. Selanjutnya, penelitian ini termasuk dalam kajian kepustakaan (library research), dalam hal ini tafsir maudlu’i (tematik) dengan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif analitis.
Internalisasi Nilai Kedisiplinan pada Anak melalui Kisah Nabi Sulaiman As: Tafsir Tarbawi atas QS. Al-Naml/27: 15-31 Muchammad, Achmad
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 3 (2024): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i3.3094

Abstract

Kedisiplinan merupakan salah satu nilai karakter fundamental yang perlu ditanamkan sejak usia dini, khususnya pada anak usia Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah. Namun, proses internalisasi nilai kedisiplinan pada anak sering menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek metode maupun pendekatan pembelajaran yang kurang menarik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji internalisasi nilai kedisiplinan pada anak melalui kisah Nabi Sulaiman As sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Naml/27: 15–31 dengan pendekatan tafsir tarbawi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan sumber utama Al-Qur’an serta didukung oleh kitab-kitab tafsir dan literatur pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah Nabi Sulaiman As dan burung Hud-hud mengandung nilai-nilai kedisiplinan yang kuat, antara lain ketertiban, ketepatan waktu, ketegasan dalam menegakkan aturan, tanggung jawab, klarifikasi (tabayyun), serta komitmen dalam menjalankan tugas. Nilai-nilai tersebut terefleksi dalam sikap Nabi Sulaiman As sebagai pemimpin dan respons burung Hud-hud terhadap teguran dan amanah yang diberikan. Kisah Al-Qur’an terbukti memiliki potensi edukatif yang strategis dalam menanamkan nilai kedisiplinan karena bersifat naratif, menarik, dan sarat dengan dimensi spiritual-transendental. Dengan demikian, pendekatan kisah Qur’ani melalui tafsir tarbawi dapat dijadikan alternatif efektif dalam pendidikan karakter anak, khususnya dalam internalisasi nilai kedisiplinan.