Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Al-Idaroh

MENINJAU KEMBALI BATAS AURAT DALAM FIQH (Pendekatan Lughawī dan Maqāṣidi dalam Memahami Qs. An-Nūr 30-31) Artiyanto, Artiyanto; Mukmin, Agus; Husni, Husni
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 4 No 1 (2024): Maret, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v4i1.692

Abstract

This research aims to review the boundaries of aurat in fiqh, followed by creating new boundaries according to the results of linguistic interpretation and the maqāṣid asy-syarīah approach. This research uses qualitative methods in the form of literature study with a language (lughawī) and maqāṣid asy-syarī'ah (maqāṣidī) approach. This research defines the aurat as a part of the body that must be covered for human benefit. The results of the research formulate the limits of intimate parts according to Qs. al-Nur: 30-31 are: (1) genitals, both for men and women; (2) especially for women: parts of the body that are usually worn with jewelry but are not shown to other people, such as the top of the ankle which is usually worn with ankle bracelets, the ear which is usually worn with earrings, the top of the wrist which is usually worn with bracelets, and neck to chest where a necklace is usually worn; and (3) especially for women: head to chest (hair, ears, neck and breasts are genitalia, except for the face because it is the part of the body that is usually exposed). The linguistic interpretation of the verse shows that the limits of the aurat in Qs. al-Nur: 30-31 is more appropriate to interpret it with its original meaning (maknā al-wadh'i) or the meaning of its common usage (maknā isti'māl). The research results also show that determining the boundaries of the aurat in fiqh cannot be separated from cultural influences (Arab culture), where these boundaries do not bind everyone from different clothing cultures as long as the determined boundaries are still in accordance with maqāṣid asy-syarīah. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali batas aurat dalam fiqh yang dilanjutkan dengan membuat batasan yang baru sesuai hasil penafsiran secara kebahasaan dan pendekatan maqāṣid asy-syarīah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam bentuk studi kepustakaan dengan pendekatan bahasa (lughawī) dan maqāṣid asy-syarī‘ah (maqāṣidī). Penelitian ini merumuskan aurat sebagai bagian tubuh yang wajib ditutupi untuk kemaslahatan manusia. Hasil penelitian menetapkan batas aurat menurut Qs. al-Nur: 30-31 adalah: (1) kemaluan, baik bagi laki-laki ataupun perempuan; (2) khusus bagi perempuan: bagian tubuh yang biasa dikenakan perhiasan namun tidak diperlihatkan kepada orang lain, seperti bagian atas mata kaki yang biasa dikenakan gelang kaki, telinga yang biasa dikenakan anting-anting, bagian atas pergelangan tangan yang biasa dikenakan gelang tangan, dan leher sampai dada yang biasa dipasangkan kalung; dan (3) khusus bagi perempuan: kepala hingga dada (rambut, telinga, leher dan bagian payudara adalah aurat terkecuali wajah karena merupakan anggota tubuh yang biasa ditampakkan). Penafsiran ayat secara kebahasaan menunjukkan bahwa batasan aurat dalam Qs. al-Nur: 30-31 lebih sesuai jika dimaknai dengan makna aslinya (maknā al-wadh‘i) atau makna pemakaiannya yang umum (maknā isti‘māl). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penentuan batas aurat dalam fiqh tidak terlepas dari pengaruh budaya Arab di mana batas-batas tersebut tidak mengikat setiap orang dari dengan budaya berpakaian yang berbeda selama batas-batas yang ditentukan masih sesuai dengan maqāṣid asy-syarīah.
PERAN PT. TAKAFUL DALAM MENSYIARKAN ASURANSI MURNI SYARIAH DI KOTA LUBUKLINGGAU Patawari, Bedu; Artiyanto, Artiyanto; Putri, Depi; Mukmin, Agus
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 1 No 1 (2021): Maret, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v1i1.291

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Peran PT. Takaful dalam mensyiarkan Asuransi Murni Syariah di Kota Lubuklinggau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis PT. Takaful dalam mensyiarkan Asuransi Syariah di Kota Lubuklinggau. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian bahwa PT. Takaful di Kota Lubuklinggau telah memberikan pengaruh yang positif kepada masyarakat kota Lubuklinggau terlihat dari meningkatnya minat nasabah dalam memilih PT. Asuransi Takaful yang murni syariah di Kota Lubuklinggau. Adapun peran tersebut meliputi sebagai Lembaga Dakwah, Sebagai Basis Ekonomi Syariah, dan Sebagai Penyelamat Ekonomi Umat. Hasil penelitian diperoleh bahwa faktor pelayanan, promosi dan syariah berpengaruh positif terhadap minat nasabah dalam memilih PT. Asuransi Takaful Keluarga Cabang Palembang. Oleh karena itu, pertama, diharapkan PT.Asuransi Takaful Keluarga Kota Lubuklinggau dapat meningkatkan pelayanan, promosi dan mempertahankan sistem syariah agar dapat meningkatkan minat nasabah dalam memilih PT.Asuransi Takaful Keluarga Kota Lubuklinggau. Kedua, Memberikan pendidikan tentang ekonomi syariah kepada masyarakat Kota Lubuklinggau melalui seminar atau diskusi panel yang diselenggarakan setiap bulan atau pertahun minimal satu kali. Ketiga, Kepada seluruh agen Takaful agar dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang Asuransi syariah dan selalu melatih diri untuk menjadi leader dalam menegakan ekonomi syariah di Kota Lubuklinggau. Abstract: The purpose of this research was to determine the role of PT. Takaful in broadcasting sharia Pure Insurance in Lubuklinggau City. This research uses a qualitative descriptive method to analyze PT. Takaful in broadcasting Sharia Insurance in Lubuklinggau City. The data collection technique used interviews. The results showed that PT. Takaful in Lubuklinggau City has had a positive influence on the people of Lubuklinggau City as seen from the increasing interest of customers in choosing PT. Takaful insurance which is purely sharia in the Lubuklinggau city. The role includes as a Da'wah Institution, As a Basis for Sharia Economics, and As a Savior of the Ummah's Economy. The results showed that service, promotion and sharia factors have a positive effect on customer interest in choosing PT. Family Takaful Insurance, Palembang Branch. Therefore, firstly, it is hoped that PT. Asuransi Takaful Keluarga Kota Lubuklinggau can improve service, promotion and maintain the sharia system in order to increase customer interest in choosing PT. Asuransi Takaful Keluarga Kota Lubuklinggau. Second, providing education about sharia economics to the people of Lubuklinggau City through seminars or panel discussions which are held every month or annually at least once. Third, to all Takaful agents in order to increase their insight and knowledge about Islamic insurance and always train themselves to become leaders in upholding the sharia economy in Lubuklinggau City.
STRATEGI DAKWAH PENGHULU DALAM MEMBENTUK KELUARGA BERKUALITAS BAGI CALON PENGANTIN DI KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN JAYALOKA Kholifatul Hasanah, Septi; Zuhri, Zuhri; Mukmin, Agus; Prasetyo, Heru
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 1 No 2 (2021): September, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v1i2.459

Abstract

Marriage is often considered a not-so-sacred thing by some people in Jayaloka, as a result of which there are often problems in the household. There is even a dispute between husband and wife can cause hostility, the emergence of hatred between both parties even to the extended family, so that it can lead to divorce. The purpose of this study is to find out the implementation of the da'wah penghulu strategy applied in KUA Jayaloka. The type of research used is qualitative with a descriptive approach. Data collection with observations, interviews, and documentation. The results of the study can be concluded that the strategy of da'wah preachers in forming a quality family is by advising the bride and groom, the provision of sakinah family coaching materials and marriage sermons, and counseling strategies on reproductive health. The dawah strategy used by the ruler has been done well. Pernikahan seringkali dianggap hal yang tidak begitu sakral oleh sebagian masyarakat di Jayaloka, akibatnya sering timbul permasalahan didalam rumah tangga. Bahkan terdapat perselisihan antara suami dan istri tersebut dapat menimbulkan permusuhan, timbulnya kebencian antara kedua belah pihak bahkan sampai keluarga besar, sehingga dapat mengakibatkan perceraian. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan strategi dakwah penghulu yang diterapkan di KUA Jayaloka. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi dakwah penghulu dalam membentuk keluarga berkualitas yakni dengan menasihati calon pengantin, pemberian materi pembinaan keluarga sakinah dan khutbah nikah, dan strategi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi. strategi dakwah yang digunakan oleh penghulu sudah dilakukan dengan baik.
AYAT –AYAT TENTANG UJIAN PERSPEKTIF SYEIKH IMAM NAWAWI ( KAJIAN TEMATIK DALAM TAFSIR AL-MUNIR ) Mukmin, Agus; Agussalim, Agussalim
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 3 No 1 (2023): Maret, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v3i1.619

Abstract

Setiap manusia dalam kehidupannya pasti pernah merasakan sesuatu kondisi yang tidak diinginkannya seperti musibah, masalah, rasa khawatir bahkan ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Pada kondisi lain, manusia juga merasakan saat dimana jiwanya tenang, jauh dari masalah dan berlimpah rezeki. Dua keadaan manusia yang berbeda ini adalah sunnatullah. Itu artinya semua itu merupakan bagian dari pada ujian yang Allah swt berikan kepada umatNya untuk melihat siapa diantara hambanya yang bersabar dan bersyukur. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengulas dan mencari makna ujian yang Allah SWT berikan kepada manusia, sekaligus untuk mengetahui apa dan bagaimana ujian itu berlangsung dan bentuk-bentuk ujian dalam pandangan Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani melalui karya monumentalnya yaitu Mirahu Labid li Kasyfi Ma’na Qur’an Majid atau yang lebih popular dengan nama tafsir Al-Munir. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Tematik (Maudu’i) yang mana mengarah kepada satu tema yaitu ujian dengan sumber data primer Tafsir Marah Labid atau Tafsir Al-Munir karya Imam Nawawi Al-Bantani dan data sekunder dari beberapa buku dan karya ilmiah yang membahas tentang ujian Allah SWT kepada manusia. Hasil penelitian ini berdasarkan dari beberapa term di dalam al-Qur’an yang mempunyai arti yang sama yaitu ujian, yang mana term tersebut seperti buliya, mahana, dan fitnah. Kata Buliya disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 35 kali dan kata Mahana, disebutkan sebanyak 2 kali dan kata Fitnah yang berartikan ujian disebutkan 5 kali. Dari penelitian ini Imam Nawawi menjelaskan berbagai bentuk ujian seperti rasa takut dan khawatir, rasa lapar, kekurangan harta, penyakit hingga kehilangan nyawa. Selain itu juga dijelaskan bahwa ujian tidak hanya bermacam seperti tersebut tadi tapi juga berupa kesenangan duniawi seperti nikmat rezeki yang luas, umur dan lainnya. Adapun tujuan dari ujian tersebut menurut Imam Nawawi Al-Bantani adalah untuk mendorong manusia untuk bertaqwa kepada Allah swt dan mendorong manusia agar selalu membersihkan hati dan menjadikan manusia beriman sehingga diketahui siapa diantara hambanya yang bersabar dan bersyukur.
KEBUTUHAN MANUSIA MENURUT PERSPEKTIF ASY-SYĀṬIBῙ DAN ABRAHAM MASLOW (STUDI PERBANDINGAN) Artiyanto, Artiyanto; Mukmin, Agus; Ikit, Ikit; Husni, Husni
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 3 No 1 (2023): Maret, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v3i1.653

Abstract

This research aims to find similarities and differences as well as the relevance of the theory of human needs according to Ash-Syāṭibī and Abraham Maslow. This research uses qualitative methods with the type of literature study. The theory used is benefit theory with a comparative approach. The data used is secondary data in the form of books written directly by ash-Syāṭibī and Abraham Maslow. This research foundthat ash-Syāṭibī's theory with a time span of emergence that is far from Maslow's theory still has significant relevance to Maslow's theory of needs. Ash-Syāṭibī's theory has the advantage of being inclusive in accepting changes in human needs in the future as a result of advances in science and technology. On the other hand, Maslow's theory is limited and closed, so that if one day a new need arises, apart from the five hierarchies of needs that have been expressed, then the new need needs to be created in a new hierarchy because it is not suitable to be included in one of the existing hierarchies, because the existing hierarchy is closed and limited. However, ash-Syāṭibī's theory regarding human needs is still implicit, not explicit like Abraham Maslow's theory. This is the weak point of Ash-Syāṭibī's theory when compared to Abraham Maslow's theory, besides that Ash-Syāṭibī has not revealed the needs of modern humans such as the need for esteem and the need for self-actualization into the hierarchy of maqāṣid al-Syarīah that he compiled Penelitian ini bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan serta relevansi teori kebutuhan manusia menurut asy-Syāṭibī dan Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori maslahat dengan pendekatan perbandingan. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa buku-buku yang ditulis langsung oleh asy-Syāṭibī dan Abraham Maslow. Penelitian ini menemukan bahwa teori asy-Syāṭibī dengan rentang waktu kemunculan yang terpaut jauh dari teori Maslow masih memiliki relevansi yang signifikan dengan teori kebutuhan Maslow. Teori asy-Syāṭibī memiliki keunggulan karena bersifat inklusif untuk menerima perubahan kebutuhan manusia di masa mendatang sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya teori Maslow bersifat terbatas dan tertutup sehingga jika suatu saat muncul kebutuhan baru, selain dari lima hieararki kebutuhan yang telah diungkapkan maka kebutuhan baru itu perlu dibuatkan hierarki baru karena tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam salah satu dari hierarki yang ada, sebab hierarki yang ada bersifat tertutup dan terbatas. Meski demikian, teori asy-Syāṭibī memengenai kebutuhan manusia masih bersifat implisit, belum eksplisit seperti teori Abraham Maslow. Hal inilah yang menjadi titik lemah teori asy-Syāṭibī jika dibandingkan dengan teori Abraham Maslow disamping asy-Syāṭibī belum mengungkap kebutuhan manusia modern seperti kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri ke dalam hieararki maqāṣid al-syarīah yang ia susun.
PERAN MUHADHARAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PUBLIC SPEAKING SANTRI PONDOK PESANTREN AL-AZHAAR LUBUKLINGGAU DALAM BERDAKWAH DI MASYARAKAT Maulana, Yusuf; salim, agus; Mukmin, Agus
Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah Vol 3 No 2 (2023): September, Al-Idaroh: Media Pemikiran Manajemen Dakwah
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhaar Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53888/alidaroh.v3i2.657

Abstract

Muhadharah merupakan kegiatan berlatih pidato, ceramah atau kegiatan berbicara di depan umum. Muhadharah adalah kegiatan rutin yang dilakukan santri setiap minggunya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan santri serta mengasah keberanian dan mental santri. Hal ini juga sebagai bagian upaya Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau untuk meningkatkan kualitas Public Speaking santri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Muhadharah dalam meningkatkan kualitas Public Speaking santri Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau dalam berdakwah di masyarakat serta faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Kegiatan penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data (observasi, wawancara dan dokumentasi) menganalisis data, dan diakhiri dengan kesimpulan yang mengacu pada analisa data. Hasil penelitian menyatakan bahwa peran muhadharah untuk meningkatkan kualitas public speaking santri Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau dalam berdakwah di masyarakat. Kegiatan muhadharah di Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau dilakukan dua kali dalam satu minggu dan dilakukan setiap selasa malam rabu dan malam sabtu. Setiap kegiatan dalam Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklingggau memiliki tata tertib, tidak terkecuali kegiatan muhadharah.