Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Ushuluddin

Jihad Bunuh Diri menurut Hadis Nabi SAW Adynata, Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 16, No 2 (2013): Juli - Desember 2013
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada zaman sekarang sering kita mendengar dan melihat di media massa banyaknya terjadi bom bunuh diri, baik di tempat-tempat fasilitas umum seperti hotel, rumah ibadah, tempat pertemuan ataupun yang terjadi di daerah peperangan seperti di Palestina ketika perang antara tentara Israel dan Palestina. Para ulama telah mengkaji tentang hukum melakukan bom bunuh diri.Mereka berbeda pendapat tentang hukumnya; ada yang membolehkan dan ada pula yang melarang secara mutlak.Ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang terkait dengan persoalan ini, secara zahir tampak bertentangan. Dalam sebuah hadis Beliau melarang membunuh diri dengancara apapundan nanti di dalam neraka Jahannam pelakunya akan disiksa dengan cara yang dilakukannya ketika membunuh dirinya serta kekal di dalamnya. Sementara dalam Hadis yang lain disebutkan Rasulullah SAW menawarkan kepada satu orang sahabatnya untuk melawan musuh yang banyak yang diyakini akan membawa kematiannya pada perang Uhud sehingga terkesan sahabat tersebut mengorbankan dirinya.Hadis-hadis yang tampak bertentangan ini perlu dikaji lebih mendalam untuk ditemukan relevansinya dengan peristiswa bom bunuh diri yang banyak terjadi sekarang. Penulis memahami bahwa bom bunuh diri pada prinsipnya diharamkan, tetapi jika dilakukan dalam kondisi terpaksa dalam medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan dan menghindarkan bahaya yang lebih besar lagi maka boleh dilakukan asalkan atas perintah pemimpin perang. Tetapi jika dilakukan tidak dalam kondisi perang maka tidak boleh dilakukan dan termasuk sikap putus asa melihat kemaksiatan yang terjadi
STUDI HADIS-HADIS MUKHTALIF TENTANG MENGUMUMKAN KEMATIAN (AL-NA’Y) Adynata, Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. Dalam memahaminya diperlukan ilmu-ilmu tertentu agar tidak terjadi kekeliruan, sebab hadis-hadis tersebut kadang kala terlihat bertentangan satu sama lain, padahal jika hadis itu sahih bersumber dari Rasulullah SAW maka mustahil terjadi pertentangan padanya. Oleh karena itu, para ulama hadis mengkaji jenis hadis ini dan merumuskan metode penyelesaiannya dengan sebuah ilmu yaitu Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Di antara permasalahan yang terjadi di sebagian masyarakat yang berkaitan dengan kesalahan memahami hadis mukhtalif adalah tentang mengumumkan kematian (al-na’y) antara hadis yang membolehkan dan melarang. Kedua versi hadis tentang mengumumkan kematian (al-na’y) tersebut terlihat bertentangan satu sama lain atau mukhtalif yang mesti dipahami berdasarkan metode Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Pada hadis yang melarang al-na’y, Rasulullah SAW. menyebutkan alasan atau illat pelarangan itu, yakni tindakan mengumumkan kematian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Sedangkan pada hadis yang membolehkan al-na’y di mana Rasulullah SAW. dan sahabatnya melakukannya tidak mengandung tata cara Jahiliyah, tetapi sebaliknya mengandung kemaslahatan yang banyak. Oleh karena itu, pelarangan al-na’y itu terkait dengan tata caranya, yaitu tata cara Jahiliyah, Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kedua versi hadis tersebut tidaklah bertentangan
EFFECTIVENESS OF RUQYAH SYAR’IYYAH ON PHYSICAL DISEASE TREATMENT IN RIAU PROVINCE Adynata Adynata; Idris Idris
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 2 (2016): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v24i2.1525

Abstract

Ruqyah Syar’iyyah is one of Sunnah Prophet Muhammad in treating diseases and disorders syaithan, that is by reciting Al-Qur’an verses and praying. Most Muslims understand that ruqyah Syar’iyyah is only effectively treat non-medical disease or illness caused by psychiatric disorders and jin, whereas medical illness to be treated by medical means, Though al-Qur’an Surat al-Isra’ verses 82 mentions that al-Qur’an is as a bidder (a cure) and a mercy for believers without distinction of medications for non-medical or medical illness. Based on the research of writer in 2015, there are two methods ruqyah Syar’iyyah in Riau Province, which is manual method and practical Qur’anic Healing method. In fact, there are many chronic medical illnesses cannot be treated by doctors, but these diseases can be treated and cured by ruqyah without being accompanied by medication. Thus, ruqyah Syar’iyyah is not only effectively treat mental illness, but also effectively treat medical ailments
Jihad Bunuh Diri Menurut Hadis Nabi SAW Adynata Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 20, No 2 (2013): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v20i2.927

Abstract

Pada zaman sekarang sering kita mendengar dan melihat di media massa banyaknya terjadi born bunuh diri, baik di tempat-tempat fasilitas umum seperti hotel, rumah ibadah, tempat pertemuan ataupun yang terjadi di daerah peperangan seperti di Palestina ketika perang antara tentara Israel dan Palestina. Para ulama telah mengkaji tentang hukum melakukan bom bunuh diri. Mereka berbeda pendapat tentang hukumnya; ada yang membolehkan dan ada pula yang melarang secara mutlak. Ayat-ayat al­ Quran dan hadis Rasulullah SAW yang terkait dengan persoalan ini, secara zahir tampak bertentangan. Dalam sebuah hadis Beliau melarang membunuh diri dengan cara apapun dan nanti di dalam neraka Jahannam pelakunya akan disiksa dengan cara yang dilakukannya ketika membunuh dirinya serta kekal di dalamnya. Sementara dalam Hadis yang lain disebutkan Rasulullah SAW menawarkan kepada satu orang sahabatnya untuk melawan musuh yang banyak yang diyakini akan membawa kematiannya pada perang Uhud sehingga terkesan sahabat tersebut mengorbankan dirinya. Hadis-hadis yang tampak bertentangan ini perlu dikaji lebih mendalam untuk ditemukan relevansinya dengan peristiswa born bunuh diri yang banyak terjadi sekarang. Penulis memahami bahwa bom bunuh diri pada prinsipnya diharamkan, tetapi jika dilakukan dalam kondisi terpaksa dalam medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan dan menghindarkan bahaya yang lebih besar lagi maka boleh dilakukan asalkan atas perintah pemimpin perang. tetapi jika dilakukan tidak kondisi perang maka tidak boleh dilakukan dan termasuk sikap putus asa terhadap kemaksiatan yang terjadi
STUDI HADIS-HADIS MUKHTALIF TENTANG MENGUMUMKAN KEMATIAN (AL-NA’Y) Adynata Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v23i1.1083

Abstract

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. Dalam memahaminya diperlukan ilmu-ilmu tertentu agar tidak terjadi kekeliruan, sebab hadis-hadis tersebut kadang kala terlihat bertentangan satu sama lain, padahal jika hadis itu sahih bersumber dari Rasulullah SAW maka mustahil terjadi pertentangan padanya. Oleh karena itu, para ulama hadis mengkaji jenis hadis ini dan merumuskan metode penyelesaiannya dengan sebuah ilmu yaitu Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Di antara permasalahan yang terjadi di sebagian masyarakat yang berkaitan dengan kesalahan memahami hadis mukhtalif adalah tentang mengumumkan kematian (al-na’y) antara hadis yang membolehkan dan melarang. Kedua versi hadis tentang mengumumkan kematian (al-na’y) tersebut terlihat bertentangan satu sama lain atau mukhtalif yang mesti dipahami berdasarkan metode Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Pada hadis yang melarang al-na’y, Rasulullah SAW. menyebutkan alasan atau illat pelarangan itu, yakni tindakan mengumumkan kematian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Sedangkan pada hadis yang membolehkan al-na’y di mana Rasulullah SAW. dan sahabatnya melakukannya tidak mengandung tata cara Jahiliyah, tetapi sebaliknya mengandung kemaslahatan yang banyak. Oleh karena itu, pelarangan al-na’y itu terkait dengan tata caranya, yaitu tata cara Jahiliyah, Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kedua versi hadis tersebut tidaklah bertentangan
The Settlement of Contradictory Hadith on Mahram Status for Man due to Al-Radhāah Zikri Darussamin; Rahman Rahman; Adynata Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 30, No 1 (2022): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v30i1.14200

Abstract

This study examined the hadith regarding the determination of mahram status for adult men due to breastfeeding (al-radhāah). It was needed to be conducted because the hadiths are contradictory to one another. Using the mukhtalif al-hadith science method, this study tried to find the right and correct understanding, avoiding visible outward contradictions, with two forms of settlement, namely non-compromising and compromise. The majority of scholars prioritize a compromise settlement first, then a non-compromising one. The determination of the hadith "maqbul-ma'mulbih" and "maqbul-ghayru ma'mulbih" is a consequence of the application of non-compromising settlement through the nasakh or tarjih method approach. The findings show that contradictory hadiths on adult breastfeeding due to al-radhāah can be resolved by the compromise method (al-jam'u) using takhshis al-'am. The Prophet's command to Sahlah bint Suhail to breastfeed the adult Salim so that he becomes a mahram because of al-radhaah, is only a form of the Prophet's specialness to Salim and not for other adult men