Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Komunikasi Efektif dan Keteladanan Sebagai Alat Pendidikan Untuk Pewarisan Budaya Jawa “Tepa Slira” dan “Empan Papan” pada Anak Agustini, Dewi
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 6 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v6i2.22162

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rasa ingin tahu peneliti tentang komunikasi efektif dan keteladanan sebagai alat pendidikan untuk pewariskan budaya Jawa “tepa slira” dan “empan papan ” kepada anak-anak. Orang tua memiliki peran penting dalam melestarikan budaya suatu masyarakat, mempengaruhi perilaku anak baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial. Bentuk perilaku orang tua juga merupakan wujud yang tercermin dari sikap dan tindakan anak di lingkungan sosialnya. Bentuk permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi efektif dan keteladanan sebagai alat pendidikan pewarisan budaya Jawa “tepa slira” dan “empan papan” kepada anak-anak?Hasil dari penelitian ini adalah peran orang tua atau ayah dan ibu sama-sama dalam mendidik menggunakan alat pendidikan komunikasi yaitu dengan bercerita tentang budaya Jawa “tepa slira” yaitu sikap saling menghargai orang lain dengan toleransi beragama, menjaga hubungan baik di segala bidang, luasnya pikiran, lapang dada. Budaya jawa lainnya adalah “empan papan” yaitu kemampuan menempatkan diri saat berinteraksi dengan orang lain, memiliki tatakrama dan unggah ungguh. Orang tua juga menyiapkan buku-buku di perpustakaan kecil di rumah tentang budaya Jawa untuk dibaca dan diceritakan atau didiskusikan dengan anak, mengingat kembali pesan-pesan tentang budaya Jawa saat anak berkomunikasi di luar rumah, menasihati anak-anak ketika pertemuan keluarga bersifat informal, seperti ketika mereka berbicara bersama di ruang TV atau mengakhiri sholat berjamaah. Alat pendidikan lainnya adalah teladan yang baik yaitu memberikan contoh kongkrit kegiatan sehari-hari yang mencerminkan nilai budaya Jawa “tepa slira” dan “empan papan” bagi anak-anak. Saat orang tua telah memberi contoh serta menasihati namun anak tidak melakukan dengan perbuatan sehari-harinya, maka orang tua akan menegurnya dengan cara yang lembut hingga keras. Kegiatan pewarisan budaya sebagai alat pendidikan mesti di lakukan secara berkesinambungan supaya anak-anak mengetahui, memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari agar nilai-nilai budaya jawa yang syarat akan makna kebaikan, keluhuran budi tetap terjaga salah satunya tepa slira dan empan papan. Kata Kunci: komunikasi efektif, keteladanan, alat pendidikan, pewarisan budaya, Jawa, “tepa slira” dan “empan papan”, anak-anak
Aspek Perlindungan Perempuan Dalam Tradisi Pemaksaan Perkawainan Di Indonesia Menurut Peraturan Perundang-Undangan Ridho, Rosyid; Khasanah, Uswatul; Agustini, Dewi
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5 No 2 (2024): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v5i2.296

Abstract

orced marriage is not something new, it has even become a tradition in several regions in Indonesia. So, sometimes people make this a natural thing because it is part of local customs. However, in reality, the tradition of forced marriage has the potential to cause sexual violence in the household. In this article we will discuss aspects of women's protection in the forced marriage tradition in Indonesia. Apart from that, it will also be discussed regarding how Indonesian laws and regulations view the tradition of forced comrades in Indonesia. The research method used is library research with a normative juridical approach. Based on the results of the study, it shows that forced marriage in Indonesia violates women's freedom to choose their partner. Apart from that, forced marriage is also part of sexual violence so it violates human rights and is contrary to various regulations in Indonesia. Looking at these facts, aspects of legal protection that victims of forced marriage must obtain include repressive and preventive legal protection. This repressive legal protection aims to prevent forced marriages in accordance with Indonesian laws and regulations. Meanwhile, preventive legal protection aims to resolve problems that have arisen as a result of forced marriage. This last handling of legal protection is carried out by the court in accordance with Indonesian laws and regulations.
Manajemen Tantrum Seumur Hidup : Integrasi Psikologi Modern Dan Pendidikan Islam Dalam Regulasi Emosi Anak Hingga Dewasa Agustini, Dewi
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 1 (2025): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v6i1.389

Abstract

Tantrum is commonly understood as an explosive emotional reaction often seen in early childhood, but this behavior can persist into adulthood if not addressed through early emotional regulation. This study explores tantrum as a lifelong psychological phenomenon influenced by parenting styles, emotional development, and spiritual imbalance. Using a qualitative literature review method, the study synthesizes theories from Western psychology (Gross, Erikson, Beck) and Islamic perspectives (Al-Ghazali) to explain the continuity and transformation of tantrum behavior from early childhood to adulthood. It identifies critical factors such as authoritarian or permissive parenting, poor coping mechanisms, and the lack of spiritual grounding as contributors to emotional dysregulation. The paper proposes integrative strategies including cognitive-behavioral therapy (CBT), mindfulness, and Islamic spiritual practices to prevent and manage tantrum behavior. The findings emphasize the need for early interventions, holistic education, and community-based support systems to develop emotional resilience and prevent maladaptive emotional outbursts in adulthood. This research contributes to the growing discourse on emotional regulation by offering a culturally and spiritually contextualized framework for tantrum management across the lifespan.
Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Discovery Learning pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Materi Descriptive Text di SMP Negeri 4 Singaraja Agustini, Dewi; Agustini, Ketut; Pascima, Ida Bagus Nyoman
KARMAPATI (Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika) Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/karmapati.v12i1.57728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media dan mengimplementasi media pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan dengan menggunakan software adobe animate serta mengetahui respons guru dan peserta didik terhadap pengembangan media pembelajaran interaktif. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian dan pengembangan (R&D) yang menggunakan model MDLC (Multimedia Development life cycle). Penelitian ini dilakukan di kelas VII di SMP Negeri 4 Singaraja dengan 32 peserta didik. Berdasarkan tahapan yang telah dilalui menghasilkan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran bahasa inggris materi descriptive text berbasis discovery learning dengan menggunakan adobe animate, dengan memperoleh koefisien uji ahli media dan ahli isi sebesar 1.00 dengan kriteria “Sangat Valid”, kemudian pada uji coba perorangan memperoleh persentase sebesar 81,32% dengan kualifikasi “Baik”, uji coba kelompok kecil memperoleh presentase 81,46% dengan kualifikasi “Baik”, pada uji coba lapangan memperoleh presentase 84,62% dengan kualifikasi “Baik”, Hasil uji efektivitas dengan perhitungan N-gain memperoleh nilai 0,86 dengan kriteria Efektif, selanjutnya uji respon peserta didik pesentase sebesar 64,9% kategori ”Sangat Positif” kriteria “Sangat Praktis”, uji respon pendidik memperoleh persentase sebesar 46% kategori ”Sangat Positif” kriteria “Sangat Praktis”. Kata Kunci: Media Pembelajaran Interaktif, bahasa inggris, MDLC
Peran Orang Tua Dalam Penanganan Anak Korban Bullying Agustini, Dewi; Nuriana, Mutia Azizah; Nadiroh, Nadiroh; Ridho, Muhammad Rosyid
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 5 No 1 (2024): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v5i1.277

Abstract

This research aims to analyze the role of parents in handling children who are victims of bullying. This type of research is qualitative in nature, utilizing data sources from the literature. Bullying poses a significant threat to children's well-being, manifesting in various forms including physical, verbal, psychological, social, and cyber dimensions. This study examines the nuanced facets of bullying, encompassing definitions, typologies, and repercussions, with a particular emphasis on the pivotal role of parental involvement in alleviating its adverse effects. Drawing from psychological insights, it delineates the profound psychological, social, academic, and physical ramifications of bullying on victims, highlighting the imperative for targeted interventions. Parental engagement emerges as pivotal in fostering resilience and facilitating recovery, through strategies encompassing open dialogue and the cultivation of social competencies. Additionally, the exploration extends to diverse parenting styles and their implications in addressing bullying incidents. Therapeutic interventions, including individual, family, and group therapies, religious guidance, alongside cognitive-behavioral and remedial approaches, are discussed, with a focus on indicators of successful counseling such as reduced anxiety and enhanced coping mechanisms. Advocating for a holistic approach involving educators, parents, and mental health professionals, and religious guidance. The study underscores the imperative of creating a nurturing environment, empowering children to report incidents, and engaging parents in the counseling process to mitigate the pervasive impact of bullying on children's well-being.
Pelatihan kepada Orang Tua tentang Peran Orang Tua dalam Penanganan Anak Korban Bullying Di Wilayah kota Surakarta Agustini, Dewi
Jurnal Al Basirah Vol. 5 No. 2 (2025): Al Basirah
Publisher : LPPM STAIMAS WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jab.v5i2.426

Abstract

Bullying merupakan bentuk kekerasan psikososial yang masih marak terjadi di kalangan anak dan remaja, baik dalam bentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Anak korban bullying cenderung mengalami gangguan emosi, penurunan harga diri, hingga trauma jangka panjang. Salah satu faktor protektif yang paling penting dalam penanganan kasus ini adalah keterlibatan orang tua secara aktif, empatik, dan sadar emosional. Sayangnya, banyak orang tua belum memiliki pengetahuan, kesadaran, maupun keterampilan dalam menghadapi anak yang menjadi korban bullying. Kegiatan pengabdian masyarakat di Kota Surakarta ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas orang tua melalui pelatihan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik terkait bullying. Metode pelatihan dilakukan secara partisipatif dalam tiga sesi utama: pemaparan materi, diskusi kelompok, dan simulasi role play. Materi pelatihan berbasis teori psikologi perkembangan, keterikatan emosional (attachment), sistem keluarga, serta kecerdasan emosional. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, dan observasi partisipatif. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan orang tua sebesar 34% dan peningkatan kemampuan komunikasi empatik terhadap anak. Peserta juga menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya membangun kelekatan emosional dan lingkungan rumah yang aman. Pelatihan ini terbukti efektif dalam memperkuat ketahanan keluarga terhadap dampak bullying. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua harus menjadi bagian integral dalam sistem perlindungan anak melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan komunitas.
MENGATASI ANAK “KIDS ZAMAN NOW”: PENGARUH MEDIA SOSIAL DI ERA GLOBALISASI TERHADAP ANAK Agustini, Dewi; Muhammad, Abdulloh Ibnu
AL HAZIQ: Journal of Community Service Vol. 04, No. 2 Desember 2025
Publisher : Institut Islam Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54090/haziq.1044

Abstract

This community service initiative focuses on strengthening digital literacy capabilities among educators and parents to effectively respond to the evolving behavioral dynamics of children in the contemporary era. This effort is driven by the powerful influence of globalization and the widespread adoption of social media, which, in the absence of appropriate supervision, pose risks of moral degradation, psychosocial issues such as Fear of Missing Out (FOMO), and cyberbullying. Conducted in Jatiroto Village, Wonogiri, the program employs participatory education methods through Digital Parenting socialization, seminars on psychological impacts, and workshops on Family Digital Contracts. Evaluation results indicate a 45% increase in participants' understanding, as measured by the comparison between pre-test and post-test scores. In conclusion, an active-collaborative mentoring model has proven more effective than authoritarian parenting approaches in mitigating the negative impacts of the digital world. Synergy between families and schools, achieved through critical digital literacy, serves as the key to shaping a generation of intelligent, productive, and ethical digital citizens.
Dinamika Adiksi Digital: Tantangan Kognitif dan Psikososial di Era AI, Media Sosial, dan Teknologi Persuasif Agustini, Dewi
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.56699

Abstract

The massive integration of Artificial Intelligence (AI) and hyper-personalized, curated social media algorithms has triggered an escalation of cognitive crises and psychosocial degradation on a global scale. This paper conducts a comprehensive synthesis of 24 multidisciplinary scientific literatures (spanning 2013–2026) to map the causal dynamics and correlations among three interdependent phenomena: Digital Amnesia, Doomscrolling, and Phubbing. Digital Amnesia & Cognitive Erosion: Key findings indicate that the externalization of cognitive functions to AI-based assistants consistently erodes long-term memory retrieval through an amplified Google Effect. The human brain adaptively prioritizes energetic efficiency, outsourcing the burden of information storage to the digital ecosystem, which in the long run triggers functional atrophy within working memory circuits. Doomscrolling & Affective Desensitization: On the other hand, constant exposure to negative content stimulation facilitated by omnipresent algorithms drives doomscrolling behavior. Neurobiologically, this information asymmetry exploits the dopaminergic reward system and induces a state of chronic stress (constant activation of the HPA axis). The systemic impact of this condition manifests as up to a 20% decline in affective empathy scores, a form of emotional desensitization toward external suffering. Phubbing & Social Fragmentation: This cognitive fragmentation mutates into phubbing (phone-snubbing) behavior within the social sphere. Empirical data confirms that phubbing has undergone sociological normalization, shifting the structure of interpersonal interactions from deep engagement to mediated presence. This phenomenon significantly damages relationship satisfaction in romantic partnerships and degrades the quality of qualitative social cohesion. In conclusion, the accumulation of these three digital pathologies increases the risk of digital dementia—a decline in functional cognitive capacity that resembles organic brain injury. This study recommends structural interventions based on digital mindfulness and the regulated restoration of face-to-face interactions as the primary mitigation protocols to restore the cognitive homeostasis of modern humans. Abstrak Integrasi masif kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial yang terkurasi secara hiper-personal telah memicu eskalasi krisis kognitif dan degradasi psikososial pada skala global. Makalah ini melakukan sintesis komprehensif terhadap 24 literatur ilmiah multidisipliner (rentang waktu 2013–2026) untuk memetakan dinamika kausalitas dan korelasi antara tiga fenomena interdependen: Digital Amnesia, Doomscrolling, dan Phubbing. Digital Amnesia & Erosi Kognitif, temuan kunci menunjukkan bahwa eksternalisasi fungsi kognitif kepada asisten berbasis AI secara konsisten mengikis retensi memori jangka panjang (long-term memory retrieval) melalui efek Google Effects yang teramplifikasi. Otak manusia secara adaptif memprioritaskan efisiensi energetik, mentransfer beban penyimpanan informasi ke ekosistem digital, yang pada jangka panjang memicu atrofi fungsional pada sirkuit memori kerja. Doomscrolling & Desensitisasi Afektif, di sisi lain, paparan konstan terhadap stimulasi konten negatif yang difasilitasi oleh algoritma omnipresent mendorong perilaku doomscrolling. Secara neurobiologis, asimetri informasi ini mengeksploitasi sistem penghargaan dopaminergik dan menginduksi kondisi stres kronis (aktivasi konstan aksis HPA). Dampak sistemik dari kondisi ini bermanifestasi pada penurunan skor empati afektif hingga 20%, sebuah bentuk desensitisasi emosional terhadap penderitaan eksternal. Phubbing & Fragmentasi Sosial, fragmentasi kognitif ini bermutasi menjadi perilaku phubbing (phone-snubbing) di ranah sosial. Data empiris mengonfirmasi bahwa phubbing telah mengalami normalisasi sosiologis, menggeser struktur interaksi interpersonal dari deep engagement menjadi mediated presence. Fenomena ini secara signifikan merusak kepuasan hubungan romantis (relationship satisfaction) dan menurunkan kualitas kohesi sosial kualitatif. Sebagai konklusi, akumulasi dari ketiga patologi digital ini meningkatkan risiko digital dementia—sebuah penurunan kapasitas kognitif fungsional yang menyerupai cedera otak organik. Kajian ini merekomendasikan intervensi struktural berbasis digital mindfulness dan restorasi interaksi tatap muka secara terregulasi sebagai protokol mitigasi utama untuk memulihkan homeostasis kognitif manusia modern.