Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengembangan Layanan Digital dalam Membangun Kepercayaan Publik melalui Digital Desa yang Informatif Muhamad Faizal; Syaif Adiansyah; Mohamad Gea Subagja; Keyla Atala Avanza Satiri; Syavira El Hadi; Mohamad Imam Kamaludin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.2924

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi layanan digital di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, dalam membangun kepercayaan publik melalui pengelolaan informasi berbasis digital sebagai bagian dari program Desa Digital yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Transformasi digital di wilayah pedesaan menjadi salah satu agenda pembangunan strategis nasional yang bertujuan memperluas akses layanan publik sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam tata kelola pemerintahan desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi terstruktur dan observasi lapangan. Penentuan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling yang mencakup Kepala Desa Sindangheula, administrator website desa, serta masyarakat sebagai pengguna aktif layanan digital. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Desa Digital di Desa Sindangheula telah memberikan kemudahan akses layanan administrasi kependudukan melalui aplikasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan media sosial dan marketplace digital. Namun, kepercayaan publik terhadap layanan digital masih terhambat oleh tiga faktor utama, yaitu kesenjangan literasi digital terutama pada kelompok usia lanjut, keterlambatan pembaruan data administrasi, serta keterbatasan infrastruktur jaringan internet. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Desa Digital tidak semata ditentukan oleh ketersediaan teknologi, melainkan juga oleh kualitas layanan, aksesibilitas informasi, dan peningkatan literasi digital yang berkelanjutan sebagai fondasi utama kepercayaan publik.
Tradisi Yalil Sebagai Media Komunikasi Antarbudaya dan Instrumen Advokasi Sosial untuk Integrasi Masyarakat di Desa Sindangheula Serang Banten Pauzan; Najwa Khoerunnisa; Rafa Aliyah Shabirah; M. Atila Fahreza; Mohammad Imam Kamaludin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.2929

Abstract

Tradisi lisan bukan sekadar prosesi ritual, melainkan instrumen dinamis yang merajut kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tradisi Yalil di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, baik sebagai media komunikasi antarbudaya maupun sebagai instrumen advokasi sosial dalam memperkuat integrasi masyarakat. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Yalil bertindak sebagai media komunikasi antarbudaya berbentuk cultural performance yang mempertemukan tiga lapisan budaya: Islam pesantren, adat Banten, dan lokal-komunal desa. Proses ini berlangsung melalui komunikasi konteks tinggi (high-context communication) yang memediasi transisi status sosial mempelai. Sebagai instrumen advokasi sosial, Tradisi Yalil berperan dalam menegakkan standar moral pernikahan, menerapkan konsep Living Hadis (shalawat yang hidup dalam budaya), serta membangun ruang ritual bersama yang merekatkan solidaritas kultural tanpa paksaan. Lebih lanjut, tradisi ini berkontribusi terhadap integrasi masyarakat melalui tiga mekanisme utama: integrasi ritual (partisipasi kolektif warga), integrasi normatif (reproduksi kepatuhan nilai adat), dan integrasi simbolis (representasi penerimaan sosial lewat pembukaan kain pembatas). Simpulan penelitian menunjukkan bahwa meskipun mengalami transformasi fungsi pasca-1980 dari syarat wajib menjadi pelengkap pernikahan, Tradisi Yalil memiliki kapasitas adaptif yang organik. Tradisi ini terbukti melampaui fungsi seremonialnya dan berhasil menjadi penjaga kohesi sosial sekaligus media transmisi nilai agama dalam kehidupan masyarakat kontemporer.