Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Peran Edukator Perawat Terhadap Kemandirian Keluarga Dalam Merawat Klien Gangguan Jiwa Hertiana Hertiana; Ariyanti Saleh
Celebes Health Journal Vol 1 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-DIKTI) Wilayah IX Sulawesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.856 KB)

Abstract

Abstract The role of the community health nurse educator is expected to increase the independence of the family. The aim of public health nurse educator by giving health education with modelling approach to family regarding knowlegdge, attitude, and family independency. The research used quasi experiment pre-post control group design. The intervention given was health education with modeling approach about the treatment of psychiatric clients. The research was conducted in the working area of PKM pontap, Notrh Wara, and South Wara of Palopo City. The samples were 42 people consisted of 21 people of intervention group and 21 people of control group. The results of wilcoxon test indecate that there is a significant difference between intervention group and control group regarding knowledge (p=0.000, p=0.739), attitude (p=0.000, p=0.107), independency (p=0.000, p=0,157). Mann Whitney test of the two groups indicate knowledge (p=0.000), attitude (p=0.000), and independency (=p=0.000). health education with modeling apporoach performed by perkesmas nurses is effective to improve knowledge, attitude, and independency of family in giving treatment to family members suffering from mental disorder. Keywords: educators’role, health education, family, independency. Abstrak Peran edukator perawat khususnya perawat kesehatan masyarakat (Perkesmas) diharapkan mampu meningkatkan kemandirian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas peran edukator perawat perkesmas melalui pemberian pendidikan kesehatan terhadap kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment pre-post control group design. Intervensi yang diberikan berupa pemberian pendidikan kesehatan dengan pendekatan modelling tentang perawatan klien gangguan jiwa.Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kota Palopo. Keseluruhan sampel berjumlah 42 orang terdiri atas 21 orang kelompok intervensi dan 21 orang kelompok kontrol. Hasil uji wilcoxson membuktikan ada perbedaan yang padakelompok intervensi dan kontrol yaitu kemandirian (p=0,000, p=0,157).Uji mann whitney antara kedua kelompok didapat data kemandirian p=0,000. Pendidikan kesehatan yang dilakukan perawat perkesmas efektif dalam meningkatkan kemandirian keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa. Kata kunci: Peran edukator,pendidikan kesehatan, keluarga, kemandirian.
Intervensi perawatan spiritual bagi pasien kanker: Tinjauan sistematis Herniyanti Herniyanti; Ariyanti Saleh; Andi Masyitha Irwan
NURSCOPE: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 1 (2019): Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung, Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/nurscope.5.1.1-15

Abstract

Pendahuluan: Tujuan tinjauan sistematis ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang intervensi perawatan spiritual. Metode: Pencarian database pada  Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Kata kunci yaitu ”Spiritual needs” AND”Spiritual care” AND”Spiritual care interventions” AND”Cancer patients”. Filter 5 tahun terakhir dan full text.Hasil: Delapan (n=8) dari 1.085 artikel ditemukan membahas tentang intervensi perawatan spiritual berupa terapi musik; program perawatan spiritual; perawatan spiritual berdasarkan prinsip ajaran Buddha; konseling spiritual; dan intervensi berbasis spiritual Islam. Efektifitas penerapan intervensi perawatan spiritual meningkatkan pandangan tentang akhir kehidupan, menurunkan tingkat rasa sakit, kekahwatiran, tingkat depresi, kecemasan, stres, dan meningkatkan kesejahteraan spiritual dan relaksasi pasien. Dimensi agama dan dimensi eksistensial mengalami peningkatan nilai yang signifikan. Kesimpulan: Intervensi perawatan spiritual meningkatkan kesejahteraan spiritual sehingga pasien memiliki penguatan diri dan semangat hidup untuk menjalani penyakitnya.
PENGARUH PEMBERDAYAAN IBU DALAM PERAWATAN BAYI MELALUI PENDEKATAN MODELLING Ariyanti Saleh; Elly Nurachmah; Veny Hadju; Surayani As'ad; St Khadijah Hamid
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 13 No. 2: JUNI 2017
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.896 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v13i2.1981

Abstract

Ibu merupakan faktor lingkungan yang utama dan dapat berperan terhadap tumbuh kembang bayi melalui pemberian ASI. Pemberian ASI sangat dianjurkan pada bayi sampai anak berusia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas pemberdayaan ibu dalam merawat bayi 0-6 bulan dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan pendekatan modeling terhadap pengetahuan dan dukungan keluarga dengan status laktasi bayi. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment pre-post control group design. Analisis menggunakan uji wilcoxson dan uji Mann Whitney. Intervensi yang diberikan berupa pemberian pendidikan kesehatan dengan pendekatan modelling tentang manajemen laktasi dan stimulasi tumbuh kembang bayi. Sampel berjumlah 81 orang terdiri atas 41 orang kelompok perlakuan dan 40 orang kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dari kelompok intervensi dan kontrol masing-masing menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000; p=0,001). Dukungan keluarga dari kelompok intervensi dan kontrol masing masing menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000; p=0,009). Status laktasi menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p=0,001) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kesimpulan dari penelitian bahwa efektivitas pemberdayaan ibu dalam merawat bayi menunjukkan terdapat perbedaan antara pengetahuan, dukungan keluarga dan status laktasi sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan dengan pendekatan modelling.
The Effect of Sex Difference and Gender Role Identity on Moral Courage : A Study among Clinical Nurses Indah Restika; Ariyanti Saleh; Suarnianti; Yusran Haskas
International Journal of Nursing and Health Services (IJNHS) Vol. 4 No. 6 (2021): International Journal of Nursing and Health Services (IJHNS)
Publisher : Alta Dharma Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35654/ijnhs.v4i6.504

Abstract

Introduction: Until now, empirical research, where the main focus is moral courage is very rare. Objective: This study aimed to investigate the effect of gender role identity and sex difference on the moral courage of nurses related to ethical issues of daily nursing practices. Method: We applied the survey analytic research design in this. This research was conducted in 5 hospitals in Makassar City by applying multistage random sampling. The number of samples are 405 nurses. Result: The results found that from the perspective of sex difference and gender role identity, there is a significant difference in the context of nurses' moral courage such as mean value of male moral courage is higher than female (p= 0.013) (p<0.05). Therefore, it is recommended to strengthen the moral courage of nurses so that they are able to face various ethical issues of daily nursing practices. Recommendation: Further studies should assess a larger representative sample with self- report instruments to determine the actual impact of gender differences and their significance on nurses' moral courage when facing ethical issues in daily nursing practice.
SUPPORT EDUKASI DENGAN DIGITAL STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN SELF CARE OSTOMATE DI MAKASSAR TAHUN 2019 Yuliana Syam; Elly Lilianti Sjattar; Abd, Majid; Ariyanti Saleh
Jurnal Kesehatan Masyarakat Maritim Vol. 2 No. 2: Desember 2019
Publisher : Public Health Faculty, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/jkmm.v2i1.8725

Abstract

Colostomy adalah tindakan pembedahan pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut yang biasanya dilakukan sebagai terapi pada penderita kanker usus atau anus. Angka kejadian terus meningkat tiap tahunnya, dan pembuatan stoma akan menimbulkan permasalahan bagi penderita baik fisik, mental, emosional terkait aksesoris colostomy, dan bagaimana melanjutkan kembali kehidupan secara normal. Ketakutan yang dihadapi akan mencakup perasaan perubahan citra tubuh, peran dan fungsi dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari dan berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan penderita colostomy adalah dengan meningkatkan self eficasy dan self care dari klien dengan stoma yang dilakukan melakukan terapi bercerita/storytelling.Metode Peneelitian ini adalah Intervensi storytelling dilakukan selama 12 menit yang sudah disesuaikan secara kultural dan linguistik yang terdiri dari pengantar, cerita, dan pesan pendidikan managemen perawatan serta penutup.Wawancara terstruktur digunakan untuk menilai intervensi untuk penerimaan, tingkat minat, dan kegunaan.mSetelah menonton videonya, peserta menilai kepercayaan diri dan motivasinya serta kemampuan dalam pengelolaan manajemen perawatannya sebagai ostomate. Pengukuran self care dengan menggunakan kuisioner Stoma-Care Self-Efficacy Scale (SCSES) Hasil penelitian mengemukakan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan self care penderita stoma setelah dilakukan support edukasi dengan story telling. Sebagian besar (62,5 %) penderita mengalami self efficacy tinggi, adanya respon yang positif dalam hal pemenuhan kebutuhan aktifitas sehari-hari termasuk dalam hal beribadah, dan tetap semangat dalam menjalani aktiftas sehari-hari dengan menggunakan stoma. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Story telling mampu memberikan semangat dan menularkan respon positif ke ostomate lainnya, sehingga akan meningkatkan status kesehatan ostomate.
Gambaran Pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Dalam Mendukung Peningkatan Pengetahuan Dan Profesionalitas Perawat Haeril Amir; Andi Masyitha Irwan; Ariyanti Saleh
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 2019: EDISI KHUSUS
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.271 KB) | DOI: 10.30651/jkm.v4i2.1901

Abstract

Review Article DESCRIPTION OF THE IMPLEMENTATION REFLECTIVE CASE   DISCUSSION (DRK) IN SUPPORTING KNOWLEDGE AND NURSE PROFESSIONALITY  AbstractBackground:Reflective case discussion (DRK) is part of performance management development (PMK). The PMK component consists of standart, job description, performance indicator, monitoring system and DRK. DRK management is carried out in Hospital and health center. The development of this method must be continuously carried out as an effort to increased knowledge and professional nurses. The purpose of literature is to identify the description implementation of DRK in supporting improvement of the knowledge and professional nurse. Method: the database used in the literature making is Pubmed, Science Direct, Proquest and Wiley Online.    Result: there were 12 articles, but that met the inclusion criteria were 5 articles, result article show the benefit of DRK supporting increase knowledge and professional nurse. Discussion: the implementation of DRK a important, this method provides many benefits for nurses and has a direct impact of the health services , the development method in the future requires involvement of all parties and stakeholders support. Conclusion:the implementation of DRK in hospital useful to improve the professional of nurses, increase knowledge and confidence so it is important. Keywords: Reflective case discussion, knowledge and professional 
PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN BERBASIS PEMERINTAH DI PELAYANAN KESEHATAN: TINAJAUAN LITERATUR: Implementation of Government-Based Referral Systems in Health Services: Literature Review Muhammad Adjiz Zuhri; Ariyanti Saleh; Takdir Tahir; Sri Wahyuni Yunus Kanang; Nur Isriani; Kasmawati
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 8 No. 1 (2022): JIKep | Februari 2022
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.759 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v8i1.817

Abstract

Pendahuluan: Sistem rujukan dibuat untuk mengintegrasikan pelayanan dan memudahkan pelayanan ke pasien. Di lain sisi pertimbangan biaya menjadi hal yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Masih rendahnya pemahaman tentang sistem rujukan sedikit banyak menyulitkan pasien itu sendiri dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.Tujuan dari penulisan Literature review ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan sistem rujukan berbasis pemerintah dan hambatan yang dihadapi dalam layanan kesehatan. Metode penyusunan literatur review ini mengikuti panduan PRISMA. Pubmed, Science Direct, Wiley Online, Proquest, dan Google Scholar adalah database yang digunakan dalam mengumpulkan artikel dengan kata kunci yang relevan. Hasil diperoleh lima artikel penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi. Artikel penelitian mengemukakan proses pelaksanaan, hambatan dan tantangan dalam system rujukan berjanjang di layanan kesehatan. Kesimpulan Sistem rujukan berjenjang merupakan sistem pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang bertujuan untuk mengendalikan mutu dan biaya pelayanan dalam sistem JKN. Sistem ini juga dirancang agar pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien bisa optimal dan pasien dapat puas dengan pelayanan tersebut. Meski demikian, hasil penelitian ini menemukan masih banyak persoalan dalam pelaksanaan sistem rujukan berjenjang di FKTP. Pelayanan yang diberikan oleh FKTP belum optimal karena tidak seimbangnya antara jumlah pasien yang dilayani dan petugas dan infrastruktur pelayanan kesehatan.
KOLABORASI PERAWAT-ROHANIAWAN DALAM PENERAPAN SPIRITUAL DIRUMAH SAKIT: A SCOPING REVIEW: The nurse-clergy collaboration in the application of spiritual nursing in hospital : A Scoping Review Abdullah; Ariyanti Saleh; Syahrul Syahrul
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 8 No. 1 (2022): JIKep | Februari 2022
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.861 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v8i1.863

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Asuhan keperawatan spiritual di rumah sakit merupakan komponen penting perawatan paliatif yang tidak bisa diabaikan dalam proses penyembuhan pasien, namun pada pelaksanaannya kurang mendapat perhatian. Kurangnya kolaborasi perawat dengan rohaniawan, keberadaan rohaniawan di ruangan perawatan bukan karena rujukan perawat tapi berdasarkan permintaan pasien dan keluarga. Terkadang keberadaan mereka karena kebijakan manajemen rumah sakit, sehingga hal ini mempengaruhi efektifitas keperawatan spiritual di rumah sakit. Tujuan : Mengidentifikasi kolaborasi perawat-rohaniawan dalam penerapan asuhan keperawatan spiritual di rumah sakit. Metode : Menggunakan metode scoping review yang disusun berdasarkan panduan dari JBI penelusuran literatur yang dilakukan melalui database pubmed, proquest, ebscohost, science direct, clinical for nursing, garuda, dan pencarian sekunder dengan populasi artikel yang berfokus pada kolaborasi perawat dan rohaniawan dalam penerapan keperawatan spiritual di rumah sakit dengan batasan pencarian 10 tahun terakhir. Hasil : 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan bahwa 11 artikel tentang kolaborasi perawat-rohaniawan dalam penerapan keperawatan spiritual di rumah sakit dari 11 artikel tersebut menjelaskan bentuk pelaksanaan rujukan perawat ke rohaniawan, hasil yang didapatkan lebih banyak menjelaskan kolaborasi perawat-rohaniawan pada kasus masalah pasien dengan kondisi kritis menghadapi kematian, khususnya mulai fase intervensi sampai perencanaan. Namun dari kelima bentuk kolaborasi dari fase pengkajian belum ada yang menjelaskan bagaimana bentuk kolaborasi pada fase tersebut secara langsung. Temuan lain didapatkan dari empat karakteristik spiritual, fase bagaimana hubungan dengan alam tidak ditemukan artikel yang menjelaskan bagaimana kolaborasi perawat dan rohaniawan. Kesimpulan : kondisi-kondisi pasien untuk dirujuk ke rohaniawan harus mempertimbangkan kode etik profesi, pentingnya mendatangkan/menyediakan rohaniawan di ruangan pelayanan di rumah sakit untuk meningkatkan kolaborasi dan rujukan spiritual. Kedepan diharapkan ada penelitian yang membahas kolaborasi dengan rohaniawan pada fase awal pengkajian agar asuhan spiritual yang diberikan lebih baik dan efektif. Kata kunci: Nurs*; clergy; chaplain; spiritual nursing; hospital
Nurses’ Experience of Dealing With Patients’ Aggressive Behaviour in Psychiatric Emergency Ward of Hospital in South Sulawesi Hasnah Hasnah; Hapsah Hapsah; Silvia Malasari; Ariyanti Saleh; Akbar Harisa
Indonesian Contemporary Nursing Journal Volume 3 No. 1 Agustus 2018
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6677.745 KB) | DOI: 10.20956/icon.v3i1.3982

Abstract

Introduction: The high level of risk emergency psychiatry nurse becomes the target of aggressive behavior in patients both physically and psychologically, providing a special experience for nurses. Positive and negative impacts felt more likely a psychological effect on the nurse. Objective: Identifying the experiences of nurses dealing with patient of aggressive behavior in Emergency Psychiatric of Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Methods: The phenomenological approach to decision informants using purposive sampling with the informant as much as 9 informants who have experienced aggressive behavior from patients. Results: There were 7 themes obtained by the feelings of nurses with aggressive behavior patients, nurses experienced different kinds of aggressive behavior,  nurses identified about the causes of the patient's aggressive behavior, nurse found some signs of the patient while being aggressive, nurses perceived impact of agresive behavior after getting the incident of it, the way nurses treated patients aggressive behavior, and nurses found obstacle to overcome aggressive behavior's patient. The positive experience of nurses in dealing with patient of aggressive behavior was nurse know the proper ways, causes and signs of the patient while being aggressive so the nurse was able to anticipate the action will be carried out. On the other hand the negative experience felt by the nurse due to the impacts of the aggressive behavior patients. Conclusions and:  The experience felt by nurses in dealing with patients in Psychiatric Emergency Unit of Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan there were positive and negative. Therefore, we need a way to reduce aggressive behavior and provide management training for nurses in dealing with aggressive behavior in order to keep patients safely.
KEPEMIMPINAN YANG MEMOTIVASI DI ERA PERUBAHAN PARADIGMA PELAYANAN KESEHATAN: Motivating Leadership in An Era of Changing Paradigms of Health Care Yenny Sima; Ariyanti Saleh; Sudirman Nasir
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 9 No. 1 (2023): JIKep | Februari 2023
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v9i1.1419

Abstract

Pendahuluan: Pasien sebagai sentra utama dalam perubahan paradigma pelayanan kesehatan membutuhkan kepemimpinan yang memiliki visi dan menginspirasi sehingga dapat meningkatkan motivasi kerja perawat ke tingkat yang lebih tinggi, Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti lainnya di bidang keperawatan menunjukkan bahwa tinggi rendahnya motivasi kerja perawat dipengaruhi oleh faktor interpersonal dan faktor dukungan organisasi dalam hal pemberdayaan dan kesiapan sarana yang dibutuhkan. Tujuan: Memperoleh gambaran peran kepemimpinan yang dapat meningkatkan motivasi kerja perawat. Dilakukan di dua rumah sakit yang berbeda dalam hal karakteristiknya, yaitu pada RS. Bhayangkara Tingkat II Mappaodang dan RSUD Kota Makassar. Metode: Menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 141 orang perawat pelaksana yang dipilih secara proportional stratified sampling serta memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Gaya kepemimpinan di RS Bhayangkara Tingkat II Mappaodang memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai p <0,05 terhadap motivasi kerja perawat pelaksana sedangkan di RSUD Kota Makassar tidak berhubungan secara signifikan dengan motivasi kerja perawat di ruang rawat inap dengan nilai p 0,060. Kesimpulan: Peran kepemimpinan perawat dapat lebih direalisasikan melalui transformasi visi organisasi sehingga visi tersebut menjadi visi bersama, memberikan dukungan dan pendampingan dalam setiap penyelesaian masalah melalui peningkatan kompetensi perawat sehingga dapat meningkatkan kepercayaan perawat terhadap seorang pemimpin dan organisasi.