Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KRIMINALISASI PERBUATAN MENULARKAN PEYAKIT MENULAR (Ditinjau Berdasarkan Pasal 351 Ayat (4) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Aan Setiawan
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2021
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aan Setiawan, Abdul Madjid, Ardi FerdianFakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169, MalangEmail : aansetiawan12334@gmail.com AbstractThis research is aimed at studying and analysing the liability over the crime of spreading contagious diseases based on the perspective of Article 351 paragraph (4) of Criminal Code. Normative juridical method, statutory and comparative approaches were employed. Legal materials were obtained from library research. Contagious diseases are often seen to be able to infect others rapidly and they are very dangerous. In general, intentionally spreading contagious diseases is governed in Law Number 36 of 2009 concerning Health and Article 351 paragraph (4) of Criminal Code, where any conduct of spreading contagious diseases have met what is regulated in article. Spreading contagious diseases is seen as an intention to ruin the quality of health of others. In Germany, this issue and the sanctions imposed over spreading the diseases are clearly regulated in the law of the state. Thus, this research performs comparison of the regulations between Germany and Indonesia.Keywords: liability, contagious disease, Germany. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pertanggungjawabanpidana kriminalisasi perbuatan menularkan penyakit menular yang ditinjauberdasarkan pasal 351 ayat (4) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian yuridis normatif denganmenggunakan pendekatan undang-undang serta pendekatan perbandingan. Bahan hukum yang diperoleh melalui analisis undang-undang serta studi kepustakaan.Penyakit menular tentunya merupakan salah satu penyakit yang berhaya sertapenularannya yang sangat cepat. Jika dilihat dari peraturan di Indonesia terkaitkesengajaan menularkan penyakit menular, baik didalam undang-undang nomor 36tahun 2009 tentang kesehatan maupun peraturan lain yang berkaitan tentangpenularan penyakit menular. Namun, perbuatan menularkan penyakit menularmemenuhi unsur-unsur sebagaimana diatur didalam pasal 351 ayat (4) KitabUndang-Undang Hukum Pidana. Perbuatan menularkan penyakit menular yangdisamakan dengan sengaja merusak kesehatan.  Jika dilihat dari peraturan di negaraJerman telah mengatur secara jelas hingga sanksi yang dibebankan kepada pelakuyang sengaja menularkan penyakit menular kepada orang lain. Sehingga penelitianini dilakukan dengan membandingkan peraturan di negara Jerman terkait sengajamenularkan penyakit menular.Kata Kunci : Pertanggungjawaban, Penyakit Menular, Jerman 
EVALUASI LINTASAN PEMBORAN BERARAHDENGAN METODE MINIMUM OF CURVATURE PADASUMUR X LAPANGAN Y PETROCHINA INTERNATIONAL Abdul Hamid; Aan Setiawan
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN Prosiding Seminar Nasional Cendekiawan 2015 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/semnas.v0i0.210

Abstract

Pemboran berarah adalah suatu teknik membelokkan lubang sumur untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang tidak terletak secara vertikal.Dalam membor suatu formasi, selalu diinginkan lubang vertikal, namun karena alasan-alasan yang menyangkut faktor geologis, faktor topografis, faktor ekonomis, dan lain-lain maka pemboran berarah menjadi salah satu pilihan. Masalah akan timbul dimana lintasan yang terbentuk tidak sesuai dengan yang direncanakan, meskipun target kedalaman formasi yang diinginkan tercapai. Hal ini dapat berpengaruh pada bertambahnya waktu operasi yang tidak produktif dan tentunya biaya pemboran yang semakin bertambah.Untuk mengatasi masalah tersebut maka survey pemboran harus dilakukan untuk melihat arah penyimpangan lintasan dan mengarahkan pemboran kembali pada lintasan yang direncanakan.Metode yang digunakan dalam perhitungan lintasan pemboran didasarkan pada metode Minimum of Curvature.Di dalam penulisan ini mencoba untuk melihat penerapan dari suatu perencanaan lintasan pemboran berarah dan melakukan evaluasi keberhasilan perencanaan lintasan pemboran yang hasilnya diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan menjadikan operasi pemboran lebih efektif dan efisien.
RUANG LINGKUP DAN FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Abdul Syukur; Aan Setiawan
El-FAKHRU Vol. 1 No. 1 (2021): el-Fakhru
Publisher : PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.855 KB) | DOI: 10.46870/elfakhru.v1i1.16

Abstract

Pada dasarnya Islam mengajarkan dan memberikan mencontohkan tentang kehidupan yang serba terarah dan sudah teratur dengan baik, dan telah memberikan contoh konkrit adanya tertib administrasi yang mengarah ke sebuah keteraturan, seperti halnya Puasa, haji dan beberapa ajaran agama lainya. Teori dan konsep administrasi yang digunakan saat ini sebenarnya sudah ada sejak dulu dalam Al-Qur’an, seperti pada saat Allah SWT menciptakan alam semesta beserta isinya, di sana Allah sudah memperlihatkan bagaimana penciptaan alam semesta ini diciptakan dengan teratur dan bekerja seperti tujuan diciptakanya.
Peradaban Islam di China Aan Setiawan; Darwis; Muhammad Saddang; Al-Muthmainnah
El-FAKHRU Vol. 2 No. 2 (2023): el-Fakhru
Publisher : PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/elfakhru.v2i2.571

Abstract

Abstrak Negara China untuk pertama kalinya disatukan oleh Kaisar Shi Huang Thi pada masa Kekaisaran Dinasti Qin (221-207 SM. Masuknya agama ke China memiliki beberapa teori, diantaranya: semenjak pada masa Rasulullah SAW dan baru masuk ketika pada masa khalifah Utsman bin Affan. Agama Islam mulai masuk dan menyebar di wilayah cina melalui beberapa cara, di antaranya melalui hubungan perdagangan, perkawinan ataupun dengan asimilasi atau persesuain budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara jelas bagaimana Agama Islam bisa menyebar ke Negara China dan peranan Islam dalam perkembangan Negara China . Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan (library research) atau studi pustaka. Penulis mengumpulkan dan membaca informasi yang didapat dari buku-buku, artikel, jurnal, maupun tulisan ilmiah lainnya. Adapun hasil dari penelitian ini adalah kaum muslim di China telah mempunyai pengaruh dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan politik, ekonomi, dan budaya China. Selain itu perkembangan Islam di China pada masa Dinasti-Dinasti sangatlah berkembang baik dalam bidang komunikasi ataupun transportasi. Kata kunci : China, Agama Islam, Penyebaran Islam, Etnis Muslim  
PROBLEMATIKA GURU DALAM MENERAPKAN KURIKUUM MERDEKA BELAJAR DI SD ISLAM TERPADU TAHFIDZULQUR’AN LEMBANG Aan Setiawan
AL-MUTSLA Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v6i1.1091

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar memunculkan berbagai tantangan bagi guru dalam menyesuaikan jenis asesmen dengan tujuan pembelajaran, mengatasi keterbatasan pemahaman terkait kurikulum baru, dan memperoleh keterampilan dasar seperti penggunaan teknologi informasi. Penerapan Kurikulum Merdeka di SD Islam Terpadu Tahfidzul Qur'an menunjukkan adanya kesulitan dalam efektivitas guru dan pemahaman terhadap materi ajar. Langkah-langkah seperti pelatihan implementasi kurikulum, perencanaan yang baik, pengembangan model pembelajaran inovatif, serta penyesuaian dengan kompetensi dasar kurikulum menjadi kunci dalam mengatasi problematika tersebut. Observasi di SD tersebut menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dilakukan secara bertahap, dengan kelas tertentu sudah mulai menerapkannya. Dengan kolaborasi antara pemerintah, guru, dan stakeholder pendidikan, diharapkan implementasi Kurikulum Merdeka dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan.
The Interaction of Islam and Culture and The Values of Islamic Education In The ‘Mangonggo’ Tradition In Batetangnga Village Suddin Bani; Burhanuddin; Aan Setiawan
Edukasia Islamika : Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 2 (2024): Edukasia Islamika - Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jei.v9i2.8940

Abstract

This article examines the tradition of Mangonggo within the Pattae tribal community, highlighting the interaction between local culture and Islamic teachings in Batetangnga. The Mangonggo durian is a traditional activity conducted by the Batetangnga community during periods of abundant fruit harvest. According to community leaders, this tradition predates the administrative establishment of Batetangnga village. The tradition embodies significant Islamic educational values. However, contemporary influences, including pragmatism and differing religious perspectives, have raised concerns about the preservation of this tradition. This research employs a qualitative methodology, with the researcher serving as the primary instrument for data collection through observation and interviews. The aim is to understand the challenges associated with preserving the Mangonggo tradition. In qualitative research, subjects are selected purposively; thus, this study will utilize purposive sampling to ensure that the data collected aligns with the research objectives. The findings of this study indicate that the Mangonggo durian tradition is a product of the interplay between culture and Islam within the Batetangnga community. This interaction is evident in the incorporation of religious symbols and instruments in the implementation process such as using the mosque as an information center, conducting prayers with religious texts, shifting societal paradigms, and involving religious leaders. Furthermore, the Mangonggo tradition, as a manifestation of the convergence of religion and culture, encompasses numerous Islamic educational values, including gratitude, sincerity, honesty, humility, and collaborative cooperation. The preservation of this local culture, exemplified by the Mangonggo tradition, serves as an alternative means of promoting Islam within the Batetangnga Village community. This approach has garnered government support as part of the religious moderation program, which emphasizes the importance of accommodating local culture.