Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

EVALUASI GROUNDING SISTEM TOWER SELULER KANTOR MCC TAL PT. BUKIT ASAM Raharjo, Wahyu; Widarianto, Widarianto; Inamullah, Hafiz; Rizal, Choirul
Jurnal Teknik Elektro Vol 13 No 1 (2023): Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36546/jte.v13i1.898

Abstract

Pada musim penghujan dan disertai petir pada bulan februari dan maret 2023 selain curah hujan tinggi bahaya sambaran petir akan mudah terjadi pada konstruksi bangunan tinggi salah satunya pada Tower Seluler di Kantor MMC TAL PT. Bukit Asam (Persero). Untuk menjamin kehandalan komunikasi dan keselamatan perangkat telekomunikasi dan peralatan listrik tower, termasuk keselamatan mahluk hidup perlu dilengkapi sistem proteksi diantaranya sistem proteksi pentanahan pada tower seluler kantor MCC TAL. Fungsi dari pentanahan atau grounding untuk mengalirkan arus listrik atau arus ganguan kedalam tanah secepat mungkin dengan resistansi yang rendah. Standar dari resistansi pentanahan pada peralatan listrik yakni dibawah 5 Ω menurut PUIL 2000 atau PUIL 2011. Pada kenyataannya pengaruh dari cuaca sangatlah penting akan nilai resistansi pentanahan, semakin lembab suatu sistem pentanahan terpasang maka akan semakin menurun nilai resistansi pentanahan tersebut. Dari hasil pengukuran disaat sistem pentanahan terpasang dalam kondisi basah ditandai dengan selesainya turun hujan air, nilai resistansi terendah yakni 1 Ω, nilai tersebut berbanding terbalik disaat kondisi cerah atau kering.
PEMILIHAN ELCB DAN MCB SEBAGAI PROTEKSI INSTALASI LISTRIK RUANG LABORATORIUM MESIN LISTRIK SMK NEGERI 1 OKU SELATAN Yani, Raden Ahmad; Wijaya, Sultan Hadi; Andi, Kemas; Rizal, Choirul
Jurnal Teknik Elektro Vol 13 No 2 (2023): Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36546/jte.v13i2.983

Abstract

Proteksi terhadap dari arus bocor dan tegangan lebih mauoun beban lebih pada rangkaian instalasi listrik mutlak digunakan pada saat pemanfaatan energy listrik, saat ini pengguaan energi listrik bukan hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari tetapi digunakan untuk pendidikan, didalam prosesnya untuk melakukan pembelajaran praktek mesin-mesin listrik di lingkungan SMK Negeri 1 OKU Selatan aktif dilakukan, untuk menjaga keselamatan dan keamanan bagi siswa dan pengajar pada instalasi listrik diruangan laboratorium tersebut dirangkai sistem proteksi dari arus hubung singkat, beban lebih dan arus bocor. Sistem proteksi pada instalasi listrik tersebut mutlak dilakukan atau dipasang dikarenakan pada saat siswa melakukan proses merangakai atau membuat instalasi rangakain pada motor-motor listrik dikhawirkan terjadinya kesalahan sambungan dan kegagalan isolasi. MCB dan ELCB sebagai alat proteksi yang digunakan untuk instalasi ruang laboratorium, dengan pembagian 4 group jalur instalasi listrik dengan saluran 3 fasa dimana setelah melakukan perhitungan dan analisis lapangan didapat MCB 3 pole dan MCB 1 pole yang digunakan berkapasitas 6 Ampere dan ELCB 4 pole sebagai alat proteksi arus bocor terhadap tegangan sentuh berkapasitas 10 Ampere dengan ranting arus bocor 30 mA.
ANALISA KAPASITAS ARUS PEMUTUS TENAGA SISI 500 KV Rizal, Choirul; Pratiwi, Dwi; Saputra, Ricky
Jurnal Teknik Elektro Vol 14 No 1 (2024): Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36546/jte.v14i1.1119

Abstract

ABSTRAK Pemutus Tenaga (PMT) merupakan Alat pemutus, yang berfungsi sebagai memutus rangkaian listrik dalam keadaan berbeban. Dalam keseharian sering kali terjadi berbagai kejadian gangguan dalam penyaluran listrik. oleh karena itu untuk mencegah gangguan tersebut terjadi maka diperlukan pemutus tenaga. Pemasangan Pemutus Tenaga ditujukan untuk menghindari terjadinya kerusakan pada peralatan - peralatan Gardu Induk yang nantinya akan menyebabkan terhambatnya penyaluran tenaga listrik ke beban (konsumen). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kinerja Pemutus Tenaga pada saat terjadinya gangguan serta untuk menganalisa faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja Pemutus Tenaga pada Gardu Induk Pembangkit Sum-Sel 8. Adapun hasil penelitian terkait kenerja Pemutus Tenaga pada gardu induk tersebut adalah bahwa Kinerja Pemutus Tenaga Pada Sisi 500 kV Gardu Induk Pembangkit Sum-Sel 8 dalam kategori baik.hal tersebut dilihat dari setting waktu kerja relai arus lebih yang terpasang pada sisi 500 kV Gardu Induk tersebut yaitu tidak lebih kecil dari waktu settingnya,. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dari PMT yaitu besarnya arus gangguan hubung singkat yang terjadi. Besar atau kecilnya arus gangguan itu dipengaruhi oleh jarak terjadinya gangguan, semakin jauh titik gangguan maka semakin kecil arus gangguan yang terjadi begitu pula sebaliknya, semakin dekat titik gangguan maka semakin besar pula arus gangguan yg terjadi. Kemudian yang berikutnya mempengaruhi kinerja Pemutus Tenaga adalah setting relai arus lebih. Dari hasil penelitian ini didapat nilai kapasitas pemutus tenaga di transformator sebesar 1,29 KA dan pada Busbar 1,30 KA. Kata Kunci : Pemutus Tenaga, Gardu Induk , Arus Lebih
PERBANDINGAN RESITANSI PENTANAHAN ANTARA HASIL PERENCANAAN DAN HASIL COMMISSIONING TEST DI GARDU DISTRIBUSI 20 KV: distribution substation grounding system Junaidi, Junaidi; Putra, Dian Eka; Rizal, Choirul
Jurnal Ampere Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Ampere
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/ampere.v9i1.14795

Abstract

Penelitian ini mengkaji perencanaan dan pengukuran sistem pentanahan pada gardu distribusi 20 kV diDesa Danau Gerak dan Desa Plencur, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Hasilanalisis menunjukkan bahwa kedalaman elektroda batang dan jenis tanah berpengaruh signifikan terhadapnilai resistansi pentanahan. Perencanaan awal memperkirakan nilai resistansi pentanahan, namun hasilpengukuran lapangan mengindikasikan adanya perbedaan. Di Desa Danau Gerak, nilai resistansipentanahan mengalami sedikit perbedaan antara perencanaan (4,91 Ω) dan hasil lapangan (rata-rata 4,52Ω). Sementara itu, di Desa Plencur, perbedaan lebih signifikan; perencanaan menunjukkan nilai 4,47 Ω,sedangkan hasil pengukuran commisioning test menunjukkan nilai sebesar 1,31 Ω saat tanah basah pascahujan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kelembaban tanah berpengaruh secara signifikan terhadap nilairesistansi pentanahan. Studi ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi dan pengujian yang cermat terhadapkarakteristik tanah dan kondisi lingkungan saat pengukuran pentanahan pada instalasi listrik.
The Decreasing Ground Potential Rise by Lessening Soil Resistance in Arrester Grounding System Putra, Dian Eka; Yani, Raden Ahmad; Siahan, Michael Solafide; Rizal, Choirul; Nofiansah, Nofiansah
IJEEIT : International Journal of Electrical Engineering and Information Technology Vol 6 No 2 (2023): September 2023
Publisher : NAROTAMA UNIVERSITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29138/ijeeit.v6i2.2180

Abstract

PROTEKSI GENSET G3360-85KW RELAY ARUS LEBIH DI PERTAMINA HULU ROKAN PRABUMULIH Rizal, Choirul; Apriyansyah, Apriyansyah
Jurnal Teknik Elektro Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36546/jte.v14i2.1461

Abstract

Generator adalah suatu mesin yang merubah energi mekanik menjadi energi listrik. Prinsip kerja dari generator adalah rotor generator yang di gerakkan oleh (Turbin Uap) sehingga mampu menghasilkan energi listrik dan dapat menyuplai ke konsemen. Pada generator rele arus lebih merupakan komponen yang sangat penting untuk menjaga dari segala gangguan yang tidak diinginkan yang memungkinkan terhentinya intake listrik ke konsumen, rele arus lebih pada pembangkit biasanya sering digunakan sebagai pengaman generator dari gangguan – gangguan yang tidak di inginkan, terutama hubung singkat antar fasa. Rele arus lebih adalah rele yang bekerja terhadap arus lebih, dan akan bekerja apabila arus yang mengalir melebihi nilai settingnya (I set). Rele arus lebih memiliki karakteristiknya masing-masing dipengaruhi pada penggunaannya seperti, Rele arus lebih waktu tertentu (Definite time relay), Rele waktu seketika (Instantaneous relay). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan penyebab apabila terjadi arus hubung singkat pada Genset G 85 KW Pertamina Hulu Rokan Prabumulih, dan selanjutnya untuk mempelajari setting kerja rele pengaman arus lebih dalam mengatasi gangguan pada generator tersebut. sehingga dapat mengetahui situasi dan kondisi yang sebenarnya. Setelah dilakukan analisa dan perhitungan terhadap hasil penelitian tersebut, maka diperoleh hasil nya, yaitu arus gangguan hubung singkat Tiga fasa. 246,2994 Amper. Nilai setting arus pada rele ( Is ) pada generator yaitu sebesar 0,61575 Amper.
Analisa Setting Relai Arus Lebih (OCR) Dan Relai Gangguan Tanah (GFR) Pada Penyulang Gurami Gardu Induk Sungai Kedukan Palembang Rizal, Choirul; Azis, Abdul
Jurnal Ampere Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Ampere
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/ampere.v7i1.7706

Abstract

Over Current Relays are equipment that signals an overcurrent, whether caused by a short circuit that can damage electrical power system equipment within its protection area. This overcurrent relay is used in almost all electrical power system security patterns, and can also be used as the main safety or backup safety. From the results of the study, it was found that the magnitude of the short-circuit fault current is influenced by the distance of the fault point, the farther the fault location is, the smaller the short-circuit fault current will be, and vice versa. The relay working time on the feeder side is faster than the incoming working time with an average time difference of 1.34 seconds. This is because the location of the disturbance affects the size of the time difference. The farther the distance from the fault location, the greater the difference in relay working time in incoming ABSTRAKRelai Arus Lebih merupakan peralatan yang mensinyalir adanya arus lebih, baik yang disebabkan oleh adanya gangguan hubung singkat yang dapat merusak peralatan sistem tenaga listrik yang berada dalam wilayah proteksinya. Relai arus lebih ini digunakan hampir pada seluruh pola pengamanan sistem tenaga listrik, dan dapat juga digunakan sebagai pengaman utama ataupun pengaman cadangan. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa besarnya arus gangguan hubung singkat dipengaruhi oleh jarak titik gangguan, semakin jauh lokasi gangguan maka arus gangguan hubung singkat akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Waktu kerja relai di sisi penyulang lebih cepat dibandingkan dengan waktu kerja di incoming dengan selisih waktu rata-rata sebesar 1,34 detik. Hal ini disebabkan lokasi gangguan mempengaruhi besar kecilnya selisih waktu. Semakin jauh jarak lokasi gangguan, maka semakin besar selisih waktu kerja relai di incoming.
CCR PERFORMANCE AGAINST ILLUMINATION OF AIRCRAFT RUNWAY LIGHTS AT SULTAN THAHA AIRPORT JAMBI Yani, Raden Ahmad; Julianda, Eka Herta; Putra, Dian Eka; Rizal, Choirul; Subianto, Subianto
Jurnal Ampere Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/ampere.v7i2.9360

Abstract

Keselamatan pengguna transfortasi sangat penting diperhatikan terutama pada dunia penerbangan konmersil, salah satu faktor pendukung keselamatan terletak pada landasan pacu pesawat terbang atau runway, pengunaan landasan pacu pesawat terbang bukan hanya pada siang hari tetapi juga pada malam hari, untuk pendaratan dan lepas landas pada malam hari diperlukan penerangan pada sisi landasan pacu, penelitian ini sangat penting dikarenakan  penerangan inilah yang menjadi acuan keselamatan penumpang dan transfortasi udara terutama untuk pendaratan pada malam hari dan pada cuaca yang buruk, untuk mempertahankan intensitas penerangan pada landasan pacu diperlukan CCR (Constan Current Regulator) terutama pada keadaan gelap dan berkabut, selain kinerja CCR kinerja kuat penerangan pada lampu landasan pacu perlu dievaluasi untuk keselamatan dan kenyamanan pendaratan pesawat terbang. Maka dari itu pada penelitian ini didapatkan intensitas penerangan tertinggi dengan nilai sebesar 177,1 lux dan arus listrik yang digunakan untuk penerangan landasan pacu pada CCR sebesar 6,6 ampere. 
PERBANDINGAN RESITANSI PENTANAHAN ANTARA HASIL PERENCANAAN DAN HASIL COMMISSIONING TEST DI GARDU DISTRIBUSI 20 KV: distribution substation grounding system Junaidi, Junaidi; Putra, Dian Eka; Rizal, Choirul
Jurnal Ampere Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Ampere
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/ampere.v9i1.14795

Abstract

Penelitian ini mengkaji perencanaan dan pengukuran sistem pentanahan pada gardu distribusi 20 kV diDesa Danau Gerak dan Desa Plencur, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Hasilanalisis menunjukkan bahwa kedalaman elektroda batang dan jenis tanah berpengaruh signifikan terhadapnilai resistansi pentanahan. Perencanaan awal memperkirakan nilai resistansi pentanahan, namun hasilpengukuran lapangan mengindikasikan adanya perbedaan. Di Desa Danau Gerak, nilai resistansipentanahan mengalami sedikit perbedaan antara perencanaan (4,91 Ω) dan hasil lapangan (rata-rata 4,52Ω). Sementara itu, di Desa Plencur, perbedaan lebih signifikan; perencanaan menunjukkan nilai 4,47 Ω,sedangkan hasil pengukuran commisioning test menunjukkan nilai sebesar 1,31 Ω saat tanah basah pascahujan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kelembaban tanah berpengaruh secara signifikan terhadap nilairesistansi pentanahan. Studi ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi dan pengujian yang cermat terhadapkarakteristik tanah dan kondisi lingkungan saat pengukuran pentanahan pada instalasi listrik.
Characteristics the Marshall Test Subsitutution of Polypropylene Plastic Pellets as Filler in Mixture Asphalt Concrete Binder Course (AC BC) Mulyadi, Asri; Asrullah, Asrullah; Anggrainy, Rita; Irawan, Irawan; Rizal, Choirul
International Journal of Islamic Education, Research and Multiculturalism (IJIERM) Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : The Islamic Education and Multiculturalism Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/ijierm.v5i2.234

Abstract

This research was carried out on a laboratory experimental scale, with the aim of determining the characteristics of the Marshall test for the substitution of Polypropylene plastic pellets in the Asphalt Concrete Binder Course (AC BC) mixture. The substitution of Polypropylene plastic pellets in AC BC mixture is 1%, 2%, 3% of the weight of filler in AC BC standard mixture. From the test results, it can be concluded that the characteristics of the marshall test include VMA values, VIM values, VFA values, stability values, flow values, MQ values that meet the predetermined requirements both without filler and with filler.