Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search
Journal : Avatara

TUNJUNGAN PLAZA SEBAGAI AWAL PUSAT PERBELANJAAN MODERN KOTAMADYA SURABAYA TAHUN 1985-1991 RIZQI MAHARDIAN PUTRI, EFRILIA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman mulai banyak berkembang pusat perbelanjaan (shopping mall) salah satu diantaranya plaza. Kemunculan shopping mall di Surabaya sedikit tertinggal dari Jakarta yang sudah memiliki Sarinah. Padahal Kotamadya Surabaya merupakan kota dagang besar melebihi Jakarta. Muncul shopping mall di Kotamadya Surabaya pada tahun 1985 yaitu Tunjungan Plaza yang menjadi plaza pertama dibangun dengan konsep shopping mall dan mengawali berkembangnya pusat perbelanjaan di Kotamadya Surabaya. Hadirnya Tunjungan Plaza di pusat kota pasti menimbulkan berbagai dampak baik positif maupun negatif dalam berbagai aspek kehidupan di Kotamadya Surabaya. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Mengapa Tunjungan Plaza menjadi awal pusat perbelanjaan modern di Kotamadya Surabaya tahun 1985-1991? (2) Bagaimana dampak Tunjungan Plaza sebagai pusat perbelanjaan modern Kotamadya Surabaya tahun 1985-1991? Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.Hasil penelitian ini adalah tentang alasan Tunjungan Plaza menjadi awal pusat perbelanjaan modern karena perekonomian Kotamadya Surabaya sebelum tahun 1985 cenderung menggunakan konsep yang sederhana baik dari fasilitas maupun cara berbelanja yang digunakan. Wilayah Tunjungan Plaza memiliki letak strategis di jantung Kotamadya Surabaya dekat dengan pusat pemerintahan kota, pusat perdagangan kota seperti Jalan Embong Malang, Blauran, dan Genteng serta kawasan Tunjungan yang telah menjadi urat nadi perkonomian sejak masa kolonial. Keberadaan Tunjungan Plaza sebagai pusat perbelanjaan modern dengan konsep shopping mall membawa dampak sosial dan ekonomi kepada kehidupan Kotamadya Surabaya. Dampak sosial yang diberikan Tunjungan Plaza yaitu menjadi jembatan masyarakat dalam mengenal dunia luar, mendorong masyarakat mendapatkan status sosial tinggi, merubah sudut pandang berbelanja sehingga muncul sifat konsumerisme. Tunjungan Plaza berdampak secara ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya yaitu bertambahnya pendapatan masyarakat dari membuka rumah kost maupun warung juga memberi peluang bagi pedagang asongan dan sopir helicak di sekitar depan Tunjungan Plaza. Tunjungan Plaza juga membantu pemerintah kota menyediakan banyak lapangan kerja sebagai bentuk kompensasi pihak mall kepada masyarakat sekitar. Tunjungan Plaza menjadikan perdagangan eceran berskala besar tumbuh pesat melalui investor yang berlomba-lomba mendirikan pusat perbelanjaan modern.Kata Kunci : Tunjungan Plaza, Pusat Perbelanjaan Pertama.
WISATA TELAGA NGEBEL KABUPATEN PONOROGO TAHUN 1993-2000 WAHYU SAPUTRO, AGIL; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada TAP No. IV/MPR/1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara menjadikan Indonesia memulai proses menuju industri pariwisata. Sektor pariwisata menjadi urutan keenam pembangunan setelah pertanian, industri, pertambangan, energi dan prasarana. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo belum membuat kebijakan dan khususnya Telaga Ngebel belum terdapat pengelolaan dan pemeliharaan terhadap potensi pariwisata dari Telaga Ngebel. Partisipasi masyarakat dirasa sangat penting dalam proses pengembangan pariwisata Telaga Ngebel dan mulai terlihat tahun 1993. Pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel oleh Dinas Pariwisata Kabupaten dimulai tahun 1998. Pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel menjadi berkorelasi antara Dinas Pariwisata Kabupaten. Rumusan penelitian ini adalah 1) Bagaimana pengembangan obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 1993?2000 2) Bagaimana partisipasi masyarakat di sekitar obyek wisata Telaga Ngebel pada tahun 1993?2000. Penelitian sejarah ini menggunakan empat tahap yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Tahap pertama yakni heuristik, terdapat dua sumber yang digunakan adalah sumber primer dan sumber sekunder. Kritik intern didapatkan dari heuristik berasal dari semua sumber. Tahap interpretasi, supaya sumber?sumber yang diperoleh menjadi lebih bermakna saling berhubungan atau menunjang. Historiografi merupakan suatu bentuk untuk menyajikan hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengembangan pariwisata telah memenuhi beberapa unsur kepariwisataan, seperti atraksi, infrastruktur, dan akomodasi. Potensi pariwisata di Kabupaten Ponorogo mulai dioptimalkan, khususnya obyek wisata Telaga Ngebel memiliki keindahan alam, makanan, dan peristiwa budaya yaitu larung sesaji yang diadakan setiap tahun sekali. Pengembangan pariwisata menjadi tolak ukur dari segi pertumbuhan sarana dan prasarana pendukung pariwisata akan mengikuti peningkatan jumlah wisatawan. Potensi pariwisata terus dioptimalkan di obyek wisata Telaga Ngebel sebagai perhatian utama Dinas Pariwisata Kabupaten. Sementara partisipasi masyarakat mulai terlihat tahun 1993 dengan dimulai membuat keramba dan membuka usaha berdagang. Adanya hal ini mulai diikuti masyarakat lain di tahun? tahun berikutnya. Seorang tokoh masyarakat setempat di tahun 1995 dengan berani mengusulkan bahwa mulai ditetapkan harga masuk di obyek wisata Telaga Ngebel. Pada tahun 1998 Dinas Pariwisata Kabupaten mengambil alih pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata Telaga Ngebel dengan tetap terjadi koordinasi dengan masyarakat sekitar obyek wisata Telaga Ngebel. Koordinasi menimbulkan fungsi sebagai hubungan timbal balik yang meliputi aspek sosial dan politis. Kedua pihak bekerja sama dengan memperoleh kesepakatan. Hasil kesepakatan bertujuan untuk menjaga keamanan dan menarik retribusi bagi setiap wisatawan yang datang ke obyek wisata Telaga Ngebel. Kata Kunci: Pariwisata, Telaga Ngebel, Partisipasi Masyarakat
IMPLEMENTASI NILAI SEMANGAT NASIONALISME UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XI PEMINATAN MA. RAUDLATUL MUTTAQIN RIA INSANI, AFRIDA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK IMPLEMENTASI NILAI SEMANGAT NASIONALISME UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XI PEMINATAN MA. RAUDLATUL MUTTAQIN Nama : Afrida Ria Insani NIM : 15040284060 Program Studi : S1 Pendidikan Sejarah Jurusan : Pendidikan Sejarah Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Septina Alrianingrum, S.S, M.Pd Lingkungan pendidikan yang cukup berperan menanamkan nilai-nilai kehidupan sehingga terbentuk sikap nasionalisme bagi peserta didik adalah lembaga sekolah. Implementasi dalam suatu pembelajaran akan menggunakan teori belajar observasional Albert Bandura yang meliputi (Attentional, Retentional, Behavioural Production, dan Motivation) Rumusan masalah yang diangkat adalah 1) Bagaimana Implementasi Nilai Semangat Nasionalisme untuk Mewujudkan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI Peminatan MA Raudlatul Muttaqin? dan 2) Bagaimana Hasil Belajar peserta didik dalam Implementasi Nilai Semangat Nasionalisme untuk Mewujudkan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI Peminatan MA Raudlatul Muttaqin? Jenis Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan yaitu angket persepsi awal peserta didik mengenai nasionalisme, validasi RPP dan Ahli Materi, Pedoman wawancara, Lembar Observasi, dan Dokumentasi selama penelitian. Teknik analisis data menggunakan triangulasi teknik dan sumber model analisis mengalir Miles dan Huberman. Penanaman Nasionalisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di Kelas XI Peminatan MA. Raudlatul Muttaqin, salah satunya adalah implementasi nasionalisme melalui lagu kebangsaan, diskusi kelompok, dan menonton serta mengkaji film dokumenter sejarah yang bertema nasionalis dan membuat opini terkait materi yang disampaikan oleh guru sesuai dengan topik yang nasionalis yaitu Kebangkitan Heroisme dan Semangat Kebangsaan. Hasil Perolehan Skor yang didapat dari Penilaian angket persepsi awal peserta didik mengenai nasionalisme memperoleh persentase 66.7% dengan skala cukup bagus namun perlu diberikan pelatihan dalam pembelajaran di Kelas setelah memperoleh materi dan diajarkan oleh guru maka perolehan skor angket meningkat menjadi 88,33%. Perolehan skor bukan dilihat dari satu aspek pertemuan saja namun dari serangkaian pertemuan dalam pembelajaran disimpulkan mendapatkan hasil angket pembelajaran yang bagus hal ini tertulis pada instrumen angket Poin ke 6 dengan persentase 76.7%, point 7 persentase 62.5%, poin 13 persentase 97.5 %, dan poin 15 dengan persentase 82.5%. Menyebutkan bahwa secara keseluruhan metode, media, dan evaluasi pembelajaran yang diperoleh setelah pelaksanaan pembelajaran mampu mewujudkan nilai semangat nasionalisme dengan perolehan skor 4 yaitu sangat setuju dan juga menyebutkan bahwa konsep agama dan nasionalisme menjadi hal yang fundamental dan tidak bertentangan dengan konsep nasionalisme yang dilakukan oleh MA. Raudlatul Muttaqin. Kata Kunci: Implementasi nilai semangat nasionalisme, Teori Observasional Albert Bandura (Attentional, Retentional, Behavioural Production, dan Motivation)
PELESTARIAN KESENIAN REOG SINGO MANGKU JOYO DI SURABAYA TAHUN 1990-2010 WIDIASTUTI, MEFI; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Reog Singo Mangku Joyo merupakan salah satu grup kesenian reog di Surabaya. Kesenian ini berdiri pada tahun 1990 dan dianggap sebagai grup kesenian reog tertua di Surabaya. Hal yang menarik untuk diteliti dari kesenian ini yaitu (1) Bagaimana kehidupan seniman dalam mempertahankan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010?; (2) Bagaimana upaya seniman reog melestarikan kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya tahun 1990-2010? Adapun hasil dari penelitian ini yaitu kesenian Reog Singo Mangku Joyo di Surabaya muncul akibat adanya masyarakat urban. Kehidupan seniman di dalam grup kesenian tradisional ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh, sehingga masih banyak seniman yang harus mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Meski kehidupannya kurang sejahtera namun anggota seniman kesenian tradisional ini tetap melestarikan keberadaan Reog Singo Mangku Joyo. Upaya pelestarian kesenian tradisional Reog Singo Mangku Joyo dilakukan oleh pihak dalam dan pihak luar. Upaya pelestarian dari pihak dalam dilakukan dengan cara saling menjaga tali silahturahmi antar anggota, melakukan latihan rutin, hubungan kekerabatan sosial dengan masyarakat, dan melakukan pewarisan tradisi atau regenerasi. Sedangkan upaya pelestarian dari pihak luar adalah pembinaan yang dilakukan oleh TNI Angkatan Darat (Bekangdam V/Brawijaya).Kata Kunci: Pelestarian, Reog Singo Mangku Joyo, Seniman
REAKTUALISASI WAYANG POTEHI GUDO TAHUN 2001-2016 FIRMAN ARIF, ASWAN; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang potehi merupakan kebudayaan dari masyarakat Tionghoa di Indonesia. Salah satu wayang potehi yang masih bertahan berada di Gudo kabupaten Jombang. Wayang potehi di Gudo tidak menggantungkan diri pada pemerintah atau pihak lain, Mereka menggunakan biaya pribadi dan keuntungan dari hasil pentunjukan. Hal yang menarik untuk diteliti dari kesenian ini yaitu (1) Bagaimana perkembangan wayang potehi di Kecamatan Gudo mampu memotivasi masyarakat lokal melakukan reaktualisasi kebudayaan Tionghoa tahun 2001-2016?: (2) Bagaimana perkembangan wayang potehi setelah terjadinya reaktualisasi tahun 2001-2016? Adapun hasil dari penelitian ini yaitu adanya proses sentripetal dalam masyarakat Tionghoa dalam pembaruan wayang potehi. Sentripetal terjadi pada budaya Tionghoa yang dimasuki oleh budaya Jawa. Reaktualisasi wayang potehi tahun 2001 dilakukan sebagai wujud terbukanya peran budaya jawa untuk mengembangkan wayang potehi Gudo. Adanya wayang potehi yang dibuat orang Jawa, membuat terjadinya sentripetal budaya. Interaksi masyarakat Tionghoa dan Jawa, membuat masyarakat Jawa masuk ke dalam ingroup Tionghoa. Hasil reaktualisasi berdampak pada bentuk wayang potehi, penambahan alat musik, dan pementasan. Bentuk wayang potehi yang menyimpang dari pakem pada masa Orde Baru diperbarui sesuai dengan pakem yang didapat. Bentuk kepala wayang potehi lama yang berbentuk segita terbalik, diperbarui hingga berbentuk lebih menyerupai pakem. Pakem wayang potehi memiliki bentuk yang beraneka ragam sesuai dengan watak tokoh dan jabatan. Wayang potehi tokoh Sie djin kwie memiliki bentuk pakem dengan wajah yang berbentuk Oval, beralis kelapa ditarik keatas, hidung mancung, dan berwarna kulit putih. Bentuk wayang potehi mengacu pada bentuk kumpulan wayang potehi Pak Toni dengan bantuan pemain potehi yang bercampur Jawa. alat musik disesuaikan dengan contoh pakem, dengan tambahan alat musik Yan Qim yang tidak dimiliki sebelumnya. Kata Kunci: Reaktualisasi, Wayang Potehi, Gudo
PERKEMBANGAN SANGGAR TARI DELTA TRIVIKRAMA DI SIDOARJO TAHUN DWI AGUSTIN, DITA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanggar tari Delta Trivikrama merupakan sanggar tari tertua di Sidoarjo. Sanggar tari ini didirikan pada tahun1979. Beberapa bulan di awal berdirinya, sanggar tari Delta Trivikrama dapat berkembang dengan pesat. Hal yangmenarik untuk diteliti dari sanggar tari ini yaitu (1) Mengapa didirikan sanggar tari Delta Trivikrama di Sidoarjo?; (2)Bagaimana perkembangan sanggar tari Delta Trivikrama di Sidoarjo tahun 1984-1995? Adapun hasil dari penelitian iniyaitu sanggar tari Delta Trivikrama di Sidoarjo awalnya merupakan kelompok tari yang didirikan dengan tujuan untukmenghidupkan aktivitas seni tari di Sidoarjo. Sanggar tari Delta Trivikrama diresmikan pada tanggal 10 Juni 1979 di JalanKombespol M. Doeryat 37 Sidoarjo. Pada periode tahun 1979-1984, sanggar tari Delta Trivikrama mengalamiperkembangan dalam aspek tempat latihan dan cabang, jumlah siswa, pementasan, karya tari, dan prestasi. Pada periodetahun 1985-1995, sanggar tari Delta Trivikrama mengalami perkembangan dalam aspek pementasan, dan prestasi . Selainitu, dalam periode ini terjadi penurunan dalam aspek jumlah siswa, dan karya tari yang diciptakan. Hal ini disebabkankarena munculnya modern dance yang mengakibatkan minat siswa terhadap seni tradisional menurun. Penurunan ini jugadisebabkan oleh rendahnya apresiasi orang tua siswa terhadap seni tari sehingga mengakibatkan menurunnya jumlahsiswa sanggar tari Delta Trivikrama.Kata Kunci: Sanggar tari, Delta Trivikrama, Sidoarjo
WISATA RELIGI MAKAM KANJENG SEPUH SIDAYU TAHUN 2000-2011 QOMARIYAH, KHOYUM; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makam Kanjeng Sepuh merupakan makam adipati Sidayu ke-8 yang berada di Desa Kauman, Kecamatan Sidayu,Kabupaten Gresik. Makam Kanjeng Sepuh sendiri banyak dikunjungi masyarakat sekitar berkat jasa-jasanya semasahidup. Wisata religi makam Kanjeng Sepuh berbeda dengan makam wali-wali pada umunya yang ramai pengunjung padahari jum?at legi. Makam Kanjeng Sepuh biasanya ramai pada hari jum?at pahing yang kemudian menjadi tradisi di sana.Hal yang menarik untuk diteliti dari makam Kanjeng Sepuh yaitu (1) Bagaimana makam Kanjeng Sepuh Sidayu menjadiwisata religi pada tahun 2000-2011?; (2) Bagaimana nilai tradisi jum?at pahing di makam Kanjeng Sepuh Sidayu tahun2000-2011?. Adapun hasil dari penelitian ini adalah makam Kanjeng Sepuh sejak dulu sudah dikunjungi masyarakatsekitar. Sejak munculnya Peraturan Daerah Kabupaten Gresik No 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi dan TataKerja Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Gresik. Makam Kanjeng Sepuh mulai diperhatikan oleh pemerintah daerah yangkemudian menjadikan pertambahan jumlah pengunjung. Puncak keramaian makam Kanjeng Sepuh terjadi hanya padahari jum?at pahing. Kebiasaan mengunjungi makam ini memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan masyarakat sekitar.Terutama dalam bidang sosial, budaya, religi, dan ekonomi.Kata Kunci: Wisata religi, Kanjeng Sepuh, Sidayu
TARI COKRONEGORO DALAM PERSPEKTIF HISTORIS KABUPATEN SIDOARJO MIRZA PRATAMA, DANI; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Cokronegoro merupakan sebuah karya tari yang diciptakan oleh seniman Munali Patah pada tahun 1975. Ide penciptaan tari Cokronegoro berawal dari keinginan Bupati Sidoarjo saat itu yaitu Kol. Soewandi. Kol. Soewandi ingin agar Kabupaten Sidoarjo memiliki tarian yang mencerminkan watak Sidoarjo dan bernuansa kepahlawanan. Nama Tari ini diambil untuk menghormati R.T.P Tjokronegoro I sebagai Bupati pertama Kabupaten Sidoarjo. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ?Tari Cokronegoro Dalam Perspektif Historis Sidoarjo?.Berdasar latar belakang tersebut dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana ciri khas yang terdapat pada Tari Cokronegoro (2) Bagaimana makna yang terkandung dalam Tari Cokronegoro. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah yakni: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber penelitian berasal dari wawancara dengan keluarga, teman, serta murid Munali Patah, dari buku yang ditulis oleh Henri Nurcahyo, dkk berjudul Munali Patah Pahlawan Seni dari Sidoarjo, dari jurnal yang ditulis oleh Yahya Edo Wicaksono berjudul Semiotika Tari Cokronegoro Sebagai Tari Khas Sidoarjo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari Cokronegoro memiliki ciri khas dan makna. Ciri khas tersebut terdapat pada gerakan tari dan kostum. Beberapa gerakan pada tari Cokronegoro dan kostum tari merupakan hasil refleksi atau meditasi Munali Patah selama sembilan hari. Makna yang terkandung dalam tari Cokronegoro muncul dalam filosofi tata busana, tata rias, properti yang digunakan hingga dalam setiap gerakan tari Cokronegoro. Makna dalam tari Cokronegoro dapat dipahami melalui gerak tari, pada gerak pendahuluan, isi, dan penutup. Problematika yang dihadapi tari Cokronegoro adalah minimnya perhatian serta promosi dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Adanya perhatian serta promosi pada tari Cokronegoro akan berdampak pada lebih dikenalnya tarian ini di masyarakat Sidoarjo.Kata Kunci: Tari Cokronegoro, Perspektif Historis, Sidoarjo
PENDIDIKAN KARAKTER ALA KH. MASYHUR DI PONPES AL ROSYID DANDER BOJONEGORO TAHUN 1959-1974 AGUSTINA, VINATA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Artinya sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia adalah lembaga pondok pesantren yang memiliki peranan penting dalam usaha memberikan pendidikan agama. Komunitas pesantren merupakan suatu keluarga besar di bawah asuhan seorang kiai atau ulama, yang dibantu oleh beberapa kiai dan ustad.Penelitian ini menitik beratkan pada pondok pesantren yang berada di wilayah Ngumplakdalem Dander Kabupaten Bojonegoro. Al Rosyid merupakan sebuah pondok pesantren yang ada di wilayah Kendal Ngumplakdalem Dander Bojonegoro. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 1959-1974 di bawah kepemimpinan KH. Masyhur. Di pondok ini diajarkan ilmu-ilmu agama yang representatif dan kompeten secara kognitif, tetapi juga ranah efektif dan menyiapkan anak didiknya mempunyai kepribadian yang baik dengan kebutuhan masyarakat.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Rosyid? (2) Bagaiman relevansi pendidikan karakter saat ini dengan pendidikan karakter yang di terapkan oleh KH. Masyhur?. Penelitian ini menggunkaan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang pendidikan karakter santri di Pondok Pesantren Al Rosyid desa Ngumplakdalem Dander Bojonegoro telah menerapkan proses pendidikan karakter yang dilakukan KH. Masyhur melalui berbagai macam kegiatan. KH. Masyhur mengajarkan karakter pada santri yang diterapkan dari mata tertidur sampai gelapnya malam yaitu dari jam 4.30 sampai dengan 21.30 WIB, dimana KH. Masyhur memberikan pengajaran kitab-kitab klasik, membaca AL Qur?an dan juga sholat berjama?ah. Pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur diantaranya menerapkan pengajaran Ma?hadiyah, dengan menggunakan sistem wetonan atau badongan. Secara nasional pembentukan atau pendidikan karakter yang paling mendukung nilai Pancasila adalah pendidikan pondok pesantren, salah satunya Pondok pesantren Al Rosyid. Pendidikan pondok pesantren ini selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan syariat Islam, juga mewujudkan karakter Islami dan karakter pendidikan nasional untuk membentuk kepribadian yang berahklak baik dan berguna bagi bangsa.Relevansinya pendidikan karakter ala KH. Masyhur dengan adanya pengawasan yang diawasi langsung oleh kyai/ustad selama 24 jam. Aktivitas yang dilakukan oleh para santri atau murid di pondok pesantren diterapkan dengan pembelajaran-pembelajaran nilai kehidupan dalam cara berperilaku sopan, baik, tanggung jawab, disiplin dan juga akhlak yang baik.Kata kunci : pendidikan karakter, pondok pesantren, KH. Masyhur
PENDIDIKAN KARAKTER ALA KH. MASYHUR DI PONPES AL ROSYID DANDER BOJONEGORO TAHUN 1959-1974 AGUSTINA, VINATA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Artinya sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia adalah lembaga pondok pesantren yang memiliki peranan penting dalam usaha memberikan pendidikan agama. Komunitas pesantren merupakan suatu keluarga besar di bawah asuhan seorang kiai atau ulama, yang dibantu oleh beberapa kiai dan ustad.Penelitian ini menitik beratkan pada pondok pesantren yang berada di wilayah Ngumplakdalem Dander Kabupaten Bojonegoro. Al Rosyid merupakan sebuah pondok pesantren yang ada di wilayah Kendal Ngumplakdalem Dander Bojonegoro. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 1959-1974 di bawah kepemimpinan KH. Masyhur. Di pondok ini diajarkan ilmu-ilmu agama yang representatif dan kompeten secara kognitif, tetapi juga ranah efektif dan menyiapkan anak didiknya mempunyai kepribadian yang baik dengan kebutuhan masyarakat.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Rosyid? (2) Bagaiman relevansi pendidikan karakter saat ini dengan pendidikan karakter yang di terapkan oleh KH. Masyhur?. Penelitian ini menggunkaan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang pendidikan karakter santri di Pondok Pesantren Al Rosyid desa Ngumplakdalem Dander Bojonegoro telah menerapkan proses pendidikan karakter yang dilakukan KH. Masyhur melalui berbagai macam kegiatan. KH. Masyhur mengajarkan karakter pada santri yang diterapkan dari mata tertidur sampai gelapnya malam yaitu dari jam 4.30 sampai dengan 21.30 WIB, dimana KH. Masyhur memberikan pengajaran kitab-kitab klasik, membaca AL Qur?an dan juga sholat berjama?ah. Pola pendidikan karakter ala KH. Masyhur diantaranya menerapkan pengajaran Ma?hadiyah, dengan menggunakan sistem wetonan atau badongan. Secara nasional pembentukan atau pendidikan karakter yang paling mendukung nilai Pancasila adalah pendidikan pondok pesantren, salah satunya Pondok pesantren Al Rosyid. Pendidikan pondok pesantren ini selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan syariat Islam, juga mewujudkan karakter Islami dan karakter pendidikan nasional untuk membentuk kepribadian yang berahklak baik dan berguna bagi bangsa.Relevansinya pendidikan karakter ala KH. Masyhur dengan adanya pengawasan yang diawasi langsung oleh kyai/ustad selama 24 jam. Aktivitas yang dilakukan oleh para santri atau murid di pondok pesantren diterapkan dengan pembelajaran-pembelajaran nilai kehidupan dalam cara berperilaku sopan, baik, tanggung jawab, disiplin dan juga akhlak yang baik.Kata kunci : pendidikan karakter, pondok pesantren, KH. Masyhur