Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
Peningkatan Kompetensi Pengelola Rumah Tinggal Mahasiswa Dalam Memberikan Pelayanan Untuk Menjaga Kewibawaan Kampus Unesa 5 Sarmini, Sarmini; Gamaputra, Gading; Alrianingrum, Septina; Pahlevi, Rahma Shintya; Dzikri, Muhammad Zulfikar
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 24, No 2 (2024): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sb.05440

Abstract

The opening of Unesa Campus 5 in Magetan Regency has an impact on the campus environment, namely the economic impact with the need for housing for students. The high demand for housing has a negative effect on the surrounding community due to the characteristics of students who come from outside the Magetan Regency area, which is different in terms of values and behavior. So as to overcome these problems, the Directorate of Campus Outside the Main Campus provides solutions through community service by making training to increase the competence of student residence managers. The activity was carried out in Maospati District with gradual socialization. The target of the activity is the manager of the residence in Maospati District, totaling 25 people. This socialization will provide an understanding of the rental mechanism both in terms of procedures and documents that are adjusted to the Standard Operating Procedures, as well as the publication of residential houses through electronic media.
Analisis Implementasi Program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS) untuk Meningkatkan Kesadaran Berkebhinekaan Global Anindya, Salsa; Sarmini, Sarmini; Wisnu, Wisnu; Suprijono, Agus; Harmanto, Harmanto; Alrianingrum, Septina
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Mei - Agustus 2025
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.8.2.2025.5981

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya analisis implementasi program SAS sebagai model pendidikan karakter yang belum banyak dikaji dalam konteks peningkatan kesadaran berkebhinekaan global, khususnya di tingkat SMP. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS) dalam meningkatkan kesadaran berkebhinekaan global peserta didik, serta mengidentifikasi tantangan, hambatan, dan faktor pendukung keberhasilannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan kuantitatif secara terbatas untuk menganalisis peningkatan kesadaran berkebhinekaan global peserta didik. Subjek penelitian mencakup kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan, guru pengajar program SAS, serta siswa kelas VII dan VIII di SMP Kreatif An-Nur Surabaya. Lokasi dipilih karena sekolah ini merupakan pelaksana aktif Program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS). Penelitian dilaksanakan sejak Agustus 2024 hingga Februari 2025. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang mencakup pengumpulan, reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil dari penelitian ini (1) implementasi program SAS di SMP Kreatif An-Nur telah memenuhi indikator aman, rekreatif, edukatif, dan kegotong-royongan; (2) upaya peningkatan kesadaran berkebhinekaan global melalui program SAS tercermin dari pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler; (3) tantangan dan hambatan setiap bidang SAS memiliki aspek yang berbeda-beda serta faktor yang mendukung keberhasilan implementasi program SAS mencakup faktor internal dan eksternal
Utilization of the Mpu Purwa Museum as a source of social studies learning based on local wisdom Deny Yuniar Satriyani; Alrianingrum, Septina; Khotimah, Kusnul
Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 12 No. 2 (2025): September
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hsjpi.v12i2.90722

Abstract

Contextual learning is a focus for improving learning quality. The quality of social studies learning in junior high schools needs to be encouraged to enhance students' learning interests and learning experiences. Social studies learning can be directed by utilizing the potential of the surrounding environment. The Mpu Purwa Museum, a local wisdom in Malang, can serve as a supporting learning resource. The context of learning at the Mpu Purwa Museum focuses on local history and Hindu-Buddhist cultural heritage. Classroom learning, which is theoretical and less engaging, must be integrated with students' learning experiences. This research employed a descriptive qualitative method. Data collection was conducted through direct observation and in-depth interviews during museum visits, supplemented by documentation. The subjects were eighth-grade students of SMP 20 Malang, as it was relevant to the material taught in school. Furthermore, as a bridge between theory and classroom learning, the Mpu Purwa Museum is an appropriate choice for students to implement their knowledge. The results indicate that a visit to the Mpu Purwa Museum as a primary learning resource creates a contextual and meaningful learning experience.
Pelatihan Historiografi Berbasis Gemini AI Sebagai Transformasi Metode Pembelajaran Bagi Guru MGMP Sejarah SMA Kota Surabaya Fajriyah, Izzatul; Wisnu, Wisnu; Sumarno, Sumarno; Alrianingrum, Septina; Ar Razy, Mohammad Refi Omar; Firmansyah, M Ega; Abimanyu, Satria Febri Putra
Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2025): In Progress
Publisher : Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (LDPM UCY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/jnajpm.v10i2.3170

Abstract

The Gemini AI-Based Historiography Training was designed as an effort to transform history teaching methods among high school history teachers within the MGMP (Subject Teacher Working Group) in Surabaya. This study employed a qualitative approach with a participatory action research design, involving 25 teachers as training participants. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and product assessments, then analyzed thematically and using descriptive quantitative methods. The results showed a significant increase in participants’ understanding of digital historiography concepts (100%), ability to explain the functions of Gemini AI (100%), and interest in attending further training (92%). Participants produced digital learning modules, historiographical narratives, and interactive presentation materials ready for classroom use. In the future, further mentoring and the development of practitioner communities are needed to ensure the sustainability of the program.