Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Biotropika

INTERAKSI ANTARA CAPUNG DENGAN ARTHROPODA DAN VERTEBRATA PREDATOR DI KEPANJEN, KABUPATEN MALANG Bernadeta Putri Irma Dalia; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara capung dengan Arthropoda dan vertebrata di lahan pertanian Kepanjen, Jawa Timur. Pengamatan lapang dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 pada area pertanian padi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah visual kontrol, kemudian analisis data dilakukan secara deskriptif. Capung, Athropoda, dan vertebrata yang ditemukan selama pengamatan memiliki interaksi predasi. Capung berperan sebagai predator berbagai Arthropoda di pertanian, terutama bagi ordo Lepidoptera, Hymenoptera, Hemiptera, Orthoptera, dan Diptera. Capung juga menjadi mangsa bagi Arthropoda, seperti Araneida, dan vertebrata, seperti Anura,  Mabuya sp., dan Todiramphus chloris. Kata kunci : Capung, pertanian
Keragaman Serangga Musuh Alami Kutu Sisik Lepidosaphes beckii Pada Jeruk Keprok Dan Jeruk Manis Redy Alviantono; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangan hama dapat menurunkan nilai ekonomi jeruk. Salah satu hama penting yang menyerang jeruk adalah kutu sisik Lepidosaphes beckii. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman serangga musuh alami yang berasosiasi dengan kutu sisik Lepidosaphes beckii pada tanaman jeruk keprok dan jeruk manis. Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung, pengambilan sampel dan identifikasi. Data dianalisis untuk menentukan nilai indeks keanekaragaman, indeks kesamaan (IBC) dan indeks dominansi. Serangga musuh alami yang ditemukan meliputi kelompok predator Famili Coccinellidae (Chilocorus, Symnus dan Harmonia) dan Formicidae, serta kelompok parasitoid Famili Trichogrammatidae (Trichogramma) dan Aphelinidae (Aphytis dan Encarsia). Nilai IBC untuk kedua komunitas adalah 0,93. Nilai tersebut menunjukkan secara umum kerapatan semua jenis serangga musuh alami kutu sisik pada kedua komunitas adalah sama. Berdasarkan nilai indeks Shannon-Wiener, keanekaragaman jenis serangga musuh alami pada kedua lokasi tergolong rendah dan tidak terdapat perbedaan pada kedua jenis jeruk (jeruk keprok 1,5387 dan jeruk manis 1,5542). Formicidae merupakan serangga yang paling banyak ditemukan di kedua lokasi. Kelimpahan Formicidae yang lebih tinggi daripada kelimpahan serangga lain disebabkan karena bersifat polifaga dan memiliki struktur sosial populasi yang terorganisasi dengan baik. Kata Kunci : keanekaragaman, Lepidosaphes beckii, serangga musuh alami
Distribusi dan Komposisi Nyamuk di Wilayah Mojokerto madaniatul islamiyah; Amin Setyo Leksono; Zulfaidah Penata Gama
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyamuk merupakan salah satu serangga yang memiliki peran sebagai vektor dari agen penyakit. Penyakit  yang ditularkan oleh nyamuk masih merupakan masalah kesehatan bagi masyarakat, salah satunya yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). Jenis-jenis penyakit lain yang disebabkan oleh nyamuk adalah Filariasis (kaki gajah), Chikungunya dan Encephalitis. Mojokerto termasuk salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, sehingga perlu  diketahui tentang  beberapa jenis nyamuk yang merupakan vektor dari beberapa penyakit yang melanda wilayah Mojokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan distribusi spasial nyamuk di wilayah Mojokerto. Pengambilan sampel dilakukan di dua lokasi di wilayah Mojokerto yaitu di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto dan Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Metode yang digunakan adalah survei larva nyamuk dan ovitrap. Titik koordinat lokasi pengambilan sampel disimpan menggunakan GPS selanjutnya dilakukan identifikasi di Laboratorium Ekologi dan Diversitas Hewan, Universitas Brawijaya. Analisis data dilakukan secara kuantitatif untuk menentukan Kelimpahan, Kelimpahan Relatif, Frekuensi, Frekuensi Relatif dan INP (Indeks Nilai Penting). Pola persebaran  nyamuk dianalisis dengan Indeks Morisita. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat lima spesies yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes laniger, Culex bitaeniorchynchus dan Culex quinquefasciatus. Spesies Aedes aegypti merupakan spesies yang dominan di Kota Mojokerto dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 70.48% diperoleh dari metode survei larva dan 76.88% diperoleh dari metode ovitrap sedangkan spesies Culex quinquefasciatus merupakan spesies yang dominan di Kabupaten Mojokerto sebesar 59.80 % diperoleh dari metode survei larva dan 89.58 % diperoleh dari metode ovitrap. Pola penyebaran nyamuk berdasarkan perhitungan indeks morisita di wilayah Mojokerto adalah seragam.   Kata Kunci : Distribusi, Komposisi, Mojokerto, Nyamuk
Potensi Halaman Sekolah sebagai Mikrohabitat, serta Persepsi Masyarakat Sekitar Sekolah tentang Undur-undur (Myrmeleon sp.) sebagai Predator di Kec. Campurdarat, Kab. Tulungagung ardhanys wari putri; Bagyo Yanuwiadi; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi Halaman Sekolah sebagai Mikrohabitat, serta Persepsi Masyarakat Sekitar Sekolah tentang Undur-undur (Myrmeleon sp.) sebagai Predator di Kec. Campurdarat, Kab. TulungagungArdhanyswariputri, Yanuwiadi, B., Leksono, A.S. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, MalangABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi halaman sekolah sebagai mikrohabitat undur-undur (Myrmeleon sp.) dan mengetahui persepsi masyarakat sekolah dan masyarakat di sekitar sekolah tentang undur-undur (Myrmeleon sp.) sebagai pengendali hayati di Kecamatan Campurdarat Kecamatan Tulungagung. Prosentase halaman sekolah yang dapat digunakan sebagai mikrohabitat undur-undur (Myrmeleon sp.) dapat diukur dengan membandingkan luasan tanah kering gembur dan tidak lembab maupun tanah berpasir pada halaman sekolah dengan seluruh luasan halaman sekolah. Kemudian presentase tersebut dideskripsikan berdasarkan skala estimasi. Adapun pengambilan data dilakukan dengan wawancara secara tertutup melalui questioner kepada responden yang merupakan warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah di Kecamatan Campurdarat. Pengolahan data dilakukan dengan analisis statistic skala lickert (lickert scale). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prosentase halaman sekolah yang berpotensi sebagai mikrohabitat undur-undur (Myrmeleon sp.) sebesar 19,61%, yang berarti bahwa rata-rata sekolah yang berada di Kecamatan Campurdarat mempunyai pontensi yang sangat rendah sebagai mikrohabitat undur-undur (Myrmeleon sp.). Sedangkan persepsi warga sekolah dan masyarakat di sekitar sekolah berada pada kategori yang cukup. Prosentase pengetahuan responden tentang undur-undur sebagai musuh alami sebesar 53,92%, sikap responden tentang undur-undur sebesar 55,09%, keterampilan responden terhadap hal-hal berkenaan dengan undur-undur sebesar 55,09%, dan persepsi respondent yang lain secara pribadi sebesar 46,55%. Kata kunci : Mikrohabitat, Undur-undur (Myrmeleon sp.), potensi, persepsi 
Distribusi Spasial Nyamuk Diurnal Secara Ekologi Di Kabupaten Lamongan Nanang Johanudin; amin setyo leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Daerah tropis seperti Indonesia merupakan daerah  yang disukai  nyamuk. Jawa Timur merupakan salah satu wilayah bagian Indonesia yang terdapat pada bagian jawa daerah timur. Akibat penyakit  yang ditularkan oleh nyamuk di Provinsi Jawa Timur masih merupakan masalah kesehatan bagi masyarakat, baik di perkotaan   maupun di pedesaan, seperti:  Demam Berdarah Dengue, Malaria,  Filariasis (kaki gajah), Chikungunya dan Encephalitis. Kabupaten  Lamongan termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang perna terserang penyakit karena vektor dari nyamuk diantaranya, Demam Berdarah Dengue (DBD). Nyamuk yang aktif dan bergerak pada pagi hari hingga sore hari merupakan nyamuk diurnal, sedangkan nyamuk yang aktif  ketika malam hari merupakan nyamuk nokturnal. Penelitian ini dilakukan dengan penyaringan  jentik nyamuk, pemeliharaan, dan pengamatan ketika dewasa.  Data yang telah diperoleh dianalisis dengan  populasi rata-rata menggunakan Microsoft Excel  2007. Kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik   uji t-test dan uji distribusi menggunakan SPSS 16.  Kemudian dilakukan pemetakan komposisi nyamuk dimasing-masing lokasi. Ditmukan tiga jenis nyamuk yang tertangkap. Anopheles, Culex, dan Culex quinquesfaciatus. Rata-rata  populasi nyamuk tertinggi yang didapatkan di lima titik merupakan nyamuk dari genus Anopheles yang terdapat didesa Dagan sebesar 15,3 populasi, dan genus Culex yang terdapat didesa kedungmegari sebesar 11,7 populasi.   Kata kunci: Anopheles, Culex, diurnal, Lamongan, nyamuk.
Mammals and Bird Conservation Strategies Through Community-Based Wildlife Watching Ecotourism Development in Perhutani Area, Poncokusumo, Malang District, East Java Ika Yuni Agustin; Luchman Hakim; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2023.011.01.06

Abstract

Perhutani area in Poncokusumo is inhabited by endemic and protected mammals and birds. However, the data on the species are still lacking while the wildlife is threatened by forest conversion and hunting activities. The objectives included identifying mammals and birds species in the Perhutani area in Poncokusumo, describing the local people and visitor's perception of the idea of developing wildlife-watching ecotourism and developing a strategy for mammals and birds conservation through wildlife-watching ecotourism based on the local community. A field survey was done through direct observation and species recognition through morphological characteristics. Interviews were conducted in community lives in Poncokusumo village. The results showed that the Perhutani forest in Poncokusumo has 13 species of mammals and 54 species of birds and is included in the category with very good quality fauna diversity. Local people and visitors' perceptions of mammals and birds vary, but most respondents support developing wildlife-watching ecotourism. From the SWOT analysis, crucial optional strategy are includes increasing opportunities and strengths factors to minimize weaknesses. Some weakness of tourism development was found related to the threats and weaknesses, including hunting rate, habitat degradation and local community knowledge and awareness to support conservation program. This suggested that involving the local community in the tourism industry was crucial. Mammals and bird conservation through wildlife watching ecotourism based on the community in the Perhutani area of Poncokusumo is possible to be applied.