Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Global Strategis

The Dynamics of International Norms Diffusion: The Study of Women Activists in Bali I Made Anom Wiranata
Global Strategis Vol. 15 No. 2 (2021): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.15.2.2021.353-374

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan aktivis-aktivis perempuan di Bali dalam mendifusikan norma global kesetaraan gender. Aktivitas mereka berhadapan dengan adat budaya Bali yang patriarki. Dengan menggunakan metode kualitatif berjenis fenomenologi, penelitian menggambarkan pengalaman aktivis perempuan di Bali dalam ruang transnasionalisme. Penelitian ini menemukan bahwa upaya untuk mendifusikan norma dari ranah global ke ranah domestik dan lokal, tidak terjadi secara linear. Ratifikasi Konvensi mengenai Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1984, tidak berarti bahwa norma kesetaraan gender dapat menyebar dan terinternalisasi dalam masyarakat secara otomatis. Aktivis dalam gerakan perempuan memiliki peran yang penting dalam mempromosikan pentingnya hak-hak perempuan. Mereka melakukan adaptasi agar norma kesetaraan gender pada level global, mendapatkan penerimaan di segmen tertentu dari budaya Bali. Pilihan strategi dalam difusi norma oleh para aktivis perempuan di Bali adalah hasil interaksi antara identitas pemahaman mereka terhadap budaya lokal, interaksi dalam jaringan advokasi internasional serta penggunaan kesempatan politik baik yang berasal dari ranah internasional maupun domestik. Pengalaman berinteraksi langsung dengan aktivis gender di negara Barat menimbulkan gagasan kreatif untuk mengadopsi praktik perjuangan gender yang telah berhasil di luar negeri untuk diterapkan di level lokal.Kata-kata kunci: norma global, difusi, glokalisasi, gerakan gender, transnasionalismeThis article aims to analyze the approach of women activists in Bali in diffusing global norms of gender equality. Their activities deal with patriarchal Balinese cultural tradition. Using a qualitative method of phenomenology, the study describes the experiences of women activists in Bali in the space of transnationalism. This study finds that efforts to diffuse norms from the global to the domestic and local domains do not occur in a linear fashion. Ratification of the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women by the Government of Indonesia in 1984 does not mean that gender equality norms can spread and be internalized in society automatically. Activists in the women’s movement have an important role in promoting the importance of women’s rights. They make adaptations so that the norms of gender equality at the global level gain acceptance in certain segments of Balinese culture. The strategy choices in the diffusion of norms by women activists in Bali are the result of the interaction between their identity and understanding of local culture, interaction in international advocacy networks and the use of political opportunities both from the international and domestic spheres. The experiences of interacting directly with gender activists in Western countries give rise to creative ideas to adopt the practice of gender movement that has been successful abroad to be applied at the local level.Keywords: global norms, diffusion, glocalization, gender movement, transnationalism
The Collaboration between Dior and Balinese Endek Woven within The Framework of Indonesian Cultural Diplomacy Putu Ratih Kumala Dewi; I Made Anom Wiranata
Global Strategis Vol. 17 No. 2 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.2.2023.417-442

Abstract

Endek Bali has received world attention after a well-known fashion company from France, Dior, used Balinese endek woven fabric in its 2021 SpringSummer collection. Using the concepts of cultural diplomacy and nation branding and employing qualitative method, this study aims to explain the use of Balinese endek in supporting Indonesia’s nation branding through collaboration with Dior. The data was collected through in-depth interviews, literature studies, as well as thorough analysis of official statements collected from the Bali provincial government and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. The study shows that the Indonesian government plays an important role in facilitating Indonesian cultural diplomacy using Balinese endek woven, which was carried out in colaboration with Christian Dior, where the Indonesian government act as a communicator between the fashion brand and the endek weavers, marking a pattern of cultural diplomacy relations between the government and the private sector, which further strengthen Indonesia’s nation branding as a culturally rich country with creative human resources. Keywords: Christian Dior, Cultural Heritage, Diplomacy, Endek Bali, Nation Branding Tenun endek Bali mendapat perhatian dunia setelah perusahaan fesyen ternama asal Perancis, Dior, menggunakan kain tenun endek Bali sebagai koleksi tahun 2021 untuk busana musim semi dan musim panas. Dengan menggunakan konsep diplomasi budaya dan nation branding serta metode kualitatif, penelitian ini bertujuan menjelaskan penggunaan tenun endek Bali dalam menunjang nation branding Indonesia melalui kolaborasi dengan Christian Dior. Pengumpulan data dilakukan melalui proses wawancara, studi literatur terkait, serta analisis pernyataan resmi pemerintah provinsi Bali dan Kementerian Luar Negeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia memiliki peranan penting dalam memfasilitasi diplomasi budaya Indonesia menggunakan tenun endek Bali yang dilakukan melalui kolaborasi dengan Dior, membentuk pola hubungan diplomasi kebudayaan antara pemerintah dan sektor swasta, yang lebih lanjut memperkuat nation branding Indonesia sebagai negara yang kaya ragam budaya dan sumber daya manusia kreatif. Kata-kata kunci: Christian Dior, Diplomasi, Endek Bali, Nation Branding, Warisan Budaya