Made Suma Anthara
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Laporan Kasus: Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata linn) sebagai Terapi Herbal terhadap Penyakit Demodekosis pada Anjing Pomeranian Wardani, Fahrisa Amalia; Anthara, Made Suma; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.668

Abstract

Demodekosis merupakan salah satu jenis penyakit kulit pada anjing yang disebabkan oleh parasit tungau demodex. Penyakit pada anjing bisa didapat dari faktor keturunan (herediter) dan penyakit yang diperoleh dari luar, misalkan disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Demodex sp. Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea hewan dengan memakan sebum serta debris (runtuhan sel) epidermis. Pengobatan pada penyakit demodekosis sampai saat ini masih menggunakan obat-obatan kimia seperti ivermectin, doramectin, moxidectin, amitraz, dan sampo sulfur. Obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang berbahaya, karena penggunaan obat-obatan ini secara terus menerus dapat menimbulkan efek resistensi sehingga terjadi efek samping yang tidak diharapkan. Hewan kasus adalah anjing ras peranakan pomeranian bernama Kukis, berjenis kelamin jantan, berumur tiga bulan, dengan bobot badan 2,05 kg mengalami gatal-gatal. Anjing Kukis dibawa ke Rumah Sakit Hewan Universitas Udayana Sesetan, Kota Denpasar dengan keluhan sering menggaruk tubuhnya selama satu bulan belakangan ini. Awal mula anjing mengalami gatal-gatal pada bagian abdomen kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya anjing mengalami alopesia pada kepala, abdomen, dan punggung, krusta pada kepala, kaki dan punggung, serta scale dan eritema pada seluruh tubuh. Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat-obatan herbal yang terbuat dari ekstrak daun sirsak. kemudian dilakukan pemberian obat suportif berupa multivitamin Nutriplus gel® selama lima minggu. Hasil terapi selama lima minggu menunjukkan struktur kulit membaik, rambut pada badan, leher, punggung, dan kaki mulai tumbuh serta scale, krusta, eritema mulai berkurang dan masih memerlukan perawatan lanjutan.
Laporan Kasus : Infeksi Saluran Pernafasan (ISP) Pada Kucing Peliharaan Baiti, Nur; Batan, I Wayan; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.734

Abstract

Penyakit saluran respirasi sering terjadi pada populasi kucing yang dipelihara dalam populasi padat. Penyakit ini merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan pada kucing. Kucing kasus adalah seekor kucing lokal dengan jenis kelamin jantan, bernama Abu, berumur dua tahun, bobot badan 2 kg, berwarna abu-abu, dan belum divaksinasi. Kucing kasus diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukkan gejala bersin disertai batuk selama empat bulan dan mulai parah satu bulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Hidung kucing mengeluarkan leleran mukopurulen disertai leleran serous pada mata. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan kucing kasus mengalami sesak napas, hidung mengeluarkan leleran mukopurulen, bagian mata ditemukan leleran serous, mukosa mulut berwarna merah muda pucat, dan pada saat dipalpasi limfonodus mandibularis bagian kanan mengalami pembengkakan. Hasil pemeriksaan X-Ray menunjukkan adanya gambaran sedikit radiopaque pada daerah pulmonum dan penyebaran bercak pada daerah bronkus. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik, leukositosis, dan limfositopenia. Kucing kasus didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan (ISP) yaitu rhinitis kronis dan bronkopneumonia. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri atas antibiotik doxycycline hyclate 5 mg/kg BB secara oral (PO) dua kali sehari selama dua minggu, antiinflamasi methylprednisolone 2 mg/kg BB diberikan peroral satu kali sehari selama empat hari, dan terapi suportif diberikan multivitamin dengan dosis pemberian 1 mL satu kali sehari selama dua minggu. Hasil pengobatan selama dua minggu menunjukkan terjadinya perubahan pada leleran hidung yang tadinya mukopurulen menjadi purulen serta frekuensi bersin dan batuk berkurang.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis General pada Anjing Kacang Betina di Bali Septianda Teja, Putu Tessa Hariys; Jayanti, Putu Devi; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.400

Abstract

Seekor anjing kacang berumur 11 bulan, berjenis kelamin betina dengan gejala klinis pruritus dan tanda klinis alopesia dan krusta pada tepi mata, mulut, telinga, kaki depan, kaki belakang, dan abdomen serta eritema pada bagian abdomen, kaki depan, dan kaki belakang serta eritema pada bagian abdomen, kaki depan, dan kaki belakang. Pada pemeriksaan kerokan kulit hingga berdarah atau deep skin scraping dan tape smear, ditemukan tungau Demodex sp. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik dan limfositosis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis general. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antiparasit yang megandung ivermectin dengan dosis 0,3 mg/kg BB subkutan, antihistamin yang mengandung diphenhydramine HCl dengan dosis 0,1 mg/kg BB intramuskuler dengan interval pengulangan sekali dalam seminggu selama dua minggu, dan dilanjutkan dengan pemberian antihistamin yang mengandung chlorpheniramine meleate dengan dosis 3 mg/kg BB secara peroral sekali sehari selama 10 hari dan fish oil dengan dosis 500 mg/hari peroral sekali sehari selama 30 hari, serta anjing dimandikan dengan sabun yang mengandung sulfur sekali dalam seminggu. Setelah 14 hari pengobatan, anjing kasus menunjukan perubahan kondisi berupa berkurangnya derajat pruritus, eritema dan krusta yang perlahan menghilang serta rambut yang mulai tumbuh.
Laporan Kasus: Penanganan Infeksi Parvovirus pada Anjing Kacang Umur Tiga Bulan Insani, Widia; Anthara, Made Suma; Suartha, I Nyoman; Kamaliana, Baiq Reni
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.820

Abstract

Canine parvovirus (CPV) merupakan virus yang sangat infeksius, penyebab kematian tertinggi pada bangsa anjing di seluruh dunia. Infeksi parvovirus prevalensinya lebih tinggi ditemukan pada anjing umur di bawah enam bulan. Seekor anjing lokal diperiksa di tempat Praktek Dokter Hewan Ari Sapto Nugroho dengan keluhan; tidak nafsu makan, muntah dan lemas. Hasil pemeriksaan fisik; membran mukosa mulut pucat, Capillary Refill Time (CRT) lebih dari 2 detik, dan anjing lemah. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia mikorsitik hipokromik, trombositopenia, leukopenia, limfositosis dan monositosis. Pemeriksaan tes kit menunjukkan hasil positif mengandung antibodi Canine Parvo Virus sehingga anjing kasus didiagnosis terinfeksi Canine Parvovirus (CPV). Terapi yang diberikan pada anjing kasus yaitu terapi cairan menggunakan cairan fisiologis (Ringer Lactate, PT. Widatra Bhakti, Jawa Timur). Cairan fisiologis diberikan melalui rute intra vena selama 5 hari . Selain itu diberikan juga obat antiemetik berupa Maropitant Citrate (Prevomax® 10 mg/mL, LeVet Pharma, Oudewater, Belanda) dengan dosis anjuran 1 mg/kg bb, jumlah pemberian sebesar 0,32 mL [IV; q24h; 5 hari], antibiotik amoxicillin (Amoxicillin 15% LA® 150 mg/mL, Vetoquinol, Amerika) dengan dosis 30 mg/kg bb, jumlah pemberian 0,64 mL [IM; q72h; 2 kali pemberian], Hematodin (Hematodin® 100 ml, PT Romindo Primavet, Jakarta, Indonesia) dengan dosis label 0,5-2 mL/kg bb, jumlah pemberian sebesar 1,6 mL [IM; q24h; 8 hari] dan injeksi Vitamin B kompleks (viamin-34 Inj® 100 ml, Samyang Anipharm, Korea Selatan) dengan dosis label 0,3ml/kg bb, jumlah pemberian sebesar 0,96 ml [SC; q24h; 8 hari]. Selama menjalani masa rawat inap yaitu delapan hari memberikan hasil yang memuaskan terhadap kesehatan anjing kasus dari segi nafsu makan yang membaik, serta menunjukkan tingkah laku menjadi lebih aktif.
Laporan Kasus: Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada Kucing Kampung Putri, Dwi Aprilia; Anthara, Made Suma; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.451

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Kucing kasus adalah seekor kucing kampung/domestik bernama Cimoy, berjenis kelamin betina dengan umur 18 bulan dan memiliki bobot 2,7 kg, rambut berwarna cokelat-hitam, dan belum divaksin. Kucing mengalami keluhan mengeluarkan leleran berwarna kuning dari hidung dan berbau busuk, kucing dalam keadaan lemas, muntah, sesak napas, dan mengalami bersin-bersin semenjak sepuluh hari sebelum dilakukan pemeriksaan. Inspeksi dilakukan pada kucing kasus teramati mengalami sesak napas yang dapat dilihat dari cepatnya gerakan toraks, mukosa mulut berwarna merah muda pucat. Palpasi pada bagian trakea menunjukkan respons nyeri dan batuk, turgor kulit kucing kasus melambat dan limfonodus mandibularis mengalami pembengkakan pada bagian kiri. Auskultasi dan perkusi dilakukan pada daerah paru (toraks) dan terdengar bunyi vesikuler dan tidak terdengar suara abnormalitas. Pemeriksaan x-ray dilakukan dan ditemukan adanya penyempitan pada trakea. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan sel darah merah mengalami makrositik hiporomik dengan kenaikan jumlah MCV (69,3 fL; nilai referensi, 39-52 fL) dan penurunan jumlah MCHC (250 g/L; nilai referensi, 300-380 g/L), penurunan jumlah PLT (62x10^9/L; nilai referensi, 100-514x10^9/L) yang mengindikasikan terjadinya trombositopenia dan penurunan jumlah PCT (0,060%; nilai referensi, 0,1-0,5%) yang mengindikasikan terjadinya reaksi inflamasi. Kucing kasus didiagnosis mengalami ISPA yaitu rhinofaringitis dan stenosis trakhea. Penanganan dilakukan pemberian obat antiradang nonsteroid berupa asam tolfenamat dengan jumlah pemberian 0,27 mL (q24h secara IM), pemberian antibiotik cefotaxime dengan jumlah pemberian 1,08 mL (q12h secara IM), pemberian multivitamin dengan jumlah pemberian 3 mL (q24h secara SC) dan dilakukan nebulizer dengan salbutamol sulfat dengan jumlah pemberian 1 mL+5 mL NaCl (q24h) dan pemberian obat jalan berupa doksisiklin tablet dengan dosis 5 mg/kg BB (q12h secara PO). Pada hari ketujuh leleran dari hidung kucing sudah sangat berkurang, sesak napas sudah tidak teramati lagi walaupun nafsu makan belum kembali seperti semula.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Akibat Infeksi Jamur Curvularia sp. pada Kucing Peranakan Persia Patabang, Denselina Lilis; Anthara, Made Suma; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.563

Abstract

Dermatofitosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur. Tujuan dilakukan pemeriksaan pada kucing kasus adalah untuk mengetahui genus jamur penyebab dermatitis pada kucing. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya tanda klinis seperti pruritus, eritema, alopesia, scale/sisik disertai kulit yang lembap pada area telinga dan wajah. Kemudian bagian lesi tersebut dilakukan pemeriksaan dengan tape smear yang menunjukkan hasil adanya jamur Curvularia sp., pemeriksaan diteguhkan dengan melakukan kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan hematologi menunjukkan terjadinya penurunan nilai hemoglobin, MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration), dan trombositopenia serta peningkatan nilai MCV (Mean Corpuscular Volume). Pengobatan yang diberikan yaitu antijamur itraconazol 5mg/kg BB satu kali sehari selama 14 hari per oral, multivitamin B kompleks satu kali sehari selama 10 hari per oral, minyak ikan satu kali sehari selama 14 hari, dan mandi sabun yang mengandung asam salisilat satu kali sehari dalam seminggu secara topikal. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan kucing peranakan persia bernama Tom didiagnosis mengalami dermatofitosis akibat infeksi jamur Curvularia sp. Evaluasi selama 14 hari pengobatan, pruritus menghilang, kulit area telinga yang awalnya eritema, lembap dan alopesia mulai merendah kemerahannya, kulit yang lembap mengering dan ditumbuhi rambut. Pada area wajah eritema telah menghilang dan mulai ditumbuhi rambut.