Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Produksi Program Acara Berita Feature “Di Balik Nama” di Cakra Semarang TV ( Camera Person ) Ibrahim Muhammad Ramadhan; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.207 KB)

Abstract

Televisi memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi sekaligus menghibur bagi masyarakat. Dari beberapa stasiun TV lokal yang ada di Semarang, belum ada tayangan news feature bertemakan sejarah lokal yang pembahasannya berangkat dari sebuah nama.“Di Balik Nama” sebagai sebuah program news feature hadir sebagai alternatif tayangan yang mengangkat tema tentang sejarah dibalik nama-nama kawasan atau tempat, kuliner, dan tradisi yang ada di kota Semarang dan sekitarnya.Pada program “Di Balik Nama”, produser bertugas untuk menentukan tema, membuat rencana kerja, membuat anggaran produksi, hingga membuat agenda wawancara kepada narasumber. Program director bertugas untuk menentukan packaging program acara, membuat shotlist liputan, hingga pengarahan liputan di lapangan. Camera person bertugas untuk mengambil gambar atau melakukan liputan lapangan. Sedangkan editor bertugas melakukan penyuntingan gambar dan grafis hingga program acara siap untuk ditayangkan.Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, dan pascaproduksi, karya bidang ini ditayangkan di Cakra Semarang TV setiap hari Jumat pukul 19.00 WIB mulai tanggal 17 April sampai dengan 24 Juli 2015. Melalui tayangan ini diharapkan masyarakat mendapatkan tayangan yang informatif mengenai sejarah lokal dari nama-nama kawasan atau tempat, kuliner, dan tradisi yang ada di kota Semarang dan sekitarnya.
Produksi Program Acara Berita Feature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV Sebagai Program Director. Rizki Rengganu Suri Perdana; M Bayu Widagdo; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.547 KB)

Abstract

Menjelang Bulan Ramadhan, banyak stasiun televisi baik nasional maupun lokal yang berlomba-lomba membuat berbagai program untuk ikut memeriahkan datangnya bulan suci Ramadhan. Namun, kebanyakan stasiun televisi menampilkan program-program yang tidak sesuai dengan suasana Ramadhan yang religius seperti program acara lawak yang penuh kekerasan dan hanya menghibur saja, tanpa adanya edukasi.Oleh karena itu program kami membuat satu produk jurnalistik berupa tayangan televisi dengan format berita feature yang membahas tentang informasi-informasi seputar agama Islam untuk mengisi momentum Ramadhan yang dikemas secara santai, mudah dimengerti, dan tampilan visual yang menarik. Pengambilan target audience berdasarkan pada usia produktif dimana usia produktif merupakan usia-usia aktif, kritis dan selalu ingin tahu dan dapat menganalisis, memahami ajaran Islam sehingga dapat menerjemahkan maksud simbolik dari program acara yang disajikan.Pengerjaan tayangan Harmoni Islam melalui tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi, program Harmoni Islam tayang setiap hari pada bulan Ramadhan pada pukul 17.00 - 18.00 WIB, di Cakra Semarang TV, yang tergabung dalam Pelangi Ramdhan.Diharapkan masyarakat mendapatkan tayangan yang edukasi dan menambah informasi mengenai Islam.Kata kunci : Jurnalistik, Program, Feature, Islam
Produksi Program Acara Berita Feature “Di Balik Nama” di Cakra S Semarang TV (Program Director) Lintang Jati Rahina; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.806 KB)

Abstract

Sebagai media audio visual, televisi dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan suatu informasi mengenai sejarah karena sifat informasinya yang tidak mudah basi dan dapat menjadi media untuk bernostalgia kepada para pemirsanya dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Di beberapa stasiun televisi lokal di Semarang, belum ada yang menyajikan konten yang bertema sejarah yang berangkat dari sebuah kawasan, kuliner, dan tradisi. Program “Di Balik Nama” hadir untuk memuaskan pemirsanya dalam menyajikan tayangan penyampai informasi sejarah yang tidak membosankan, mengedukasi, sekaligus sebagai media untuk bernostalgia.Produksi berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan lima posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, program director, scriptwriter, camera person, dan editor gambar. Pada laporan ini, dijabarkan tentang job description seorang program director, camera person, produser, dan editor gambar. Program ini dibuat sebanyak 13 episode dengan menayangkan cerita sejarah yang dikemas dengan visual yang mengedepankan beauty shots, editing gambar yang sesuai alur cerita, dan konten mengenai sejarah di balik sebuah nama yang dijelaskan secara lengkap.Setelah melalui tahapan praproduksi, produksi, dan pascaproduksi, “Di Balik Nama” tayang setiap hari Jumat pukul 19.00 WIB di Cakra Semarang TV. Karya ini tayang mulai 17 April sampai dengan 24 Juli 2015. Diharapkan dengan tayangan ini, masyarakat dapat memperoleh informasi tentang sejarah di balik sebuah kawasan, kuliner, dan tradisi yang ada di Semarang dan sekitarnya, dapat teredukasi dengan menonton acara ini, sehingga dapat meningkatkan wawasan seputar sejarah yang ada di Semarang dan sekitarnya.
PRODUKSI PROGRAM KULINER PADA PROGRAM ACARA WISATA JALAN KULINER CAKRA SEMARANG TV (Peran dan Pertanggungjawaban sebagai Penulis Naskah dan Pemandu Acara) Theresia Dita Anggraini; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.705 KB)

Abstract

Kuliner adalah segala hal yang berhubungan dengan konsumsi makanan seharihari.Kuliner merupakan bagian dari gaya hidup dan untuk itu menarik untukdiangkat menjadi sebuah tayangan televisi. Wisata Jalan Kuliner adalah salah satuprogram acara di stasiun TV lokal Cakra Semarang TV yang mengangkat temaini. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai kuliner yang enak danmenarik baik dari sisi historis maupun cita rasa. Diharapkan acara ini mampumenjadi referensi bagi penonton yang ingin menambah wawasan dan pengalamandalam menikmati makanan di Semarang. Untuk itu penulis beserta tim membuatnews feature ini ke dalam acara tersebut. Dengan tujuan yang kurang lebih sama;untuk mengemas informasi mengenai bagaimana cara menikmati, menampilkanproses pembuatan secara mendalam, serta nilai historis dari berbagai jajanan diSemarang.Jajanan klenyem, timus, lumpia, tahu isi rebung, wingko babat, gandos, wedangrempah, dan wedang kacang tanah merupakan jajanan di semarang yang masihdiminati oleh sebagian besar masyarakat. News feature ini dibuat dalam empatepisode, yang tayang sekali setiap minggunya selama empat minggu berturut-turutdan dibagi berdasarkan bahan dasar jajanannya. Di tiap episode penulis besertatim mewawancarai narasumber yang berkaitan dengan jajanan yang dibahas.Narasumber tersebut seperti penjual, pembuat jajanan, konsumen, maupun pendapat masyarakat umum.Kata kunci: Kuliner, wisata, televisi
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Adityo Cahyo Aji; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.282 KB)

Abstract

Media massa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam era teknologi seperti saat ini. Salah satu fungsi pers atau media massa adalah sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Dalam hal ini media massa televisi menjadi media untuk menyampaikan pesan berupa informasi yang dikemas berbentuk berita feature wisata keluarga. Disinilah peran komunikasi berlangsung, yaitu sebagai penyampai pesan yang ingin disampaikan dari komunikator kepada komunikan. Pada karya bidang ini membuat sebuah program feature dengan format audio-visual pada televisi dengan tema Wisata Keluarga di Semarang dan Sekitarnya. Karya ini disuguhkan dengan konsep tayangan yang menarik dan kreatif. Konsep tayangan berita feature ini berbeda dengan konsep tayangan yang saat ini banyak digunakan oleh media televisi lain, yakni dengan mengajak satu buah keluarga untuk berwisata ke beberapa tempat dalam satu hari penuh dengan tanpa harus menginap dan memakan banyak waktu. Tempat wisata yang diangkat disini antar lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang. Tema tersebut dikerjakan melalui 3 tahap, yaitu tahap pra produksi, tahap produksi, dan tahap paska produksi. Setelah melalui 3 tahap tersebut, terciptalah sebuah karya program fature yang siap untuk di publikasikan melalui media televisi. Merupakan suatu kesempatan, karena saya mendapatkan ijin tayang pada media televisi lokal Cakra Semarang TV. Karya ini dapat di tampilkan pada suatu spot program acara mengenai pariwisata bernama Jateng Exotic. Setelah melalui berbagai proses kerja, karya ini bertujuan untuk memperkenalkan, memberitakan, menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya. Berupa tempat wisata bersejarah, tempat rekreasi, dan wista kuliner. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini tayang pada hari Minggu, 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 WIB di Cakra Semarang TV.  Kata kunci: feature, jateng exotic, wisata, jurnalistik, program televisi
Produksi Program Acara Berita Feature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV sebagai Juru Kamera Nanda Dwitiya Swastha; M Bayu Widagdo; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.764 KB)

Abstract

Televisi merupakan salah satu media massa yang memiliki fungsi penting sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Keunggulan berupa sifat audio-visual menjadikan televisi masih menjadi media massa yang digemari oleh sebagian besar masyarakat hingga kini. Oleh sebab itu, para stasiun televisi dituntut kreatif dalam menciptakan program acara yang mampu menarik minat masyarakat untuk menontonnya.Pada momen Ramadhan, stasiun televisi nasional maupun lokal berupaya menciptakan program acara bertemakan “bulan suci” tersebut. Sayangnya, tidak seluruh program acara bertemakan Ramadhan memiliki konten yang edukatif. Beberapa program acara Ramadhan justru hanya menonjolkan komedi yang terkadang mengandung unsur kekerasan, baik secara verbal maupun non verbal, dengan tujuan memperoleh rating dan share yang tinggi.Upaya untuk menampilkan program acara Ramadhan yang edukatif dan menarik menjadi alasan utama kami untuk menciptakan program Harmoni Islam. Pada dasarnya, program Harmoni Islam merupakan salah satu produk jurnalistik berbasis feature yang mengulas informasi seputar Islam untuk mengisi momen Ramadhan dan ditampilkan secara santai, mudah dipahami, dan didukung visual yang menarik. Target audience menyasar masyarakat yang berada pada usia produktif dengan karakter aktif, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, dan mampu memahami ajaran Islam yang disampaikan melalui pesan audio-visual.Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, program Harmoni Islam ditayangkan di Cakra Semarang TV setiap hari selama bulan Ramadhan mulai tanggal 28 Juni 2014 sampai 27 Juli 2014 pukul 17.00 WIB. Melalui program acara televisi ini diharapkan masyarakat memperoleh tayangan yang edukatif, sehingga mampu meningkatkan wawasan dan amalan ibadah di bulan Ramadhan.Kata Kunci: televisi, program acara, Ramadhan, Islam
PEJUAG HAK AAK DALAM PROGRAM TOKOH DI CAKRA SEMARAG TV Ghela Rakhma Islamey; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.434 KB)

Abstract

Program acara televisi dalam bentuk news features dipilih untuk menceritakan kisah pengajar anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan. Bentuk news features pengemasan informasinya ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat sehingga seberat apapun materi yang diangkat pemirsa dapat menikmatinya dengan rileks.             News features pada karya bidang ini masuk dalam program Tokoh di Cakra Semarang TV dengan dua episode yakni “Pengajar Manusia Murni” dan “Merajut Asa Anak Jalanan”.  Posisi pekerjaan dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, reporter, juru kamera, dan editor.            Konsep tayangan dalam news features ini, menyesuaikan program Tokoh yang sudah ada sebelumnya di Cakra Semarang TV. Namun, ada tambahan beberapa bagian yang berisi talkshow, liputan dengan voice over, interview, dan juga voxpop. Tema yang diangkat untuk news features ini adalah human interest, yakni menampilkan profil orang yang mengabdikan hidupnya untuk berkecimpung di dunia sosial. Narasumber yang diangkat yaitu Drs. Ciptono, Kepala SLBN Semarang dan Yuli Sulistyanto (BDN), fasilitator anak dari Yayasan Setara Semarang.            Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan melalui Cakra Semarang TV pada hari Senin, tanggal 14 Mei dan 21 Mei 2014, pukul 18.00 WIB. Diharapkan tayangan ini dapat menjadi media untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli serta lebih mengerti pola asuh dan perlakuan yang baik bagi penyandang disabilitas maupun anak jalanan. Kata kunci: news features, human interest, Tokoh, anak berkebutuhan khusus, anak jalanan
PRODUKSI PROGRAM KULINER PADA PROGRAM ACARA WISATA JALAN KULINER CAKRA SEMARANG TV (Peran dan Pertanggungjawaban Sebagai Juru Kamera dan Penyunting Gambar) Distian Jobi Ridwan; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.211 KB)

Abstract

Kuliner adalah segala hal yang berhubungan dengan konsumsi makanan sehari-hari. Kuliner adalah bagian dari gaya hidup dan untuk itu menarik untuk diangkat menjadi sebuah tayangan televisi. Wisata Jalan Kuliner adalah salah satu program acara di stasiun TV lokal Cakra Semarang TV yang mengangkat tema ini. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai kuliner yang enak dan menarik baik dari sisi historis maupun cita rasa. Diharapkan acara ini mampu menjadi referensi bagi penonton yang ingin menambah wawasan dan pengalaman dalam menikmati makanan di Semarang. Untuk itu penulis beserta tim membuat news feature ini ke dalam acara tersebut. Dengan tujuan yang kurang lebih sama; untuk mengemas informasi mengenai bagaimana cara menikmati, menampilkan proses pembuatan secara mendalam, serta nilai historis dari berbagai jajanan di Semarang.Jajanan klenyem, timus, lumpia, tahu isi rebung, wingko babat, gandos, wedang rempah, dan wedang kacang tanah merupakan jajanan di semarang yang masih diminati oleh sebagian besar masyarakat. News feature ini dibuat dalam empat episode, yang tayang sekali setiap minggunya selama empat minggu berturut-turut dan dibagi berdasarkan bahan dasar jajanannya. Di tiap episode penulis beserta tim mewawancarai narasumber yang berkaitan dengan jajanan yang dibahas. Narasumber tersebut seperti penjual, pembuat jajanan, konsumen, maupun pendapat masyarakat umum. Kata kunci: Kuliner, News Feature, Televisi, Juru Kamera, Editor
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Yuniawan Eko Widyantoko; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.45 KB)

Abstract

Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”ABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentaris dalamhal ini menjabat posisi sebagai cameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini.Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. DokumenterKomunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa”menampilkan sekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti.Anak-anak muda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatSemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnyatidak banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minatgenerasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berdua berusahamemberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu dengan membuat sebuahwayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisadiaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidang digitalteknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak muda sekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatsemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan, tergambar padakegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafetbudaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anak mudasaat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan serta semangat dan upaya-upayaagar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikut menjaga kelestarian seni tradisionalwayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkanwayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnya anak mudaSutradara sebagai seorang jurnalis harus memiliki ide dan konsep yang jelas mengenaiapa yang disampaikan dalam video news features dan bagaimana menyampaikannya secara logisberdasarkan fakta yang terjadi. Untuk memberikan sentuhan estetika dalam penyampaian pesan dalamnews features ada empat topic utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yakni:pendekatan, gaya,bentuk, dan struktur. Setelah menentukan kemasan dari news features. Sutradara melakukan risetimengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjek- subjek yang akan menjadi tokohdalam news features Kegiatan riset dilakukan untuk menganalisis visi visual yaitu gambaran untukmengembangkan ide.Sutradara sebagai seorang penulis naskah menuangkan ide dan konsep dalamtreatment kemudian menulis naskah scenario beserta shooting list. Di dalam naskah scenario, sutradaramenentukan audio dan visual. Setelah masa produksi selesai, Sutradara menyeleksi gambar yanglayak dan sesuai naskah scenario kemudian membuat naskah editing. Sutradara memberikan naskahediting kepada editor, kemudian selama proses editing sutradara mendampingi editor sebagai tempatbertanya untuk kelancaran proses editingKata kunci: jurnalis, sutradara, penulis naskah, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team working frompre to post-production to production, documentary in this case serves as a cameraperson and aconcurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and ability ofjournalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled “Koboy DrawsJava’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part in Sobokartti puppet . Theyare agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gather people who are interested in thepuppet world . But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play . Wayangkulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and old-fashioned for today's youth ,because language introduction to the Java language is no longer popular among the youngergeneration . To attract young people to the puppet as traditional art , finally they both tried to deliverinnovation to the puppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson ,cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is incontact with the field of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public who areinterested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From school to schoolthey carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back to young kids today,Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring more youngpeople to know and be proud of and care for preservation of traditional art puppets Komplotan BocahWayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to be closer to the public, especiallyyoung people .Film Director is a journalist who has clear idea and concept about what he will say on NewsFeatures video and how to delivering facts that occurred logically. To give aesthetic touch in givingmessage on News Features, there are four main topics that can be a concentration of the director, theyare : approaching, style, place and choosing players, research is doing by visual vision to make animage that decided an idea.Film Director as a screenwriter needs to pour some ideas and concepts in his treatment then he writesscenario script with shooting list. In scenario script, Film Director selecting the best appropriatepictures then he makes editing script to give to the editor. In editing process, Film Director has to sitnext the editor as a place to asking while film is being edited.Keywords : journalist, film director, script writer, Wayang and CowboyKeywords : Journalist , film director, script writer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuah produktersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunyatelevisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepatdan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi denganberbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya , dan mampumembius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual(suara dan gambar) sehingga tentunya membuat masyarakat lebih tertarik kepada televisidaripada media massa lainnya. Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai mediumdengan efek yang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisiadalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality show daninvestigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk newsfeature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui media televise.Alasan menggunakan format documenter karena konten didalamnya lebih lengkap, yaituseperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif(fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yang mulaiterpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnya adalah kesenianiwayang.Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadietos dan pandangan hidup masyarakat jawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagimasyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukanhanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, mediapenyuluhan dan media pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, makakewajiban itu berarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulahmasyarakat Jawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yang berpusat diSobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihandalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagai medium.Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalam kegiatan pewayangannamun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkan wayang melalui workshop kesekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadapwayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesan untukmengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak dan orang tua, apabilakedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukan merupakan kegagalan para koboy, yangterpenting adalah masyarakat yang terutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyaipeninggalan kebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalammelestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknyakoboy dapat meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkatestafet tersebut dibawa oleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka paraiorang tua sendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknyadidalam sistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secaraindah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadiperubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak parajurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untukkahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepadakhalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massive yaitutelevisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan denganmasyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnya adalah remaja yang sangatakrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisi merupakan salah satu media yangtidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenis-jenis media yangmasuk kedalam kategori itu.i2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kamipara jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasai dan sejarah,termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini, pecahan-pecahanatau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa, latarbelakang sejarah,periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagian dari konstruksi peristiwatersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapilebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43).Diharapkan pembuatan documenter dengan gaya rekonstruksi dapat membangunkan kembalipemahaman tentang wayang sebagai seni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengannilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yangmembandingkan kondisi kesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati,sertamerupakan sebagai pusat referensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda padasaat sekarang ini, padahal wayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jamansekarang yang sudah berinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembanganjaman dengan munculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeseroleh media-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program StudiS-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasacinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.i2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasiyang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya PerkumpulanKoboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencinta atau penggiatkesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataan dariketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yang kuranggenerasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan oleh koboy untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenian wayang dan diakhiridengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensi kesenian wayang dan upayaupayayang dilakukan untuk menarik minat generasi muda terhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerja yangdirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang disusun.Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangani Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshoot kotasemarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukan pengambilan gambarsaat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan suatuproses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian padamedia radio tau televisi. Pra Produksi- Sutradara menentukan ide dan merumuskan konsep mengenai apa yang akan disampaikan- Sutradara menentukan bagaimana kemasan produk news features yang di dalamnyaditentukan pendekatan, bentuk penuturan dan struktur.- Sutradara melakukan riset mengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjeksubjekyang akan menjadi tokoh dalam news features.- Sutradara menuangkan ide dalam treatment.- Sutradara menulis naskah skenario- Sutradara menentukan audio dan visual dalam scenario Produksi- Sutradara menentukan format dan pemilihan shot saat melakukan produksii- Sutradara menentukan lokasi, latar belakang, dan posisi narasumber saat wawancara,sutradara mempertimbangkan siapa narasumber yang diwawancara termasuk kelengkapanmengenai usia dan profesi narasumber. Paska Produksi- Sutradara menyeleksi gambar yang layak dan sesuai naskah scenario kemudian membuatnaskah editing dengan tujuan menentukan visualisasi struktur cerita.Sutradara memberikan naskah editing kepada editor, kemudian selama proses editingsutradara mendampingi editor sebagai tempat bertanya.PENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang. Dengancara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek, peristiwa, danlokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkan karena news faeturetidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi seusai dengan peristiwanyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-fakta yang ingin disampaikan dalambentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan video news faeture ini mengalami tiga tahap,pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikut beberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkanselama proses pembuatan news faeture “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalam videoini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagai kesenian yangmulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakan anak- anak muda yangmemiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayang di tengah-tengah generasimuda .Mereka mempunyai komitmen kuat untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga padaigenerasi muda terhadap kesenian wayang. Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visiyang sama dengan tujuan dibuatnya video News Features ini yaitu berupaya mengenalkanwayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikan videoNews Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaitu ProgramSluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkat yaitu upayapengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendirimerupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yang memiliki history atausejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yang ada di Semarang. SepertiKoboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yang berpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Features mempunyaiperanan penting. Keberadaan narasumber dapat mempermudah sutradara dalammengembangkan ide cerita dan menjadi daya tarik dalam cerita. Pihak-pihak yang menjadinarasumber dalam News Features ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulianyang besar terhadap perkembangan kesenian wayng dan memiliki pemahaman yang baikberkaitan dengan upaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuannarasumber diperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dankompetensi para narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) News Features “Koboy Melukis Pusaka Jawa” ini dibuat dengan menyasar targetaudience dengan kisaran umur 18-35 baik laki-laki maupun perempuan tanpa membedabedakankelas ekonomi maupun social. Dalam pembuatan News Features ini bahasa yangdigunakan bersifat formal dan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience.Pemilihan bahasa tersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikandalam News Features iniiDAFTAR PUSTAKABukuAyawaila, Gerzon R. (2008). Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta : FFTV -IKJPRESSMuhammad, Djawahir. (2009). Semarang Sepanjang jalan kenangan, Semarang : PustakaSemarang 16Muhammad, Djawahir. (2011). Gambang Semarang Sebagai seni pernakan Cina, (belumditerbitkan)Morisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi.Jakarta : Kencana.Wibowo, Fred. 1997. Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta : PT GramediaWidiasarana IndonesiaWidagdo, Bayu dan Gora Winastwan (2007). Bikin Film Indie itu Mudah. Yogyakarta : C.VAndi OffsetJurnalDhanang Respati Puguh, dkk, 1999. Penataan Kesenian Gambang Smearang sebagai Identitas BudayaSemarang. laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Tahun I Anggaran 1998/1999.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.InternetBudiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974Er Maya Nugroho, 2010. “Gambang Semarang Tak Lagi Gamang”, dalam Suara Merdeka.comhttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2010/12/08/723/Gambang-Semarang-Tak-Lagi-GamangJodhi Yudono, 2010. “Gambang Semarang yang Gamang” dalam Kompas.com.http://nasional.kompas.com/read/2010/09/18/06273414/iTimur Arif Riyadi, 3013. “Regenerasi Tak Boleh Mati”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5 Jan 2013, diunduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231037Timur Arif Riyadi, 3013. “Klangenan bersama Gambang Semarang”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5Jan 2013, di unduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231036http://www.tempo.co/read/news/2012/12/13/112447876/Kesenian-Gambang-Semarang-Kembali-Dimunculkan
Produser Produksi Program Acara Berita Feature “Di Balik Nama” Di Cakra Semarang TV Imam Muttaqin; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.945 KB)

Abstract

Sampai saat ini, isu mengenai sejarah masih menjadi tema yang membosankan untuk diperbincangkan. Berangkat dari alasan tersebut, program acara “Di Balik Nama” mencoba memberikan informasi mengenai sejarah namun dengan konten yang lebih kreatif dan menghibur yang dikemas dengan gaya news feature. Kemasan news feature dipilih atas dasar penyajian konten inforrmasinya disampaikan secara ringan dan informasi yang disajikan tidak mudah basi. Program acara “Di Balik Nama” bercerita mengenai asal-usul terbentuknya sebuah nama baik nama dari sebuah kawasan, tradisi, maupun kuliner yang ada di kota Semarang dan sekitarnya. Penayajiannya menggunakan narasi yang efektif dengan didukung visual yang menarik. Program ini tayang setiap hari Jumat jam 19.00 WIB di stasiun televisi Cakra Semarang TV dengan durasi tayang selama 24 menit. Dalam setiap episode, program acara “Di Balik Nama” terdiri atas tiga segmen dengan tiga tema berbeda di setiap segmennya.“Di Balik Nama” merupakan sebuah karya bidang yang dikerjakan oleh empat orang mahasiswa dengan pembagian jobdesk yang berbeda, antara lain sebagai produser, program director, video editor, campers, script writer, dan pengisi suara. Pada laporan ini akan membahas mengenai tugas dan tanggung jawab posisi seorang produser, program director, video editor, dan juga campers mulai dari tahap pra-produksi hingga pasca produksi.