Claim Missing Document
Check
Articles

The Dynamics of Women’s Role in Public Area : A Framing Analysis toward Women’s Character in Leading Religius TV Drama ASTUTI, SANTI INDRA
Komunikator Vol 4, No 02 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meskipun banyak kritik dan kontroversi, drama TV agama telah memantapkan dirinya sebagai salah satu program TV yang paling banyak ditonton di Indonesia. Seperti banyak yang lain dari jenisnya, drama TV agama menyibukkan diri dengan konflik sekitar karakter wanitanya. Tapi karena dicap sebagai drama religius, orang mungkin bertanya-tanya bagaimana prinsip-prinsip agama yang diterapkan pada program hiburan seperti ini. Pertanyaan ini ditujukkan pada bagaimana program menggambarkan peran karakter wanita di tempat umum: apakah memberdayakan perempuan melalui karakter wanita nya, atau tidak? Sebuah analisis framing dilakukan pada tiga drama TV agama yang disiarkan pada tahun 2010 telah menemukan beberapa kesimpulan. “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Para Pencari tuhan (4 musim)” telah berhasil menggambarkan karakter wanita dalam peran penting dalam mengatasi isu-isu publik kontemporer. Sementara itu, “Safa & Marwah” gagal dalam mengenai masalah tersebut. “Safa & Marwah” didominasi oleh masalah domestik dan konflik yang dibingkai karakter wanita dalam stereotipe tradisional yang paling ketinggalan zaman. Kata Kunci: Program TV, Drama TV Religi.
The Dynamics of Women’s Role in Public Area : A Framing Analysis toward Women’s Character in Leading Religius TV Drama SANTI INDRA ASTUTI
Komunikator Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meskipun banyak kritik dan kontroversi, drama TV agama telah memantapkan dirinya sebagai salah satu program TV yang paling banyak ditonton di Indonesia. Seperti banyak yang lain dari jenisnya, drama TV agama menyibukkan diri dengan konflik sekitar karakter wanitanya. Tapi karena dicap sebagai drama religius, orang mungkin bertanya-tanya bagaimana prinsip-prinsip agama yang diterapkan pada program hiburan seperti ini. Pertanyaan ini ditujukkan pada bagaimana program menggambarkan peran karakter wanita di tempat umum: apakah memberdayakan perempuan melalui karakter wanita nya, atau tidak? Sebuah analisis framing dilakukan pada tiga drama TV agama yang disiarkan pada tahun 2010 telah menemukan beberapa kesimpulan. “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Para Pencari tuhan (4 musim)” telah berhasil menggambarkan karakter wanita dalam peran penting dalam mengatasi isu-isu publik kontemporer. Sementara itu, “Safa Marwah” gagal dalam mengenai masalah tersebut. “Safa Marwah” didominasi oleh masalah domestik dan konflik yang dibingkai karakter wanita dalam stereotipe tradisional yang paling ketinggalan zaman. Kata Kunci: Program TV, Drama TV Religi.
VIDEO WEB DRAMA SERIES FOR COMBATING DISINFORMATION: AN INNOVATION IN REACHING AND TEACHING AUDIENCE Santi Indra Astuti; Lumakto Giri; Nuril Hidayah
ASPIRATION Journal Vol. 1 No. 1 (2020): July Edition of ASPIRATION Journal
Publisher : ASPIKOM Jabodetabek Region

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2798.333 KB)

Abstract

Fighting disinformation through anti-hoax training has been successfully carried out all over Indonesia, following the massive anti-hoax campaign. However, the methods of training and teaching fact checking as the basics of the anti-hoax movement to reduce hoaxes and its harmful effects among the public need to be revised. In finding the solution, a new and innovative approach was launched. A web drama series in the form of videos depicting story in popular style was produced and screened in 56 workshops and uploaded in YouTube channel. Analyzing survey based pre-test and post-test questionnaires, toward 603 housewives and 809 young people who represented targets of the Stop Hoax Indonesia (SHI) project in 2019 resulted in some conclusions. For housewives, the web video drama series has added knowledge and motivates them to do fact checking. But for young people, though they show motivations to do fact checking, they weren’t able to discern material regarding the role of journalism as the important element of verifying information. These findings marked the importance of revising training materials using the web video drama to reach maximum effects on various targets. On the other hand, research results have reinforced the need to innovate teaching materials in order to enhance participants' experience in dealing with hoax or disinformation in real life. More videos packed with popular culture style are recommended.
Kasus Gempa Bumi di Yogya dan Jawa Tengah: Perspektif “Supply Chain Management”, Komunikasi, dan Kultural Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v7i2.1287

Abstract

May 27th, 2006, a-5.9-Richter scale-of-earthquake is collapsing Jogja and its surrounding. More than 5.800 inhabitants dead, hundreds of thousands other were injured. The city collapsed, along with its economy which suffered at least 8-billion-rupiahs-loss. Days after the earthquake, there were complaints everywhere concerning the system of logistic supply for the victims. The lack of food, unreachable locations, the slow treatment of injured victims were seen everywhere. From communication perspective, these complaints marked the lack of quality in communication system as main part of post-disaster-management. To overcome such problems, the local government in disaster area must build SCM—supply chain management—as the approach to communication-management system in order to distribute logistics for the victims. SCM consisted of three elements: supply chain network, supply chain process, and supply chain management. Although based on management approach, SCM covered comprehensive issues such as the importance of data, research, goals identification, transportation facilities, along with moral, attitude, and cultural sensitivity.
Telaah Buku: Revitalisasi Ilmu Komunikasi Melalui Riset Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v1i1.692

Abstract

Telaah Buku: Paradigma klasik mendominasi penelitian ilmiah komunikasi di Indonesia. Model-model komunikasi yang linier dari Schramm, Laswell, juga Shannon dan Weaver, masih dipertahankan untuk mengkaji efek-efek komunikasi. Dalamrisetsosial, terdapat banyak perspektif untuk menjelaskan objek penelitian berupa realitas sosial, yang salah satunya adalah peristiwa komunikasi. Yang pertama adalah emprisisme. Pendekatan kedua yang perlu diperkenalkan lebih meluas lagi adalah realisme. Perspektifketiga adalah subjektivisme. Idealisme adalah perspektif sosial lain yang belum begitu populer di kalangan periset komunikasi. Posmodernisme adalah istilah, sekaligus perspektif penelitian, yang sangat populer saatt ini. Pendekatan feminisme, dalam riset,juga bisa diterapkan sebagai panduan etis yang diharapkan bisa mencegah terulangnya fenomena "the age-oldfallacy of woman". Multiparadigma, sama halnya dengan multi-opinion dalam demokrasi, akan melahirkan dialektika yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu yang bersangkutan. Tulisan ini mencoba memperkenalkan sejumlah alternatif di luar maupun di dalam paradigm klasik yang mendominasi studi ilmu komunikasi di Indonesia selama ini. Tidak semuanya merupakan pendekatan baru dalam riset-riset sosial, namun di Indonesia, alternatif ini iperkirakan merupakan sesuatu yang menyegarkan karena belum banyak disentuh oleh para peneliti kajian komunikasi.
Mediamorfosis: Teknologi yang Menstruktur Masa Depan Manusia Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 4, No 1 (2003): Merayakan Wacana Kontemporer
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v4i1.835

Abstract

Judul: Mediamorfosis: Memahami Media Baru; Pengarang: Roger Fiddler; Penerbit: Bentang Budaya, Yogya, (kerjasama dengan Yayasan Adikarya Ford Foundation); Tahun terbit: Feb 2003; Tebal: xxviii + 444 halaman; Harga: Rp 40.000,00
Revitalisasi Ilmu Komunikasi Melalui Riset Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v1i1.682

Abstract

Paradigma klasik mendominasi penelitian ilmiah komunikasi di Indonesia. Model-model komunikasi yang linier dari Schramm, Laswell, juga Shannon dan Weaver, masih dipertahankan untuk mengkaji efek-efek komunikasi. Dalamrisetsosial, terdapat banyak perspektif untuk menjelaskan objek penelitian berupa realitas sosial, yang salah satunya adalah peristiwa komunikasi. Yang pertama adalah emprisisme. Pendekatan kedua yang perlu diperkenalkan lebih meluas lagi adalah realisme. Perspektifketiga adalah subjektivisme. Idealisme adalah perspektif sosial lain yang belum begitu populer di kalangan periset komunikasi. Posmodernisme adalah istilah, sekaligus perspektif penelitian, yang sangat populer saatt ini. Pendekatan feminisme, dalam riset,juga bisa diterapkan sebagai panduan etis yang diharapkan bisa mencegah terulangnya fenomena "the age-oldfallacy of woman". Multiparadigma, sama halnya dengan multi-opinion dalam demokrasi, akan melahirkan dialektika yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu yang bersangkutan. Tulisan ini mencoba memperkenalkan sejumlah alternatif di luar maupun di dalam paradigm klasik yang mendominasi studi ilmu komunikasi di Indonesia selama ini. Tidak semuanya merupakan pendekatan baru dalam riset-riset sosial, namun di Indonesia, alternatif ini iperkirakan merupakan sesuatu yang menyegarkan karena belum banyak disentuh oleh para peneliti kajian komunikasi.
Educating Youth Against Tobacco Advertising: A Media Literacy Approach for Reducing Indonesia's Replacement Smokers Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 10, No 1 (2017): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v10i1.2677

Abstract

According to recent data extracted from Global Tobacco Atlas (2015), about 66% Indonesian male aged no less than 15 years old are active smokers.  It means 2 among 3 Indonesian male are smokers. The number of young smokers arose significantly. Smokers among 15-19 years old has increased 17 % each year, meanwhile, baby smokers among 5-9 years old has multiplied 400 %. These figures implied the rise of health risk among Indonesians.  The tobacco industry tries every year to recruit young people to replace those current smokers who are dying or quitting. This youth being targeted by tobacco industry is called ‘replacement smokers’, and is lured to start smoking through the work of advertising and creative marketing strategy. A study carried out by Health Ministry of Indonesia showed that 70% youth were started to smoke after heavily exposed by cigarette advertising. In order to break tobacco advertising spell, a brand jamming strategy based on media literacy approach was conducted toward junior high school pupils.  By educating them about advertising-behind-the scene and challenging them to creatively produce a ‘mocking’ version of popular tobacco ads, students now are capable enough to deconstructing the real message behind tobacco ads.
Representasi Perempuan Indonesia dalam Komunikasi Visual: Wacana yang (Belum) Berubah Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i2.1166

Abstract

Sebagai sebuah narasi yang bercerita tentang riwayat panjang kemanusiaan, ada banyak hal yang bisa ditapaki dari produk-produk komunikasi visual kita, entah itu film, media massa, ataupun iklan. Sosok perempuan dalam film, dari segi kuantitas, menduduki posisi yang cukup sentral. Ini dialami pula oleh perempuan yang tampil dalam majalah dan iklan—setidaknya wajah perempuan bertaburan di mana-mana. Namun, kondisi sedemikian tidak serta-merta meniscayakan adanya representasi perempuan dalam wacana yang cukup bermutu. Penelusuran atas berbagai literatur yang menyoal representasi perempuan di tiga media komunikasi visual, yaitu film, majalah, dan iklan memperlihatkan wacana tentang perempuan yang belum berubah dari stereotip klasik. Untuk mengubah stereotip ini, gerakan feminis yang digagas oleh para aktivis tidaklah cukup. Perempuan mesti menyediakan ruang dan waktu untuk berdialog secara leluasa dengan dirinya sendiri, guna menegosiasikan secara kritis pelbagai pemaknaan yang ditawarkan pada mereka dalam upaya mengonstruksi diri ataupun masyarakat yang lebih ramah terhadap eksistensi perempuan.
Seks, Gender, dan Representasi Media dalam Karya Ayu Utami Santi Indra Astuti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i1.759

Abstract

Dua tipe wacana seks diungkap Ayu Utami dalam novel ini: pertama, seks sebagai jenis kelamin (lelaki maupun perempuan) dengan stereotipe atau nonstereotipe masing-masing; kedua, seks dalam makna hubungan prokreasi yang melahirkan berbagai 'pengetahuan' tentang hubungan antar individu-dalamjenis yang 'biasa' diterima masyarat, dan Jenis. yang 'tidak biasa' diterima masyarakat. Apakah perselingkuhan Juga. ditahbiskan sebagai jenis hubungan yang diterima masyarakat. itu masih tanda tanya dan diserahkan pada sidang pembaca. Namun jelas bahwa perselingkuhan yang diungkap Ayu dalam LARUNG sudah menjadi realitas di tengah masyarakat kita.