Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Diagnosing the Typology of the Human Psyche in the Qur’an: A Study of the Salim, Muqtashid, and Maridh Souls Nurusshobah, Nurusshobah; Wahid, Ilham Dhya'ul; Aini, Hafizatul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.399

Abstract

This study aims to examine the typology of the human psyche in the Qur'an, focusing on three principal categories of the soul: salīm, muqtasid, and marīd. Employing a thematic approach to relevant Qur'anic verses, the research analyzes how the Qur'an portrays the inner states of the human soul and offers a conceptual foundation for understanding and addressing psychological challenges. The study is conducted through library research using a thematic exegesis (tafsīr) approach, complemented by an exploration of the views of both classical and contemporary scholars regarding the Qur'anic construction of human psychology. The findings reveal that the salīm soul is described as pure, free from polytheism, and firmly rooted in monotheism, representing the ideal state of spiritual wholeness. The muqtasid soul occupies a moderate position, symbolizing individuals who strive to balance purity and deviation a type particularly relevant in contemporary social contexts. Meanwhile, the marīd soul reflects a disturbed psychological condition caused by doubt, hypocrisy, or destructive desires, which the Qur'an addresses comprehensively through spiritual purification (tazkiyah al-nafs), the strengthening of faith, and psychospiritual therapy. This study highlights that the Qur'anic classification of the soul is not merely theoretical but also practical, offering both preventive and curative solutions to the moral and spiritual crises of modern society, and contributing to the advancement of Islamic psychology and character education. Penelitian ini bertujuan menguraikan tipologi kejiwaan manusia dalam Al-Qur’an dengan menitikberatkan pada tiga kategori pokok jiwa, yaitu salīm, muqtasid, dan marīd. Dengan pendekatan tematik terhadap ayat-ayat terkait, kajian ini menelaah bagaimana Al-Qur’an memaparkan dinamika batin manusia dan menyediakan kerangka konseptual dalam memahami serta mengatasi persoalan psikologis. Penelitian dilaksanakan melalui studi kepustakaan dengan metode tafsir tematik (tafsīr maudhū‘ī), disertai telaah atas pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai konstruksi psikologi Qur’ani. Hasil kajian menunjukkan bahwa jiwa salīm digambarkan sebagai jiwa yang suci, bersih dari syirik, dan teguh dalam ketauhidan, mencerminkan kondisi ideal kematangan spiritual. Jiwa muqtasid berada dalam posisi tengah, mewakili individu yang berusaha menyeimbangkan antara kesalehan dan penyimpangan, sehingga relevan untuk konteks sosial modern. Adapun jiwa marīd menunjukkan kondisi kejiwaan yang terganggu oleh keraguan, kemunafikan, atau dorongan negatif, yang ditangani Al-Qur’an secara menyeluruh melalui pemurnian jiwa (tazkiyah al-nafs), penguatan iman, serta pendekatan terapi psiko-spiritual. Kajian ini menegaskan bahwa klasifikasi jiwa dalam Al-Qur’an bersifat aplikatif sekaligus konseptual, memberikan solusi preventif dan kuratif atas krisis moral-spiritual masa kini, serta mendukung pengembangan psikologi Islam dan pendidikan karakter.
Dehumanisasi dan Krisis Spiritualitas di Media Sosial: Analisis Hermeneutik Surah Al-Ḥujurāt Ayat 11 dalam Tafsir Al-Mishbah Arsyi, M. Rizkhan; Haqiqi, M. Rama; Mubinullah, M.; Nurusshobah, Nurusshobah
Peradaban Journal of Religion and Society Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjrs.v5i1.716

Abstract

  This study examines Surah al-Ḥujurāt verse 11 through an analysis of Quraish Shihab’s interpretation in Tafsir al-Mishbah to critically understand the phenomena of dehumanization and the crisis of spirituality in social media. In contrast to previous studies that tend to focus on normative social ethics or thematic analyses without deeply engaging with digital communication practices, this research offers a conceptual enrichment through a hermeneutical approach that connects the textual horizon, the interpretive process, and contemporary digital realities. Employing a qualitative library-based method, the study analyzes the structure of exegetical argumentation and its ethical-spiritual implications for online interaction. The findings indicate that the verse provides a value framework that functions transformatively in shaping social relations, particularly within digital spaces prone to bullying, hate speech, labeling, and polarization. Quraish Shihab’s interpretation emphasizes the importance of self-discipline, moral sensitivity, and public responsibility as guiding principles of communication. The hermeneutical refinement in this study demonstrates an operational linkage between Qur’anic messages and digital phenomena, ensuring that ethical prohibitions do not remain merely normative but serve as critical guidelines for fostering a more humane culture of interaction. The primary contribution of this study lies in formulating a framework of “Qur’anic digital ethics,” which expands the discourse on Islamic digital literacy while offering a conceptual basis for addressing dehumanization and the crisis of spirituality in the era of social media. Studi ini mengkaji Surah al-Ḥujurāt ayat 11 melalui pembacaan atas penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah untuk memahami secara kritis gejala dehumanisasi dan krisis spiritualitas di media sosial. Dibandingkan penelitian sebelumnya yang lebih berhenti pada uraian etika sosial atau analisis tematik tanpa menghubungkannya secara mendalam dengan praktik komunikasi digital, penelitian ini menawarkan pengayaan konseptual melalui pendekatan hermeneutik yang menautkan horizon teks, proses penafsiran, dan realitas digital kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis terhadap bangunan argumentasi tafsir serta implikasi etik-spiritualnya bagi interaksi daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut menghadirkan kerangka nilai yang bekerja secara transformatif dalam menata relasi sosial, terutama pada ruang digital yang rentan terhadap praktik perundungan, ujaran kebencian, pelabelan, dan polarisasi. Penafsiran Quraish Shihab menegaskan pentingnya disiplin diri, kepekaan moral, dan tanggung jawab publik sebagai orientasi komunikasi. Penajaman hermeneutik dalam penelitian ini memperlihatkan keterkaitan operasional antara pesan Qur’ani dan fenomena digital, sehingga larangan etis tidak berhenti pada level normatif, tetapi berfungsi sebagai pedoman kritis untuk membangun budaya interaksi yang lebih manusiawi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada perumusan kerangka “akhlak digital Qur’ani” yang dapat memperluas diskursus literasi digital keislaman sekaligus menawarkan basis konseptual untuk merespons dehumanisasi dan krisis spiritualitas pada era media sosial.