Nurita Dian Kestriani
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PLASMAFARESIS PADA PASIEN STATUS EPILEPTIKUS AKIBAT ENSEFALITIS ANTI- NMDAR DI UNIT PERAWATAN INTENSIF Olivia Des Vinca; Nurita Dian Kestriani; Dhany Budipratama
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.474 KB) | DOI: 10.15851/jap.v8n1.1978

Abstract

Sejak tahun 2007 penyebab lain ensefalitis diketahui adalah autoimmun selain virus sebagai penyebab terbanyak (69%) dengan angka kematian di dunia 8–18,45%. Ensefalitis anti-NMDAR adalah ensefalitis autoimun akibat reaksi antibodi terhadap antigen membran ekstraseluler, subunit NR1, yaitu reseptor glutamat NMDA di sinapsis susunan saraf pusat. Kasus ensefalitis NMDAR sangat jarang dijumpai, berdasarkan penelitian yang teridentifikasi hanya 1% pasien usia 18–35 tahun yang dirawat di Unit Perawatan Intensif (UPI), namun dengan penatalaksanaan yang tepat dapat meningkatkan prognosis pasien. Pasien laki-laki, usia 36 tahun dikonsulkan ke UPI RSHS setelah 10 hari rawatan di Neuro High Care (NHC) pada bulan Agustus 2019 dengan penurunan kesadaran disertai riwayat kejang berulang dengan diagnosis ensefalitis anti-NMDAR. Kombinasi obat anti-viral, anti-epilepsi, dan metilprednisolon yang diberikan sebelumnya di ruangan tidak memberikan perbaikan klinis bermakna. Selama perawatan di UPI pasien diberikan terapi plasmafaresis dan menunjukkan perbaikan secara signifikan. Bangkitan kejang berulang dapat berupa kejang parsial, kejang generalisata dan status epileptikus. Manifestasi kejang diduga terjadi karena terbentuknya antibodi yang menyerang reseptor glutamat NMDA dengan target utama NR1. The American Society for Apheresis merekomendasikan plasmaferesis sebagai pilihan terapi utama. Simpulan, terapi plasmafaresis dalam tata laksana kasus ensefalitis anti- NMDAR merupakan pilihan tepat karena terbukti efektif dan efisien dalam perbaikan klinis pasien melalui mekanisme penurunan titer antibodi terhadap reseptor NMDA. Plasmapheresis in Patients of Epilepticus Status Patients Due to Anti-NMDAR Encephalitis in Intensive Care UnitsSince 2007 another known cause of encephalitis is autoimmune other than viruses as the most common cause (69%) with a mortality rate in the world of 8-18.45%. Anti-NMDAR encephalitis (n-Methyl-D-Aspartate receptor) is an autoimmune encephalitis due to an antibody reaction to the extracellular membrane antigen, NR1 subunit, the NMDA glutamate receptor at the synapses of the central nervous system. Cases of NMDAR encephalitis are very rare, based on studies that identified only 1% of patients aged 18-35 years who were treated in the Intensive Care Unit (ICU), but with proper management could improve the patient's prognosis.Male patient, 36 years old, was admitted to ICU RSHS after 10 days of treatment at Neuro High Care (NHC) in August 2019 with decreased consciousness accompanied by a history of recurrent seizures with a diagnosis of anti-NMDAR encephalitis. The combination of anti-viral, anti-epileptic, and methylprednisolone drugs given previously at NHC did not provide clinically meaningful improvement. During treatment at ICU, patients were given plasmafaresis therapy and showed significant improvement. Recurrent seizures can be partial seizures, generalized seizures and status epilepticus. Seizure manifestations are thought to occur due to the formation of antibodies that attack NMDA glutamate receptors with the main target NR1. The American Society for Apheresis recommends plasmapheresis as the main therapeutic choice. In conclusion, plasmafaresis therapy in the management of anti-NMDAR encephalitis cases is the right choice because it is proven effective and efficient in the clinical improvement of patients through the mechanism of decreasing antibody titers to NMDA receptors.
Resusitasi Pengendalian Kerusakan Di Unit Perawatan Intensif Dhanu Pitra Arianto; Nurita Dian Kestriani
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 2 (2020): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i2.3096

Abstract

Abstrak Resusitasi dengan pengendalian kerusakanmenggambarkan suatu pendekatan ke perawatan awal pada pasien dengan cedera berat. Tujuan pendekatan ini untuk menjaga pasien tetap stabil dengan menghindari intervensi dan kondisi yang berisiko kepada keadaan perburukan dengan mengendalikan trias kematian, yaitu hipotermia, koagulopati, dan asidosis. Merupakan hal yang penting bahwa konsep dan kepraktisan pendekatan ini dipahami oleh semua yang terlibat dalam manajemen awal pasien trauma. Pendekatan ini dimulai dengan pemberian produk darah sejak awal, penghentian perdarahan dan pengembalian volume darah yang bertujuan untuk mengembalikan stabilitas fisiologis dengan cepat. Resusitasi dengan pengendalian kerusakan memilikibeberapa tambahan pendekatan dari bidang farmakologis dan laboratorium untuk meningkatkan perawatan pasien yang mengalami perdarahan. Pendekatan ini termasuk trombelastografi sebagai ukuran rinci kaskade pembekuan, asam traneksamat sebagai antifibrinolitik. Kata kunci : hipotermia, koagulopati, asidosis, perdarahan masif Damage Control Resuscitation in Intensive Care Unit Abstract Damage control resuscitation (DCR) describes an approach to the early care of very seriously injured patients. The aim is to keep the patient alive whilst avoiding interventions and situations that risk worsening their situation by driving the lethal triad of hypothermia, coagulopathy and acidosis.It is critical that the concepts and practicalities of this approach are understood by all those involved in the early management of trauma patients. Damage control resuscitation forms part of an overall approach to patient care rather than a specific intervention and has evolved from damage control surgery. It is characterised by early blood product administration, haemorrhage arrest and restoration of blood volume aiming to rapidly restore physiologic stability. The infusion of large volumes of crystalloid is no longer appropriate, instead the aim is to replace lost blood and avoid dilution and coagulopathy. In specific situations, permissive hypotension may also be of benefit, particularly in patients with severe haemorrhage from an arterial source. Damage control resuscitation has been augmented by both pharmacologic and laboratory adjuncts to improve the care of the hemorrhaging patient. These include thrombelastography as a detailed measure of the clotting cascade, tranexamic acid as an antifibrinolytic. Keywords: hypothermia, coagulopathy, acidosis, massive bleeding
Sensitifitas dan Spesifisitas Kuesioner Covid-19 untuk Skrining Pasien Praoperatif di RSUP dr. Hasan Sadikin Marrylin Tio Simamora; Erwin Pradian; Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n1.2574

Abstract

Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tetapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat, namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.Covid-19 Sensitivity and Specificity Questionnaire for Screening Preoperative Patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungThe 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic impacts all aspects, one of which is health services. Preoperative screening is one of the essential things in the preparation and selection of patients who will undergo elective surgery during the COVID-19 pandemic. This study aimed to determine the sensitivity and specificity of the COVID-19 questionnaire used to screen preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital. The study was conducted at the Medical Record Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from February 2021 to March 2021. This study was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design to compare the results of the questionnaire with the results of the COVID-19 PCR taken from preoperative patient data from June 2020 to August 2020. The results found that sensitivity in the COVID-19 questionnaire for screening preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital was very weak (36.4%), while the specificity was very strong (97.2%). The positive likelihood ratio was perfect (13), while the negative likelihood ratio was moderate (0.65). This study concludes that the COVID-19 questionnaire is unsuitable for use in a low prevalence population but is good enough to screen healthy patients. However, it still cannot be used as a diagnostic test tool and requires other supporting tests to diagnose COVID-19.
Tata Laksana Mekanikal Ventilator pada Pasien Acute Respiratory Distress syndrome (ARDS) dengan Pendekatan Driving Pressure Ester Lantika Ronauli Silaen; Nurita Dian Kestriani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.583 KB)

Abstract

Manajemen ventilasi mekanik sindrom distres pernapasan akut (ARDS) antara lain penggunaan volum tidal rendah, positive end expiratory pressure PEEP tinggi, dan menjaga tekanan Pplat ≤30 cmH2O, dengan target untuk mencegah terjadi ventilator menginduksi cedera paru (VILI). Parameter driving pressure (DP) diperhitungkan pada saat ini sehubungan dengan batas aman dan sintasan pada pasien dengan komplians rendah seperti pada ARDS. Laporan kasus ini melaporkan seorang pria, usia 26 tahun, dengan luka tusuk pada dada yang dilakukan debridement dengan median sternotomi. Setelah satu hari dirawat di bangsal, pasien readmisi ke ICU dengan keluhan sesak napas, penurunan kesadaran, penurunan saturasi oksigen menjadi 65%, dan gambaran foto thoraks ditemukan opasitas bilateral. Pasien dilakukan penilaian dan penanganan dilanjutkan dengan manajemen ARDS, dan dipasang ventilator. Pengaturan ventilator dengan modus pressure control, menggunakan PEEP tinggi dan penyesuaian volum tidal berdasarkan nilai DP yang memberikan respon baik dengan meningkatnya oksigenasi pasien. Pasien kemudian berhasil diekstubasi setelah 8 hari dirawat di ICU. Penurunan komplians pada ARDS terjadi dengan hilangnya area paru yang bias ter-aerasi membuat penurunan luas paru yang fungsional. DP berhubungan dengan tekanan stress dalam paru dan merepresentasikan strain siklik yang menjadi sasaran parenkim paru selamat tiap siklus ventilasi. Penyesuaian parameter ventilasi mekanik dengan target driving pressure memberikan luaran yang baik pada kasus ini.
Tatalaksana Intensive Care Unit Pasien Krisis Miastenia yang dipicu oleh Pneumonia Komunitas Agung Ari Budy Siswanto; Sobaryati; Nurita Dian Kestriani; Ardi Zulfariansyah; Erwin Pradian; Suwarman; Tinni T. Maskoen
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.622 KB)

Abstract

Krisis miastenia adalah suatu eksaserbasi akut dari miastenia gravis, dimana kelemahan yang terjadi sampai melibatkan otot-otot pernafasan sehingga mengakibatkan kegagalan napas akut dan memerlukan dukungan ventilasi mekanik. Krisis miastenia merupakan komplikasi miastenia gravis yang paling berbahaya dan mengancam jiwa bila tidak segera ditangani. Timbulnya krisis miastenia dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah infeksi paru yang didapat di masyarakat (pneumonia komunitas). Tatalaksana Intensive Care Unit (ICU) pasien krisis miastenia meliputi tatalaksana terhadap kegawatan respirasi, tatalaksana terhadap miastenia gravis, tatalaksana terhadap faktor pencetusnya dan dukungan nutrisi yang adekuat. Intubasi endotrakeal dan dukungan ventilasi mekanis merupakan pilihan utama tatalaksana kegawatan respirasi. Plasmaferesis adalah salah satu metoda terapi yang terbukti efektif dan efisien dalam menanggulangi krisis miastenia. Terapi lainnya adalah pemberian agen anticholinesterase, agen imunosupresif kronis, terapi imunomodulator cepat, dan timektomi. Terapi standar untuk menanggulangi pneumonia komunitas mengikuti panduan Infectious Diseases Society of America (IDSA) terkini. Dukungan nutrisi yang adekuat juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan terapi. Diagnosis dini dan terapi yang adekuat diharapkan bisa memperbaiki prognosis pasien krisis miastenia. Pada laporan kasus ini kami sajikan tatalaksana ICU pasien krisis miastenia yang dipicu oleh pneumonia komunitas, yang dirawat di ICU RS. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Oktober 2019.