Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT

THE USE OF TEACHER TALK IN MAKING STUDENTS ENGAGED IN EFL CLASSROOM INTERACTION Siti Astri Yoana; Oikurema Purwati; Syafi’ul Anam
Jurnal Education and Development Vol 8 No 1 (2020): Vol.8.No.1.2020
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.49 KB)

Abstract

Di dalam proses pembelajaran, guru mempunyai peran yang sangat penting. Guru melakukan banyak hal di dalam kelas dan aktifitas yang paling banyak adalah berbicara. Yaitu, berkomunikasi dengan murid sebagai usahanya dalam mempresentasikan dan mendiskusikan materi sejelas-jelasnya. Bahkan, studi ini memeriksa fitur interaksional dalam tuturan guru yang di temukan dan bagaimana membuat murid terlibat di dalam kelas interaksi EFL. Sebagai hasilnya, penelitian ini diharapkan untuk dipelajari lebih jauh sebagai pengembangan kualitas ucapan guru di dalam kelas interaksi EFL. Studi ini adalah studi kualitatif untuk mendiskripsikan fitur interaksi oleh Walsh (2006) yang ditemukan selama proses pembelajaran, bagaimana fitur tersebut membuat siswa terlibat, dan bagaimana fitur tersebut memfasilitasi siswa untuk berbicara bahasa inggris. Studi ini melibatkan dua guru bahasa inggris di sekolah menengah atas sebagai subyek. Penelitian ini menunjukkan bahwa dari dua guru yang di observasi, ada 9 fitur interaksi dalam ucapan guru yang ditemukan selama dua kali proses observasi di kelas. Fitur interaksi yang di temukan adalah scaffolding, direct repair, referential question, seeking clarification, confirmation checks, teacher echo, extended teacher turn, turn completion, and display question. Content feedback, extended wait time, extended learner turn, teacher interruptions, dan form-focused feedback adalah fitur yang tidak di temukan. Dari fitur-fitur tersebutt menciptakan aksi insiasi, usaha, perhatian, dan keterlibatan perilaku. Sejak tuturan guru sangat penting untuk membantu siswa dalam penguasaan bahasa, guru diharapkan untuk memahami bahasa yang mana yang lebih efisien dalam membuat suasana yang kondusif di dalam kelas.
THE CHALLENGES OF ONLINE PEER REVIEW OF STUDENTS’ NARRATIVE WRITING IN INSTAGRAM Frederick Lukas Tahapary; Oikurema Purwati; Ahmad Munir
Jurnal Education and Development Vol 8 No 1 (2020): Vol.8.No.1.2020
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.264 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kesulitan siswa dari implementasi peer review secara online di dalam pengajaran menulis Bahasa Inggris pada level siswa menengah kejuruan. Studi ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan yang dialami siswa melalui proses dari online peer review di Instagram. Data yang diambil untuk penelitian ini berupa jawaban siswa yang diambil melalui interview yang semi struktur. Subjek dari studi ini merupakan seorang guru dan 32 murid, yang terdiri dari 7 murid laki-laki dan 25 murid perempuan. Studi ini dilakukan dari bulan September hingga Oktober tahun 2019. Dari hasil temuan, semua siswa memasang teks naratif mereka pada akun Instagram mereka. Kesulitan siswa ketika melakukan peer review adalah memahami kesalahan dari teks naratif teman mereka dan kebahasaan yang digunakan di teks-teks tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, proses dari online peer review dapat digunakan sebagai alternatif yang positif untuk mengganti metode pengajaran yang dirasa monoton. Online peer review juga dapat digunakan untuk menciptakan aktifitas produktif untuk siswa, namun, pemahaman siswa terhadap teks atau topik yang digunakan dan juga praktik dari online peer review harus menjadi hal yang penting untuk dipahami sebelum menerapkan online peer review di media sosial.
GENRE-BASED LEARNING TO PROMOTE STUDENT’S CRITICAL THINKING IN INFORMAL EDUCATION Moh. Rismala; Oikurema Purwati; Ali Mustofa
Jurnal Education and Development Vol 9 No 2 (2021): Vol.9.No.2.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.077 KB)

Abstract

Penelitianini ertujuan untuk mempelajar ipenerapan pendekatan Genre-Based untuk mengembangkan pola berfikir kritis siswa di Edulab. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan secara mendalam dengan beberapa sumber informasi. Fenomena yang diteliti adalah implementasi dari lima langkah pendekatan Genre-Based dalam proses pembelajaran yang meliputi building the context, modelling and deconstructing the text, joint construction of the text,dan independent construction of the text. Disamping itu, penelitian ini juga menganalisis aspek cara berfikir kritis dari tulisan siswa. Pengambilan data melibatkan 1 guru bahasa inggris dan 5 siswa SMA dari masing-masing 2 kelas dengan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi berupa teks argumentasi yang ditulis siswa. Dengan mengimplementasikan semua step dari genre-based cycle dan strategi scaffoldingkemandirian siswa dalam menulis teks, pendekatan genre-based berjalan dengan sangat baik. Hasilnya menunjukkan siswa mampu memahami dan melatih menulis teks argumentasi tahapan demi tahapan. Disamping itu, penggunaan GBA menyebabkan guru menjadi lebih kreatif dan tertata. Disisi lain, siswa tidak hanya mampu untuk menjawa pertanyaan, tetapi juga mampu untuk menulis teks yang baik dengan kesadaran pentingnya bahasa inggris sebagai bahasa asing dan mampu untuk berkomunikasi menggunakan bahasa target.
TEACHER’S PERCEPTION: TEACHING READING STORYBOARD FOR MENTALLY RETARDED STUDENTS Lulu Asyrifah; Lies Amin Lestari; Oikurema Purwati
Jurnal Education and Development Vol 9 No 3 (2021): Vol.9.No.3.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.007 KB) | DOI: 10.37081/ed.v9i3.2691

Abstract

There is evidence of the benefits of using storyboards. Most of the previous studies focused on the results of applying storyboards for students' achievement, however, there are limited empirical studies on teacher’s perceptions of the application of storyboards in teaching reading for students with special needs, especially mild-mentally retarded students. This study offers a qualitative research that aims to investigate teachers' perceptions of the use of storyboards in teaching reading and its benefits and challenges with two English teachers as the subjects. A semi-structured interview was conducted to collect the data. The findings of this study revealed that there were similarities in teacher’s perception and the benefits derived from the implementation of storyboard, but there were differences in their practice and challenges encountered in the teaching reading process to mild-mentally retarded students.
STUDENTS’ PERCEPTION OF DIGITIZING LEARNING MATERIALS: READINESS AND CHALLENGES Afifah Nisfatul Laila; Oikurema Purwati; Syafi’ul Anam
Jurnal Education and Development Vol 10 No 3 (2022): Vol.10. No.3 2022
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.823 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan siswa dan tantangan terkait materi pembelajaran digital. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengetahui dan mengukur kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran digital dan mengakomodir tantangan yang mereka hadapi dalam menerima materi pembelajaran digital. Sedangkan wawancara dipergunakan untuk memperkuat data yang belum ada. Persepsi sebagian besar peserta didik terkait materi pembelajaran digital dari sudut pandang kesiapan dan tantangan sebagai berikut: sebagian besar respondent menyatakan bahwa mereka siap dalam menerima materi pembelajaran secara digital. Sedangkan tantangan yang dialami oleh respondent yaitu terkait kepemilikan smartphones, sumber digital yang kurang memadai, serta keberagaman latar belakang respondent.