Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Differences in the effectiveness of pineapple consumption and papaya as self cleansing on changes in debris index in students : Study experimental Zusuan, Indriana; Bakhtiar, Amri; Sari, Widya Puspita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53194

Abstract

ABSTRACTIntroduction: An oral cavity disease that is susceptible to attack is caries. According to the 2018 Riskesdas results in Indonesia, caries in children reached 93%. The high rate of caries can be caused by the food choices that children consume, so preventive measures are needed, one of which is by consuming fruits rich in fiber and water such as pineapple and papaya, which act as natural mouth cleansers or self-cleansers.The aim of the research was to determine the disparity in the efficacy of consuming pineapple and papaya as self-cleansing on changes in debris index among students at SDN 10 Sungai Sapih, Padang City. Methods: The research uses a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest design. The total sample consisted of 70 people, with 35 participants consuming pineapple and the other 35 participants consuming papaya. The sampling technique is purposive sampling. The parameter measured is the debris index before and after consumption of pineapple and papaya. Data analysis used frequency distribution and T-test using SPSS 26 software. Results: The results showed that the average debris index before pineapple consumption was 1.583, after which it became 0.674, the difference between the scores was 0.909. The average value of the debris index before consuming papaya was 1.677, decreasing to 0.629, so there was a difference of 1.048. The p-value is 0.00<0.05 for both fruits. Conclusions: There is a difference in the effectiveness of consuming pineapple and papaya for self-cleansing purposes in relation to changes in debris index among students at SDN 10 Sungai Sapih, Padang City. Papaya shows greater effectiveness in reducing debris index scores compared to pineapple.KEYWORDS: pineapple (ananas comosus (L.) Merr.), pawpaw (Carica papaya L.), self cleansing, debris indexPerbedaan efektivitas konsumsi buah nanas dan pepaya sebagai self cleansing terhadap perubahan debris index pada siswa  sdn 10 sungai sapih kota padangABSTRAKPendahuluan: Penyakit rongga mulut yang rentan menyerang adalah karies. Menurut Hasil Riskesdas 2018 di Indonesia, karies pada anak mencapai angka 93%. Tingginya angka karies dapat disebabkan oleh pilihan makanan yang dikonsumsi anak, sehingga diperlukan tindakan pencegahan salah satunya melalui konsumsi buah-buahan yang kaya serat dan air seperti nanas dan pepaya, yang bertindak sebagai pembersih mulut alami atau self cleansing. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan efektivitas konsumsi buah nanas dan pepaya sebagai self cleansing terhadap perubahan debris indeks pada siswa Sekolah Dasar. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan one-group pretest-posttest design. Sampel keseluruhan terdiri dari 70 orang, dengan 35 peserta mengonsumsi nanas dan 35 peserta lainnya mengonsumsi pepaya. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Parameter yang diuji adalah debris indeks sebelum dan sesudah konsumsi nanas dan pepaya. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan uji T-test menggunakan software SPSS 26. Hasil: Rerata debris indeks sebelum konsumsi nanas sebesar 1,583, sesudahnya menjadi 0,674, dan selisih skor 0,909. Nilai rerata debris indeks sebelum konsumsi pepaya adalah 1,677 menurun menjadi 0,629, sehingga terdapat selisih 1,048. Nilai p-value 0,00<0,05 untuk kedua buah. Simpulan: Terdapat perbedaan efektivitas konsumsi buah nanas dan pepaya untuk tujuan self cleansing dalam kaitannya dengan perubahan debris indeks pada siswa di SDN 10 Sungai Sapih Kota Padang. Pepaya menunjukkan efektivitas yang lebih besar dalam mengurangi skor debris indeks dibandingkan dengan nanas.KATA KUNCI: buah Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.), pepaya (carica papaya L.), self cleansing, debris indek
KAJIAN NUTRISI DAUN SINGKONG SEBELUM DAN SESUDAH FERMENTASI Kamal Uyun, Hendri Satria; Bakhtiar, Amri; Nurdin, Hazli
Jurnal Farmasi Higea Vol 16, No 2 (2024)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v16i2.634

Abstract

Daun singkong (Manihot esculenta Crantz) adalah salah satu sayuran yang digunakan oleh suku Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. Selain sebagai sayuran, daun singkong telah dimanfaatkan sebagai sumber bioflavonoid rutin, sedangkan ampasnya difermentasi menjadi “daun singkong tempe”. Nilai gizi tempe daun singkong menunjukkan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan sebelum fermentasi dari 23,06% menjadi 28,55% ;, sedangkan kandungan lemak menurun dari 10,72% menjadi 8,07%, serta karbohidrat (serat kasar) menurun dari 61,45% menjadi 57,76%. Diharapkan tempe daun singkong dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk perbaikan gizi masyarakat.
Pelatihan Pembuatan Tempe Daun Singkong Sebagai Cemilan Bernutrisi Untuk Ibu Hamil Dan Anak-Anak Sebagai Pencegahan Stunting Di Kota Padang Panjang Yesika, Relin; Rasyadi, Yahdian; Bakhtiar, Amri; Rahma Desra, Nanda; Larasari Deflorian, Antisa; Marisya, Ardilla
Literasi Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Pengelola Jurnal Politeknik Negeri Ketapang Jl. Rangga Sentap, Dalong Sukaharja, Ketapang 78813. Telp. (0534) 3030686 Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58466/literasi.v3i1.1291

Abstract

Prevention of stunting in infants and toddlers can be done starting during pregnancy. Nutritional intake in pregnant women can be done by consuming quality food. In an effort to fulfill nutrition for pregnant women and children by consuming nutritious snacks, this service conducted training on making cassava leaf tempeh to the community in the Bukit Surungan village, West Padang Panjang, Padang Panjang City in July 2022. The training activity began with an explanation about the content of cassava leaf tempeh to the trainees and a demonstration of how to make cassava leaves into tempeh with the addition of tempeh yeast. The finished cassava leaf tempeh is fried with tempeh flour and eaten with the trainees. The trainees said that tempeh was delicious and almost the same as tempeh in general. This tempe-making training has been successfully implemented and the community is interested in eating the fried tempeh as a nutritious snackservice activity that has been carried out has achieved its goal of preventing stunting in the city of Padang Panjang.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN GARCINIA MICROCARPA TERHADAP 11 BAKTERI PATOGEN MANUSIA Ningsih, Yozi Fiedya; Arbain, Dayar; Bakhtiar, Amri
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 4 (2025): Vol. 7 No. 4 Edisi 2 Juli 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i4.3279

Abstract

Abstract: Infections caused by pathogenic bacteria remain a significant global health issue, particularly with the growing incidence of antimicrobial resistance. Therefore, the search for new antibacterial sources from medicinal plants has become a promising alternative. Garcinia microcarpa, a species belonging to the Garcinia genus, is known that Garcinia contains bioactive compounds such as xanthones, flavonoids, and tannins, which have potential antibacterial properties. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of Garcinia microcarpa leaf extract against 11 human pathogenic bacteria, namely Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, Micrococcus luteus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholerae, Escherichia coli, Salmonella typhii, and Salmonella typhosa. Leaf extraction was performed using the maceration method with methanol as the solvent. Antibacterial activity was assessed using the disk diffusion method. The results showed that Garcinia microcarpa leaf extract exhibited antibacterial activity with varying inhibition zones against the tested bacteria. The highest activity was observed against E. coli and S. epidermidis, with inhibition zone diameters of 13.8 ± 1 mm and 13.0 ± 0.3 mm, respectively, at a concentration of 1 mg/disk. These findings suggest that Garcinia microcarpa has potential as a natural source of antibacterial compounds. Further studies are needed for fractionation, isolation of active compounds, and bioactivity testing.Keywords: Garcinia microcarpa, extract, antibacterial activity.
Pembentukan Kokristal Katekin dengan Nikotinamida Bakhtiar, Amri; Gaesari, Sherly Rahmah; Zaini, Erizal
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Widya Mandala Surabaya Catholic University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v2i2.720

Abstract

Telah dilakukan pembuatan kokristal katekin-nikotinamida dan evaluasi kelarutannya dalam pelarut air. Kokristal dibuat dengan dua metode, yaitu rekristalisasi dengan penguapan pelarut etanol 96% menggunakan rotary evaporator (metode I) dan penguapan pelarut pada suhu ruang (metode II). Karakterisasi kokristal katekin-nikotinamida dilakukan dengan difraksi sinar-X, analisis termal DTA (Differential Thermal Analysis), FT IR (Fourier Transform Infra Red), dan SEM (Scanning Electron Microscopy), serta uji kelarutan dalam pelarut air menggunakan orbital shaker selama 24 jam. Penetapan kadar katekin dilakukan dengan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) menggunakan fase gerak air-asetonitril-metanol-etil asetat-asam asetat glasial (89:6:1:3:1). Hasil difraktogram sinar-X pada kokristal metode I menunjukkan terbentuknya padatan amorf, sedangkan pada metode II menunjukkan terbentuknya fase kristalin baru (kokristal). Pada analisis termal menggunakan DTA terjadi perubahan titik lebur pada kokristal metode I maupun metode II yang berbeda dengan titik lebur katekin dan nikotinamida yang menunjukkan terbentuknya campuran eutektik. Pada analisis FT IR, baik kokristal metode I maupun metode II terjadi pergeseran bilangan gelombang dari spektrum katekin dan nikotinamida yang menunjukkan terbentuknya ikatan hidrogen antara gugus hidroksi fenol dari katekin dengan gugus amida dari nikotinamida. Dari hasil SEM, terlihat habit kristal dari kokristal metode I maupun metode II berbeda dibandingkan dengan habit kristal katekin maupun nikotinamida yang menunjukkan terbentuknya kokristal. Namun kelarutan kokristal katekin-nikotinamida metode I (132,17 mg/100 mL) maupun metode II (131,09 mg/100 mL) tidak berbeda nyata dengan kelarutan katekin (124,58 mg/100 mL). Kata kunci: kokristal, katekin, nikotinamida, kelarutan, KCKT.
Ethnobotanical Study of Ferns as Traditional Medicine in Central Siberut, Mentawai Island Syafni, Nova; Bakhtiar, Amri
Jurnal Biologi Universitas Andalas Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jbioua.10.1.10-14.2022

Abstract

West Sumatra Province has two ethnicities, namely Minangkabau and Mentawai. Both ethnicities have the capability to apply plants in folk medicine. This ethnobotanical study was conducted in Saibi Simokop village in three hamlets namely Sirisurak, Simoilaklak, and Saibi. The study was focused on the use of ferns in traditional medicine. Data collection was carried out using the snowball sampling method to seek the traditional healers (sikerei). The results showed that seven species of ferns were used for treatment of fever, inflammation, and poisoning. The ferns were included Cephalomanes javanicum (Blume) Bosch, Angiopteris evecta (G. Forst.) Hoffm., Dicranopteris linearis (Burm. F.) Underw., Diplazium esculentum (Retz.) Sw., Phymatosorus membranifolium (R. Br.) S.G. Lu, Lecanopteris sp., and Asplenium nidus L. The application of ferns in concoctions was administered topically and some were combined with oral administration.
Pelatihan Identifikasi Cepat Fitokimia pada Mahasiswa STIFI BP Palembang Ferdian, Arif; Arifa, Nurwahidatul; Bakhtiar, Amri
ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 4 (2023): November 2023
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdikan.v2i4.2372

Abstract

Identification of phytochemicals is an important preliminary test that pharmacy students need to know and understand. As is known, that natural ingredients are an important aspect that plays a role in herbal medicine. One of the most prominent uses of plants is as a medicinal ingredient. In determining the traditional use of natural materials, it is necessary to know which groups of chemical compounds are contained in natural materials. Chemical compounds contained in natural products are grouped into alkaloids, phenolics, flavonoids, saponins, steroids and terpenoids. To determine the class of compounds in natural products, it is necessary to carry out preliminary tests quickly, namely by testing phytochemicals. Phytochemical identification training is aimed at STIFI Bhakti Pertiwi Palembang students who conduct field studies at Anai Land, Padang Pariaman Regency, Padang, West Sumatra. This field study activity is held as a support for natural product chemistry lectures. Phytochemical testing was carried out in groups guided by each. Students who have received training can carry out phytochemical testing of natural ingredients as a provision for final project research.
Efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur (Cymbopogon citratus (DC)Stapf.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi: studi eksperimental Kamlau, Raisha Suci; Bakhtiar, Amri; Sari, Widya Puspita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.61488

Abstract

Pendahuluan : Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tertinggi di Indonesia yang disebabkan oleh Streptococcus mutans. Penggunaan antibiotik masih menjadi perawatan utama, namun beresiko menimbulkan alergi dan resistensi bakteri apabila tidak diberikan secara tepat. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif antibakteri, salah satunya serai dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.) yang mengandung minyak atsiri dengan senyawa antibakteri seperti sitral, geraniol, dan neral. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian ini Streptococcus mutans  ATCC 25175. Minyak atsiri serai dapur daun dan batang semu didapatkan dari destilasi air-uap kemudian diuji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram menggunakan media Nutrient Agar (NA) terhadap konsentrasi 5%, 10%, 15% dan kontrol positif (Amoksisilin 32 µg), serta kontrol negatif (DMSO). Analisis statistik menggunakan uji two way ANOVA yang dilanjutkan uji LSD. Hasil: Terdapat zona hambat minyak atsiri daun dan batang semu terhadap Streptococcus mutans. Minyak atsiri daun serai dapur konsentrasi 5% (2,86 mm), 10% (9,78 mm) dan 15% (14,96 mm), sedangkan minyak atsiri batang semu serai dapur konsentrasi 5% (1,23 mm), 10% (7,58 mm) dan 15% (13,55 mm). Uji two way ANOVA dan uji LSD diperoleh hasil yang signifikan dengan p=0,001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat efektivitas minyak atsiri daun dan batang semu serai dapur terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 15% dengan kategori kuat.The effectiveness of essential oil from lemongrass leaves and pseudostems on the growth Of Streptococcus mutans: an experimental studyIntroduction: Dental caries is the most prevalent oral health problem in Indonesia, primarily caused by the bacterium Streptococcus mutans. Antibiotics remain the main treatment, but they carry the risk of causing allergies and bacterial resistance if not administered properly. This problem can be addressed by utilizing medicinal plants as alternative antibacterial agents, one of which is lemongrass (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.), which contains essential oils with antibacterial compounds such as citral, geraniol, and neral. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of essential oils from lemongrass leaves and pseudostems on the growth of Streptococcus mutans. Methods: This study was a laboratory experimental study with a post-test only control group design. The research sample was Streptococcus mutans ATCC 25175. Essential oils from lemongrass leaves and pseudostems were obtained from steam distillation and then tested for antibacterial activity using the disc diffusion method with Nutrient Agar (NA) medium at concentrations of 5%, 10%, 15%, and a positive control (Amoxicillin 32 µg) as well as a negative control (DMSO). Statistical analysis was performed using a two-way ANOVA test followed by an LSD test. Results: There was an inhibition zone formed by essential oils from lemongrass leaves and pseudostems against Streptococcus mutans. Essential oil from lemongrass leaves at concentrations of 5% (2.86 mm), 10% (9.78 mm), and 15% (14.96 mm), while lemongrass pseudostem essential oil at concentrations of 5% (1.23 mm), 10% (7.58 mm) and 15% (13.55 mm). The two-way ANOVA and LSD tests yielded significant results with p=0.001 (p<0.05). Conclusion: There was significant antibacterial activity in essential oil from the leaves and pseudostems of lemongrass against the growth of Streptococcus mutans at a concentration of 15%,indicating strong antibacterial strength.
PROFIL PENGGUNAAN OBAT KARDIOVASKULAR PADA PASIEN PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS YANG DI RAWAT INAP RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2023 Marsellinda, Elsa; Bakhtiar, Amri
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 3 No. 01 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit ginjal kronis sering kali memicu komplikasi pada kardiovaskular, sehingga penggunaan obat-obatan kardiovaskular menjadi krusial dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola penggunaan obat jantung pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil Padang selama tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif, yang mengandalkan informasi dari catatan medis pasien. Sampel penelitian melibatkan seluruh pasien penyakit ginjal kronis yang mendapatkan terapi jantung dan memenuhi syarat penerimaan serta mengirimkan. Data dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel beserta persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien penyakit ginjal kronis didominasi oleh laki-laki. Jenis obat jantung yang paling sering diresepkan adalah Calsium Channel Blocker, terutama amlodipin, disarankan oleh Angiotensin Receptor Blocker dan statin. Kesimpulannya, terdapat perbedaan dalam pemilihan jenis obat jantung untuk pasien penyakit ginjal kronis, sehingga pengawasan terapi menjadi penting untuk memastikan penggunaan obat yang sesuai