Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : VISIKES

FAKTOR-FAKTOR RISIKO PAPARAN Pb PADA POLISI LALU LINTAS DI SEMARANG BARAT Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 2 (2011): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.626 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v10i2.693

Abstract

Background: Based on interview data from 15 traffic police in West Semarang was known that 80% of them have “dizzy” and “dispnea”, 20% have “nausea”. Those symptom can be early effect indicator of Pb exposure to them. The aim of this research is to examine Pb Exposure and the risk factors of Pb exposure in traffic police in West Semarang.Method: This is an explanatory research with the cross sectional approach. The respondent in this research is 33 traffic police. Data collected use the direct interview with questioner and laboratory test from the repondent’s blood sample. The variable in this research consist of age, work period, nutrition status, smoking habit, exercise habit, use of mask and Pb concentration in blood.Result: Based on the result of this research was known that the respondent characteristic’s are the mean of their age is 31 years old, work period is 3,77 year, 45,4% have normal nutrition status, 57,6% didn’t use mask, and 37,5% have smoking habit. The average of 8 cigarette smoked a day. The concentration of Pb in blood is 52,18 μg/ml and 60,6% over than threshold limit value. The Result of rank spearman correlation show that there was significant correlation between age and the exercise habit with the Pbconcentration in blood, ñ-value is smaller than 0,05. Suggestion for Police department is should be applied the health inspection for traffic police and improve the exercise habit for them. Police Placement as traffic police and their mutation must be consider the age of themKeyword : Pb Concentration in blood, Traffic Police
PENGGUNAAN PESTISIDA SEBAGAI FAKTOR RISIKO “MCI” (MILD COGNITIVE IMPAIREMENT) PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MIJEN KOTA SEMARANG Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 1 (2014): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.868 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v13i1.1113

Abstract

Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) diprediksi meningkat cepat terutama di negaranegaraberkembang termasuk Indonesia berdasarkan proyeksi 2010-2035. Masalah terbesarlansia adalah penyakit degeneratif antara lain demensia dan parkinson. Tingginya insidensipenyakit ini di daerah pedesaan juga dilaporkan oleh Lu, et. al (1995) dan hubungan antarazat pestisida juga terdapat pada Alzheimer Disease dan Parkinson. Sektor pertanian masihmenjadi tumpuan sebagian besar pekerja lansia (60,92%), kemudian jasa (28,80%) danindustri (10,28%). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan pestisida sebagai11PENDAHULUANIndonesia sebagai salah satu negaraberkembang juga akan mengalami ledakanjumlah penduduk lansia (50-64 tahun dan65+) berdasarkan proyeksi 2010-2035.Meningkatnya populasi lansia ini membuatpemerintah perlu merumuskan kebijakan danprogram agar lansia tidak menjadi beban bagimasyarakat. Peningkatan jumlah lansia diIndonesia diiringi pula peningkatanpermasalahan penyakit akibat prosespenuaan. Otak sebagai organ kompleks,pusat pengaturan sistem tubuh dan pusatkognitif, merupakan salah satu organ tubuhyang sangat rentan terhadap proses penuaanatau degeneratif. Berbagai penyakitdegeneratif di otak, seperti Demensiaalzheimer, Demensia vaskular, danParkinson, sampai saat ini pengobatannyabelum memberikan hasil yang diharapkan.Hampir semua obat tidak dapatmenghentikan proses penyakit. 1Gangguan kognitif ringan adalah suatukondisi awal perkembangan sebelumnyaterjadinya dementia. Gangguan kognitiffaktor risiko gangguan kognitif ringan (MCI) pada lansia.Jenis penelitian ini adalah survey “cross sectional” terhadap 50 lansia di wilayah kerjapuskesmas Mijen Kota Semarang yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulandata melalui wawancara dengan kuesioner serta MMSE (Mini-Mental State Examination)dan dianalisis dengan uji statistik “Chi Square”.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden pernah mengggunakan pestisida dan78.8% responden menderita gangguan kognitif. Distribusi tingkat gangguan kognitif terdiridari 56.41% gangguan ringan dan 43.59% gangguan berat. Ada hubungan penggunaanpestisida pertanian (p value = 0.041; OR=4.455) dan pembasmi serangga (p value = 0.004;OR = 8.889) dengan gangguan kongnitif lansia. Tidak terbukti adanya hubungan antarapenggunaan obat nyamuk bakar (p value = 0.293; OR = 2.400), lotion anti nyamuk (p value =0.306; OR = 2.533) dan racun tikus (p value = 0.445; OR = 1.905) dengan gangguan kognitiflansia.Disarankan perlunya sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentangpenggunaan pestisida secara aman, dampak kesehatan, keselamatan, pemantauan danpengawasan peredaran pestisida secara rutin dan ketat serta pendampingan dan pembinaanguna meningkatkan kemandirian hidup lansia melalui posyandu lansia.Kata Kunci : Gangguan Kognitif Ringan, Lansia, Petani
FAKTOR–FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KADAR TIMBAL (PB) DALAM DARAH PADA SOPIR ANGKUTAN UMUM JURUSAN KARANG AYU-PENGGARON DI KOTA SEMARANG Irimawa Rustanti; Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2011): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.998 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v10i1.685

Abstract

Background: The cause of air pollution is smoke of motor vehicle. Public transportation represents one of transportation which releases the smoke. This condition cause public transport drivers always exposed by motor vehicle smoke that contain Plumbum and its health effect. The aim of this research is to examine Plumbum exposure and the factors that related with Plumbum concentration in blood of public transport drivers majors Karang Ayu-Penggaron in Semarang.Method: This is an explanatory research with the cross sectional approach. The population is 70 public transport drivers majors Karang Ayu-Penggaron and 34 samples selected by inclusion criteria. Data collected use the direct interview with questioner and laboratory test from the respondent’s blood sample. The variable in this research consist of age, work period, nutrition status, smoking habit, and Plumbum concentration in blood.Result: Based on the result of this research was known that the respondent characteristic’s are their age between 20-52 years old, their work period between 2-19 year, mean of IMT is 22,92 with the normal category nutrition status and 23 respondent have smoking habit. Theplumbum concentration in blood was 0,059 until 0,198 mg/liter. This concentration was similar with average of 12 cigarette smoked a day. The Pearson product moment correlation showed that there was significant correlation between age, work period, nutrition status, the smoking habit with the Plumbum concentration in blood, ñ-value is smaller than 0,05. Based on inferential analysis of the data was known that there was significant correlation between age, work period, nutrition status, the cigarette habit with the Pb concentration in blood. Suggestion for ORGANDA and the Head of Terminal Penggaron-Pedurungan Semarang should be applied the health inspection for public transport drivers and supply the mask for them. Public transport drivers should be using the mask correctly. Early prevention should be done by continuing measurement of the air Pb concentration by government, especially transportation department.Keywords: Plumbum Concentration, public transport drivers
PERBEDAAN KAPASITAS VITAL PARU KARYAWAN BERDASARKAN KONSENTRASI PARTIKULAT PM DI UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG Rizkiawan Adi Nugroho; Eni Mahawati; Eko Hartini
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 2 (2013): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.799 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v12i2.645

Abstract

Kualitas udara partikulat PM2,5 di lingkungan kerja akan berpengaruh terhadap konsentrasi debu dan akhirnya mempengaruhi kapasitas vital paru karyawan. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh AQM pada tahun 2011 dengan sampel di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, rata-rata konsentrasi PM2,5 di ruang dosen Fakultas Teknik adalah 23,23 μg/m3, Fakultas Kesehatan 27,55 μg/m3, Fakultas Komputer 113,11 μg/m3 dan TVKU 51,42 μg/m3. Hasil ini menunjukkan bagaimana tingkat PM2.5 sebagai salah satu partikulat mampu menyusup ke paru-paru dan mengganggu nilai kapasitas vital paru-paru. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui perbedaan kapasitas vital paru-paru karyawan berdasarkan konsentrasi partikulatPM2,5 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode observasi dan pengukuran kapasitas vital paru dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah 34karyawan UDINUS yang memenuhi kriteria inklusi. Uji statistik untuk menentukan perbedaan antara variabel bebas dengan variabel terikat adalah uji Mann-Whitney.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kapasitas vital paru-paru responden masing-masing kategori, yaitu Restriksi Berat 11,8 %, 35,3 % Restriksi Sedang,Restriksi Ringan 14,7% dan normal 38,2%. Sedangkan konsentrasi PM2,5 memenuhi satandar 32,4% dan tidak memenuhi standar 67,6%. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kapasitas vital paru yang signifikan bagi karyawan yang berada di tempat kerja dengan kualifikasi konsentrasi PM2,5 memenuhi standar dan tidak memenuhi standar nilai p = 0.938.Dari hasil penelitian, diketahui bahwa tidak ada perbedaan kapasitas vital paru karyawan berdasarkan konsentrasi PM2,5 di tempat kerja. Dianjurkan agar pemeriksaan konsentrasiPM2,5 dan kapasitas vital paru karyawan dilakukan secara bersamaan. Disarankan untuk melakukan pengukuran konsentrasi PM2,5 pada ruangan yang beresiko tinggi terpapar debu dan asap rokok.Kata kunci : kapasitas vital paru-paru, Particulate PM2,5
STRESS KERJA DAN KESELAMATAN PADA PEKERJA SEKURITI DI PT. TELKOM DCSS IV JAWA TENGAH DAN DIY SEMARANG Indah Pusparini; Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 1 (2013): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.09 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v12i1.636

Abstract

Stres merupakan isu penting dalam kaitannya dengan produktivitas karyawan. Stres yang dialami oleh karyawan dapat bervariasi antara satu karyawan dan karyawan lain karena stresadalah proses persepsi individu. Keamanan Dan Keselamatan (SAS) karyawan dibagi dalam dua shift selama 12 jam dan kadang-kadang mereka harus bekerja lembur karena ada banyak pekerjaan dan harus selesai tepat waktu.Penelitian ini merupakan penelitian Explanatory dengan rancangan studi Cross Sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh Keamanan Dan Keselamatan (SAS) karyawan yang 54 orang. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Pearson.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 31-40 tahun (38,8 %), 51,9 % telah bekerja selama 1-4 tahun, permintaan peran dalam kategori sedang 72,2 %,struktur organisasi di kategori 68, 5 %, stres kerja dalam kategori rata-rata 68,5 %. Hasil dari uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia dan stres kerja (p value 0,043< 0,05) dengan r 0903. Ada korelasi antara masa kerja dan stres kerja (p value 0,017 < 0,05) dengan r 0505. Ada korelasi antara permintaan peran dan stres kerja (p value 0,000 <0,05) dengan r 0633. Ada korelasi antara struktur organisasi dan stres kerja (p value 0,006 < 0,05) dengan r 0371.Disarankan untuk kepala Keamanan Dan Keselamatan (SAS) departemen untuk tidak memberikan tugas berlebihan pada karyawan ditempat kerja.Kata kunci : stres kerja, pekerja keamanan
PERAN PENGELOLA GEDUNG DAN TETANGGA TERHADAP KESIAPAN TANGGAP DARURAT KEBAKARAN PENGHUNI RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG Edi Murdiono; Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 14, No 1 (2015): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.516 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v14i1.1160

Abstract

Tingginya resiko terjadinya kebakaran di rumah susun pekunden namun minimnya saranadan prasarana yang tersedia untuk mengantisipasi hal tersebut maka pengelola dan setiappenghuni rumah susun pekunden di harapkan memiliki perilaku tanggap darurat, berdasarkansurvei awal pada tanggal 28 Maret 2014 diketahui bahwa pernah terjadi kebakaran di semualantai yang ada di rumah susun dari lantai 2, 3 & 4 dengan akibat kebakaran yang berbedabeda.tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara peran pengelola dan tetanggadengan kesiapan tanggap darurat kebakaran di rumah susun pekunden.Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik, dengan menggunakan pendekatan crosssectional. Populasi penelitian adalah semua penghuni rumah susun pekunden semarang responden yang memiliki KK keseluruhan berjumlah 124 KK. Selanjutnya dilakukanpengkatagorian sampel agar sampel memenuhi kriteria / syarat yang dibutuhkan dalampenelitian, dengan cara menggunakan Proporsional Cluster Random Sampling, dengan kriteriainklusi dan yang terpilih menjadi sampel minimal harus tinggal dirumah susun selama 3tahun dan umur minimal 15 tahun maksimal umur 55 tahun, Instrumen penelitian yangdigunakan yaitu dengan daftar pertanyaan /kuesioner yang diolah dengan spss menggunkanuji statistik rank sperman.Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan penghuni rumah susun pekunden tentangtanggap darurat bencana kebakaran dapat dikatakan belum baik faktor-faktor yangberhubungan dengan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana kebakaran yaitu peran pengelolabelum ada perhatian khusus untuk melakukan tindakan dan peran tetangga tidak salingpeduli antar tetangga dalam menggunakan barang (peralatan) maupun bahan yang mudahmemicu kebakaran, serta belum dapat mengenali lingkungan sekitar, khususnya yang terkaitjalur penyelamatan saat kebakaran yang ada di rumah susun pekunden kota seamarang.Baik peran pengelola maupun peran tetangga rumah susun pekunden di sarankan untuk berperanaktif dan adanya perhatian khusus saling bekerjasama dalam upaya kesiaapsiagaan tanggapdarurat bencana kebakaran agar bisa meminimalisir kerugian material maupun korban jiwa.Kata kunci : Peran Pengelola, Peran Tetangga, Kesiapsiagaan
EFEKTIFITAS PENYULUHUAN TERHADAP SANITASI WARUNG MAKAN DI SEKITAR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG Eni Mahawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.498 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i1.662

Abstract

Background: The rise of food stalls on campus culminated in the emergence of a variety of issues, among other health problems. In Central Java has started 21 events poisoning (2006), with the number of 1269 people, and 3 patients died. Based on data from DKK Semarang mentioned that the number of patients because of food poisoning in the city of Semarang in2006 reached an average of 21.95%. The results of the initial survey of 14 food vendors on campus UDINUS in the last 3 years (2008, 2009, 2010) showed about 45% have the knowledge, practices and the availability of sanitary hygiene compliance has not been good.Method: This is a “quasi experimental research” with “one group pre-post test design”. Using the observation method of data collection / survey with questionnaires. Purposive sample isdetermined, as many as 25 food stalls crowded. Processing and data analysis performed with SPSS for windows. Data were analized with “ Wilcoxon test “ to know about counseling effectiveness of food stall sanitation.Result: Based on the result of this research was known that there has been improvement of motivation, knowledge, awareness of hygiene and sanitation practices of food stalls target. Based on the results of data processing and analysis can be seen that the general sanitary conditions of hygiene that still needs to be fixed to respondents to the ideal standard sanitaryaspects of the washing, sanitizing processing and sanitary serving / food packaging.Conclusion: To optimize achieving certification stalls it is advisable need assessment for immediate assistance and facilitation to improved hygiene practices and improved sanitation facilities as a series of subsequent certification process that is well worthy of certification for food service businesses. In addition to do research on the number of germs as outcome of food hygiene and sanitation.Keyword : Food hygiene,Food sanitation,Food stalls, Counseling Effectiveness
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NYERI PINGGANG PADA TENAGA KERJA BAGIAN PENGEMASAN INDUSTRI FARMASI TAMBAKAJI SEMARANG Hafni Farahwati; Eni Mahawati; MG Catur Yuantari
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.287 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.670

Abstract

Latar Belakang : Keluhan nyeri punggung merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang salah . Dari hasil studi, hampir semua pekerja sering mengeluhkan nyeri pinggang dengan berbagai macam intersitasnya dari yang ringan hingga berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan antara usia, masa kerja, posisi dan fasilitas dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi di Tambakaji Semarang.Metode : Data dikumpulkan dengan Metode Survey dan Cross Sectional Study Design. 36 pekerja kemasan sebagai sampel diwawancarai dan diukur tingkat keluhan nyeri pinggangdengan pemeriksanaan klinis.Hasil : Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat hubungan antara umur ( p value: 0,000; r: 0,699 ) , masa kerja ( p value: 0,000 ; r : 0647 ) , posisi kerja ( p value : 0,11 ), fasilitas kerja ( p value: 0,013 ) dengan ringan kasus nyeri punggung bawah 13 responden (36,1 %) , 20 (55,6%) responden mengeluhkan nyeri pinggang dengan kategori sedang dan 3 (8,3%) responden dalam kategori berat.Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara usia, masa kerja, posisi kerja dan fasilitas kerja dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi diTambakaji Semarang.Kesimpulan: Saran bagi perusahaan, pekerja disediakan kursi dengan sandaran untuk memberikan kenyamanan selama duduk dan untuk menghindari kram otot, meja kerja harusmemenuhi kualifikasi ergonomis untuk membuat pekerja lebih mudah bekerja dan keranjang harus di tersusun rapi sehingga itu tidak mengganggu mobilitas kerja.Kata kunci : Keluhan nyeri pinggang, posisi kerja, fasilitas kerja
Studi Kasus di Rumah Sakit Tipe C dan Tipe B: Analisis Identifikasi dan Autentikasi Dokumen Rekam Medis Berbasis SNARS Eni Mahawati; Elyta Oviana; Nela Indah Suryan; Lulu Maftukhatul Khasanah
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 18, No 2 (2019): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.795 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v18i2.2781

Abstract

Implementation of patient identification based on SNARS can support patient safety programs. Based on the initial survey of medical record quantitative analysis of 20 inpatient medical record documents have known that were 30%  incomplete identification, 40% incomplete reporting, 50% were incomplete recording and 30% incomplete authentication. The purpose study was to analyze identification and authentication incomplete medical records based on SNARS to support patient safety program. It was a descriptive study with observational collecting data method of 225 medical record documents. The results of the study identify 58.30% incomplete identification of medical record in type C hospital and 14,38% in type B hospital. Other results show there were 66.67% incomplete authentication (incomplete signature) of medical records in type C hospital and 45.75 % in type B hospital. There was 65.3% incomplete officer name of medical records in type C hospital and 9.15 % in type B hospital.  Incomplete writing place, date and time of medical records 70.8% in type C hospital and 16.34 % in type B hospital.  It was concluded that were significant differences in  medical records incomplete based on identification and authentication in type B and C hospital. Suggestions, to handle the incompleteness of medical record documents, regular meetings with all PPAs need to be held to evaluate the staff performance and increase staff awareness in completing medical record documents to support quantitative analysis medical records, especially based on SNARS standard accreditation. Keywords: SNARS, Identification, authenthicationLiterature: 9 (2008-2018)
PENGARUH SIKAP INDIVIDU DAN PERILAKU TEMAN SEBAYA TERHADAP PRAKTIK SAFETY RIDING PADA REMAJA (STUDI KASUS SISWA SMA NEGERI 1 SEMARANG) Andi Sumiyanto; Eni Mahawati; Eko Hartini
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 2 (2014): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.265 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v13i2.1129

Abstract

Safety riding adalah perilaku mengemudi secara selamat yang bisa membantu untukmenghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas. Safety riding dirancang untuk meningkatkankesadaran pengendara terhadap segala kemungkinan yang terjadi selama berkendara. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sikap individu dan perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding pada remaja (studi kasus siswa SMA Negeri 1 Semarang).Jenis penelitian ini menggunakan Eksplanatory Research dengan pendekatan cross sectional.Teknik analisis data menggunakan uji korelasi pearson product moment dan regresilinier sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA Negeri 1Semarang yang berjumlah 423 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah 82 orang yangdipilih secara “purposive sampling”Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek safety riding responden secara umum baik.Aspek safety yang sering dilakukan yaitu membawa STNK setiap kali berkendara, kendaraandilengkapi STNK, menggunakan helm setiap kali berkendara, menyalakan lampu sein kiri/kanan sebelum belok. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding (p value = 0,000), F=20.593, R2= 0,205 yang artinya 20,5%praktik safety riding dipengaruhi oleh perilaku teman sebaya, sedangkan sisanya 79,5%dipengaruhi oleh sebab-sebab lain.Kata kunci : Perilaku tema sebaya, sikap, Keselamatan berkendaraan