Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KAJIAN RUANG BERAKTIVITAS PADA PASAR JIUNG KEMAYORAN JAKARTA Delfina Yanti; Melani Cahyani; Dedi Hantono
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 4, No 2 (2021): JAUR APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v4i2.4747

Abstract

Pasar Jiung adalah pasar tradisional yang berada di daerah Kemayoran Jakarta Pusat yaitu berada di sisi Jalan Benyamin Sueb, Jalan Haji Ung, Jalan Kemayoran Gempol Barat, dan Jalan Kemayoran Gempol Utara. Pada saat siang Pasar Jiung ini adalah jalan raya yang dilalui banyak kendaraan umum maupun pribadi sedangkan saat malam hari jalan raya berubah menjadi Pasar Malam Jiung yang sangat ramai yang terdiri dari kios tenda yang berderet pada ruas Jalan Kemayoran Gempol. Pada dasarnya kios tenda yang ada di Pasar Malam Jiung ini merupakan milik warga yang berada di sekitar Pasar Jiung maupun luar kawasan tersebut bahkan luar Kota Jakarta. Aktivitas maupun sirkulasi di Pasar Jiung cukup padat baik dari kendaraan bermotor maupun para pejalan kaki yang sering menyebabkan kemacetan di sekitar Pasar Jiung dan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan aktivitas permukiman dan Pasar Jiung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan melakukan observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah aktivitas pasar yang membentuk ruang yang tidak nyaman dan tidak teratur. Namun ketidaknyamanan ini masih menampung aktivitas yang berlanjut karena kebutuhan akan nilai ekonomi dari barang yang ditawarkan pasar tersebut
Pengendalian Pembangunan Pada Kawasan Konservasi di Kampung Akuarium Jakarta Rezka Ajeng Larasati; Vivaldi Rizqi Hisyam; Dedi Hantono; Jundi Jundullah Afgani
REKA RUANG Vol 4 No 1 (2021): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/rkr.v4i1.2161

Abstract

Kampung Akuarium is an urban village located in Jakarta. It is located in the red zone according to the municipal regulation on the detailed spatial plan. Based on the regulation, Kampung Akuarium is delineated as the area intended for the local government needs. This research was conducted to investigate the utilization of the municipal regulation on land use control in Kampung Akuarium. This research also aims to reveal the role of municipal regulation to solve the problem in the Kampung Akuarium. This research utilizes the descriptive-qualitative method. The data was collected through an extensive literature review. The result shows that the development control is not well applied in the development of Kampung Akuarium. The land-use control mechanism still caused several conflicts which burden the urban village dwellers.
Kajian Perilaku Pembeli Terhadap Ruang Pasar Simpang Pulogadung Jakarta Timur Ahmad Siena Farizi; Anggi Putra Pratama; Muhammad Luthfi Ibrahim; Dedi Hantono
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol 1 No 2 (2020): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v1i2.786

Abstract

Pasar merupakan tempat berkumpul dan jual beli barang serta jasa. Keberadaan pasar bukan hanya mengenai ekonomi saja namun mencakup aspek sosial dan budaya. Bahkan kehadiran pasar merupakan bukti peradaban yang berlangsung sejak lama mengingat nilai historinya begitu melekat. Pasar terutama pasar informal seringkali dianggap sebagai salah satu sumber rusaknya citra suatu kawasan terutama ruang terbuka publik kota. Aktivitas pedagang yang sifatnya lebih permanen dibandingkan pembeli memberikan dampak terhadap kualitas kawasannya. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana aktivitas itu muncul pada ruang yang tidak sesuai dengan peruntukkannya serta tanpa perencanaan yang baik? Dengan menggunakan metode kualitatif dan observasi langsung memberikan gambaran bahwa aktivitas pedagang yang dilakukan merupakan bentuk adaptasi mereka dalam mempertahankan kondisi yang tidak menguntungkan tersebut.
Pengadaan Taman Bermain Anak Untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda II Dusun Gunung Leutik Kabupaten Bogor Dedi Hantono; Ashadi; Ari Widyati Purwantiasning; anisa; Ratna Dewi Nur'aini; Yeptadian Sari
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.903 KB) | DOI: 10.31849/dinamisia.v4i2.3897

Abstract

Perkembangan anak usia dini yang terpenting berada pada masa emasnya. Untuk menjaga potensi mereka dapat dilakukan beberapa stimulus diantaranya stimulus taktil yaitu berupa rangsangan gerak. Sekolah sebagai sarana utama dalam menghasilkan anak yang berpendidikan memerlukan sarana dan prasarana yang memadai. Khusus pendidikan anak usia dini, sarana bermain sangat diperlukan untuk melakukan stimulus taktil yang dibutuhkan para siswa sekolah pada level dasar. Atas dasar hal tersebut maka kegiatan pengabdian masyarakat ini mengadakan ruang bermain anak pada ruang publik agar dapat diakses oleh mereka dengan mudah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa taman bermain yang telah dibuat dapat meningkatkan aktivitas pendidikan dengan melihat perkembangan jumlah pengunjung pondok baca.
Studi Persepsi Masyarakat Terhadap Masyarakat Pasar Simpang Pulo Gadung Jakarta Timur Dedi Hantono; Chaesar Dhiya Fauzan Widi; Ichsan Havidz; Mundhi Prihutama
Jurnal PATRA Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Patra Mei 2020
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/patra.v2i1.65

Abstract

Pasar adalah salah satu tempat usaha menjual barang, jasa, dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang. Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Persaingan sangat penting dalam pasar. Dalam pelaksanaannya pasar terbagi menjadi dua kategori yaitu pasar formal dan pasar informal. Pasar informal sering kali memiliki citra buruk. Contoh pasar Simpang Pulogadung, merupakan pasar informal yang tumbuh secara organik di dekat terminal Pulogadung, tumbuh dengan sendirinya yang berawal dari perkumpulan pedagang yang menetap di daerah tersebut sehingga menjadi sebuah komunitas tersendiri pada daerah tersebut. Pasar Simpang Pulogadung mampu hidup dan mempertahankan keinginan konsumen sekitar pasar, bahkan kendaraan yang melintasinya. Permasalahan terbesar dari pasar Simpang Pulogadung ini adalah lokasi yang berada tepat dipinggir jalan Perintis Kemerdekaan. Penataan ruang dagang tersebut menjadi permasalahan utama untuk mengkaji persepsi masyarakat sekitar dan juga pengguna kendaraan dalam melakukan aktifitas karena pasar tersebut menggunakan bahu jalan.
Identifikasi penerapan peraturan garis sempadan bangunan (GSB) pada ruas Jalan Kelapa Gading di Jakarta Utara Muchamad Taufiqur Himawan; Muhamad Faiz Akmal; Dedi Hantono
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.47862

Abstract

Perkembangan kegiatan ekonomi dan bisnis di DKI Jakarta berdampak pada intensitas penggunaan lahan yang tinggi dan munculnya pelanggaran peraturan garis sempadan bangunan, terutama pada muka bangunan. Salah satu titik perekonomian di DKI Jakarta berada di sepanjang Jalan Boulevard Raya yang berbatasan dengan daerah Kayu Putih di bagian selatan dan daerah Koja di bagian utara. Penelitian inin melakukan analisis pelanggaran peraturan garis sempadan bangunan (GSB) serta pengaruh penerapan aturan GSB terhadap kenyamanan pengguna lain di sekitarnya. Penilaian terhadap penerapan GSB didasarkan pada Pergub No. 135 tahun 2019 tentang Pedoman Tata Bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 765 bangunan di Jalan Boulevard Raya,  terdapat 39,7% bangunan melanggar peraturan GSB. Adapun dampak dari pelanggaran garis sempadan bangunan yang terjadi adalah kemacetan, minimnya ruang terbuka, aktivitas parkir di ruas jalan, dan hilangnya jalur pedestrian.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR POSTMODERN PADA BANGUNAN GEDUNG PORTLAND Carlitos Boby Ismail Lubis; Dedi Hantono
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 7, No 1 (2023): Purwarupa Vol 7 No 1 Maret 2023
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/purwarupa.7.1.1-8

Abstract

ABSTRAK. Gedung Portland, merupakan salah satu bangunan yang menerapkan konsep arsitektur postmodern. Bangunan ini disebut juga sebagai Gedung Layanan Kotamadya Portland, Oregon. Bangunan Gedung Portland ini dirancang oleh Michael Graves, yang menampilkan banyaknya elemen simbolis pada fasad bangunan, kekontrasan, dan fungsional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi penerapan parameter konsep arsitektur postmodern pada bangunan Gedung Portland. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui sumber sekunder yaitu studi literatur. Analisis berfokus pada Gedung Portland, yang berada di Oregon salah satu negara bagian di Amerika Serikat, dari hasil analisis bisa disimpulkan bahwa prinsip-prinsip arsitektur postmodern jencks, mengacu pada keterkaitan diantaranya dalam desain ada keharmonisan pada fasad, serta ada elemen historical, serta mengedepankan fungsional dari bangunan tersebut yang diperuntukan sesuai dengan fungsinya, serta ada unsur keselarasan dari warna dan bentuk pada bangunan, tidak luput dari penilaian eksterior dan interior pada bangunan. Hasil kesimpulan akhir bahwa prinsip-prinsip arsitektur postmodern ini bisa diterapkan pada bangunan komersil, dengan contoh studi kasus gedung portland. Kata Kunci: arsitektur postmodern, gedung portland, charles jencks ABSTRACT. The Portland building is one of the buildings that applies the concept of postmodern architecture. It is also known as the Portland, Oregon Municipal Service Building. The Portland Building, designed by Michael Graves, features many symbolic elements in the building's facade, contrast, and functionality. The purpose of this study was to identify the application of postmodern architectural concept parameters to the Portland Building. The method used in this research is descriptive qualitative with data collection through secondary sources, namely the study of literature. The analysis focuses on the Portland Building, which is in Oregon, one of the states in the United States, from the results of the analysis it can be concluded that the principles of postmodern Jencks architecture, referring to the interrelationships between them in design, there is harmony in the facade, and there are historical elements, as well as prioritizing functional of the building which is intended according to its function, and there is an element of harmony from the color and shape of the building, does not escape the exterior and interior assessment of the building. The final conclusion is that these postmodern architectural principles can be applied to commercial buildings, with the example of the portland building case study. Keywords: postmodern architecture, portland building, charles jencks
The Identification of Ethnic Architecture Application on the Beringharjo Market Building in Yogyakarta Aulia Widya Chandra; Dedi Hantono; Ari Widyati Purwantiasning; Lutfi Prayogi; Yeptadian Sari; Sepli Yandri
International Journal of Architecture and Urbanism Vol. 8 No. 1 (2024): International Journal of Architecture and Urbanism
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijau.v8i1.14322

Abstract

Indonesia is an archipelago country that consists of various ethnic groups which have different cultural traditions according to the region itself. This cultural tradition has existed for generations, and it should be maintained and preserved by the Indonesian. The development of times, it makes the local value ​​of traditional culture slowly disappear. In prevention, the application of this ethnic architecture concept can preserve the culture of a nation. One of building that has the ethnic architecture concept is the Beringharjo Market in Yogyakarta. This research uses a qualitative descriptive method using a case study approach that aims to know how the application of the Ethnic Architecture concept in the Beringharjo Market. The construction of this market reflects the Javanese ethnic culture that prioritizes harmony. The space planning of Beringharjo Market contains Javanese philosophy and the mixture of ethnicities, one of them is European ethnicity. We can see the mixture through the shape of building, this market adopts European style and traditional Javanese style. The acculturation process of two cultures that is Javanese and European cultures shows us that the mixture culture is not limited to the locality but also across continents since the olden days. We can apply the glory of the palace to this market building that has a lower degree, especially to some elements of this building using some adjustments.