Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : HARMONI

SOSIALISASI CARA MENYARING INFORMASI HOAKS DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Fajria Noviana; Zaki Ainul Fadli; Bernadetta Venezia
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2021): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.5.1.1-6

Abstract

Since the covid-19 pandemic emerged in early 2020, people have been required to be more careful in their activities. Various guidelines for health procedures can be easily found in public places. However, until mid-2021, people were not only faced with the threat of the covid-19 virus, but also with the rampant hoax news and disinformation surrounding this pandemic. Therefore, this community service activity was held with the aim to give an understanding of what is meant by hoax, disinformation and infodemic, as well as to convey how to filter hoax about the covid-19 pandemic. The method used in this online community service activity is in the form of lectures, discussions, and questions and answers regarding information circulating in the mass media about covid-19 pandemic, including those circulating in WhatsApp group conversations. There are four ways to filter hoax information circulating in mass media and social media, namely by: 1) paying attention to the title and content; 2) check the source; 3) stop its spread; and 4) report it to the authorities. Through this online activity, we hope that people would be wiser in using the internet and social media to find and disseminate information related to covid-19 pandemic.Keywords : hoax; disinformation; infodemic; pandemic; covid-19
SOSIALISASI BUDIKDAMBER SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENGUATAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA SELAMA MASA PPKM AKIBAT PANDEMI COVID-19 Fajria Noviana; Zaki Ainul Fadli; Nur Hastuti
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2021): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.5.3.68-73

Abstract

The number of people whose income has decreased drastically due to the PPKM regulations in Indonesia as an effect of the covid-19 pandemic has contributed to the declination in food security. To maintain food security, it should not only be borne by the government but also requires synergy and efforts from the lowest levels in society, namely individuals and households. One of them is by utilizing the house yard in urban areas for urban farming as an alternative and solution for family food sources. One example of urban farming is the cultivation of vegetables and fish using the budikdamber method. This budikdamber method is very practical because it does not require a large area, so it can be made even in a narrow yard. In addition, budikdamber is relatively easy to manufacture and maintain, inexpensive, water-efficient, and the results can be enjoyed in a relatively short time.Keywords: budikdamber; food security; pandemic; covid-19
SOSIALISASI PEMASARAN PRODUK UMKM SECARA ONLINE Zaki Ainul Fadli; Fajria Noviana; Nur Hastuti
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2021): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.5.2.58-62

Abstract

UMKM is one of the pillars of the national economy. UMKM has great potential to continue to grow and develop despite the market trends that are starting to shift from offline to online. Therefore, it takes effort to provide ways and strategies to sell online. This community service was held with the aim to provide an understanding of the online marketing of UMKM products. The method used in online socialization is in the form of lectures, discussions, and questions about Online UMKM Product Marketing, which is divided into two sessions with two different subthemes: the first session with the title "UMKM in Pandemic Era: Why Should Online?" and the second session with the title "Successful in Selling With Whatsapp". The results of the activity showed that the participants followed enthusiastically and were interested in this socialization theme. The conclusion that can be drawn is the utilization of technology is very necessary for online marketing. In addition, the right marketing strategy is needed by utilizing social media optimally. Whatsapp is one of the media that is widely used by the people of Indonesia. By utilizing Whatsapp Business, we can easily promote UMKM products.
PENGENALAN DAN WORKSHOP SADOU ATAU UPACARA MINUM TEH JEPANG BAGI SISWA SMA DI JAWA TENGAH Fajria Noviana
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.028 KB) | DOI: 10.14710/hm.2.2.%p

Abstract

 Jepang dikenal sebagai negara modern yang masih menjaga kelestarian berbagai budaya tradisionalnya, salah satunya adalah sadou atau upacara minum teh. Sadou sebenarnya merupakan budaya asli Cina yang dibawa ke Jepang oleh seorang pendeta Buddha yang kemudian dimodifikasi sehingga sekarang dikenal luas sebagai budaya tradisional Jepang. Selain sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk workshop ini juga bertujuan untuk menumbuhkan keinginan dan semangat bagi generasi muda, khususnya siswa SMA, untuk menjaga dan melestarikan budaya tradisional bangsa sendiri. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali, yaitu pada tanggal 20 Oktober dan 4 November 2018, yang bertempat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Dari workshop ini, para peserta menjadi tahu bahwa negara Jepang yang telah sangat maju dan modern tetap berupaya keras dengan berbagai cara untuk melestarikan budaya tradisionalnya di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk ke Jepang.Kata kunci :  sadou, ritual, budaya tradisional ABSTRACT Japan is known as a modern country that still maintains the preservation of various traditional cultures, one of which is sadou or tea ceremony. Sadou is actually a native Chinese culture that was brought to Japan by a Buddhist priest who was later modified so that it is now widely known as traditional Japanese culture. Aside from being part of the Tridharma Perguruan Tinggi, this workshop as community service activity also aim to foster the enthusiasm of young generation, especially high school students, to preserve the Indonesian traditional culture. This activity was held twice on October 20 and November 4, 2018, which took place at the Faculty of Humanities, Diponegoro University. From this workshop, the participants learned that the highly developed and modern Japan is still working hard in various ways to preserve its traditional culture in the midst of the heavy flow of foreign cultures entering Japan.Keywords : sadou, ritual, traditional culture  
PENGENALAN HURUF JEPANG PADA ANAK-ANAK TAMAN PENDIDIKAN ALQURAN NURUL IMAN PONDOK MAJAPAHIT 2 MRANGGEN Nur Hastuti; Zaki Ainul Fadli; Fajria Noviana
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2021): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.5.2.42-46

Abstract

ABSTRAKDalam era industri 0.4 ini keberadaan bahasa Asing sangat dibutuhkan sekali untuk komunikasi dan tentu saja memahami budaya dari negara lain. Salah satunya adalah bahasa Jepang. Untuk memahami kosa kata dalam Bahasa Jepang, kita harus memahami terlebih dulu huruf /tulisannya. Tulisan bahasa Jepang berasal dari tulisan bahasa China yang diperkenalkan pada abad keempat Masehi. Huruf Jepang ada 4 jenis, yaitu hiragana, katakana dan kanji serta romaji. Huruf/aksara ini sering kita temukan di film animasi, anime, manga , drama Jepang dan lain-lain.Bahasa Jepang yang kita kenal sekarang ini, ditulis dengan menggunakan kombinasi aksara kanji, hiragana, dan katakana. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata (baik berupa kata benda, kata kerja, kata sifat). Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari kata tersebut, dan menyesuaikannya dengan peraturan tata bahasa Jepang. Aksara hiragana dan katakana masing-masing memiliki 46 huruf. Keduanya tidak memiliki arti apapun, seperti abjad dalam bahasa Indonesia, hanya melambangkan suatu bunyi tertentu, meskipun ada juga kata-kata dalam bahasa Jepang yang terdiri dari satu 'suku kata'. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata, baik berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata sandang. Sementara Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari kata tersebut, dan menyesuaikannya dengan peraturan tata bahasa Jepang.Kata kunci : Alphabet, hiragana,katakana,kanji,romajiABSTRACTIn this industrial era 0.4, the existence of foreign languages is very much needed for communication and of course understanding the culture of other countries. One of them is Japanese. To understand vocabulary in Japanese, we must first understand the letters / writings. Japanese writing comes from Chinese writing which was introduced in the fourth century. There are 4 types of Japanese letters, namely hiragana, katakana, kanji,and romaji. We often find these letters/characters in animated films, anime, manga, Japanese dramas and others. The Japanese language we know today, is written using a combination of kanji, hiragana, and katakana characters. Kanji are used to express the basic meaning of words (either in the form of nouns, verbs, adjectives). Hiragana is written after the kanji to change the basic meaning of the word, and adapt it to the rules of Japanese grammar. The hiragana and katakana characters each have 46 letters. Both do not have any meaning, like the alphabet in Indonesian, only symbolizing a certain sound, although there are also words in Japanese that consist of one 'syllable'. Kanji are used to express the basic meaning of words, whether in the form of nouns, verbs, adjectives, or articles. While Hiragana is written after the kanji to change the basic meaning of the word, and adapt it to the rules of Japanese grammar.Keywords :Alphabet, hiragana, katakana, kanji, romaji
PELATIHAN PENAMBAHAN SUBTITLE PADA ANIME JEPANG Zaki Ainul Fadli; Fajria Noviana
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2022): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.6.1.88-92

Abstract

Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa dari jurusan Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Undip melakukan kegiatan pelatihan denga judul “Pelatihan Penambahan Subtitle Pada Anime Jepang”.  Pelatihan dibagi ke dalam dua sesi dan disajikan dalam bentuk presentasi dan praktek. Metode pelatihan adalah metode simulasi dengan penyampaian presentasi dalam bentuk ppt, praktek, dan tanya jawab. Pada sesi pertama, peserta dijelaskan mengenai definisi dari subtitle, dua metode membuat subtitle, praktik membuat subtitle dengan notepad, dan praktik membuat subtitle dengan aplikasi Aegisub. Pada sesi ke-2 ini dijelaskan tiga tahap dalam membuat fansub anime secara garis besar, yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan ini. Mereka juga menjadi paham cara menambahkan subtitle pada anime Jepang.Kata kunci: Penambahan Subtitle, Anime Jepang, Fansub Anime In the context of community service, lecturers and students from the Department of Japanese Language and Culture, Faculty of Cultural Sciences, Undip conducted a training activity with the title "Training on Adding Subtitles to Japanese Anime".  The training is divided into two sessions and presented in the form of presentations and practices. The training method is simulation method, to deliver presentations in the form of ppt, practice, and question and answer. In the first session, participants were explained about the definition of subtitles, two methods of making subtitles, the practice of making subtitles with a notepad, and the practice of making subtitles with the Aegisub application.  In this 2nd session, three stages are explained in making anime fansubs in general, namely the initial stage, the core stage, and the final stage.  The results of the mentoring showed that the participants were very enthusiastic in participating in this training activity. They also came to understand how to add subtitles to Japanese anime.Keywords: Addition of Subtitles, Japanese Anime, Anime Fansub 
PENGUATAN PERAN SERTA ANAK MUDA DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI BEDAH FILM “KAGUYAHIME NO MONOGATARI” UNTUK MENCAPAI TUJUAN 05 DARI SDGs Fajria Noviana; Zaki Ainul Fadli
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2022): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.6.1.39-43

Abstract

SDGs merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Salah satu tujuan dari SDGs berbunyi “Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan”. Percepatan SDGs dapat dicapai melalui pelibatan anak muda karena mereka adalah penentu pembangunan masa depan, sehingga pengaruh anak muda sangat signifikan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang  menyasar anak-anak muda ini memiliki tujuan untuk memberikan sosialisasi mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan upaya tersebut, serta untuk mengajak anak-anak muda untuk aktif berperan serta dalam upaya pemberdayaan perempuan di lingkungan sekitar mereka. Media yang dipilih untuk kegiatan berupa film animasi berjudul “Kaguyahime no Monogatari” atau Dongeng Putri Kaguya, mengingat film merupakan hal yang dekat dengan keseharian anak muda, sehingga diharapkan akan lebih mudah dalam membuat mereka turut berperan serta secara aktif dalam mencapai Tujuan 05 dari SDGs.Kata kunci: SDGs; Tujuan 05; kesetaraan gender; pemberdayaan perempuan; Kaguyahime no Monogatari The SDGs are a global action plan agreed by world leaders, including Indonesia, to end poverty, reduce inequality, and protect the environment. One of the goals of the SDGs reads, “Achieving gender equality and empowering all women and girls”. The acceleration of the SDGs can be achieved through the involvement of young people because they are the determinants of future development, so the influence of young people is very significant. Therefore, this community service activity that targets young people aims to provide socialization about the importance of empowering women and what can be done to realize these efforts and actively invite young people to participate in women empowering efforts. The media chosen for the activity was an animated film entitled “Kaguyahime no Monogatari” or Tale Putri Kaguya, considering that film is close to the daily life of young people, so it is hoped that it will be easier for them to participate actively in achieving Goal 05 of the SDGs.Keywords: SDGs; Goal 05; gender equality; women empowering; Kaguyahime no Monogatari
PEMANFAATAN MEDIA FILM UNTUK SOSIALISASI PERILAKU RAMAH LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN INTERDISIPLINER BAGI REMAJA Fajria Noviana; Zaki Ainul Fadli
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2022): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.6.2.232-235

Abstract

ABSTRAKPerkembangan teknologi dan perilaku konsumtif mengakibatkan terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya alam untuk memenuhi hasrat konsumen. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi dan penyadaran agar masyarakat dapat mengembangkan perilaku yang lebih bijak dan lebih ramah lingkungan sebagai upaya menekan laju eksploitasi sumber daya alam, yang dapat dicapai melalui pelibatan anak muda karena mereka adalah penentu pembangunan masa depan, sehingga pengaruh anak muda sangat signifikan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang  menyasar anak-anak muda ini memiliki tujuan untuk memberikan sosialisasi mengenai pentingnya perilaku yang ramah lingkungan dan hal-hal yang dapat dilakukan dalam upaya mendukung serta merealisasikan perilaku ramah lingkungan, dan juga untuk mengajak anak muda agar aktif berperan serta dalam upaya mendukung dan merealisasikan perilaku yang ramah lingkungan di lingkungan terdekat mereka. Media yang dipilih untuk kegiatan ini berupa film drama berjudul Survival Family. Dari diskusi dengan partisipan, dapat diketahui bahwa berbagai perilaku ramah lingkungan dan manfaatnya sebenarnya cukup dipahami oleh semua orang. Namun demikian, untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan ini kembali pada kesadaran masing-masing pribadi.Kata kunci: remaja; perilaku; film; lingkungan; Survival FamilyABSTRACTTechnological developments and consumptive behavior have resulted in exploiting natural resources to fulfill consumer desires. As a result, there is a need for socialization and awareness for people to develop wiser and more environmentally friendly behavior to reduce the exploitation of natural resources, which can be accomplished by involving young people because they are the determinants of future development and thus have a significant influence. Therefore, this community service activity that targets young people has the aim of providing socialization regarding the importance of environmentally friendly behavior and things that can be done to support and realize ecologically friendly demeanor, and also to encourage young people to actively participate in efforts to support and recognize environmentally friendly behavior in their immediate environment. The media chosen for this activity was a drama film entitled Survival Family. From discussions with participants, it can be seen that everyone understands various environmentally friendly behaviors and their benefits. However, to apply this environmentally friendly behavior back to the awareness of each individual.Keywords: teenagers, lifestyle, movie, environment, Survival Family
PENGENALAN ETIKA JEPANG KEPADA CALON CAREGIVER UNTUK LANSIA DI STIKES CENDEKIA UTAMA KUDUS Noviana, Fajria
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.2.1.%p

Abstract

Pengenalan etika yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari bangsa Jepang dipandang perlu untuk disampaikan kepada para calon caregiver untuk lansia yang nantinya akan bertugas di Jepang, mengingat bangsa Jepang adalah bangsa yang hingga saat ini masih menjunjung tinggi etika dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini selain sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi, juga untuk mengenalkan etika yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di Jepang sebagai upaya mempermudah interaksi dan hubungan sosial bagi caregiver untuk lansia yang akan ditempatkan pada rumah tinggal maupun panti jompo di Jepang. Selain itu, juga untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa tingkat akhir program studi ilmu keperawatan dan profesi ners yang menjadi peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, untuk mempraktekkan etika yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.Kata kunci :  etika, Jepang, caregiverThe introduction of ethics that still prevail in daily life of the Japanese people is considered necessary to be taught to the candidates of caregiver for the elderly who will serve in Japan, because the Japanese still upholds ethics in their daily lives. The purpose of this community service program is not only as part of the university tridharma, but also to introduce the ethics in daily life in Japan as an effort to facilitate the interaction and social relationships for the candidates of caregiver for the elderly who will be placed in residential and nursing homes in Japan. Moreover, this program also provide an opportunity to students of the final level of nursing courses and professional nurse whose participating on this community service program to practice ethics that still prevail in everyday life in Japan.Keywords : ethics, Japanese, caregiver
PENGENALAN BUDAYA MERANGKAI BUNGA ALA JEPANG (IKEBANA) Rosliana, Lina; Nindia Rini, Elizabeth Ika Hesti Aprilia; S.I., Trahutami; Noviana, Fajria
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.1.1.%p

Abstract

Sebagai salah satu tridharma perguruan tinggi, dosen-dosen Program Studi S1 Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro melaksanakan pengabdian kepada masyrakat dengan tema pengenalan budaya merangkai budaya ala Jepang (ikebana). Dilihat dari asal katanya, ikebana (生け花) berasal dari kata ikeru, adalah seni merangkai bunga yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Ikebana berasal dari Jepang tetapi telah meluas ke seluruh dunia. Kata ikebana merupakan gabungan dari kata ‘ike’ yang berari ‘hidup’ atau ‘tumbuh’ dan kata ‘hana/ bana’ yang berarti ‘bunga’. Jadi, secara etimologi ikebana berarti ‘bunga hidup’. Secara populer, ikebana diterjemahkan sebagai ‘seni merangkai bunga’.Rangkaian bunga ikebana tidak hanya disusun oleh bunga saja. Daun, buah, rumput dan ranting juga menjadi unsur penting dalam ikebana. Bahkan plastik, kaca dan logam juga dipergunakan dalam ikebana kontemporer. Semua unsur-unsur tersebut dirangkai sedemikian rupa dengan memperhatikan cara merangkai, ukuran, tekstur, volume, warna, jambangan, tempat dan waktu merangkai bunga tersebut sehingga dapat dihasilkan rangkaian bunga yang indah dan bernilai seni tinggi.Kata kunci : budaya Jepang; ikebana; seni merangkai bunga