Krisnawati Bantas
Staf Pengajar Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Wilayah Tempat Tinggal dengan Pemberian ASI Ekslusif pada Anak 0-5 Bulan di Indonesia (Analisis Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia) Tahun 2017 Karnila, Andi; Bantas, Krisnawati
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASI ekslusif dapat mencegah morbiditas dan mortalitas pada anak. Wilayah tempat tinggal perkotaan dan pedesaan memiliki keterkaitan dengan praktek pemberian ASI ekslusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara wilayah tempat tinggal dengan praktek pemberian ASI ekslusif pada anak 0-5 bulan di Indonesia. Desain studi penelitian yaitu cross sectional menggunakan data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan diseluruh provinsi di Indonesia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari ASI ekslusif sebagai variabel dependen, wilayah tempat tinggal sebagai variabel independen dan variabel perancu yang terdiri dari umur ibu, pendidikan ibu, paritas, kondisi depresi ibu, status bekerja, status ekonomi, status pernikahan, inisiasi menyusui dini, jenis persalinan, tempat bersalin, antenatal care dan berat lahir anak. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 1.266. SPSS 16 digunakan sebagai software statistik pada penelitian. Data dianalisis menggunakan regresi logistik dan prevalence odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ASI ekslusif 67,1% dan 37,9% tidak ASI ekslusif. Prevalensi wilayah tempat tinggal pedesaan 53,5% dan perkotaan 46,5%. Terdapat hubungan wilayah tempat tinggal dengan pemberian ASI ekslusif POR 1,298 (95%CI 1,023 – 1,646). Ibu yang tinggal diperkotaan memiliki peluang yang lebih tinggi untuk tidak memberikan ASI ekslusif dibandingkan ibu yang tinggal dipedesaan, setelah dikontrol dengan variabel status bekerja, inisiasi menyusui dini dan status pernikahan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Anak Berumur 12-59 Bulan di Puskesmas Kelurahan Tebet Barat, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Tahun 2013 Syahidi, Muhammad Habibi; Gayatri, Dwi; Bantas, Krisnawati
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian ISPA pada anak berumur 12 – 59 bulan di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta selatan mencapai angka 42,95% dan Puskesmas Kelurahan Tebet Barat merupakan Kelurahan yang memiliki prevalensi penderita ISPA yang berumur 12 – 59 bulan terbanyak dengan proporsi tertinggi dari lima puskesmas kelurahan yang lain yaitu sebesar 23,20%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kejadian ISPA anak berumur 12-59 bulan di Puskesmas Kelurahan Tebet Barat. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan 104 sampel. Sampel yang dimaksud disini adalah anak berusia 12-59 bulan yang pernah melakukan kunjungan di Puskesmas Kelurahan Tebet Barat pada tahun 2013. Data yang digunakan berupa data primer dari hasil wawancara kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa dari 11 variabel yang dilakukan uji bivariat, variabel yang diketahui memiliki hubungan yang bermakna (P value < 0,05) dengan kejadian ISPA pada anak berusia 12 59 bulan adalah pendidikan (OR=3,16 : 95% CI 1,20–8,31), pengetahuan (OR=2,76 : 95% CI 1,12-6,79), pendapatan keluarga (OR=2,75 : 95% CI 1,10-6,86), kepadatan hunian (OR=5,59 : 95% CI 2,16-14,50), perilaku merokok keluarga dalam rumah (OR= 8,02 : 95% CI (2,42-26.57) dan perilaku merokok keluarga di luar rumah (OR=5,12 : 95% CI 1,24-21,19). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Tebet Barat adalah pendidikan dan pengetahuan pengawas anak, pendapatan keluarga, kepadatan hunian, dan perilaku merokok anggota keluarga.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Waktu Kembalinya Menstruasi Pertama Pasca Persalinan di Wilayah Rural, Indonesia Adha, Nia Reni; Bantas, Krisnawati
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Durasi kembalinya menstruasi pertama di Indonesia dinilai masih sangat cepat. Hal ini berdampak pada peningkatan kehamilan yang tidak direncanakan dan pendeknya jarak lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu kembalinya menstruasi pertama pasca persalinan di wilayah rural Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan responden sebanyak 1701 ibu berusia 15-49 tahun, yang melahirkan anak terakhir dalam waktu 1 tahun sebelum survei. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan analisis survival/ kesintasan, Cox Regression. Dari penelitian ini didapatkan waktu kembali menstruasi pertama pasca persalinan di Indonesia hingga 12 bulan pengamatan dengan median time tiga bulan. Faktor yang berhubungan dengan waktu kembalinya menstruasi pertama pasca persalinan adalah paritas (HR: 0,830; 95% CI 0,732-0,9941) p-value (0,004). Perlu peningkatan konseling mengenai metode amenore laktasi (MAL) pada wanita yang baru pertama kali melahirkan sebagai pencegahan kehamilan dini
Hubungan Diabetes Mellitus Terhadap Kejadian Disabilitas untuk Activities of Daily Living (ADL) Di Indonesia Siregar, Halimah; Bantas, Krisnawati
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus salah satu PTM tertinggi didunia, prevalensi global diabetes di antara orang dewasa di atas 18 tahun telah meningkat dari 4,7% pada 1980 menjadi 8,5% pada 2014. Penelitian yang dilakukan Edward ditemukan bahwa> 50% orang tua dengan diabetes melaporkan kesulitan melakukan tugas fisik sehari-hari. Hal ini sejalan dengan penelitian Rindra bahwa individu yang menderita diabetes akan berisiko 3kali (95% CI; 2.860-3.288) dibandingkan individu yang tidak menderita diabetes untuk mengalami disabilitas. Tujuan penelitian ini melihat hubungan diabetes mellitus dengan kejadian disabilitas untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL). Penelitian ini desain cross sectional data IFLS 2015, di analisis sampai multivariat menggunakan Regressi Logistik. Adapun variable penelitian ini ialah (Diabetes Mellitus, disabilitas, usia, jenis kelamin, pendidikan, obesitas dan hipertensi). Jumlah studi partisipan semua yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 3408 partisipan. Variable pada penelitian ini adalah Disabilitas, Diabetes Mellitus, Obesitas, Hipertensi, Jenis Kelamin, Usia dan Pendidikan. Definisi operasional pada variable dependen ialah disabilitas jika salah satu dari 6 item ADL membutuhkan bantuan dan atau tidak mampu melakukannya. Diabetes Mellitus pada penelitian ini individu yang pernah di diagnose tenaga kesehatan dan sedang minum obat DM. Tidak ada hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian disabilitas dengan secara statistika dengan nilai POR 1.225 (95%CI ; 0.379-3.958). Pada variable kovariat hanya usia dengan rentang (75-90th) yang berhubungan secara statistika terhadap kejadian disabilitas untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) dengan nilai POR 2.172 (95% CI;1.117-4.222). Tidak ditemukan hubungan diabetes mellitus dengan kejadian aktivitas kehidupan sehari hari (ADL) dengan nilai POR 1.225 (95%CI ; 0.379-3.958) dibandingkan dengan individu yang tidak menderita diabetes mellitus.