Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Perspektif “Health Equity” Amartya Sen dan Kesehatan Reproduksi di Indonesia Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 02 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i02.735

Abstract

Gagasan tentang kesehatan sebagai hak merupakan jelas tampak dalam laporan 2010 lembaga Amnesti Internasional (AI) tentang hak akses ke layanan kesehatan reporduktif. Laporan tersebut mendudukkan wanita sebagai korban diskriminasi kebijakan kesehatan. Masih ada lagi diskriminasi berkaitan dengan gaya hidup seperi sex yang konsensual, kohabitasi, aborsi dan isu-isu lain yang diyakini bisa merugikan wanita. Guna mempertahankan hak wanita akan layanan kesehatan, laporan AI pada 2010 menuntut pencabutan diskriminasi melawan hak kesehatan reproduktif wanita. Berdasarkan pengertian Amyrta Sen tentang “keadilan kesehatan”, makalah ini mengedepankan pandangan bahwa (1) ketidakadilan dan diskriminasi yang sengaja diciptakan dalam komunitas harus ditiadakan karena menghalangi realisasi keberdayaan manusia; (2) Kendati ketidakadilan alami terjadi di masyarakat, manusia masih dapat merealisasikan keberdayaannya; (3) Pewujudan layanan kesehatan reporduktif dapat dilaksanakan melalui perjuangan mengeliminasi ketidakadilan yang sengaja diciptakan tanpa harus mengimplementasi layanan kesehatan sebagai hak yang dapat merusak nilai-nilai kultural dan kebijaksanaan lokal.
Critical Thinking dan Keterampilan Berpikir Kritis Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 02 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i02.736

Abstract

Dua tulisan saya di Kompasiana, salah satu blog populer yang dikelola Harian Kompas mendapat apresiasi luas. Meskipun populer, kedua tulisan tersebut tetap saja berkategori refleksi filosofis atas kesesatan berpikir yang ”berkeliaran” di media massa, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan filsafat dasar. Salah satu tulisan berbicara mengenai kesalahan penalaran yang dilakukan Marzuki Ali tentang perilaku tidak sopan dan etis beberapa anggota DPR-RI (Marzuki Ali, Etika dan Moral Anggota Dewan, Kompasiana, 27 Februari 2011). Sementara itu, tulisan lainnya mengomentari MUI Jawa Barat yang melarang kunjungan Miss Universe 2011 ke bumi Parahayangan (Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?, Kompasiana, 7 Oktober 2011).
Etika Medis dan Pembentukan Dokter yang Berkeutamaan Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.741

Abstract

Sifat empati sama pentingnya dengan penguasaan teknologi kedokteran. Dalam relasi dokter–pasien, sifat empati merupakan kesadaran etis yang mendorong para dokter untuk mendekatkan diri dan terlibat dengan pasien. Pengalaman relasional dokter–pasien lalu dihayati sebagai baik pengalaman klinis (penyembuhan) maupun perjumpaan etis (menguatkan, meneguhkan, mendukung, memberi harapan, mengubah gaya hidup, menerima kerapuhan manusia, dan sebagainya). Kita kemudian menjadi terkejut ketika sifat yang paling mendasar ini perlahan-lahan menghilang dari dalam diri para dokter, dan itu dimulai sejak masa pendidikan. Jika rasa empati para mahasiswa kedokteran rendah, apakah pendidikan formal mengenai empati dapat membantu mengatasinya? Penulis berargumentasi bahwa kuliah etika medis dapat berperan dalam mempromosikan dan membentuk watak empati dokter sejauh metodologi pengajarannya dipilih secara tepat. Mahasiswa seharusnya memanfaatkan kuliah etika medis sebagai kerangka refleksi dalam mengolah pengalaman perjumpaan mereka dengan pasien. Posisi ini sekaligus “mengoreksi” keyakinan berlebihan pada bioetika yang bertendensi saintifik sebagai ilmu yang sanggup membentuk rasa empati.
MENYELAMATKAN BUMI Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.743

Abstract

Buku ”Satu Bumi” (One World) karya Peter Singer adalah contoh paling sempurna sejauh ini tentang bagaimana mengaplikasikan teori etika utilitarianisme preferensi. Masalah-masalah praktis yang dibahas dalam buku ini – kerusakan bumi dan tanggung jawab manusia, perdagangan bebas dan peran World Trade Organization, hukum, dan solidaritas antarbangsa – hanya bisa dipahami secara memadai dalam perspektif etika utilitarianisme preferensi, meskipun dengan gaya bahasa yang keluar dari pakem telaah filosofis.
Meraih Sukses Melalui Kerja yang Bermartabat Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.749

Abstract

Apakah kerja harus bermartabat? Sejauh mana sebuah pekerjaan disebut bermartabat? Apakah kerja bermartabat hanya menyangkut jenis pekerjaan atau profesi tertentu, misalnya white-collar works? Atau, kerja bermartabat juga termasuk pandangan dan sikap individu terhadap pekerjaannya, bagaimana institusi memperlakukan pekerjanya, bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dengan waktu luang, dan sebagainya?
Persepsi Mahasiswa Mengenai Nasionalisme Indonesia dan Ancaman Terhadapnya Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.755

Abstract

Lebih dari sekadar rasa cinta kepada bangsa dan negara, nasionalisme adalah proses dinamis mengkonstruksi sebuah identitas kebangsaan. Identitas kebangsaan itu – dalam konteks nasionalisme Indonesia – mula-mula bersifat kultural, tetapi kemudian menjadi identitas politik ketika kemerdekaan dari bangsa penjajah menjadi prasyarat bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah lebih dari 80 tahun sejak tahun 1928, rasa cinta kepada bangsa tetap menggema dalam dada para mahasiswa. Wujudnya adalah sebuah konstruksi identitas kultural secara bersama dalam sebuah masyarakat Indonesia yang plural. Tulisan ini mendeskripsikan secara luas persepsi mahasiswa mengenai nasionalisme Indonesia dalam konteks perdebatan ilmu sosial tentang nasionalisme. Penekanan pada identitas budaya dalam konteks perdebatan itu harus dilihat sebagai refl eksi lebih lanjut atas persepsi mahasiswa mengenai nasionalisme kultural. Tulisan ini juga mendiskusikan ancaman terhadap nasionalisme Indonesia.
Covid-19 Affirms Philosophy Identity Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 25 No 02 (2020): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v25i02.2456

Abstract

On the world philosophy day (World Philosophy Day) which is celebrated on 19 and 20 November 2020, UNESCO invites all activists and lovers of philosophy to pay attention to the importance of philosophical thinking in helping humans face the challenges posed by the Covid-19 outbreak. Various activities such as interviews with philosophers, round table discussions, and webinars were held with a focus on the importance of philosophical thinking or reflection, and this affirms the role of philosophy in human life (UNESCO, 2020).
Kajian Etis atas PP No. 61 Tahun 2014 tentang Pengaturan Kesehatan Reproduksi Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 01 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.774 KB)

Abstract

ABSTRAK: Dalam rangka memenuhi tuntutan UU Kesehatan No. 36/2009, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan PP No. 61/2014 untuk mengaturkesehatan reproduksi. Peraturan Pemerintah ini sebetulnya sebuah ketentuanteknis bagaimana kesehatan reproduksi harus diselenggarakan di Indonesia, danini dianggap perlu untuk memastikan terjaminnya kesehatan ibu usia subur. Selainitu, peraturan pemerintah ini juga diposisikan sebagai alat untuk mewujudkan apayang oleh pemerintah disebut sebagai generasi yang sehat danberkualitas. Namunperaturan tersebut telah memicu dua pertanyaan etis sekaligus. Pertama,regulasiini diklaim untuk mengatasi kesetaraan akses terhadap kesehatan reproduksisebagaiconditio sine qua non demi mencegah kematian ibu, menyebarnya penyakitmenular,kehamilan yang tidak direncanakan, pemerkosaan dan sebagainya.Penulis berpendapat bahwa peraturan ini tidak mempertimbangkan secara saksamadimensi-dimensi sosial dan nilai lokal mengenai seksualitas serta nilai-nilai keluarga.Pertanyaan apakah hal ini dapat dibenarkan secara etis tetap tak terjawab. Kedua,seluhur dan semulia apa pun sebuah tujuan, ia tidak bisa membenarkan sarana yangdigunakan. Dalam arti itu, upaya mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitastidak bisa serta merta menggunakan sarana (peraturan) yang menerabas nilai-nilaikultural dan moral masyarakat. Argumen makalah ini disusun dalam dua cara. Disatu sisi penulis berpendapat bahwa adalah tidak etis menghalalkan cara atau alatuntuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, kebijakan di bidang kesehatanreproduksi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai moral dan budaya lokal. Penulisberpendapat bahwa sudah waktunya kita memiliki kebijakan terobosan yang bisamengakomodasi pentingnya mengakses kesehatan reproduksi dan pada saat yangsama tidak merugikan kelompok yang menolaknya atas nama agama atau moralitastertentu. Di sisi lain, tidak dibenarkan secara etis untuk menentukan kualitas wargahanya berdasarkan kriteria sehat-sakit, normal-cacat jika martabat manusia hendakdipertimbangkan secara serius.KATA KUNCI: kesehatan reproduksi, kontrasepsi, aborsi, PP No. 61/2014, etikaABSTRACT: To meet the demand of Indonesian Health Law No. 36/2009, the ministryof health has issued a reproductive health regulation, known as Regulation No.61,2014. Technical provision on reproductive health is considered to be necessary in orderto ensure the health of mothers ofchildbearing age. It is also perceived as a tool to realizewhat has been labeled by the government as healthy and qualified generation, and bythat the number of maternal deaths is believed to be minimized. Yet the regulation hastriggered two ethical questions all together. First, the regulation is claimed to addressthe equality of access to reproductive health as sine qua non condition forpreventingmaternal mortality, the spread of infectious diseases, unplanned pregnancy, rape and so on, As the regulation does not take into consideration all the social values, culture of sexuality and the family values, the question of whether it can be justified ethically is remained unanswered. Secondly, can it be ethically justified if the state positioned itselfas an institution that defines and establishes healthy and qualified citizen. The argumentof this paper is arranged in two ways. On the one hand it argued that it is ethicallyunacceptable to justify the ends by the means used. In that sense, the policies in the field ofreproductive health should not ignore moral values and local culture. It is timely to havea breakthrough policy that could accommodate the importance of accessingreproductivehealth and at the same time not harming the groups that reject it in the name of religious ethics or morality. On the other hand, it is not ethically justifiable to define the quality of the citizens merely based on healthy-sick normal-deformed criteria when human dignityis taken into consideration seriously.KEY WORDS: reproductive health, contraception, abortion, Regulation No. 61/2014,ethics
Memperkuat Tanggung Jawab Moral Peneliti Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 19, No 01 (2014): ResponS Juli 2014
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.654 KB)

Abstract

Pendekatan positivistik dalam ilmu pengetahuan tidak pernah hilang sama sekali. Manifestasinya dalam penelitian ilmiah dapat berupa hasrat untuk memperoleh pengetahuan objektif tanpa dipengaruhi oleh otoritas eksternal di luar bidang kajian ilmiah. Dalam konteks penelitian ilmiah, muncul keinginan di kalangan para ilmuwan agar kontrol eksternal seperti yang dilakukan komisi etika penelitian harus dibatasi bahkan dihilangkan. Kalau pun muncul lagi dalam beberapa publikasi di jurnal ilmiah akhir­akhir ini, posisi ini sebenarnya telah kehilangan pamor, bahkan juga ditolak oleh para ilmuwan sendiri. Dalam tulisan ini, penulis membela posisi pemikiran yang mengatakan bahwa etika penelitian tetap dibutuhkan, dan itu dijalankan oleh komisi etika penelitian. Meskipun demikian, mengingat bahwa komisi etika penelitian tidak memiliki seluruh perangkat pengontrol yang dibutuhkan untuk mencegah peneliti melakukan penelitian dan publikasi yang tidak etis, penulis berpendapat bahwa pemerkuatan watak moral dalam diri peneliti dapat memainkan peran sebagai kontrol moral secara internal. Dengan begitu, komisi etika penelitian pada akhirnya hanya akan menjalankan kontrol minimal, karena ilmuwan sudah melakukan kontrol moral dalam dirinya untuk menjalankan penelitian yang tidak melanggar prinsip-­prinsip moral.
Altruisme Sebagai Dasar Tindakan Etis Menurut Peter Singer Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.131 KB)

Abstract

ABSTRAK: Diskusi seputar altruisme sebagai motivasi bagi tindakan moral menjadi sangat populer sejak abad kedua puluh. Salah satunya terpusat pada pemikiran Peter Singer yang memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasi bagi tindakan moral. Penulis paper ini mencoba menunjukkan sumbangan Peter Singer dalam memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakan moral, pertama-tama dengan memosisikan etika sebagai realitas biologis dari tindakan manusia. Sumbangan pemikiran Peter Singer yang terpenting dalam mendiskusikan tema altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakan moral adalah pembelaannya terhadap kapasitas nalar manusia dalam melampaui dasar biologis moralitas manusia. Dengan cara itu, altruisme mengalami pemurnian oleh akal budi dan memperluas lingkarang etika sampai melingkupi semua makhluk makhluk hidup.KATA KUNCI: Altruisme, altruisme marga, altruisme timbal-balik, Peter Singer, tindakan moralABSTRACT: The debates on altruism as a motivation for moral action has become very popular since the twentieth century. One of them focuses on Peter Singer's thought of positioning altruism as the basis and motivation for moral action. The author of this paper tries to show Peter Singer's contribution in positioning altruism as the basis and motivation of moral action, first by showing the biological basis of moral action. Peter Singer's most important contribution in discussing the theme of altruism as the basis and motivation of moral action is his defense of the human reasoning capacity in transcending the biological foundations of human morality. In that way, altruism undergoes purification by reason and extends the ethical circle until it encompasses all sentient beings.KEY WORDS: Altruism, kin altruism, reciprocal altruism, Peter Singer, moral action