Atanasius Priharyoto Bayuseno
Department Of Mechanical Engineering, Diponegoro University, Jl. Prof. Soedarto, Tembalang, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275.

Published : 61 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNIK MESIN

PENGARUH PERLAKUAN PANAS T6 TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS MATERIAL MODEL PROPELLER SHAFT BERBAHAN DASAR ALUMINIUM SERI 6063 HASIL PENGECORAN HPDC Farid Abdul Rahman; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4, No 2 (2016): VOLUME 4, NOMOR 2, APRIL 2016
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.337 KB)

Abstract

Propeller shaft merupakan salah satu bagian terpenting dari instalasi penggerak kapal. Model propeller shaft dibuat dengan material dasar paduan aluminium 6063 melalui proses pengecoran. HPDC (High Pressure Die Casting) merupakan salah satu metode dalam proses pengecoran yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan metode pengecoran yang lain. Heat treatment dilakukan untuk memperbaiki sifat mekanis dengan proses precipitation hardening. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data nilai porositas, kekuatan tarik, kekerasan, struktur mikro, dan ketahanan korosi sehingga dapat dibandingkan sifat mekanis antara produk model propeller shaft perlakuan panas dan tanpa perlakuan panas. Dalam penelitian ini, HPDC dilakukan pada tekanan konstan 7 MPa dan variasi penambahan unsur silikon (Si) 0 wt%, 1 wt%, 2 wt%, dan 3 wt%. Perlakuan panas yang dilakukan yaitu age hardening dengan solution treatment 525oC selama 3 jam dan artificial aging 195oC selama 3 jam. Uji porositas dilakukan dengan menimbang massa basah dan kering spesimen uji. Uji tarik menggunakan Universal Testing Machine, uji kekerasan menggunakan Rockwell Hardness Tester, dan uji struktur mikro menggunakan mikroskop optik dengan perbesaran 200X. Hasil pengujian menunjukkan sifat mekanis material hasil penelitian sudah memenuhi standar BKI dalam penggunaan material sebagai propeller shaft kapal laut yaitu untuk kekuatan tarik. Nilai porositas terendah ditunjukkan pada penambahan 3 wt% Si yaitu sebesar 1,15%. Nilai kekuatan tarik tertinggi didapatkan pada penambahan 3 wt% Si perlakuan panas yaitu 163,613 MPa. Nilai kekerasan tertinggi didapatkan pada penambahan 3% Si perlakuan panas, yaitu 77,35 HB. Pada uji mikrografi didapatkan ukuran butir (grain size) terendah pada penambahan 3% Si perlakuan panas, yaitu 33,78 µm. Laju korosi terendah ditunjukkan pada penambahan 0 wt% Si, yaitu sebesar 2,49 mm/y.
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PENUANGAN Al-Si / Al2O3 TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO MATERIAL SEPATU REM MENGGUNAKAN PENGECORAN HPDC Kusumaning R. Putri; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 4 (2013): VOLUME 1, NOMOR 4, OKTOBER 2013
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.31 KB)

Abstract

In this research, the raw material used Al-Si is a product of PT. Pinjaya Metals, Mojokerto. HPDC performed at a constant pressure of 7 MPa and variation of pouring temperature at 700°C, 750oC, and 800oC. The heat treatment process used is age hardening with solution treatment at 490oC for 15 minutes, then artificial aging at 150oC for 4 hours.  Porosity test performed using the Archimedes law that use mass of wet and dry specimen. Hardness test using Rockwell method with the scale of B, and test the microstructure using an optical microscope with a magnification of 1000X. The results of porosity test show that the density at pouring temperature 700°C is 1,613 g/cm3, at 750oC is 1,642 g/cm3, and at 800oC is 1,622 g/cm3. On the hardness testing increased hardness values was obtained at pouring temperature 700°C is 38 HRB. While at pouring temperature 750oC is 43,67 HRB and 800oC is 46,06 HRB. On themicrostucture, at pouring temperature 750oC and 800oC shows that the value of the grain size is lower than the size of a grain of pouring temperature on 700oC. Further results on testing was able to show that there is value in flow ability that the higher when the temperature increasing in 700°C is 580,67 mm, 750°C is 682,33 mm and then 800°C is 965,33 mm.
ANALISIS RETAKAN KOROSI TEGANGAN PADA ALUMINIUM DENGAN VARIASI PEMBEBANAN DALAM MEDIA KOROSI HCL 1M Dewi Handayani; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.404 KB)

Abstract

Stress corrosion cracking [SCC] merupakan kegagalan logam korosi hasil peretakan intergranular atau transgranular dibawah pengaruh antara tegangan tarik dan lingkungan korosif. Bentuk korosi ini lazim sekali dijumpai di lingkungan industri seperti : industri perkapalan, perminyakan, dan industri – industri kontruksi logam. Dalam tugas akhir ini dimaksudkan untuk memahami fenomena Stress Corrosion Cracking secara teoritis dalam aluminium dengan mengkaji pengaruh variasi pembebanan didalam media korosi terhadap pertambahan panjang, lamanya waktu patah dan jenis retak. Pada penelitian ini pengujian menggunakan alat uji Stress Corrosion Cracking, untuk menciptakan suatu kondisi spesimen agar mendapatkan tegangan  tarik pada lingkungan yang korosif. Tegangan yang diberikan berupa tegangan tarik yang berasal dari pembebanan statik pada sistem pengungkit. Kondisi korosif dapat dihasilkan dari bak yang diisi dengan larutan HCl. Analisa metalografi dimaksudkan untuk mengamati struktur mikro spesimen uji dan bentuk retak yang terjadi pada spesimen uji setelah dilakukan proses pengujian.
ANALISIS PEMBENTUKAN KERAK DI DALAM PIPA PDAM SEMARANG Titis Septianna Sari; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 1 (2015): VOLUME 3, NOMOR 1, JANUARI 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.257 KB)

Abstract

Pipes are important components  in a system drinking water to transport water flow. If one of the pipes experiences corrode and scaling, the potential economic losses will be high. To determine the scale formation and corrosion in the pipeline of PDAM Semarang tests was performed including: Chemical Composition Test, Hardness Test, Piping Material Microstructure, SEM-EDX Test and Test XRD. The test results show that the pipe of PDAM Semarang can be classifield as the low carbon steel according to material type "JIS G4051 Type S 09 K". The hardness test results show that the hardness value of the corroded pipe is greater than the hardness value of the new pipeline.From the test results show the chemical composition of pipe PDAM Semarang including low carbon steel with material type "JIS G4051 Type S 09 K". For the hardness test results show that the hardness value of corroded pipe is greater than the hardness value of the new pipeline. Based on the results of EDX (Energy Dispersive X-ray Spectrosopy), element of manganese (Mn) influenced  the composition of the pipe water is 0.483 Mg / l. From XRD (X-ray Diffraction), there are two phases, namely: phase birnesite syn (MnO2) and phase hydroheate rolite (Zn2Mn4 + 3O8.H2O). The results of the two phases can exhibit high levels of Mn and Zn in the water provided  formation of oxide scale on the walls of the pipe.
PENGARUH VARIASI UNSUR MAGNESIUM (Mg) PADA ADC 12 MATERIAL PROTOTYPE CHASISS MOBIL MENGGUNAKAN PENGECORAN HPDC TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO Vivi Aisah Fardilah; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 3 (2015): VOLUME 3, NOMOR 3, JULI 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.055 KB)

Abstract

Pada penelitian ini prototype chasiss dibuat dari bahan Aluminium ADC 12 menggunakan HPDC. Bahan prototype chasiss ADC 12 di tambahkan unsur magnesium dengan variasi 3% 4% dan 5%. Kualitas pengecoran dapat di lihat dari sifat fisis dan sifat mekaniknya dengan melakukan karakterisasi material,yaitu : Uji kekeran (Hardness),Uji Tarik (Tensile strengh), densitas (density) , Porositas dan strukutr mikro.Setelah dilakukan pengujian densitas ,porositas,uji kekerasan,uji tarik dan struktur mikro pada prototype Chasiss ADC 12 hasil pengecoran HPDC didapat densitas rata-rata pada variasi mg 0%3% 4% 5% berturut-turut sebesar  2,70 gr/cm³ 2,67 2,62 2,69.Porositas rata-rata pada variasi mg 0% 3% 4% 5% berturut-turut adalah 5,26% 5,32% 6,76% dan 3,93%. Nilai kekerasan rata-rata pada variasi mg 0% 3% 4% 5% berturut-turut adalah  43,39 HRB 48,67 HRB 57,56 HRB 65,41HRB. Hasil Analisa struktur mikro melalui perhitungan Ukuran butir (grain size) rata-rata pada variasi mg 0% 3% 4% 5% adalah 49,60 µm 49,01 47,80,43,76. Grain size berpengaruh pada sifat material karena berhubungan dengan penghambatan pergerakan dislokasi efek dari penambahan magnesium justru  menghambat maka akan menambah tingkat kekerasan.
ANALISIS KOROSI DAN EROSI DI DALAM PIPA PDAM SEMARANG Wahyu Sulistyono; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 4 (2014): VOLUME 2, NOMOR 4, OKTOBER 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.023 KB)

Abstract

Korosi erosi merupakan salah satu kerusakan yang sering terjadi pada sistem perpipaan akibat adanya pergerakan relatif fluida korosif dengan permukaan logam. Kecepatan fluida yang relatif tinggi dan mengandung partikel akan menyebabkan erosi, dan kecepatan fluida yang relatif lambat akan menimbulkan korosi. Hanya pada kecepatan tertentu (kecepatan kritis) korosi erosi dapat terjadi. Laju kerusakan yang diakibatkan oleh sinergi antara korosi dan erosi lebih besar dibandingkan dengan kerusakan oleh korosi saja atau erosi saja. Dalam tugas akhir ini dimaksudkan untuk memahami fenomena korosi erosi secara teoritis yang terjadi pada material pipa PDAM Semarang. Kondisi korosif yang terjadi akibat aliran air minum yang terus mengalir di dalam pipa tersebut. Dari hasil yang diperoleh dari pengujian komposisi menunjukkan material pipa yang digunakan dalam pipa PDAM Semarang mengandung unsur karbon C sebesar 0,0711% maka dapat dikategorikan kedalam besi karbon rendah. Pada pengujian tarik di dapat hasil Untuk pipa korosi mengalami regangan sebesar 4,706% dan mengalami patah pada Fmax sebesar 13 KN sedangkan pada pipa baru mengalami regangan sebesar 5,882% dan mengalani patah pada Fmax sebesar 20 KN. Pada uji struktur mikro didapatkan ukuran butir pada pipa baru sebesar 26,6 μm sedangkan pada pipa korosi sebesar 26,1 μm. Untuk perhitungan laju korosi pada material pipa tersebut selama 1 tahun sebesar 1,681 mpy dan kehilangan berat spesimen pipa sebesar 8,44 gram terjadi akibat korosi yang terjadi pada material baja karbon
ANALISIS STRESS CORROSION CRACKING AISI C20500 DENGAN VARIASI PEMBEBANAN PADA MEDIA KOROSI AIR Fajar Eka Putrandono; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.01 KB)

Abstract

Pengujian Stress Corrosion Cracking (SCC) dilakukan untuk mengetahui korosi retak tegang pada logam akibat dari gabungan antara gaya tarik statik dengan lingkungan khusus. SCC terjadi karena adanya tiga kondisi yang saling berkaitan, yaitu adanya tegangan tarik, lingkungan yang korosif, dan sensifitas material. Pada pengujian ini menggunakan spesimen kuningan. Tegangan yang diberikan berupa tegangan tarik yang berasal dari pembebanan statik pada sistem pengungkit dengan variasi pembebanan 20 kg, 25 kg, dan 30 kg. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa kegagalan disebabkan karena pengaruh media korosif. Semakin besar tegangan, maka terjadinya Stress Corrosion Cracking semakin cepat. Kekerasan uji menurun seiring dengan lamanya benda uji terendam dalam media korosif. Jenis retak yang terjadi pada Kuningan adalah retak intergranular.
PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS MATERIAL MODEL CHASSIS BERBASIS Al-Si-Mg HASIL PENGECORAN HIGH PRESSURE DIE CASTING Dedas Agusta; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 4 (2015): VOLUME 3, NOMOR 4, OKTOBER 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.547 KB)

Abstract

Pada penelitian ini, model chassis dibuat dengan material ADC12 dan penambahan variasi magnesium (Mg) melaui proses HPDC (High Pressure Die Casting). Namun, masih terdapat beberapa kekurangan pada hasil pengecoran, sehingga dilakukan perlakuan panas untuk memperbaiki sifat mekanisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data nilai porositas, kekerasan, kekuatan tarik, dan struktur mikro sehingga dapat dibandingkan sifat mekanis antara model chassis perlakuan panas dan tanpa perlakuan panas. Dalam penelitian ini, bahan baku ADC12 yang digunakan merupakan produk PT. Pinjaya Logam, Mojokerto. HPDC dilakukan pada tekanan konstan 7 MPa dan variasi (Mg) 0wt%, 3wt%, 4wt%, dan 5wt% dengan temperatur penuangan 750oC. Perlakuan panas yang dilakukan yaitu age hardening dengan solution treatment 540oC selama 60 menit dan artificial aging 150oC selama 4 jam. Uji porositas dilakukan dengan menimbang massa basah dan kering spesimen uji. Uji kekerasan menggunakan metode Rockwell skala B, uji tarik menggunakan Universal Testing Machine, dan uji struktur mikro menggunakan mikroskop optic perbesaran 500X. Hasil uji porositas menunjukkan bahwa nilai porositas rata-rata produk 0% Mg, 3% Mg, 4% Mg, 5% Mg perlakuan panas adalah 5,26%, 5,32%, 6,76%, 3,93%. Nilai kekerasan rata-rata produk 0% Mg, 3% Mg, 4% Mg, 5% Mg perlakuan panas adalah 59,95 HRB, 60,66 HRB, 69,50 HRB, 71,45 HRB. Nilai kekuatan tarik rata-rata produk 0% Mg, 3% Mg, 4% Mg, 5% Mg perlakuan panas berturut-turut adalah 164 MPa, 225,22 MPa, 138,5 MPa, 111,42 MPa. Pada uji struktur mikro didapatkan ukuran butir (grain size) rata-rata produk 0% Mg, 3% Mg, 4% Mg, 5% Mg perlakuan panas sebesar 53,36 µm, 48,47µm, 46,96 µm, 37,88 µm.
ANALISIS KEGAGALAN MATERIAL PIPA FERRULE NICKEL ALLOY N06025 PADA WASTE HEAT BOILER AKIBAT SUHU TINGGI BERDASARKAN PENGUJIAN : MIKROGRAFI DAN KEKERASAN Sanjaya Okky Wijayanto; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 4 (2013): VOLUME 1, NOMOR 4, OKTOBER 2013
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.92 KB)

Abstract

Ferrule pipe with nickel alloy N06025 material based on ASTM B 166-04standart is cromium-nikel alloy. In operation condition  ferrule pipe receives heat from reforming gas with the temperature of 960° C continously, It causes structural alteration on ferrule pipe itself. This paper analyze material failure because of high temperature, based on micrograph and thickness hardness examination. Chemical result on EDX examination shows that the existance of white scale with the composition of Na and O2 as high as 38.76 wt%. and 30.16 wt%, respectively. The result of micrograph examination shows that the description of micro structure on ferrule pipe is highly different than normal micro structure. On failure ferrule pipe material shows original grain structutre has vanished dan replaced by transformation shape sekunder product. The result of hardness vickers shows that ferule pipe speciment has higher hardness vickers number if compared with hardness vickers number on nickel alloy N06025 standart of ASTM. Material failure that appears because of high temperature corrotion due to tempering process and rapid quenching because leaking of water steam from shell tube boiler.
ANALISIS STRESS CORROSION CRACKING AUSTENITIC STAINLESS STEEL (AISI 304) DENGAN METODE U-BEND PADA MEDIA KOROSIF HCL 1M Chrisman Chrisman; Athanasius Priharyoto Bayuseno
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2014): VOLUME 2, NOMOR 1, JANUARI 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.766 KB)

Abstract

Stress corrosion cracking merupakan salah satu mekanisme kegagalan dari material stainless steel yang melibatkan tegangan tarik dan dampak dari lingkungan yang korosif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan laju korosi, mengevaluasi ketahanan, serta menganalisa perubahan nilai kekerasan dan struktur mikro pada stainless steel AISI 304 setelah pengujian stress corrosion cracking pada media korosif HCL 1M. Penelitian ini menggunakan variasi dari ketebalan material uji, yaitu 3 mm dan 6 mm dengan waktu pengujian selama 360 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kehilangan berat spesimen 2 dengan tebal 6 mm lebih tinggi dibandingkan spesimen 1 dengan tebal  3 mm setelah dilakukan pengujian SCC yaitu sebesar 23,99 gram dan 4,1 gram. Dari nilai kehilangan berat tersebut berbanding lurus dengan nilai laju korosinya yaitu sebesar 4,57 mm/y pada spesimen 2 dan 1,08 mm/y pada spesimen 1. Pada hasil pengujian kekerasan diketahui bahwa terjadi penurunan nilai kekerasan spesimen setelah dilakukan pengujian SCC dengan media asam klorida 1M, baik pada spesimen 1 maupun spesimen 2. Dari gambar struktur mikro menunjukkan kenaikan grain size setelah pengujian SCC jika dibandingkan dengan grain size pada material awal sebesar 0,759 mm. Pada daerah pengamatan A, B, dan C, spesimen 1 memiliki grain size sebesar 0.930 mm, 0.959 mm, dan 1.052 mm. Sedangkan pada spesimen 2 sebesar 0.923 mm, 0.952 mm, dan 0.992 mm.