Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Develop

SISI GELAP STRATEGI PENJUALAN PRIBADI Chusnul Rofiah
Develop Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.106 KB) | DOI: 10.25139/dev.v6i1.5024

Abstract

Adanya perbedaan secara spesifik target penjualan pribadi membuat strategi penjualan pribadi dari tim penjualan mengambil langkah yang “tersembunyi” untuk memenuhinya (Sheth, 1973; Macdonald et al., 2016). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi transedental (Moustakas, 1994) dan berfokus pada interaksi penjualan pribadi dalam melakukan penjualan pribadi dan alasan mereka melakukan strategi tersebut karena area ini memiliki belum cukup dibahas dalam literatur. Dalam memeriksa interaksi strategi penjualan pribadi dan fungsi pembelian, sebagai dua bidang minat teoritis. The Orther side of Personal Selling Strategy bahwa ada beberapa dimensi antara lain pentingnya tenaga pemasar memiliki (1) product knowledge : Harga Produk; Spesifikasi Produk; Keunggulan Produk, selain itu juga diharapkan pembawaan tenaga pemasar melakukan (2) Service Product yaitu Good looking; Ideal; Pakaian rapi dan sensual, melakukan (3) Personal Confrontation : Pendekatan terselubung caned approach; Preprouch; Negatif Personal touch, (4) Persuasif Communication Style, Pemilihan Bahasa yang lembut, kata-kata yang menggoda, (5) Dark Cultivation : Bertemu di luar Jam Kerja; Tempat café Remang2; Cek in Hotel, (6) Dark Response : Dark Communication Style; Dark Body Language; Kontak Mata dengan Konsumen
Temanten.Id Start Up Social Enterprise : Bersatu Kita Mampu Penelitian Terapan Pada Program Wirausaha Merdeka Chusnul Rofiah; Nuri Purwanto; Langgeng Prayitno Utomo
Develop Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/dev.v7i2.6156

Abstract

This article explores Temanten.id start up Apps is a Social Enterprise Business Network focusing on collaborative efforts of young people to strengthen business resilience and sustainability. This approach offers multiple benefits which provide various kinds of conveniences for holding special Javanese weddings including counting auspicious days, as well as various complete wedding preparation ceremony https://bit.ly/E-Katalog_TEMANTEN with high-quality services at affordable prices and provide students with an authentic work experience to be flexible, operate on a project basis, and prepare themselves for a 'portfolio career'. future. The case study approach builds on previous studies (Adler & Clark, 1991; Leonard-Barton, 1992; Von Hippel & Tire, 1995; and Hoopes & Postrel, 1999). Case studies on 216 new businesses founded by 610 students from 60 universities throughout Indonesia to become new entrepreneurs. Investigating entrepreneurial product development and product development performance under multiple knowledge auspices, the authors conducted multidivisional comparative case studies, testing new products through product validation programs conducted during the learning process. Findings/Results: Temanten.Id Start Up Social Enterprise in Collaborative Business Development Run by Students: Opportunities for Students and SMEs: (1) Structure; (2) Revenue Sharing; (3) Opportunity; (4) Partner Selection and Commercialization; (5) Recruiting Operational Challenges; (6) Conceptual Future Expansion/Expansion Model; (7) Mission, Students can be better prepared for careers to gain valuable work experience before graduating as PWM participants through this model. During the PWM process, the Temanten.id team learned important points to avoid failure in startup development, including: (1) Product Time; (2) Product design; (3) Improper Distribution or Sales Strategy; (4) Unclear Business Definition; (5) Excessive reliance on a single customer; (6) Initial Capitalization; (7) Assume Debt Instruments; (8) Problems with Venture Capital (9) Ineffective team; (10) Personal problems; (11) One Track Thinking; (12) Cultural/Social Factors.
Paradigma Baru dalam Penelitian Kualitatif: Pergeseran dari Pengalaman Verbal menuju Cyberfenomenologi dalam Dunia Kehidupan Digital Chusnul Rofiah; Teodora Winda Mulia
Develop Vol 10 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/dev.v10i1.11618

Abstract

Perkembangan pesat lingkungan yang dimediasi secara digital mendorong peninjauan kritis terhadap fondasi epistemik inkuiri kualitatif. Ketika pengalaman manusia semakin bersifat hibrid, terdistribusi, dan terstruktur oleh teknologi, kerangka interpretatif yang dibangun di atas asumsi kehadiran langsung dan ko-presensi menghadapi keterbatasan analitis yang semakin nyata. Artikel konseptual ini berupaya menjawab tiga pertanyaan utama: (1) bagaimana inkuiri kualitatif berevolusi sebagai respons terhadap perubahan kondisi realitas sosial; (2) ketegangan metodologis apa yang muncul ketika pengalaman hidup semakin dimediasi secara digital; dan (3) bagaimana tradisi fenomenologis dapat diperluas untuk mempertahankan kedalaman interpretatif dalam konteks pascadigital. Dengan bertumpu pada perdebatan kontemporer mengenai ketelitian kualitatif, pluralitas metodologis, visual turn, serta penelitian yang terbenam dalam lingkungan digital, artikel ini mengembangkan analisis konseptual integratif untuk menelusuri lintasan epistemik metode kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa transformasi metodologis bukanlah inovasi yang terpisah, melainkan mencerminkan rekonfigurasi yang lebih luas dalam cara subjektivitas dibentuk dan ditafsirkan. Pendekatan yang ada semakin menghadapi tantangan dalam menangkap dunia-kehidupan yang dimediasi teknologi, di mana kehadiran bersifat hibrid dan makna muncul melalui lingkungan yang terhubung secara jejaring. Untuk menjembatani kesenjangan interpretatif tersebut, cyberfenomenologi diajukan sebagai perluasan fenomenologis yang mampu berinteraksi dengan pengalaman yang dimediasi secara digital sekaligus mempertahankan komitmen teoretis yang selama ini mendefinisikan keilmuan kualitatif. Alih-alih diposisikan sebagai disrupsi metodologis, cyberfenomenologi ditempatkan dalam gerakan yang lebih luas menuju paradigma interpretatif pascadigital. Artikel ini memberikan tiga kontribusi utama: mengonseptualisasikan evolusi inkuiri kualitatif sebagai transisi epistemik, memperluas analisis fenomenologis ke dalam realitas yang terstruktur teknologi, serta merumuskan implikasi bagi penelitian masa depan terkait kerja lapangan yang terdistribusi, refleksivitas yang diperluas, dan interpretasi multimodal. Secara keseluruhan, temuan konseptual ini menawarkan kerangka untuk memahami mengapa metode kualitatif perlu terus berevolusi seiring dengan transformasi cara manusia mengalami dunia sosial