Reisi Nurdiani, Reisi
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Physicochemical and Sensory Properties of Plant-Based Milk Alternative Produced from Pigeon Pea and Soybean Azra, Jeallyza Muthia; Nurdiani, Reisi; Nasution, Zuraidah; Aries, Muhammad; Sutiari, Ni Ketut
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 36 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia bekerjasama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6066/jtip.2025.36.2.167

Abstract

The popularity of plant-based milk alternatives (PBMA) has been growing due to environmental concerns and health benefits. This study aimed to develop and evaluate a novel PBMA formulation combining pigeon pea and soybean at three different ratios (40:60, 50:50, and 60:40), focusing on their physicochemical characteristics, sensory properties, and antioxidant activity. In this study, significant differences (p<0.05) were found in the physicochemical properties of the samples, while sensory acceptability showed no significant differences (p>0.05). Increasing the proportion of pigeon pea resulted in a lower level of ash, protein, fat, color, viscosity, and pH, while the content of moisture, carbohydrate, and soluble solids increased. The formulations contained 91.84‒92.39% moisture; 0.09‒0.12% ash; 0.80‒1.48% protein; 0.81‒1.04% crude fat; and 5.52‒5.91% carbohydrate. Additionally, they had lightness values of 59.74‒68.57; greenness/redness values of -0.53‒0.68; yellowness values of 6.60‒8.13; viscosities of 11.42‒12.50 cP; soluble solids of 6.00‒9.00 °Brix; and pH of 6.69‒6.72. The sensory evaluation ranged from “neither like nor dislike” to “slightly like” (5.24–5.97 on a 9-point scale), indicating moderate acceptability across all formulations. Despite being acknowledged as having a beany aroma, the panelists identified sweet and creamy notes with low bitterness in the sample, contributing to a relatively pleasant flavor. Furthermore, the 50:50 pigeon pea-to-soybean formulation contained daidzein as the predominant isoflavone and demonstrated high antioxidant activity (91.90% DPPH inhibition). These findings suggest that the developed PBMA is a promising functional beverage with good nutritional and sensory qualities.
Analisis Pengetahuan, Sikap, Praktik, dan Kepatuhan Regulasi Label Pangan pada Pelaku UMKM di Kabupaten Bandung: Knowledge, Attitudes, Practices, and Compliance of Food MSMEs with Food Label Regulations in Bandung Regency Rahmah, Randa Manali; Nurdiani, Reisi; Nasution, Zuraidah; Ekayanti, Ikeu; Purwaningtyas, Desiani Rizki
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2026.5.1.449-460

Abstract

Label pangan olahan adalah setiap keterangan mengenai pangan olahan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan olahan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), karakteristik UMKM, pengetahuan, sikap, dan praktik pelaku UMKM di Kabupaten Bandung terhadap kepatuhan label pangan. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional study dan melibatkan 50 pelaku UMKM pangan yang mengikuti pelatihan label pangan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung pada bulan Juli hingga Agustus 2025. Kepatuhan didefinisikan secara operasional menggunakan checklist terstruktur berdasarkan regulasi nasional pelabelan pangan, dengan kategori patuh (≥80% komponen label wajib terpenuhi) dan tidak patuh (<80%). Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan observasi label produk, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan koefisien korelasi (r) sebagai indikator ukuran efek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pelaku UMKM, karakteristik usaha, pengetahuan, maupun sikap dengan kepatuhan pelabelan (p>0,05; r<0,20), yang mengindikasikan hubungan yang lemah. Sebaliknya, praktik pelabelan menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan sedang terhadap kepatuhan (r=0,42; p<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku implementatif dalam praktik memiliki peran yang lebih penting dibandingkan pengetahuan atau sikap semata dalam mencapai kepatuhan terhadap regulasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ukuran sampel yang relatif kecil serta hanya melibatkan UMKM yang telah mengikuti pelatihan, sehingga dapat membatasi validitas eksternal. Oleh karena itu, upaya kebijakan perlu difokuskan pada pendampingan teknis berkelanjutan, pelatihan berbasis praktik, serta sistem monitoring pasca-pelatihan guna meningkatkan kepatuhan pelabelan pangan secara berkelanjutan pada pelaku UMKM.