Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Perbandingan Analisis Struktur dan Efisiensi Biaya Struktur Slab on Pile Menggunakan Metode Precast Half-Slab dan Metode Monolite, Serta Kombinasi Mutu Beton Slab on Pile (Studi Kasus Jembatan Perawang) Kurniawan, Mahadi; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisa struktur Slab on Pile jembatan bentang panjang dengan menggunakan metode Precast Half-Slab baik dari segi teknis maupun efisiensi struktur pekerjaannya. Tujuan lain penelitian ini adalah untuk memperkenalkan perkembangan teknologi bidang Teknik Sipil yang berorientasi pada metode kemudahan pekerjaan dilapangan sehingga pekerjaan Slab on Pile jembatan bentang panjang dapat berjalan efektif dan efisien. Studi kasus pada penelitian ini adalah proyek pembangunan Jembatan Perawang, Kabupaten Siak Sri Indrapura Provinsi Riau. Diharapkan penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai bahan referensi untuk penggunaan metode Precast Half-Slab pada pekerjaan Slab on Pile atau plat lantai jembatan bentang panjang. Penelitian ini dilakukan pada Slab on Pile dengan panjang 40 m. Tiap satu segmen plat berukuran panjang 4,44 m, lebar 3 m dan tebal 0,25 m. Mutu beton yang digunakan adalah K-500 dan K-400. Selanjutnya metode Precast Half-Slab ini dibandingkan dengan pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Monolite pada proyek pembangunan Jembatan Perawang. Analisa teknis struktur dilakukan terhadap plat dan balok. Pada metode Precast Half-Slab ini diperhitungkan mekanisme tulangan angkat dan mekanisme sambungan plat yaitu shear connector. Sedangkan analisa efisiensi struktur dilakukan terhadap waktu dan biaya. Hasil analisa menunjukkan bahwa pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Precast Half-Slab ini ditinjau dari aspek teknis jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode Monolite karena dalam pekerjaannya tidak membutuhkan shoring sebagai perancah dan bekisting untuk mencetak plat betonnya. Efisiensi waktu pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 175% dibandingkan dengan metode Monolite. Sedangkan efisiensi biaya pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 18,80 %. Namun untuk lebih ekonomis lagi dikombinasi mutu beton pada plat yaitu mutu beton K-500 untuk plat precast dan mutu beton K-400 untuk plat cast-in-situ dengan efisiensi biaya sebesar 22,80 %.
Perbandingan Analisis Struktur dan Efisiensi Biaya Struktur Slab on Pile Menggunakan Metode Precast Half-Slab dan Metode Monolite, Serta Kombinasi Mutu Beton Slab on Pile (Studi Kasus Jembatan Perawang) Kurniawan, Mahadi; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisa struktur Slab on Pile jembatan bentang panjang dengan menggunakan metode Precast Half-Slab baik dari segi teknis maupun efisiensi struktur pekerjaannya. Tujuan lain penelitian ini adalah untuk memperkenalkan perkembangan teknologi bidang Teknik Sipil yang berorientasi pada metode kemudahan pekerjaan dilapangan sehingga pekerjaan Slab on Pile jembatan bentang panjang dapat berjalan efektif dan efisien. Studi kasus pada penelitian ini adalah proyek pembangunan Jembatan Perawang, Kabupaten Siak Sri Indrapura Provinsi Riau. Diharapkan penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai bahan referensi untuk penggunaan metode Precast Half-Slab pada pekerjaan Slab on Pile atau plat lantai jembatan bentang panjang. Penelitian ini dilakukan pada Slab on Pile dengan panjang 40 m. Tiap satu segmen plat berukuran panjang 4,44 m, lebar 3 m dan tebal 0,25 m. Mutu beton yang digunakan adalah K-500 dan K-400. Selanjutnya metode Precast Half-Slab ini dibandingkan dengan pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Monolite pada proyek pembangunan Jembatan Perawang. Analisa teknis struktur dilakukan terhadap plat dan balok. Pada metode Precast Half-Slab ini diperhitungkan mekanisme tulangan angkat dan mekanisme sambungan plat yaitu shear connector. Sedangkan analisa efisiensi struktur dilakukan terhadap waktu dan biaya. Hasil analisa menunjukkan bahwa pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Precast Half-Slab ini ditinjau dari aspek teknis jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode Monolite karena dalam pekerjaannya tidak membutuhkan shoring sebagai perancah dan bekisting untuk mencetak plat betonnya. Efisiensi waktu pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 175% dibandingkan dengan metode Monolite. Sedangkan efisiensi biaya pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 18,80 %. Namun untuk lebih ekonomis lagi dikombinasi mutu beton pada plat yaitu mutu beton K-500 untuk plat precast dan mutu beton K-400 untuk plat cast-in-situ dengan efisiensi biaya sebesar 22,80 %.
Optimasi Bentuk Struktur Elemen Cangkang Pada Pondasi Terapung Menggunakan Metode Algoritma Genetik Adha, Augusta; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(2).2130

Abstract

[ID] Prinsip dasar pondasi terapung adalah keseimbangan antara berat struktur atas dan total berat tanah (termasuk didalamnya air tanah) yang dipindahkan oleh konstruksi pondasi tersebut sehingga tidak menghasilkan penurunan struktur. Pondasi terapung sangat baik digunakan pada daerah dengan daya dukung tanah yang rendah atau pada daerah yang memiliki tanah dengan derajat pemadatan yang bervariasi. Hal ini dikarenakan karakteristik pondasi terapung yang membagi gaya ke area kontak yang sangat besar sehingga seluruh area kontak tersebut hanya mengalami tegangan yang relatif kecil. Namun demikian, karena kapasitas dukung pondasi terapung sangat tergantung pada luasan area, maka pondasi terapung menjadi tidak efektif untuk diterapkan pada daerah yang kecil. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan penerapan struktur pelat cangkang (shell structure) pada pondasi terapung untuk meningkatkan luas area bidang kontak pondasi terapung dan tanah. Paper ini membahas optimasi bentuk pelat cangkang yang digunakan pada pondasi terapung agar memiliki daya dukung yang cukup untuk menahan gaya yang ditransferkan oleh struktur atas. Metode algoritma genetik digunakan dalam proses optimasi dimana koordinat dari titik yang menyusun bentuk (shape) struktur cangkang (cn) dipakai sebagai desain variabel. Pada penelitian ini, proses optimasi menggunakan pemodelan dengan 11, 13 dan 15 variabel desain untuk melihat sensitivitas desain variable tersebut terhadap hasil optimasi. Tegangan yang terjadi pada struktur cangkang tersebut di evaluasi dengan Analisa Elemen Hingga dengan perilaku element cangkang seperti model teory pelat Reissner-Midlin. Fungsi tujuan pada penelitian ini adalah meminimalkan penggunaan material untuk membentuk sebuah pondasi terapung dengan fungsi penalti tegangan pada elemen cangkang. [EN] The basic principle of floating foundation is counterforce balancing between the weight of the structure and thetotal weight of the soil (including groundwater) which is displaced by the structure. Floating foundation is effective in areas with low soil bearing capacity because the external load is widely spread that resulting lower stress level in contact area; Hence, it is necessary to design the shape of floating structure that provide adequate uplift whilst also create lower stress level by spreading the external load to wider contact area. This paper discusses the shape optimization of the floating foundations to have sufficient capacity to resist the force transferred by the upper structure whilst also minimize the use of material without resulting element overstress. Genetic algorithm method is used in the optimization process where the coordinates of the points that shape the shell structure (cn) are used as variable designs. In this study, the multivariable optimization using finite element model is investigated . The stress that occurs in the shell structure is evaluated by Finite Element Analysis with the behavior of shell elements based on Reissner-Mindlin plate theory.
Optimasi Struktur Rangka Batang Menggunakan Metode Algoritma Genetika Dengan Kendala Tegangan Dan Probabilitas Kegagalan Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2019.vol19(1).3043

Abstract

[IN] Setiap struktur rekayasa harus memenuhi suatu kriteria tertentu agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Makalah ini menyajikan hasil kajian dari struktur rangka batang (truss) yang harus memenuhi kriteria optimal, yaitu berbiaya terendah namun berfungsi maksimal. Rangka batang yang ditinjau dalam penelitian ini merupakan struktur rangka baja statis tak tentu secara internal maupun eksternal yang mengalami sistem pembebanan jamak (multi load-systems). Biaya atau harga struktur direpresentasikan oleh volume bahan struktur sedang fungsi maksimal ditampilkan dalam tegangan yang tinggi dalam batas-batas tegangan yang diijinkan. Kekuatan bahan baja ditinjau sebagai variabel acak yang mengikuti distribusi Log Normal. Selain tegangan, struktur juga harus memenuhi kriteria probabilitas kegagalan Pfi  ≤  10-3. Nilai tersebut harus dipenuhi secara lokal oleh setiap elemen struktur maupun oleh keseluruhan struktur secara global. Kompleksitas masalah optimasi sangat bergantung pada banyaknya variabel desain yang ditinjau. Oleh karena itu, selain elemen dengan variabel desain tunggal, juga ditinjau elemen dengan desain variabel ganda. Penyelesaian masalah optimasi struktur pada umumnya diselesaikan secara iteratif dengan menerapkan pemrograman matematik (mathematical programming). Cara demikian adalah tidak mudah dan biasanya memberikan hasil yang tidak terpercaya (unreliable), bahkan sering kali tidak memberikan hasil sama sekali akibat terjebaknya proses iterasi yang diterapkan. Untuk mengatasi hal tersebut, disini diterapkan Algoritma Genetika yang melakukan iterasi secara stokastik. Dalam penelitian ini Algoritma Genetika selalu konvergen ke struktur optimum yang sama. Dengan demikian maka struktur optimum yang dihasilkan merupakan solusi yang terpercaya (reliable). [EN] Engineering structures need to satisfy certain criteria such that it may function properly. This paper presents the results of a study on trusses which need to satisfy optimal conditions, .i.e. lowest cost possible with maximal performance. The trusses considered were statically indeterminate steel structures with multi-system of loading. The cost is here represented by the material volume of the structure and the maximal performance is reflected by the high  working stresses  within allowable stress limits. The material strength was modeled as a  random variable with a Log Normal distribution. Beside stresses, the structures are also required to meet a failure probability of  Pf = 10-3, which may occur locally within the elements as well as globally on the structure as a whole. The complexity of optimization problems depends in general on the number of the considered variables. The larger the number of variables considered, the more complicated becomes the solution process. Therefore, cases of single variable elements as well as multi variables ones were considered in this study. Optimization problems are usually solved applying iterative procedures, frequently resorting to mathematical programming. In these procedures the process   usually converges to unreliable solutions; it even may completely bogged down with no solution at all. To circumvent this problem, iteration was carried out applying Genetic Algorithms where the process proceeds in a stochastic manner. Genetic Algorithms usually deliver reliable solutions.
Pengaruh Posisi Dinding Geser Terhadap Kinerja Struktur Pada Gedung Tidak Beraturan Dengan Menggunakan Metode Response Spectrum Kurnia, Arif; Dewi, Sri Hartati; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol 18 No 1 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(1).2809

Abstract

[ID] Dinding geser adalah slab beton bertulang yang dipasang dalam posisi vertikal pada sisi gedung. Dinding geser merupakan salah satu sistem yang berfungsi menjaga kekakuan struktur, maka posisi dinding geser ditempatkan pada lokasi-lokasi tertentu, dengan itu penggunaan dinding geser dapat digunakan secara efektif dalam menahan beban yang diterimanya. Pemodelan struktur gedung dilakukan dengan bantuan software ETABS. Analisis beban gempa menggunakan metode respons spektrum. Pemodelan struktur dibuat untuk gedung tanpa menggunakan dinding geser dan 3 model gedung menggunakan dinding geser dengan posisi yang berbeda. Penentuan posisi dinding geser dilakukan dengan cara uji coba sehingga didapat posisi yang paling efektif. Perhitungan beban gempa mengacu pada pedoman SNI 1726-2012, beban mati berpedoman pada PPURG-1987 dan untuk beban hidup berpedoman pada SNI 1727-2013. Dari hasil perhitungan pada gedung tidak beraturan dengan metode respons spektrum didapat nilai untuk kinerja simpangan maksimum dari 4 model gedung. Simpangan maksimum arah sumbu x pada Gedung tanpa dinding geser sebesar 157,57 mm, pada gedung dengan dinding geser model 1 sebesar 123,41 mm, pada gedung dengan dinding geser model 2 sebesar 125,30 mm, pada gedung dengan dinding geser model 3 sebesar 94,46 mm. Simpangan maksimum arah sumbu y pada gedung tanpa dinding geser sebesar 193,13 mm, pada gedung dengan dinding geser model 1 sebesar 143,79 mm, pada gedung dengan dinding geser model 2 sebesar 141,16 mm, pada gedung dengan dinding geser model 3 sebesar 119,24 mm.  Dari hasil kinerja simpangan maksimum pada Gedung tidak beraturan dengan metode respons spektrum didapat posisi dinding geser yang paling efektif adalah pada Gedung dengan dinding geser model 3 [EN] The Shear walls are reinforced concrete slabs that are installed vertically on the side of the building. Shear wall is one system that serves to maintain the rigidity of the structure, then the position of the shear wall is placed at certain locations, with the use of the shear wall can be used effectively in holding the load it receives. Building structure modeling is done with the help of ETABS software. Earthquake load analysis using the spectrum response method. Structural modeling is made for buildings without the use of shear walls and 3 building models use shear walls in different positions. Determination of the position of the shear wall is done by testing so that the most effective position is obtained. Calculation of earthquake load refers to the guideline of SNI 1726-2012, dead load is guided by PPURG-1987 and for live load is guided by SNI 1727-2013. From the results of calculations on irregular buildings with the spectrum response method obtained values ​​for maximum deviation performance from 4 building models. The maximum deviation of the x-axis direction in Buildings without shear walls is 157.57 mm, in buildings with model 1 shear walls is 123.41 mm, in buildings with model 2 shear walls is 125.30 mm, in buildings with model 3 shear walls is 94.46 mm. The maximum deviation of the y axis direction in buildings without shear walls is 193.13 mm, in buildings with model 1 shear walls of 143.79 mm, in buildings with model 2 shear walls of 141.16 mm, in buildings with shear walls of model 3 of 119.24 mm. From the results of the maximum deviation performance in the irregular building with the spectrum response method obtained the most effective position of the shear wall is the Building with the shear wall model 3
Analisis Teknis Balok Pracetak (Precast) Dengan Menggunakan Metode U-Shell (Studi Kasus: Gedung Living World Pekanbaru) Ulfa Rahmawati; Mahadi Kurniawan; Sri Hartati Dewi
Sainstek (e-Journal) Vol. 6 No. 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton precast atau pracetak merupakan teknologi konstruksi struktur beton dengan komponen-komponen penyusun yang dicetak terlebih dahulu. Tujuan penelitian ini menganalisis perubahan perilaku struktur balok pracetak dari kondisi sebelum komposit (balok U-Shell) menjadi kondisi komposit (balok utuh). Metode balok precast U-Shell diterapkan pada konstruksi Gedung Living World Pekanbaru. Metode pracetak sistem U-Shell merupakan metode pekerjaan balok dimana pada struktur balok dibagi dua, yaitu bagian awalnya menggunakan precast dan bagian akhir menggunakan beton cast-in-situ. U-Shell disini berfungsi sebagai bekisting permanen. Pada dasarnya perencanaan balok dengan menggunakan metode U-Shell ini sama dengan perencanaan balok dengan menggunakan metode monolite atau konvensional. Perubahan perilaku struktur dikarenakan adanya perubahan momen yang terjadi di setiap kondisi, saat pengangkatan, sebelum komposit dan sesudah komposit. Terjadinya perubahan momen pada sebelum komposit dengan sesudah komposit dikarenakan pada saat sebelum komposit balok masih menerima beratnya sendiri, sedangkan untuk kondisi sesudah komposit perubahan momen terjadinya karena balok sudah menerima bebanya sendiri dan beban lainya seperti pelat dan beban tambahan. Adanya perbedaan tulangan dari perencanaan dan hasil analisa yang disebebkan karena pada analisa balok hanya dihitung sederhana saja.
STUDI EKSPERIMENTAL PENAMBAHAN ZAT ADDITIF MASTERSURE 1007 TERHADAP KUAT TEKAN BETON SILINDER FC'30: STUDI EKSPERIMENTAL PENAMBAHAN ZAT ADDITIF MASTERSURE 1007 TERHADAP KUAT TEKAN BETON SILINDER FC'30 Kurniawan*, Mahadi; Ahmadi, Heri; Syarif, Firman; Hartati Dewi, Sri; Rachmat Setiawan, Panji; Kahrywal, Kahrywal
JURNAL TEKNIK Vol. 17 No. 2 (2023): Edisi Oktober 2023
Publisher : JURNAL TEKNIK UNILAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/teknik.v17i2.12231

Abstract

ABSTRAK Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrolis lainnya, agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan tambahan, membentuk massa padat, kuat, dan stabil. Dalam proses pembuatan beton yang mempunyai jarak pengecoran yang jauh dan membutuhkan waktu lama pada saat pengecoran maka diperlukan suatu bahan tambah kimia pada campuran beton salah satunya zat additif Mastersure 1007. Bahan tambah ini dapat berfungsi memperlambat proses pengikatan beton, menaikkan nilai slump, mengurangi pemakaian air, dan meningkatkan kuat tekan beton dalam satu waktu. Penelitian ini menggunakan sampel silinder. Persentase bahan tambah Mastersure 1007 yang digunakan ada 4 varian yaitu 0%, 0.8%, 1% dan 1.2% dari total berat semen. Metode yang digunakan untuk pehitungan campuran beton (mix design) berdasarkan SNI 03-2834-2000. Pengujian dilakukan pada umur 3 hari, 7 hari dan 28 hari. Penelitian dilakukan dengan bahan tambah Mastersure 1007 dengan dosis 0%, 0,8%; 1%; 1,2% dari total berat semen, apakah dapat menahan nilai slump pada beberapa waktu pengadukan dan peningkatan kuat tekan pada dosis 0%; 0,8%; 1%; dan 1,2%. Dari hasil pengujian slump yang telah dilakukan ternyata semakin besar dosis bahan tambah Mastersure 1007 nilai slump yang didapat semakin rendah. Hal ini terjadi akibat reaksi retarder yang terkandung di dalam bahan tambah pada semen tidak bereaksi secara maksimal pada dosis tinggi. Dari hasil pengujian beton yang telah dilakukan, proses pembentukan beton pada umur 3 hari lebih cepat dari pada beton dengan umur 7 hari dan 28 hari. Hasil kuat tekan beton dari penambahan Mastersure 1007 semakin besar dosis bahan tambah yang di tambahkan maka semakin tinggi nilai kuat tekan yang diperoleh. Tetapi pada umur pengujian 7 hari diperoleh hasil yang tidak stabil. Hasil yang diperoleh tersebut membuktikan bahwa kuat tekan beton dengan penambahan Mastersure 1007 pada dosis yang tinggi akan menurunkan nilai slump pada beton sedangkan untuk dosis yang semakin tinggi maka kuat tekan akan semakin meningkat. Kata Kunci: Beton, Mastersure 1007, kuat tekan, beton silinder, slump
Optimasi Bentuk Struktur Elemen Cangkang Pada Pondasi Terapung Menggunakan Metode Algoritma Genetik: Shape Optimization of Structural Shell Element in Floating Foundation Using Genetic Algorithm Method Adha, Augusta; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1814.025 KB) | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(2).2130

Abstract

[ID] Prinsip dasar pondasi terapung adalah keseimbangan antara berat struktur atas dan total berat tanah (termasuk didalamnya air tanah) yang dipindahkan oleh konstruksi pondasi tersebut sehingga tidak menghasilkan penurunan struktur. Pondasi terapung sangat baik digunakan pada daerah dengan daya dukung tanah yang rendah atau pada daerah yang memiliki tanah dengan derajat pemadatan yang bervariasi. Hal ini dikarenakan karakteristik pondasi terapung yang membagi gaya ke area kontak yang sangat besar sehingga seluruh area kontak tersebut hanya mengalami tegangan yang relatif kecil. Namun demikian, karena kapasitas dukung pondasi terapung sangat tergantung pada luasan area, maka pondasi terapung menjadi tidak efektif untuk diterapkan pada daerah yang kecil. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan penerapan struktur pelat cangkang (shell structure) pada pondasi terapung untuk meningkatkan luas area bidang kontak pondasi terapung dan tanah. Paper ini membahas optimasi bentuk pelat cangkang yang digunakan pada pondasi terapung agar memiliki daya dukung yang cukup untuk menahan gaya yang ditransferkan oleh struktur atas. Metode algoritma genetik digunakan dalam proses optimasi dimana koordinat dari titik yang menyusun bentuk (shape) struktur cangkang (cn) dipakai sebagai desain variabel. Pada penelitian ini, proses optimasi menggunakan pemodelan dengan 11, 13 dan 15 variabel desain untuk melihat sensitivitas desain variable tersebut terhadap hasil optimasi. Tegangan yang terjadi pada struktur cangkang tersebut di evaluasi dengan Analisa Elemen Hingga dengan perilaku element cangkang seperti model teory pelat Reissner-Midlin. Fungsi tujuan pada penelitian ini adalah meminimalkan penggunaan material untuk membentuk sebuah pondasi terapung dengan fungsi penalti tegangan pada elemen cangkang. [EN] The basic principle of floating foundation is counterforce balancing between the weight of the structure and thetotal weight of the soil (including groundwater) which is displaced by the structure. Floating foundation is effective in areas with low soil bearing capacity because the external load is widely spread that resulting lower stress level in contact area; Hence, it is necessary to design the shape of floating structure that provide adequate uplift whilst also create lower stress level by spreading the external load to wider contact area. This paper discusses the shape optimization of the floating foundations to have sufficient capacity to resist the force transferred by the upper structure whilst also minimize the use of material without resulting element overstress. Genetic algorithm method is used in the optimization process where the coordinates of the points that shape the shell structure (cn) are used as variable designs. In this study, the multivariable optimization using finite element model is investigated . The stress that occurs in the shell structure is evaluated by Finite Element Analysis with the behavior of shell elements based on Reissner-Mindlin plate theory.
Pengaruh Posisi Dinding Geser Terhadap Kinerja Struktur Pada Gedung Tidak Beraturan Dengan Menggunakan Metode Response Spectrum: Effect of Shear Wall Position on Structural Performance in Irregular Buildings Using the Response Spectrum Method Kurnia, Arif; Dewi, Sri Hartati; Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol. 18 No. 1 (2018)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1599.086 KB) | DOI: 10.25299/saintis.2018.vol18(1).2809

Abstract

[ID] Dinding geser adalah slab beton bertulang yang dipasang dalam posisi vertikal pada sisi gedung. Dinding geser merupakan salah satu sistem yang berfungsi menjaga kekakuan struktur, maka posisi dinding geser ditempatkan pada lokasi-lokasi tertentu, dengan itu penggunaan dinding geser dapat digunakan secara efektif dalam menahan beban yang diterimanya. Pemodelan struktur gedung dilakukan dengan bantuan software ETABS. Analisis beban gempa menggunakan metode respons spektrum. Pemodelan struktur dibuat untuk gedung tanpa menggunakan dinding geser dan 3 model gedung menggunakan dinding geser dengan posisi yang berbeda. Penentuan posisi dinding geser dilakukan dengan cara uji coba sehingga didapat posisi yang paling efektif. Perhitungan beban gempa mengacu pada pedoman SNI 1726-2012, beban mati berpedoman pada PPURG-1987 dan untuk beban hidup berpedoman pada SNI 1727-2013. Dari hasil perhitungan pada gedung tidak beraturan dengan metode respons spektrum didapat nilai untuk kinerja simpangan maksimum dari 4 model gedung. Simpangan maksimum arah sumbu x pada Gedung tanpa dinding geser sebesar 157,57 mm, pada gedung dengan dinding geser model 1 sebesar 123,41 mm, pada gedung dengan dinding geser model 2 sebesar 125,30 mm, pada gedung dengan dinding geser model 3 sebesar 94,46 mm. Simpangan maksimum arah sumbu y pada gedung tanpa dinding geser sebesar 193,13 mm, pada gedung dengan dinding geser model 1 sebesar 143,79 mm, pada gedung dengan dinding geser model 2 sebesar 141,16 mm, pada gedung dengan dinding geser model 3 sebesar 119,24 mm. Dari hasil kinerja simpangan maksimum pada Gedung tidak beraturan dengan metode respons spektrum didapat posisi dinding geser yang paling efektif adalah pada Gedung dengan dinding geser model 3 [EN] The Shear walls are reinforced concrete slabs that are installed vertically on the side of the building. Shear wall is one system that serves to maintain the rigidity of the structure, then the position of the shear wall is placed at certain locations, with the use of the shear wall can be used effectively in holding the load it receives. Building structure modeling is done with the help of ETABS software. Earthquake load analysis using the spectrum response method. Structural modeling is made for buildings without the use of shear walls and 3 building models use shear walls in different positions. Determination of the position of the shear wall is done by testing so that the most effective position is obtained. Calculation of earthquake load refers to the guideline of SNI 1726-2012, dead load is guided by PPURG-1987 and for live load is guided by SNI 1727-2013. From the results of calculations on irregular buildings with the spectrum response method obtained values ​​for maximum deviation performance from 4 building models. The maximum deviation of the x-axis direction in Buildings without shear walls is 157.57 mm, in buildings with model 1 shear walls is 123.41 mm, in buildings with model 2 shear walls is 125.30 mm, in buildings with model 3 shear walls is 94.46 mm. The maximum deviation of the y axis direction in buildings without shear walls is 193.13 mm, in buildings with model 1 shear walls of 143.79 mm, in buildings with model 2 shear walls of 141.16 mm, in buildings with shear walls of model 3 of 119.24 mm. From the results of the maximum deviation performance in the irregular building with the spectrum response method obtained the most effective position of the shear wall is the Building with the shear wall model 3
Perbandingan Analisis Struktur dan Efisiensi Biaya Struktur Slab on Pile Menggunakan Metode Precast Half-Slab dan Metode Monolite, Serta Kombinasi Mutu Beton Slab on Pile (Studi Kasus Jembatan Perawang) Kurniawan, Mahadi
JURNAL SAINTIS Vol. 16 No. 1 (2016)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.163 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisa struktur Slab on Pile jembatan bentang panjang dengan menggunakan metode Precast Half-Slab baik dari segi teknis maupun efisiensi struktur pekerjaannya. Tujuan lain penelitian ini adalah untuk memperkenalkan perkembangan teknologi bidang Teknik Sipil yang berorientasi pada metode kemudahan pekerjaan dilapangan sehingga pekerjaan Slab on Pile jembatan bentang panjang dapat berjalan efektif dan efisien. Studi kasus pada penelitian ini adalah proyek pembangunan Jembatan Perawang, Kabupaten Siak Sri Indrapura Provinsi Riau. Diharapkan penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai bahan referensi untuk penggunaan metode Precast Half-Slab pada pekerjaan Slab on Pile atau plat lantai jembatan bentang panjang. Penelitian ini dilakukan pada Slab on Pile dengan panjang 40 m. Tiap satu segmen plat berukuran panjang 4,44 m, lebar 3 m dan tebal 0,25 m. Mutu beton yang digunakan adalah K-500 dan K-400. Selanjutnya metode Precast Half-Slab ini dibandingkan dengan pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Monolite pada proyek pembangunan Jembatan Perawang. Analisa teknis struktur dilakukan terhadap plat dan balok. Pada metode Precast Half-Slab ini diperhitungkan mekanisme tulangan angkat dan mekanisme sambungan plat yaitu shear connector. Sedangkan analisa efisiensi struktur dilakukan terhadap waktu dan biaya. Hasil analisa menunjukkan bahwa pekerjaan Slab on Pile dengan menggunakan metode Precast Half-Slab ini ditinjau dari aspek teknis jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode Monolite karena dalam pekerjaannya tidak membutuhkan shoring sebagai perancah dan bekisting untuk mencetak plat betonnya. Efisiensi waktu pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 175% dibandingkan dengan metode Monolite. Sedangkan efisiensi biaya pekerjaan metode Precast Half-Slab adalah sebesar 18,80 %. Namun untuk lebih ekonomis lagi dikombinasi mutu beton pada plat yaitu mutu beton K-500 untuk plat precast dan mutu beton K-400 untuk plat cast-in-situ dengan efisiensi biaya sebesar 22,80 %.