Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

NITRIFIKASI DALAM BIODEGRADASI LIMBAH TAMBAK Hasan Sitorus; Bambang Widigdo; Bibiana W . Lay; Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.515 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju nitrifikasi dan bakteri yang paling efektif membentuk nitrat dalam biodegradasi limbah tambak udang. Percobaan dilakukan dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan dengan media percobaan limbah tambak biasa dan limbah tambak steril. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa semakin tinggi kadar OSS dalam media percobaan, laju nitrifikasi semakin rendah, tetapi populasi mikroba nitrifikasi semakin tinggi. Laju nitrifikasi berkisar antara 0.0059 – 0.0089 ppm/hari, dengan laju tertinggi diperoleh pada perlakuan T2 (kadar TSS 200 ppm, OSS 147.30 ppm, amonia 0.22 ppm) dan terendah pada perlakuan T0 (kadar TSS 100 ppm, OSS 58.20 ppm, amonia 0.19 ppm). Bakteri nitrifikasi yang paling efektif membentuk nitrat dalam media percobaan adalah Nitrococcus sp. untuk perlakuan T0 dan T1, Nitrospira sp.untuk perlakuan T2 dan T3, dan Nitrobacter sp. untuk perlakuan T4 dan T5. Dalam media limbah tambak steril, laju nitrifikasi setiap jenis bakteri berkisar antara 0.0039 – 0.0069 ppm/hari dengan tingkat efektivitas rata-rata 72.02%. Bakteri yang paling efektif membentuk nitrat dalam biodegradasi limbah tambak udang adalahNitrospira marina.Kata Kunci: biodegradasi, limbah tambak udang, nitrifikasi.
ESTIMASI DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PESISIR UNTUK PENGEMBANGAN AREAL TAMBAK BERDASARKAN LAJU BIODEGRADASI LIMBAH TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR KABUPATEN SERANG Hasan Sitorus; Bambang Widigdo; Bibiana W . Lay; Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.001 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi daya dukung lingkungan pesisir Kabupaten Serang untuk pengembangan budidaya tambak berdasarkan laju biodegradasi limbah organik tambak di perairan pesisir. Laju biodegradasi OSS adalah 10.78 ppm/hari untuk perlakuan T0 (kontrol), 14.24 ppm/hari untuk perlakuan T1 (TSS 100 ppm, OSS 58.08 ppm), 12.75 ppm/hari untuk perlakuan T2 (TSS 200 ppm, OSS 145.72 ppm),11.34 ppm/hari untuk perlakuan T3 (TSS 300 ppm, OSS 234.22 ppm), 9.38 ppm/hari untuk perlakuan T4(TSS 400 ppm, OSS 321.86 ppm), dan 8.40 ppm/hari untuk perlakuan T5 (TSS 500 ppm, OSS 410.35 ppm). Dengan musim tanam udang 2 kali dan laju biodegradasi OSS 14.76 ppm/hari, daya dukung maksimum lingkungan pesisir Kabupaten Serang untuk budidaya tambak udang adalah 1 090.55 ha untuk tambak intensif,2 220.82 ha untuk tambak semi intensif, dan 12 595.07 ha untuk tambak tradisional plus. Kombinasi optimum luas tambak yang sesuai dengan potensi lahan tambak adalah 149.16 ha (13.6%)tambak intensif, 975.61 ha (42.6%) tambak semi intensif, dan 5 875.23 ha (43.8%) tambak tradisional plus.Kata kunci: daya dukung, budidaya udang, biodegradasi, zona pesisir.
KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON CRYSOPHYTA (Paheodactylum sp., Chaetoceros sp., DAN Pavlova sp.) PADA BERBAGAI TINGKAT KANDUNGAN UNSUR HARA NITROGEN, FOSFOR DAN SILIKAT Kadarwan Soewardi; Niken Pratiwi; Menssenreng .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.365 KB)

Abstract

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan untuk mengetahui perbandingan N:P yang terbaik untuk pertumbuhan diatom dan penelitian utama untuk mengetahui pengaruh penambahan Si pada perbandingan N:P yang menghasilkan pertumbuhan diatom yang optimum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, komposisi dan pola pertumbuhan fitoplankton Chrysophyta pada kandungan unsur hara makro (N dan P) dan unsur hara mikro (silika) yang berbeda. Bahan-bahan yang digunakan sebagaisumber N adalah pupuk urea (46% N), sumber P adalah TSP (32% P2O5), dan sumber Si (silika) adalah sodium meta silika (34% Si(OH)2). Dari hasil penelitian pendahuluan didapatkan hasil bahwa perbandingan N:P terbaik untuk pertumbuhan diatom adalah 30:1. Penelitian utama terdiri dari 5 perlakuan dan 1 kontrol, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Penambahan unsur hara silikat berkisar 2-4 mg/l cukup untuk pertumbuhan algae. Unsur silikat menyebabkan perbedaan terhadap laju pertumbuhan spesifik, kepadatan populasimaksimum dan waktu untuk mencapainya. Laju pertumbuhan spesifik untuk jenis Phaeodactylum sp sebesar 0.362-0.489 ind/hari, Chaetoceros sp. sebesar 0.156-0.437 ind/hari dan Pavlova sp. sebesar 0.251-0.530 ind/hari dan untuk gabungan sebesar 0.229-0.376 ind/hari. Kepadatan maksimum (gabungan) yang dicapai sebesar 9.40 x 106 sampai 16.06 x 106 ind/ml yang dicapai dalam waktu 11 sampai 13 hari. Berdasarkan laju pertumbuhan spesifik, kepadatan maksimum dan waktu untuk mencapai kepadatan populasi maksimumadalah media dengan perlakuan N:P:Si = 30:1:4 (P3) yang terbaik untuk pertumbuhan algae Phaeodactylum sp sp.Chaetoceros sp. dan Pavlova sp.Kata kunci: fitoplankton, Chrysophyta, nisbah N/P, Si
VARIASI GEOGRAFIK DALAM STRUKTUR GENETIK POPULASI IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus malabaricus (LUTJANIDAE) DAN INTERAKSI LINGKUNGAN DI LAUT JAWA Kadarwan Soewardi; Suwarso .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.462 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur genetik populasi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus;LUTJANIDAE). Struktur genetik dianalisis berdasarkan polimorfisme mtDNA. Karakter polimorfisme diperoleh dari analisis RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism). Populasi contoh berasal dari lima populasi ikan di Laut Jawa, yaitu Blanakan, Batang, Banyutowo, Tuban dan Kotabaru. Berdasarkan tipe-tipe restriksi yang ditemukan, setiap tipe restriksi berbeda dalam jumlah situs dan fragmen restriksi. Telah teridentifikasi 5-6 haplotipe diversitas haplotipe (h) tingkat populasi bervariasi antara 0.60-0.76, dimana untuk populasi ikan di wilayah timur cenderung lebih tinggi. Didasarkan pada analisis jarak genetik terdapat tiga unit stok ikan Kakap merah di Laut Jawa: Unit stok 1, populasi Blanakan, Batang dan Banyutowo Unit stok 2populasi Kotabaru; dan Unit stok 3, populasi tuban.penstrukturan genetik demikian juga ditegaskan melalui analisis varian molekuler (AMOVA) yang menyatakan perbedaan sangat nyata antara   varian genetik populasi Tuban dengan keempat populasi lainnya. Dari fakta adanya pengelompokkan struktur genetik populasi ini, strategi manajemen perikanan sebaiknya dilaksanakan secara lokal menurut unit stokKata kunci: kakap merah, populasi eenetik, Laut Jawa.
KERAGAMAN GENETIK UDANG JARI (Metapenaeus elegans DE MAN 1907) BERDASARKAN KARAKTER MORFOMETRIK DI LAGUNA SEGARA ANAKAN, CILACAP, JAWA TENGAH Kadarwan Soewardi; Otong Zenal Arifin; Ahmad Hidayat
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.681 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman genetik udang jari (Metapenaeus elegans) di perairan Laguna Segara Anakan berdasarkan karakter morfometrik. Udang jari yang diamati pada saat penelitian berjumlah 160 ekor, terdiri dari 73 ekor jantan dan 87 ekor betina. Panjang total berkisar antara 38.5 – 84.5 mm dan bobot tubuh berkisar antara 1.8 – 36.5 gram. Dari keempat populasi udang jari yang diamati, untuk sebaran karakter morfometrik individu secara umum menunjukkan hubungan kekerabatan cukup erat antara satu dengan yang lainnya. Nilai sharing component dalam populasi yang paling kecil diperoleh pada populasi Klaces sebesar 52.5%, sedangkan nilai antar populasi diperoleh pada populasi Klaces dengan Motean sebesar 5%. Nilai sharing component terbesar dalam populasi didapatkan pada populasi Motean sebesar 65.0 %, sedangkan nilai antar populasi diperoleh antara populasi Klaces dan Jojok sebesar 32.5%. Untuk matrik korelasi karakter keempat populasi udang jari diperoleh korelasi positif tertinggi antara panjang total dengan panjang badan dengan nilai 0.977, dan korelasi positif terendah antara panjang ruas kedua dengan panjang ruas kelima dengan nilai 0.010. Terdapat 4 karakter yang dapat dipakai dalam membedakan keempat populasi udang jari yang berasal dari Segara Anakan yaitu panjang ruas kedua (PRD), panjang ruas kelima (PRL), panjang badan (PBD), dan panjang total (PTO). Berdasarkan hasil analisis hierarki kluster pada pengukuran karakter morfometrik keempat populasi udang jari mempunyai jarak genetik yang berdekatan.Kata kunci: genetik, udang jari, karakter morfometrik, laguna, Segara Anakan.
RESPON UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP MEDIA AIR LAUT YANG BERBEDA Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.982 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap berbagai media air laut buatan. Respon yang dimaksud pada penelitian ini adalah tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan harian. Media air laut buatan ini meliputi campuran air laut dengan larutan garam krosok, air laut pekat yang diencerkan serta pembuatan artificial sea water dari campuran berbagai mineral dan unsur- unsur kimia lainnya. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) dan laju pertumbuhan (growth rate). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa SR berturut-turut pada media kontrol (air laut), artificial sea water, air laut pekat yang diencerkan dan campuran garam krosok dengan air laut masing-masing sebesar 87, 82, 60 dan 55%. Sidik ragam menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata antar perlakuan terhadap kelangsungan hidup udang vaname pada taraf kepercayaan 95%. Laju pertumbuhan harian individu tertinggi pada media budidaya berturut-turut yaitu media kontrol, artificial sea water, air laut pekat dan larutan garam krosok masing-masing sebesar 13.3002%, 13.0118%, 12.2022% dan 10.6384%. Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan perbedaan nyata terhadap laju pertumbuhan harian individu udang vaname pada taraf kepercayaan 95%.Kata kunci: udang putih, pertumbuhan, air laut buatan.
DAYA DUKUNG PERAIRAN DANGKAL SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU, BAGI PENGEMBANGAN SEA RANCHING IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) Rahmat Kurnia; Kadarwan Soewardi; Mennofatria Boer; Ismudi Muchsin
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 17 No. 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.875 KB)

Abstract

Daya dukung perairan dangkal Semak Daun dikaji secara keseluruhan melalui pendekatan beban P dan produktivitas primer. Kajian tersebut didasarkan pada dua bagian penyusun perairan yang berbeda batimetrinya, yaitu reef flat (281,89 ha) dan goba (9,9 ha). Selain itu, daya dukung perairan juga dikaji berdasarkan kelayakannya bagi budidaya keramba jaring apung/KJA (9,9 ha), sistem sekat (2 ha), sistem kandang (40,7 ha), dan sea ranching (262 ha). Daya dukung bagi pengembangan perikanan secara total adalah 652 ton/th. Daya dukung ini bagi daerah reef flat adalah 389,52 ton/th dan bagi daerah goba 262,94 ton/th. Dilihat dari jenis aktivitas perikanannya, daya dukung perairan Semak Daun bagi pengembangan KJA sebesar 78,17 ton/th, sistem sekat daya dukungnya 2,94 ton/th, sistem kandang sebesar 59,79 ton/th, dan daya dukung bagi pengembangan sea ranching sebesar 589,32 ton/th. Sementara itu, berdasarkan daya dukung perairan bagi sea ranching maka daya dukung bagi ikan kerapu adalah 5,112 ton/th. Dengan kata lain, kepadatan optimal kerapu macan (Epinephelus fusgoguttatus) di perairan sea ranching Semak Daun adalah 0,02 ton ha-1.Kata kunci: Epinephelus fusgoguttatus, daya dukung, sea ranching, Semak Daun
PATTERNS OF MORPHOMETRIC VARIABILITY IN THREE STOCKS OF FARMED TIGER SHRIMP, Penaeus monodon, IN INDONESIA AND ITS APPLICATION FOR SELECTIVE BREEDING Kadarwan Soewardi; Imron .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 14 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.737 KB)

Abstract

Program perbaikan genetik secara konvensional mengandalkan dan mengeksploitasi pola-pola dan besarnya keragaman genetik pada karakter fenotipik sehingga pemahaman tentang kedua aspek tersebut sangat penting. Penelitian ini ditujukan untuk mengeksplorasi pola dan besarnya keragaman pada beberapa karakter fenotipik udang windu dan mengetahui karakter fenotipik terbaik untuk seleksi peningkatan bobot tanpa kepala. Tiga stok udang windu hasil budidaya di tambak yang masing-masig merupakan keturunan induk udang windu dari perairan Aceh, Cilacap dan Sumbawa dikoleksi dan diukur keragaman pada 22 karakter morfometriknya. Pola-pola keragaman antar karakter fenotipik dianalisis secara deskriptif sedangkan pola keragaman antar stok dianalisis menggunakan uji F. Eksplorasi untuk mendapatkan karakter fenotipik terbaik penduga bobot dilakukan dengan uji koefisien korelasi dan regresi berganda. Keragaman antar karakter fenotipik sangat ditentukan jenis karakter fenotipik yang diukur. Keragaman pada karakter yang diukur dengan satuan berat dua kali lebih besar dari pada keragaman karakter yang diukur dengan satuan panjang. Dengan beberapa perkecualian, urutan tingkat keragaman karakter fenotipik antar stok dari rendah ke tinggi adalah Aceh, Cilacap dan Sumbawa. Pada pembandingan berpasangan, banyaknya karakter fenotipik yang berbeda nyata terbanyak pada pembandingan antara Aceh dengan Cilacap dan Aceh dengan Sumbawa sedangkan yang paling sedikit terdapat pada pembandingan antara Cilacap dengan Sumbawa. Karakter morfometrik yang paling baik dalam menjelaskan keragaman bobot tanpa kepala adalah panjang parsial, lingkar abdomen anterior, lingkar abdomen posterior, dan endopod. Implikasi dari hasil-hasil penelitian ini dalam kaitan dengan program perbaikan genetik didiskusikan.Kata kunci: karakter morfometrik, program perbaikan genetik, udang windu, Penaeus monodon.
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK BEBERAPA POPULASI IKAN BATAK (Tor soro) DENGAN METODE RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD) Estu Nugroho; Kadarwan Soewardi; Adi Kurniawirawan
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 14 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.428 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik ikan batak dari beberapa lokasi yang berbeda. ikan batak yang digunakan dalam penelitian ini di kumpulkan dari sungai tarautung , sungai Baho-rok. sungai Aek Sirambe dan sungai asahan dinprovinsi sumatera utara , dan dari kabupaten sumedang,jawa barat . penelitian ini menggunakan metode random Amplified Polymorphism DNA (RPAD). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata heterrozzygote adalah antara 0.0909-0.1407. populasi ikan batak dari tarutung bahorok memiliki jarak genetik paling dekat dengan nilai 0.1272 dan populasi ikan batak dari asahan dan aek sirambe memiliki jarak genetik paling jauh dengan nilai 0.3106 dari dendogram jarak genetik terlihat bahwa terjadi dua pengelompokan populasi , kelompok pertama terdiri dari populasi tarutung, bahorok dan asahan, dan kelompok kedua terdiri dari populasi sumedang dan Aek Sirambe Kata Kunci: ikan batak, Tor soro ,RAPD
POTENSI LAHAN UNTUK KOLAM IKAN DI KABUPATEN CIANJUR BERDASARKAN ANALISIS KESESUAIAN LAHAN MULTI KRITERIA Wuri Cahyaningrum; Widiatmaka Widiatmaka; Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.41 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.24-30

Abstract

Kabupaten Cianjur merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk pengembangan budidaya ikan air tawar. Sampai saat ini, proporsi terbesar dari total produksi ikan berasal dari Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata. Waduk Cirata saat ini sudah dan sedang mengalami penurunan kualitas sehingga mengurangi produksi ikan Kabupaten Cianjur. Oleh karena itu, diperlukan alternatif cara pemeliharaan ikan selain KJA. Salah satunya adalah kolam. Informasi mengenai wilayah yang berpotensi untuk lokasi budidaya ikan merupakan faktor penting dalam pengembangan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat kesesuaian lahan untuk kolam. Penentuan kesesuaian lahan dilakukan dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Evaluasi Multi-kriteria (Multi Criteria Evaluation, MCE). Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan lokasi yang sesuai untuk kolam seluas 86,511 ha (23.9% dari total luas wilayah). Hasil analisis terhadap lahan yang sesuai, lokasi yang tersedia seluas 74,062 ha (20.5%) dan yang tidak tersedia seluas 12,449 ha (3.44%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan lahan untuk kolam masih mungkin dilakukan di Kabupaten Cianju