Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Implementasi Dan Analisis Performansi Wireless Distribution System Pada Layanan Video Conference Rivaldi Fawzian; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi jaringan nirkabel (wireless) yang berkembang saat ini sangatlah pesat dan dibutuhkan. Dengan teknologi ini kita tidak perlu untuk menyambungkan kabel Ethernet ke perangkat kita untuk dapat terhubung ke suatu jaringan ataupun internet. Kebutuhan jaringan nirkabel (wireless) dapat dipengaruhi oleh semakin pesatnya pertumbuhan perangkat-perangkat yang praktis untuk dibawa oleh suatu individu. Kebutuhan manusia yang selalu ingin update akan perkembangan dunia sosial ataupun teknologi mengharuskan suatu individu untuk selali terhubung ke suatu jaringan internet. Terlebih dalam suatu perusahaan diharuskan karyawan untuk selalu terhubung dengan jaringan perusahaan tersebut untuk urusan pekerjaan. Seiring meningkatnya pertumbuhan dan kebutuhan jaringan nirkabel (wireless) menyebabkan perluasan area jaringan nirkabel (wireless) untuk suatu layanan agar tidak terputus-putus ketika kita harus berpindah area atau tempat. Oleh sebab itu, salah satu solusi untuk memperluas jaringan wireless adalah dengan menggunakan metode wireless distribution system. Wireless distribution system adalah sistem yang memungkinkan untuk interkoneksi antar Access Point (AP) sehingga jaringan wireless terbentuk mempunyai area yang luas. Pada tugas akhir ini, penulis akan memasang wireless distribution system dalam keadaan dynamic dimana akan memudahkan dalam membuat suatu jaringan yang luas. Namun jika dipasang dalam keadaan dynamic, jaringan wireless yang terbuat akan mudah terjadi looping. Maka dari itu penulis juga akan memasukkan metode Rapid Spanning Tree Protocol untuk mencegah looping paket yang akan terkirim. Sebuah perangkat Access Point (AP) belum tentu memiliki metode wireless distribution system. Pada topologi ini juga dibutuhkan bandwidth management agar dapat memaksimalkan bandwidth yang dibentuk. Pada wireless distribution system sebuah access point yang dijadikan root AP akan terhubung ke router atau server dengan kabel Ethernet. Penulis juga akan menggunakan router mikrotik untuk bandwidth management pada jaringan wireless yang akan dibuat Pada proposal tugas akhir ini akan diimplementasikan dan dianalisa dynamic wireless distribution system pada layanan video conference. Perancangan yang dilakukan adalah memodelkan 2 client yang akan melakukan video conference dengan menggunakan 1 server. Lalu membagi traffic ke access point station lalu di kirim ke access point lain dengan menggunakan metode wireless distribution system. Kemudian akan dilakukan analisa pada layanan video conference
Analisis Performansi Protokol Routing Aodv Dan Fsr Pada Vanet (studi Kasus: Skenario Jalan Raya) Goklas Giovanni Sitompul; Ridha Muldina Negara; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

VANET merupakan pengembangan dari jaringan MANET (Mobile Ad-hoc Network), namun dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Jaringan VANET memungkinkan kendaraan-kendaraan di jalan dapat berkomunikasi secara langsung dengan kendaraan lainnya dalam keadaan bergerak dan tanpa menggunakan infrastruktur yang tetap. Jaringan VANET diharapkan dapat meningkatkan tingkat keamanan berkendara dan mengurangi angka kecelakaan berkendara. Namun, VANET memiliki karakteristik jaringan dimana node-node jaringan tersebut bergerak dengan sangat cepat. Tugas Akhir ini bertujuan menganalisis performansi dua protokol berbasis topologi: Ad-hoc On-demand Distance Vector (AODV) dan Fisheye State Routing (FSR) pada VANET dengan studi kasus skenario jalan raya. Kedua protokol tersebut disimulasikan menggunakan Network Simulator 2 (NS-2) dengan skenario kecepatan dan kepadatan node. Kedua protokol tersebut dibandingkan dan ditinjau dari parameter packet delivery ratio, throughput, end-to-end delay, dan routing overhead. Dari tugas akhir ini diperoleh hasil bahwa kedua protokol memiliki keunggulan masing-masing. AODV unggul pada parameter packet delivery ratio dan throughput dengan rata-rata nilai 92.53% dan 7 kbps, sementara FSR 37.08% dan 2.99 kbps. Sementara FSR unggul pada parameter end-to-end delay dan routing overhead dengan nilai rata-rata 253.48 ms dan 33.89, sementara AODV 475.62 ms dan 91.15.
Analisis Kinerja Codec Layanan Voip Dan Video Call Pada Arsitektur Ip Multimedia Subsystem Rafif Taruna Ramadhan; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertumbuhan industri telekomunikasi yang berkembang begitu pesat, berawal dari sistem komunikasi konvensional yang dapat mengirimkan suara, kini telah berkembang hingga pengiriman pesan gambar bahkan video. Namun, masalah utama pada layanan multimedia secara real time pada jaringan berbasis packet-switched adalah tidak ada jaminan bandwidth yang tersedia ataupun delay ketika user melakukan panggilan. Selain kondisi dari trafik jaringan, salah satu yang berperan dalam kualitas layanan multimedia secara real time adalah codec, yang mana codec ini berperan dalam konversi dan kompresi sinyal input audio / video ke bentuk sinyal digital sehingga dapat ditransmisikan pada jaringan berbasis packet-switched. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis kinerja codec pada layanan VoIP dan video call dengan audio codec G.711 dan G.729 serta video codec H.264 dan VP8, di salah satu bagian arsitektur jaringan Next Generation Network ( NGN ) yaitu IP Multimedia Subsystem ( IMS ) Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, penggunaan codec G.729 pada layanan VoIP, mampu menghasilkan kualitas layanan yang setara dengan codec G.711, namun dengan throughput yang lebih rendah hingga 65.8%. Sedangkan pada layanan Video Call, codec H264 masih memperoleh QoS yang lebih rendah dibandingkan dengan codec VP8. Meskipun tidak terpaut jauh, hanya 6.2% pada delay, 4.6% pada jitter dan 1.6% pada throughput. Selain itu, penggunaan resolusi video VGA pada layanan Video Call menghasilkan delay dan jitter yang lebih rendah dibandingkan resolusi video HVGA, dengan timbal balik peningkatan ±50% pada throughputnya. Kata kunci : Codec, G.711, G.729, H.264, VP8, IMS Abstract The growth of the telecommunications industry is growing so rapidly, start from conventional communications systems that can transmit voice, has now grown to the delivery of picture and video messaging. However, a major problem in real time multimedia services on packet-switched networks is that there is no guarantee of available bandwidth or delay that occurs when the user calls. In addition to network traffic, one that plays a role in multimedia service quality in real time is the codec, which the codec plays a role in the conversion and compression of audio / video input signals to digital signals that can be transmitted on packet-switched networks. In this research we will analyze the performance of codec in VoIP and video call service with G.711 and G.729 audio codec, H.264 and VP8 video codec, in one part of Next Generation Network (NGN) named IP Multimedia Subsystem (IMS). Based on the results of the tests, in VoIP service G.729 codec capable of producing equivalent Quality of Service to G.711 codec, but with a lower throughput up to 65.8%. While on Video Call service, H264 codec still get lower QoS than VP8 codec. Although not far adrift, only 6.2% in delay, 4.6% on jitter and 1.6% on throughput. In addition, the use of VGA video resolution in Video Call service resulted in lower delay and jitter than HVGA video resolution, with a reciprocal ± 50% increase in throughput. Keywords : Codec, G.711, G.729, H.264, VP8, IMS
Analisis Performasi Framework Codeigniter Dan Laravel Menggunakan Web Server Apache Ruli Erinton; Ridha Muldina Negara; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk membangun sebuah website dibutuhkan sebuah framework, yang dapat membantu pembangunan dan pengembangan website itu sendiri sehingga developer tidak perlu membangun sebuah website dari awal lagi jika ingin memperbarui fitur-fitur pada website yang sudah ada sehingga sumberdaya yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Saat ini terdapat lebih dari satu jenis framework yang dapat digunakan sebagai tool untuk membuat website , Untuk itu dilakukan analisis performasi anatar dua framework, yang kemudian hasil analisis dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi developer untuk pemilihan framework dari sisi performasinya. Framework adalah sekumpulan fungsi, class, dan aturan-aturan. Berbeda dengan library yang sifatnya untuk tujuan tertentu saja, framework bersifat menyeluruh mengatur bagaimana kita membangun aplikasi. Framework memungkinkan kita membangun aplikasi dengan lebih cepat karena sebagai developer kita akan lebih memfokuskan pada pokok pemasalahan. aplikasi web yang menggunakan framework CodeIgniter lebih baik dari sisi perfomasinya dibandingkan dengan aplikasi web yang menggunakan framewrok Laravel. nilai time pada CodeIgniter 150,5 ms lebih rendah dibnadingkan nilai time pada Laravel 254,5 ms. Nilai error terting didapat pad Laravel 79,7. Pada parameter QoS nilai throughput tertinggi 6,227 Mbps, packet loss 0%, retransmission terendah 1, delay terendah 91,46 dengan klasifikasi sangat baik berdasarkan standar ITU-T.Kata kunci : Performasi, Analisis, Framework CodeIgniter, Framework Laravel, Web Server Apache.
Integrasi Intrusion Prevention System Dan Analisa Performansi Pada Software Defined Network Pande Putu Kika Adi Saputra; Ridha Muldina Negara Negara; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Software Defined Network merupakan sebuah arsitektur jaringan yang memisahkan fungsi controlling dan fungsi forwarding sebuah perangkat jaringan, intinya adalah sentralisasi jaringan. Namun konsep jaringan yang tersentralisasi memiliki kelemahan dari segi keamanan control plane. Pada Tugas Akhir ini bertujuan menerapkan dan menganalisa pengaruh mekanisme keamanan dari segi performansi menggunakan Intrusion Prevention System (IPS) yang memiliki keunggulan dengan adanya mekanisme pemblokiran paket sebagai fungsi preventif. Pada penelitian ini telah dilakukan integrasi IPS pada jaringan SDN serta melakukan pengujian dan pengukuran terhadap pengaruh yang ditimbulkan dari segi performansi jaringan. Parameter yang digunakan adalah QoS antara lain delay, jitter, throughput, serta packet loss ratio. Selain itu juga dilakukan pengujian untuk mengukur batas ketahanan IDS Snort terhadap serangan dalam jumlah banyak. Dari pengujian yang telah dilakukan, jaringan SDN yang terintegrasi IPS dilihat dari hasil pengujian performansi parameter QoS cenderung lebih stabil, karena mampu memblokir paket serangan sehingga meminimalisir terjadinya penurunan performansi akibat adanya paket serangan yang masuk ketika pengiriman paket layanan. Selain itu kemampuan IPS dalam menganalisa paket yang masuk mengalami penurunan ketika jumlah paket serangan memasuki 9.000 paket/s. Kata Kunci: Software Defined Network (SDN), Intrusion Prevention System (IPS), Snort, Performansi, Ryu Abstract Software Defined Network is a network architecture that separates the functions of controlling and forwarding function of a network device, essentially is network centralization. However, the concept of a centralized network has a weakness in terms of security control plane. In this Final Project aims to apply and analyze the influence of security mechanisms in terms of performance using Intrusion Prevention System (IPS) which has advantages in the presence of packet blocking mechanism as a preventive function. In this study integration of IPS on the SDN network has been conducted and testing and measuring the effects caused in terms of network performance. The parameters used are QoS including delay, jitter, throughput, and packet loss ratio. In addition, testing is also done to measure the limits of IDS Snort resistance to attacks in large quantities. From the tests that have been done, SDN Network integrated with IPS is able to block the attack packets sent simultaneously with the service pack of video stream and VoIP. SDN network integrated with IPS seen from the results of QoS parameter performance testing tend to be more stable, because it is able to block the attack packets to minimize the decrease in performance due to the incoming packet attacks when the delivery of service packets.. In addition, the ability of IPS in analyzing incoming packets decreased when the number of attack packets entered 9,000 packets / s. Keywords: Software Defined Network (SDN), Intrusion Prevention System (IPS), Snort, Performance, Ryu
Desain Dan Implementasi Detektor Pencemaran Air Sungai Menggunakan Wireless Sensor Network AR. Margans Tanjung; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air merupakan kebutuhan paling dasar bagi manusia dan menjadi sumber penghidupan bagi manusia. Kurangnya kesadaran manusia untuk menjaga kualitas air, menyebabkan air menjadi tercemar. Penyebab tercemarnya air adalah budaya membuang sampah dan pembuangan limbah ke sungai ataupun laut. Pencemaran air menyebabkan matinya ekosistem yang ada di air. Dampak pencemaran air contohnya keracunan dan penyakit kulit. Karena itu pemanfaatan Wireless Sensor Network (WSN) sangat dibutuhkan untuk monitoring pencemaran air. Dengan menggunakan sensor node, koordinator, dan monitoring melalui aplikasi smartphone diharapkan dapat mengatasi pencemaran air, karena dapat diketahui dengan cepat sebelum air yang terindikasi pencemaran digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup mereka. Sehingga tidak terdapat korban ataupun kerugian yang ditimbulkan akibat air yang tercemar. Abstrack Water is the most basic need for human beings and a source of livelihood for humans. Lack of human consciousness to maintain water quality, causing water to become polluted. The cause of contaminated water is the culture of disposing of waste and disposal of waste into rivers or the sea. Water pollution causes the death of ecosystems in the water. Impact of water pollution for example poisoning and skin diseases. Therefore, the utilization of Wireless Sensor Network (WSN) is needed for monitoring water pollution. Using node sensors, coordinators, and monitoring through smartphone applications is expected to address water pollution, since it can be quickly identified before the water indicated by pollution is used by the community for their livelihood needs. So there are no casualties or losses caused by polluted water.
Analisis Performansi Qos Inter Autonomous System Mpls-vpn Back-to-back Vrf Pada Layanan Ims Sabrina Chairunnisa; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat, kebutuhan akan layanan multimedia berbasis IP pun semakin tinggi. Lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Perkembangan teknologi internet juga telah membuktikan bahwa jaringan internet yang terpisah harus dapat dibangun dan dihubungkan satu sama lainnya sehingga user atau pelanggan dapat mengirim dan menerima traffic tanpa harus memikirkan bahwa beberapa provider terlibat dalam transportasi pengiriman paket data. Salah satu teknologi yang mendukung hal tersebut adalah teknologi Inter AS Multi Protocol Label Switching (MPLS) dengan fitur VPN (Virtual Private Network). Pada Tugas AKhir ini, telah dilakukan pengujian performansi kualitas layanan IMS yang dijalankan pada jaringan backbone berbasis Inter AS MPLS VPN background traffic 0, 1, 5, 10, 20 Mbps. Hasil pengujian menunjukan nilai throughput berbanding terbalik dengan besarnya nilai background traffic. Nilai throughput pada layanan VoIP menurur dari nilai sebesar s.d 0,08576 Mbps s.d. 0,06265 Mbps dan menurun sebesar 0,6802 Mbps s.d 0,5806 Mbps pada layanan video call. Pada kedua layanan didapatkan nilai jitter rata- rata << 1 ms dan delay < 150 ms. Dan didapatkan nilai packet loss dari kedua layanan pada kedua metode masuk kedalam kategori layak untuk background traffic 0 Mbps , 1 Mbps , dan 5 Mbps. Kata kunci : Kamailio, SIP, NGN, IMS, VoIP, Video Call, QoS Abstract Nowadays, the advancement of information and communication technology is increasing rapidly, where the need for IP-based multimedia services is even higher. More than half the population of Indonesia has now connected to the internet. The development of internet technology has also proven that separate internet networks must be built and connected to each other so that users or customers can send and receive traffic without having to think that some providers are involved in transporting packet data delivery. One of the technologies that support it is Inter AS Multi Protocol Label Switching (MPLS) technology with VPN (Virtual Private Network) feature. At the end of this task, performance testing of IMS service quality has been performed on InterAS MPLS VPN backbone with the variable of background traffic 0, 1, 5, 10, 20 Mbps. The test results show the throughput value is inversely proportional to the value of the background traffic. The throughput value of VoIP services decreases from a value of s. 0.08576 Mbps s.d. 0.06265 Mbps and decreased by 0.6802 Mbps s.d 0.5806 Mbps in video call services. In both services, the average jitter value is << 1 ms and the delay is <150 ms. And obtained packet loss value from both services in both methods entered into a feasible category for 0 Mbps, 1 Mbps and 5 Mbps background traffic.Keywords : Kamailio, SIP, NGN, IMS, VoIP, Video Call, QoS
Implementasi Dan Analisis Computer Clustering System Dengan Menggunakan Virtualisasi Docker Tanjung Perdana Kusuma; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komputasi terdistribusi menjadi suatu kebutuhan dalam implementasi aplikasi web saat ini. Efisiensi penggunaan sumber daya perangkat keras dan tingginya pengguna aplikasi web menjadi pendorong implementasi sistem ini di arsitektur-arsitektur aplikasi web sekarang, namun kompleksnya penggunaan, dan perancangan sistem ini menjadi penghalang implementasinya. Teknologi virtualisasi container menjadi solusi untuk menjalankan sistem terdistribusi yang mudah dijalankan, dikonfigurasi dan mempunyai skalabilitas tinggi. Ditambah banyaknya alat-alat menjalankan container pada sistem terdistribusi, menjawab masalah kompleksitas implementasi sistem terdistribusi pada aplikasi web. Pada tulisan ini diimplementasikan sistem terdistribusi yang dapat dengan cepat menjadwalkan aplikasi baru dalam suatu cluster, semua oprasi dilakukan dengan zero downtime, serta fault tolerance.Kata Kunci : distributed computing, container virtualization, clustering, docker, docker swarm.
Implementasi Dan Analisis Performansi Platform As A Service Untuk Api Gateway Menggunakan Kong Risang Suryadi Saputra; Rendy Munadi; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Untuk memanajemen banyaknya API atau server pada sebuah instansi dibutuhkan suatu sistem yang dapat memanajemen API tersebut agar dapat terhubung dengan client atau konsumen tanpa perlu memikirkan infrastruktur dan mempermudah dalam mengakses data pada api tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem yang dapat memenejemen atau mengontrol API yang ada pada sebuah sistem adalah API gateway. API gateway adalah sebuah sistem yang digunakan sebagai pengatur atau mengontrol API yang ada pada sebuah server, API gateway dapat memanajemen API sehingga API dapat terdistribusikan lebih optimal. Pada tugas akhir ini telah diimplementasikan dan dianalisa sistem API gateway berbasis cloud computing dengan munggunakan platform as a service (PaaS). Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kinerja sistem API gateway lebih baik pada jaringan intranet dibandingkan dengan jaringan internet, karena beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengujian dari jaringan internet yaitu topologi yang ada pada jaringan dan kecepatan transmisi yang digunakan. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka didapatkan nilai rata-rata dari beberapa parameter yaitu: response time 5.17 sec, data transaction 4288 hit, data transferred 351 MB dan availability 100%. Kata kunci: Cloud Computing, API gateway, Server,PaaS ABSTRACT To manage how many APIs or servers in an agency, a system is required for managing APIs to connect with clients or consumers without the need to think about infrastructure and make data accessing easier. Therefore, it takes a system that can manage or control the API that exist in a system. API Gateway is a system used as a controller on an existing API on a server. API Gateway can manage the API so that API can be distributed more optimally. In this final project, API Gateway will be implemented and analyzed with cloud gateway-based cloud computing system using Platform as a Service (PaaS). From the results of research, it has been known that the performance of API Gateway system is better on the Intranet network that is compared with the Internet network, because there are several factors that affect the test results of the Internet network which is the topology that exists on the network and transmission speed that had been used. Based on the results of tests, the average value of some parameters are: response time 5.17 sec, data transaction 4288 hit, data transferred 351 MB and availability 100%. Keywords: Cloud Computing, API gateway, Server,PaaS
Implementasi Web Server Cluster Menggunakan Metode Load Balancing Pada Container Docker, Lxc, Dan Lxd Rivaldy Arif Pratama; Ratna Mayasari; Danu Dwi Sanjoyo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Load balancing merupakan salah satu metode pada cluster computing yang dapat digunakan untuk meningkatkan skalabilitas serta mengurangi beban kerja sebuah server dengan cara mendistribusikan beban trafik ke beberapa server cluster secara seimbang agar trafik dapat berjalan dengan optimal, sehingga tidak menyebabkan server tersebut kelebihan beban (overload) atau bahkan down. Dalam penerapannya, teknologi virtualisasi berbasis container dapat digunakan untuk mengimplementasikan load balancing dengan memanfaatkan HAProxy sebagai load balancer. Container merupakan sebuah teknologi virtualisasi yang dapat memungkinkan program yang berjalan didalamnya berhubungan langsung dengan linux kernel pada host operating system. Tidak seperti Virtual Machine, container tidak menggunakan hardware untuk virtualisasi. Pada beberapa penelitian, container dipercaya sebagai platform yang ringan dibanding hypervisor, sehingga menjadi alasan yang tepat dan memungkinkan untuk melakukan proses load balancing pada container dalam tugas akhir ini. Tugas akhir ini akan diimplementasikan sistem load balancing yang dijalankan diatas tiga container yaitu Docker, LXC, dan LXD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dari ketiga container tersebut dari sisi layanan web server dan resource utilization pada saat server menggunakan load balancing dan tidak menggunakan load balancing (single server). Dari hasil pengujian yang dilakukan diketahui bahwa kinerja server yang menggunakan load balancing memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan single server. Pada penelitian ini juga diketahui bahwa Docker menunjukkan hasil performansi yang lebih baik pada parameter throughput, response time, dan request per second. Sedangkan LXC menunjukkan hasil yang lebih baik pada parameter request loss dan CPU utilization. Dari segi fairness, algoritma Round Robin lebih fair dibanding Least Connection dengan nilai fairness index mencapai 1. Kata kunci : Load Balancing, Cluster Computing, Container, Docker, LXC, LXD Abstract Load balancing is a method in cluster computing that can be used to increase the scalability and decrease the server workloads by distributing traffic load to several clusters of server in equals, in order that the traffic can run optimally, so that it doesn't cause the server becomes overload or down. In it's implementation, the container-based virtualization can be used to implement the load balancing by using HAProxy image as the load balancer. Container is the virtualization technology that allows the program run directly connects with linux kernel in host operating system. Different from Virtual Machine, container doesn't use hardware to virtualize. In some researches, it's believed that container is more lightweight than hypervisor, so that it allowed to process load balancing on the container in this final project. This final project will implement load balancing system that are run on three containers, those are Docker, LXC, and LXD. This research is to know the performance from those three containers from web server services side and resource utilization when server are using load balancing and not (single server). From the research, we know that the performance of server using load balancing had better result than the single server. In this final project we also got that Docker showed better performance on throughput, response time, and request per second. While LXC showed better result on request loss and CPU utilization parameters. In terms of fairness, Round Robin algorithm is more fair than Least Connection with the fairness index is 1. Keywords : Load Balancing, Cluster Computing, Container, Docker, LXC, LXD