Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Konsumsi Daya Pada Splitter Untuk Jaringan Optical Next Generation Taufik Abdurrahman; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan akan data rate yang tinggi semakin meningkat dalam jaringan telekomunikasi untuk dapat melayani aplikasi high bandwidth yang memuaskan. Dengan meningkatkan kebutuhan data rate, isu konsumsi daya membutuhkan solusi untuk energy efficiency. Energy efficiency telah menjadi aspek yang sangat penting dalam network design karena meningkatnya konsumsi energi pada saat transmisi berkaitan dengan perfomansi dari sistem. Evolusi teknologi Gigabit Passive Optical Network (GPON) ke Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NGPON2) merupakan langkah dalam memberikan layanan yang lebih baik karena mampu memberikan peningkatan bandwidth dan quality of service (QOS) untuk layanan konektifitas best-effort high speed dengan lebih banyak split ratio dan jangkauan yang lebih jauh. Dalam penelitian ini akan merancang dan mensimulasikan jaringan Bidirectional NGPON2 dengan teknik TWDM yang memiliki total bitrate 40 Gbps untuk downstream dan 10 Gbps untuk upstream dengan menggunakan kombinasi passive splitter 3 stage pada jarak 30 km. Pendekatan untuk mendapatkan hasil menggunakan perhitungan link power budget, BER dan Q-Factor serta mengacu kepada standar ITU-T.
Perancangan Jaringan Fiber To The Building (fttb) Dengan Menggunakan Teknologi Berbasis Gpon Di Mall Cihampelas Walk Andika Putra Ramadhan; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PON (Passive Optical Network) merupakan teknologi baru yang telah menggantikan teknologi sebelumnya yaitu narrow band dan broadband.Teknologi GPON memiliki bit rate sebesar 2,5 Gbps untuk arah downstream dan 1,25 Gbps untuk arah upstream. Dalam Tugas Akhir ini telah dilakukan perancangan jaringan Fiber To The Building (FTTB) yang diaplikasikan pada bangunan di Mall Cihampelas Walk. Dengan jarak terjauh sebesar 2,6782 km dan menggunakan splitter 1:4 dan 1:8. Penentuan uji kelayakan dilakukan dengan menghitung parameter kelayakan. Hasil yang didapat dari perhitungan empiris dan simulasi, maka diperoleh LPB terbaik pada jarak terjauh dengan titik ODCB 1 sebesar –17,4 dBm untuk arah downstream, -22,467 dBm untuk arah upstream, dan pada simulasi sebesar -16,919 dBm pada arah downstream, dan -19,475 dBm pada arah upstream. Untuk Q-Factor diperoleh perhitungan empiris sebesar 20,53 dan simulasi sebesar 13,63, untuk arah upstream sebesar 15, 37 dan simulasi sebesar 7,74. BER dengan arah downstream mendapat 1,1 x 10−59 untuk perhitungan empiris dan 1,1 x 10−42 dari simulasi, sementara pada arah upstream diperoleh 2,2 x 10−42 pada perhitungan empiris, dan 4,94 x 10−15 pada simulasi. Kata kunci : GPON, FTTB, LPB, RTB, BER Abstract PON (Passive Optical Network) is a new technology that has replaced the previous technology that is narrow band and broadband. GPON technology has a bit rate of 2.5 Gbps for downstream direction and 1.25 Gbps for upstream direction. In this Final Project has been done the design of Fiber To The Building (FTTB) network that is applied to the building at Mall Cihampelas Walk. With the furthest distance of 2.6782 km and use the splitter 1: 4 and 1: 8. Determination of feasibility test is done by calculating the feasibility parameter. Results obtained from empirical and simulation calculations, then obtained the best LPB at the furthest distance with ODC-B 1 point of -17.4 dBm for downstream direction, -22.467 dBm for upstream direction, and at -16.919 dBm simulation in the downstream direction, and -19.475 dBm in the upstream direction. For Q-Factor obtained empirical calculation 20,53 and simulation equal to 13,63, for upstream direction equal to 15, 37 and simulation equal to 7,74. BER with downstream direction gets 1.1 x for empirical calculations and 1.1 x from simulation, while in upstream direction it is obtained 2.2 x on empirical calculation, and 4.94 x in simulation. Keywords: GPON, FTTB, LPB, RTB, BER
Analisis Simulasi Sistem Ng-pon2 Dengan Konsep Olt Tx Dan Rx Menggunakan Semiconductor Optical Amplifier (soa) Najib Asqolani Akbar; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan bandwidth merupakan salah satu permasalahan pada teknologi GPON. Pengembangan teknologi ini terus dilakukan hingga ditemukannya teknologi NG-PON2. NG-PON2 merupakan teknologi yang menggunakan Time and Wavelength Division Multiplexing (TWDM) sebagai solusi utamanya karena mampu meningkatkan bandwidth hingga 40 Gbps. Pada Tugas Akhir ini, dilakukan perancangan dan simulasi jaringan bidirectional menggunakan penguat SOA. Digunakannya empat stacking Optical Line Termination (OLT). Bitrate yang digunakan adalah 10 Gbps untuk downstream dan 2,5 Gbps untuk upstream. Jenis penempatan penguat SOA adalah booster amplifier pada arah downstream dan pre-amplifier pada arah upstream.Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan bahwa semua nilai parameter performansi berada pada standarnya masing-masing setelah digunakan penguat SOA yaitu pada -28 dBm sampai dengan -7 dBm. Pengaruh pada Power Received adalah meningkakan nilai Power Received yang tanpa menggunakan penguat pada tiap panjang link yang digunakan. Sedangkan pengaruh pada OSNR adalah adanya ketidaklinieran penguatan daya sinyal dan daya noise pada arah downstream yang membuat menurunnya nilai OSNR setelah digunakannya penguat, walaupun masih berada diatas standar OSNR yaitu minimal 30 dBm. Sedangkan pengaruh pada nilai Q-Factor meningkatkan Q-Factor secara efektif yaitu di atas nilai 6 yang membuat nilai Q-Factor dari tiap kanal dinyatakan ideal untuk dijadikan link komunikasi. Sedangkan pengaruh pada nilai BER adalah sama seperti Q -Factor, yang membuat peningkatan dan mengangkat nilainya menjadi di atas standar untuk NG-PON2 yaitu 10-9 karena nilai BER mengikuti nilai Q-Factor-nya. Jarak terjauh yang dapat digunakan setelah menggunakan penguatSOA adalah 65 km.
Perbandingan Performansi Antara Photodetector Pin Dan Apd Pada Sistem Jaringan Twdm-pon Maulana Pragnya Ghita; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut The Full Service Access Netwrok (FSAN), Time and Wavelength Division Multiplexing(TWDM) dipilih sebagai solusi menuju teknologi Next Generation Passive Optical Network (NG-PON). Pada penelitian ini dilakukan simulasi serta analisis perbandingan performansi antara penggunaan photodetector PIN dan APD pada receiver jaringan TWDM-PON menggunakan software simulator optik. Pembahasan akan mengulas kelayakan jenis photodetector pada konfigurasi sistem TWDM-PON. Pengukuran terhadap kelayakan jaringan TWDM-PON dilakukan dengan merubah parameter panjang link yaitu 40, 50, dan 60 km serta jumlah user yaitu 128, 256, dan 512 ONU. Analisis didekati dengan perhitungan Q Factor dan BER. Hasil simulasi dan perhitungan yang telah dilakukan didapatkan bahwa photodetector PIN dan APD menghasilkan performansi yang baik pada jaringan, 128, 256, dan 512 user. Jaringan 128, 256 dan 512 user memilki performansi yang baik dengan maksimum Q Factor berturut-turut sebesar 34.805, 28.948, 29.885 dan minimum BER berturut-turut sebesar 8.49E-266, 1.23E-184, dan 41E-196.
Analisis Karakteristik Hybrid Optical Amplifier (fiber Raman Amplifier - Erbium Doped Fiber Amplifier) Dengan Konfigurasi Parallel In-line Pada Sistem Long Haul Ultra-dense Wavelength Division Multiplexing Tiara Fadila; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi optik berkembang dengan pesat pada masa sekarang ini, sehingga kebutuhan bandwidth aplikasi broadband meningkat. Sistem berbasis WDM digunakan untuk memanfaatkan bandwidth secara efisien. Penggunaan Hybrid Optical Amplifier (HOA) diusulkan untuk mengoptimalkan penerapan sistem berbasis WDM dalam memenuhi kebutuhan gain bandwidth yang lebar serta gain flatness, sehingga mampu menangani jaringan dengan beban yang besar pada jarak yang jauh. HOA FRA-EDFA merupakan kombinasi penguat hybrid yang mampu memberikan gain dengan bandwidth yang lebar dengan memanfaatkan kelebihan karakteristik dari masing-masing penguat dan menutupi kerugian yang ada. Dari hasil simulasi, konfigurasi penguat hybrid tersebut mampu memberikan performansi yang lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan satu penguat (FRA atau EDFA). Dengan optimasi Gain Flattening Filter, konfigurasi penguat hybrid FRA-EDFA parallel in-line, memberikan gain flatness dengan nilai rata-rata sebesar 28.94 dB dan bandwidth gain sebesar 96 nm pada rentang panjang gelombang 1529.5 – 1625.5 nm. Hasil simulasi uji performansi penguat hybrid dengan konfigurasi ini pada sistem long haul U-DWDM dapat memberikan performansi yang baik dengan jarak maksimal 210 km. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Q factor terendah pada jarak tersebut sebesar 6.10417 dan BER 5.08E-10 pada kanal ke-70 dari 80 kanal yang digunakan.
Perbandingan Performansi Agregasi Jaringan 40g Dan 80g Pada Teknologi Ng-pon2 Dengan Variasi Jarak Fauzan Munggara; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan data rate yang meningkat dalam jaringan telekomunikasi membuat keadaan saat ini terus menerus dilakukan pengembangan dan penelitian terhadap teknologi-teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) merupakan salah satu evolusi dari teknologi Passive Optical Network (PON) yang nantinya akan menjadi pengisi dari kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Hasil simulasi pada penelitian ini ialah dengan didapatkan performansi terbaik dengan jarak maksimum yang dapat ditempuh oleh tiap ONU yang ada dengan kombinasi passive splitter 3 stage terbaik pada dua kanal berbeda. Pada kanal pertama untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.56 dBm ,QFactor = 9,66 dan BER = 3,72 x 10-21 dan arah upstream pada jarak 20 km dengan hasil Received Power=-25,21 dBm, Q-Factor = 6,3 dan BER = 6,25 x 10-10. Kemudian pada kanal kedua untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.445 dBm , Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20 dan arah upstream dengan hasil Received Power=-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 dan BER = 4,95 x10-11 . Kata Kunci : NG-PON2, Performansi, TWDM. Abstract The need for increasing data rate and the more it increased in telecommunication networks makes the current state continuously in development and research on technologies which can meet those needs. The result of the simulation is getting the best performance with maksimum distance which can reach by each ONU using the best 3-stage passive splitter combination at two different channnel. On the first channel for 64 ONU downstream direction at 20 km the result is Received Power =-21.56 dBm, Q-Factor = 9,66 and BER = 3,72 x 10-21 and upstream direction with result is Received Power =-21,445 dBm, Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20. Next on the second channel for 64 ONU downstream direction at 25 km the result is Received Power=-25,04dBm , Q-Factor = 7,83 dan BER = 1,17 x 10-13and upstream direction with result is Received Power =-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 and BER = 4,95 x 10-11 . Key Words : NG-PON2, Performance, TWDM
Simulasi Sistem Twdm-pon Menggunakan Hybrid Optical Amplifier Pada Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon 2) Eka Yunita Dian Pratiwi; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Next-Generation Passive Optical Network 2 (NG-PON 2), merupakan teknologi terbaru untuk mengatasi permasalahan keterbatasan bandwidth pada teknologi Passive Optical Network (PON) saat ini. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan evaluasi performansi jaringan NG-PON 2 dengan metode perubahan bit rate 40 Gbps dan 80 Gbps menggunakan 4 dan 8 kanal TWDM dengan masing-masing kanal mempunyai bit rate 10 Gbps untuk downstream maupun upstream. Sistem tersebut memiliki jarak transmisi dari 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 km dengan jumlah 64, 128 dan 256 Optical Network Unit (ONU). Sistem ini menggunakan hybrid optical amplifier (HOA) sebagai booster amplifier dan EDFA sebagai pre-amplifier. Simulasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh performansi pada NG-PON 2 apabila dilakukan perubahan bit rate, jarak transmisi dan jumlah ONU terhadap pengaruh Bit Error Rate (BER) di sisi user dengan skenario tanpa penguat dan skenario menggunakan penambahan penguat. Berdasarkan hasil simulasi, performansi sistem terbaik adalah menggunakan penguat yaitu dengan bit rate 40 Gbps dengan jumlah 64 ONU dapat mencapai jarak maksimal 60 km. Nilai Q factor terbaik didapatkan pada jarak 10 km sebesar 23,66 downstream 21,85 upstream , BER 3,86×10-124 downstream dan BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream dan -7,10 dBm upstream, dengan gain HOA sebesar 16,54 dB dan gain EDFA sebesar 6,31 dB. Penambahan penguat hybrid optical amplifier sebagi booster dan EDFA sebagai preamplifier telah memberikan performansi yang lebih baik dengan semakin banyaknya user dan semakin panjang jarak transmisi sehingga nilai BER mendekati ≤10-9 . Kata kunci : : NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA Abstract Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON 2), is the latest technology to help solve the problem of bandwidth resource on Passive Optical Network (PON) today. This research simulate and evaluation the performance of bidirectional NG-PON 2 with 40 Gb/s, and 80 Gb/s bit rate method changes using 4 and 8 TWDM channels with each channel has a 10 Gbps for downstream and upstream. This system has 10, 20, 30, 40 and 50 km transmission distance with the number 64, 128 and 256 Units of Network Optics (ONU).This system uses hybrid optical amplifier (HOA) as booster amplifier and EDFA as a pre-amplifier. The simulation is performed to find out the performance on NG-PON 2, bit rate, transmission distance and number of ONU on the influence of Bit Error Level (BER) on the user side with scenarios without amplifier and scenario using additional amplifier. Based on the simulation results, the best system performance is using amplifier that is with bit rate 40 Gbps with amount of 64 ONU can reach maximum distance 60 km. The best Q factor value obtained in 10 km the value is 23,66 downstream 21,85 upstream, BER 3,86×10-124 downstream and BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream and -7,10 dBm upstream with Gain HOA 16,54 dB and an EDFA gain 6,31. The addition of a hybrid optical amplifier amplifier as a booster and EDFA as a preamplifier has provided better performance with more users and the longer the transmission distance so that the BER value is close to ≤10-9. Keywords: NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA
Modualtor Full Duplex Pada Sistem Radio Over Fiber Dengan Metode Ofdm Muhammad Fajar Nugraha; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Radio over fiber (ROF) merupakan suatu proses pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Dengan menggunakan kabel serat optik, maka kualitas sinyal suara yang ditransmisikan tetap bagus atau dapat dikatakan gangguan yang timbul selama proses transmisi kecil, sehingga sinyal yang dibawanya tetap bagus. Orthogonal Frequency Division (OFDM) merupakan teknik modulasi multi-carrier di jaringan nirkabel, OFDM memiliki skema single-carrier untuk mengatasi kondisi saluran tanpa filter dengan pemerataan yang kompleks. Pada tugas akhir ini dilakukan pengumpulan data, setelah melakukan pengumpulan data maka tentukan spesifikasi perangkat berupa modulator optik dan tetapkan parameter yang akan digunakan. Langkah selanjutnya lakukan Simulasi dengan beberapa skenario menyesuaikan berapa banyak perangkat modulator yang telah ditentukan, setelah dilakukan lakukan anlisis pada simulasi yang telah dilakukan maka setiap skenario akan menghasilkan nilai parameter yang berbeda karena spesifikasi setiap perangkat berbeda, jika simulasi dan keluaran parameter tidak sesuai dengan parameter yang di tetapkan maka dilakukan pergantian perangkat hingga parameter dapat terpeuhi. Perhitungan dan Simulasi yang telah dilkukan pada Sistem ROF dengan metode OFDM berbasis full duplex pada Modulator Optik mampu bekerja pada RF band 5 Ghz dan bit rate 1 Ghz pada modulator MZM, EAM, AM, dan PM. Dengan nilai Q Factor yang hanya memenuhi standar ITU-T yaitu MZM dengan nilai 8.97 pada perancanaan dan 6.891 pada simulasi serta nilai BER 2.38 𝑥 10−12 dan 2.74 𝑥 10−12 pada simulasi. Kata kunci: OFDM, ROF, Q-Factor, Bandwidth, LPB, RTB ABSTRACT Radio over fiber (ROF) is a process of sending radio signals through fiber optic cables. Using a fiber optic cable, the quality of the transmitted voice signal remains good or can be said disturbance arising during the transmission process is small, so the signal is still good. Orthogonal Frequency Division (OFDM) is a multicarrier modulation technique in wireless networks, OFDM has a single-carrier scheme to address unfiltered channel conditions with complex equalization. In this final project conducted data collection, after collecting the data then specify the device specifications in the form of optical modulator and set parameters to be used. The next step is to do the simulation with some scenarios to adjust how many modulator devices have been determined, after done anlisis on the simulation that has been done then each scenario will produce different parameter values because the specifications of each device is different, if the simulation and output parameters are not in accordance with the parameters in the set then made the turn of the device until the parameters can be fulfilled. Calculations and Simulations have been performed on ROF system with full duplex-based OFDM method in Optical Modulator able to work on RF band 5 Ghz and 1 Ghz bit rate on modulator MZM, EAM, AM, and PM. With Q Factor value which only meets ITU-T standard that is MZM with value 8,97 in perancanaan and 6,891 at simulation and value BER 𝟐. 𝟑𝟖 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 and 𝟐. 𝟕𝟒 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 in simulation. Keywords: Audio Watermarking, Fast Fourier Transform, Singular Decomposition Value
Pengaruh Kabel Dispersion Compensating Fiber (dcf) Terhadap Performansi Link Sistem Komunikasi Optik Longhaul Dengan Berbagai Skema Jarak Achmad Wildan Almaiz; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini dengan bertambahnya kapasitas pengguna internet, data rate dengan kapasitas tinggi menjadi suatu kebutuhan, oleh karena itu desain fiber optik komunikasi jarak jauh dengan bitrate tinggi diperlukan. Tetapi, data rate dengan kapasitas tinggi memiliki kekurangan, dispersi adalah masalah untuk sistem ini. Maka dari itu, dengan menggunakan dispersion compensating fiber (DCF) diharapkan dapat mengoptimalisasikan rancangan fiber optik pada frekuensi tersebut, terutama dari masalah dispersi yang dapat dioptimalisasikan untuk receivingend. DCF adalah salah satu metode baik yang digunakan untuk menangani maslah dispersi, karena memiliki keunggulan diatantaranya bandwidth yang lebar, BER yang baik, stabilitas, sensitivitas yang bagus terhadap temperature[2]. Penggunaan DCF pada tugas akhir ini diterapkan pada Single mode fiber (SM). Dengan jarak hingga 1000km (long haul) dan datarate pada 10 Gbps sebagai pembanding. Skema yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama yaitu simulasi tanpa DCF, dimana SM dipasang pada jarak longhaul tanpa DCF. Lalu simulasi dengan DCF dimana terdapat 3 skema berbeda yaitu SM dengan DCF, SM dengan DCF yang dirancang secara simetris, dan yang terakhir SM dengan DCF yang dipasang secara paralel, ke tiga skema tersebut didukung dengan penguat Erbium Doped Fiber Amplifier(EDFA). Pada akhir penelitian dengan bit rate 10 Gbps , skema tanpa DCF menghasilkan dispersi yang sangat besar dengan nilai Q factor maksimal berada pada jarak 100 Km, dengan nilai 8 dan BER bernilai 4.883 e -016. Skema post compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.6 dan BER bernilai 1.011 e -011 pada jarak 400 km. Skema pre compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 7.4 dan BER bernilai 5.9 e -014pada jarak 600 km Skema mix compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.9 dan BER bernilai 1.8 e -012 pada jarak 600 km Skema paralel compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 8 dan BER bernilai 1.16 e -06 pada jarak 400 km.Kata Kunci : DCF, BER , Q factor ,EDFA
Performansi Digitized Radio-over-fiber (d-rof) Pada Jaringan 40g Wdm-pon Sisi Downstream Zulfikar Sandy Pratama; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada Radio-over-Fiber (RoF) yang mentransmisikan sinyal radio analog masih terdapat beberapa masalah diantaranya distorsi inter-modulasi (IMD) yang disebabkan oleh factor nonlinearitas dari gelombang mikro dan komponen optik. Bit rate yang tinggi menyebabkan informasi yang ditransmisikan rentan terhadap inter-symbol interference (ISI) dan dispersi pada serat optik. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengkonversi sinyal analog menjadi sinyal digital, atau yang disebut digitalisasi, dan mengkompensasi dispersi dengan Dispersion Compensating Fiber (DCF). Pada penelitian ini, dilakukan analisis terhadap performansi Digitized Radio-over-Fiber berdasarkan BER, Q-Factor, dan daya yang disimulasikan dengan program simulasi Optisystem lalu dibandingkan dengan Analog Radio-over-Fiber yang kedua sistem tersebut diintegrasikan dengan jaringan WDM-PON dengan bit rate akumulasi 40 Gbps. Hasil simulasi menunjukkan Analog RoF mempunyai Q-Factor 16,26; 14,03; 8,92 dan Digitized RoF mempunyai Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; pada jarak transmisi 40 km, 60 km, dan 80 km. Kata kunci : Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G ABSTRACT Radio-over-Fiber technology that transmitted analog radio signal still experienced some problems including inter-modulation distortion (IMD) caused by nonlinearity factor from microwave and optical component. High bit rate transmission caused the transmitted information to be susceptible to inter-symbol interference (ISI) and dispersion in optical fiber. Solutions to these problems are converting the analog radio signal to become digitized, and using a Dispersion Compensating Fiber (DCF). In this research we have done some analysis about Digitized Radio-over-Fiber performance based on its BER, Q-Factor, and power. The result will be compared to Analog Radio-over-Fiber system. Both systems have 40 Gbps bit rate accumulation and is integrated with WDM-PON network. From the simulation we get the results for Analog RoF with Q-Factor 16,2676; 14,0293; 8,9212 and Digitized RoF with Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; for the transmission distance of 40 km, 60 km, and 80 km.. Keywords: Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G