Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Shautut Tarbiyah

Jejak Kegemilangan Intelektualisme Islam dalam Pentas Sejarah Dunia: Kontribusi Ilmiah Kaum Mawali Persia pada Periode Klasik Muh. Ikhsan
Shautut Tarbiyah Vol 21, No 2 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.665 KB) | DOI: 10.31332/str.v21i2.371

Abstract

Sejarah dan peradaban Islam senantiasa melibatkan etnis dalam setiaptahapan kemunculan, perkembangan, kemajuan hinggakemundurannya. Artinya sepanjang sejarahnya, dari masa klasiksampai masa modern, peradaban Islam tidak terlepas dari peran etnisdi dalamnya, baik etnis Arab maupun non Arab. Etnis dalam maknasemantiknya dapat mengacu kepada suku, kabilah, klan ataukomunitas sosial yang diikat oleh kesamaan-kesamaan priomordial;kesamaan keturunan atau genealogi (berasal dari darah yang sama)dan kesamaan geografis (wilayah). Secara operasional, etnis jugabermakna suatu entitas kebangsaan, perwujudan dari kesamaanprimordial di atas. Selain etnis Arab, pada kenyataannya etnis nonArab juga ikut berperan secara signifikan dalam proses peradabanIslam tersebut. Bahkan menurut Ibn Khaldun, meskipun pada awalkemunculan dan perkembangannya peradaban Islam itu berada diJazirah Arab, namun bangsa yang lebih banyak perperan dalam prosesperkembangan dan kemajuan peradaban tersebut adalah etnis nonArab. Etnis non Arab inidalam sejarah dan peradaban Islam dikenaldengan al-mawali, khususnya etnis non Arab yang menganut agamaIslam. Di antara al-mawali yang berperan dalam proses peradabantersebut adalah etnis Mawali (Persia), Turki, Afrika dan lainnya. Padamasa Daulah Abbasiyah, peran al-Mawali sangat signifikan. Bahkanberkat kontribusi dan peran signifikan etnis al-mawali, masa daulahini dalam sejarah dan peradaban Islam sering disebut sebagai masapuncak kegemilangan peradaban Islam dan masa keemasan (thegolden age). Masa khalifah al-Ma’mun merupakan masa puncakperadaban Islam, khususnya dalam ilmu pengetahuan dankebudayaan, sehingga memberikan pengaruh konstruktif terhadapkemajuan ilmu pengetahuan awal abad pertengahan dalam dunia Islamdan dalam dunia Barat modern secara umum.Kata kunci: peradaban Islam, intelektualisme Islam, Mawali Persia.
Mahdiisme Syi’ah : Akar Sejarah dan Implikasinya dalam Perkembangan Sosial Politik Muh. Ikhsan AR.
Shautut Tarbiyah Vol 19, No 2 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.4 KB) | DOI: 10.31332/str.v19i2.52

Abstract

Keanekaragaman aspirasi politik dan doktrin yang dibawa oleh berbagai sekte (kalam) dalam Islam—tak terkecuali Syi’ah—berdampak negatif sebagai akibat terjadinya akulturasi budaya dan keyakinan, sesudah meluasnya daerah kekuasaan Islam. Rupanya al-Qur’an dan Sunnah Rasul tidak lagi dijadikan sebagai rujukan oleh sekian banyak aliran yang muncul waktu itu guna mencari titik temu. Akan tetapi sebaliknya, justru keduanya mereka jadikan sebagai dasar untuk menguatkan doktrin atau  paham mereka  masing-masing. Sikap demikian ini mendorong mereka kepada tindakan-tindakan yang ekstrem dan permusuhan dengan sesama Muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh golongan Syi'ah dalam mewujudkan dan menyebarkan ide serta pengaruh mereka masing-masing.Syi’ah sebagai sebuah aliran yang berkembang dalam sejarah pemikiran Islam memiliki keunikan—yang khas tipikal—tersendiri dengan kemajuan yang cukup signifikan. Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun eksistensi kaum Syi’ah terus terjaga dan terus berkembang. Melalui doktirn keagamaan mahdiisme yang memiliki ciri khas tersendiri, menjadikan Syi’ah berbeda dengan tradisi lainnya.Untuk mendudukkan Syi’ah dalam koridor yang ada maka perlu dikemukakan doktrin keagamaan dan sosial yang ada dalam tradisi tersebut. Dari konteks keagamaan kemudian diturunkan ke dalam konteks sosial. Berbagai kegiatan sosial selalu mengacu kepada doktrinitas yang ada seperti dalam bidang ekonomi dan politik.Kata Kunci: syi’ah, imamiyah, mahdiisme.
Menelusuri Jejak Kesatuan Nubuwwah (Telaah Historis atas Surat al-Mu’min ayat 78) Muh. Ikhsan AR.
Shautut Tarbiyah Vol 20, No 1 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.935 KB) | DOI: 10.31332/str.v20i1.40

Abstract

Salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh umat Islam adalah percayakepada para nabi yang telah diutus oleh Allah kepada umat manusia. Sebab,merekalah yang menyampaikan risalah ketuhanan dari Allah. Merekaberperan sebagai Hermes, yang menyampaikan dan menafsirkan pesan-pesanTuhan yang absolut dan mutlak kepada manusia sebagai makhluk relatifdengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. Dengandemikian, posisi seorang nabi sangat menentukan dalam agama, khususnyaagama Islam.Artikel ini mencoba mengkaji jejak kenabian yang terdapat dalam al-Qur’an,terutama dalam surah al-Mu’min ayat 78. Ayat yang memuat materi tentangnabi dan misinya berikut hubungan maknanya yang mengacu pada persoalanfungsi diutusnya seorang nabi dan rasul. Selain itu, dilihat bagaimanapenafsiran yang telah dilakukan oleh para mufasir terdahulu berkaitan denganayat-ayat tersebut.Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam membahas persoalanini. Pertama, nabi merupakan sosok sentral dalam agama yang menjadi figurperantara antara pikiran Tuhan dengan pikiran manusia. Kedua, ada berbagaipenafsiran tentang terma nabi sehingga memunculkan adanya perbedaanpendapat tentang apa dan siapa yang disebut nabi itu. Sebagai contohbeberapa pendapat menganggap bahwa Sang Budha adalah sebagai nabi,sementara yang lain menganggap tidak. Ketiga, dalam tubuh umat Islamsendiri pun ada aliran yang memaknai terma nabi secara berbeda. Sebagaimisal Gerakan Ahmadiyah Qadhiyan yang menganggap masih ada nabisetelah Muhammad, yakni Mirza Ghulam Ahmad. Dengan beberapapertimbangan tersebut, maka artikel ini akan mengkaji terma nabi/rasul yangterdapat dalam al-Qur’an.Kata kunci: nabi, rasul, jejak kenabian.