Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Wadah dan Tanda Kubur, Sebuah Simbol dalam Tradisi Megalitik Masyarakat Nias Selatan Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 12 No 24 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.269 KB) | DOI: 10.24832/bas.v12i24.217

Abstract

AbstractIn relation to death, the burial is one of the procession of the human life cycle for every culture. Therefore, the procession of death have a very important role with the special treatment of the deceased. In relation to social life, the various aspects raised is a sign of the importance of the procession meant. To understand the various social aspects can be observed presumably conceived through the symbols on coffin and grave mark.
Proses Pembuatan Megalitik Nias Sebagai Bagian Sistem Upacara Owasa ( Studi Kasus Proses Sebagai Sebuah Sistem Upacara Owasa di Situs Megalitik Orahili Fau) Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 21 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1891.911 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i21.231

Abstract

AbstractThe Nias Island is known to possess many relics in the megalithic tradition, in various forms – decorative and non decorative motifs, that emerged some questions about the material of megalithic relics, how to bring the large objects, where they did, what kind of tool they used. The process of making megalithic objects is a system who finally becaming as culture until now a megalithic.
Strategi Adaptasi Pengusung Hoabinhian dalam Pemenuhan Kebutuhan Makanan Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 22 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v11i22.245

Abstract

AbstractThe presence of hoabinh site either in lowland or highland is characterized that there’s an adaptation effort of cultural to choose the dwelling location and complete the food. Artifact, ecofact, and fitur remains in sites at Bukit Kerang Pangkalan indicated that there’s a short & long period strategy.
Rentang Budaya Prasejarah Nias: Dating dan Wilayah Budaya Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 20 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v10i20.257

Abstract

AbstractPrehistoric culture in Nias Island are consist of palaeolithic, mesolitic, to megalithic.Till now, it’s culture dominated by megalithic traditions. Based on the carbon dating to some mesolithic and megalithic sites, found that time period of mesolithic culture to the middle Ages in North Nias cultural area. Time period of megalithic culture in South Nias cultural area around 600—350 years ago and 260 years ago in North Nias cultural area.
Struktur Organisasi Sosial Masa Prasejarah Ditinjau dari Cara Hidup dan Sistem Penguburan Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 19 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v10i19.268

Abstract

AbstractNuclear family is the smallest social structure organization in general social habitat nowdays. The social structure organization which according to three factors : sex, age, and livelihood also has been indicated in mesolithic time, based on skeleton findings and buried arcaheological supplies in shells midden, NAD Province. After that time, the explanation of social organization/social structure would been more understood specially for the buried system.
IDENTIFIKASI BUDAYA PRASEJARAH DARI ARTEFAK DI SITUS BUKIT KERANG KAWAL DARAT Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 20 No 2 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v20i2.282

Abstract

The limitedness of artifacts at Kawal Darat I shell-midden site, which only yield short axes, spatula, and pottery fragments with relatively young radio-carbon dates, has obstructed the effort to identify its culture. This is due to assumptions that have always related shell-midden sites to the activities of the bearers of the Hoabinhian culture. In this case, the culture was also characterized by the technology of pebble that were flaked on all sides, known as sumatraliths. The existence of shell-midden, which is assumed to be a part of the Hoabinhian culture with Basconian-typed artifacts, has caused a problem in identifying the site. Using inductive line of thought on the existence of material cultures found at archaeological sites bearing Sonviian, Hoabinhian, and Bacsonian artifacts in Southeast Asia and compare them with the data on the material cultures from Kawal Darat I shell-midden site, it can be interpreted that there had been a transformation of lithic tool technology, which initially originated from a type of technology called Sonviian, to Basconian. Bearing in mind that Hoabinhian has the most complete data among the three types of technology, it seems like the artifacts found at the Kawal Darat I shellmidden site were originated from the Hoabinhian Techno-Complex.Keterbatasan artefak di situs Bukit Kerang Kawal Darat I, yang hanya menghasilkan kapak pendek, spatula dan fragmen gerabah dengan hasil analisa karbon yang relatif muda, menyulitkan upaya mengidentifikasi budayanya. Hal tersebut disebabkan adanya asumsi yang selalu mengaitkan situs bukit kerang dengan sisa aktivitas pendukung budaya Hoabinh. Budaya dimaksud juga dicirikan dengan teknologi artefaktual berbahan kerakal yang dipangkas di seluruh sisi-sisinya yang dikenal dengan sebutan sumatralith. Keberadan bukit kerang yang diasumsikan sebagai bagian dari budaya Hoabinh dengan artefak temuan yang berciri Bacsonian tersebut menjadikan permasalahan dalam mengidentifikasi situs dimaksud. Dengan alur pemikiran induktif atas keberadaan budaya materi yang ditemukan di situs-situs arkeologi yang teknologinya berciri Sonviian, Hoabinhian dan Bacsonian di Asia Tengara, untuk dibandingkan dengan data budaya materi dari situs Bukit Kerang Kawal Darat I. Maka dapat diinterpretasikan bahwa telah terjadi perubahan teknologi alat litik, yang awalnya bersumber dari teknologi yang disebut Sonviian hingga Bacsonian. Mengingat Hoabinhian memiliki data yang paling lengkap dari ketiga ciri teknologi tersebut, maka artefak yang ditemukan di situs Bukit Kerang Kawal Darat I merupakan hasil dari Tekno Kompleks Hoabinh.
GAMBAR CADAS DI NGALAU TOMPOK SYOHIAH I DALAM KAITANNYA DENGAN BUDAYA PERTANIAN Ketut Wiradnyana; Tafiqurrahman Setiawan; Diyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2989.768 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i1.323

Abstract

Pemaknaan seni gambar cadas di Ngalau Tompok Syohiah I harus disertai konteks bentuk, ruang, dan waktu, serta budaya yang mendukung keberadaannya, meliputi teknologi, religi, atau tradisi masyarakat maupun lingkungan sekitarnya. Tulisan ini bertujuan untuk memaknai gambar cadas yang terdapat di Ngalau Tompok Syohiah I, terutama yang berkaitan dengantradisi atau budaya pertanian masyarakat sekitarnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif, guna mengungkapkan berbagai aspek yang terkandung pada objek arkeologis maupun gambar cadas di gua tersebut. Kajian etnografi dimanfaatkan untuk mengetahui tradisi dan folklor yang terkait dengan situs dan objek arkeologisnya, terutama gambar cadas yang berkaitan dengan pertanian dan kepercayaan lokalnya. Secara kontekstual gua dan objek arkeologis seperti gambar cadas, menhir, dan makam semu berkaitan dengan lingkungan dan kegiatan pertaniannya. Demikian juga perilaku orang yang datang ke gua tersebut sangat beragam, tergantung pada tujuan masing-masing. Sebagian orang walaupun sudah memeluk agama Islam, ada yang masih menjalani tradisi lama terutama yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.
HUTA DI TOMBAK SITUMORANG: Perubahan Kosmologi Pada Masyarakat Batak Toba Ketut Wiradnyana; Taufiqurrahman Setiawan; Rytha Tambunan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.224 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i2.364

Abstract

Huta merupakan satu kesatuan sosial yang merupakan bentuk sistem kepemilikan tanah yang berbaur dengan sistem kosmologi masyarakat Batak Toba. Huta merupakan elemen tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya sawah/ladang dan hutan (tombak). Sebuah huta dapat merupakan menjadi tanda keberadaan sebuah kelompok masyarakat dan juga penguasa kelompok marga dalam sebuah tatanan kosmologi, sehingga keberadaan huta menjadi sangat penting bagi eksistensi sebuah kelompok marga. Jadi sebuah huta tidak hanya bermakna ekonomi dan sosial juga bermakna religius. Sehingga ketiga elemen tersebut merupakan sebuah simbol makrokosmos dan mikrokosmosnya dapat dilihat pada bangunan rumah adatnya. Mengingat huta itu bagian dari elemen kosmologi, maka keberadaannya terpisah antara elemen sawah dan hutan/tombak. Di Hutan Tele Situmorang, huta berada di tengah hutan (tombak), hal ini sangat berbeda dengan pemahaman konsepsi kosmologi masyarakat Batak Toba. Berkenaan dengan itu, maka tujuan uraian ini adalah untuk memahami keberadaan huta yang berada di tengah hutan/tombak dalam kaitannya dengan kosmologi masyarakat Batak Toba. Metode yang digunakan dalam pengungkapan ini yaitu dengan mendeskripsi tinggalan arkeologis di huta tersebut untuk mengetahui objek sebagai sebuah huta, dengan segenap perangkatnya. Kemudian dilakukan metode etnoarkeologi atas konsepsi yang terkait dengan kosmologi masyarakat Batak Toba untuk dibandingkan dengan masyarakat tradisional lainnya guna memahami konsepsi kosmologi sebuah hunian. Diharapkan dengan metode tersebut dan folklor yang ada pada masyarakat dapat menggambarkan penyebab dari perubahan kosmologi sistem hunian masyarakat Batak Toba pada huta di hutan Tele Situmorang.
EKSISTENSI LELUHUR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT NIAS: [Ancestor Existence In The Life of Nias Society] Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 23 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v23i2.412

Abstract

The Nias community adheres to patrilineal kinship patterns system, which in various aspects of their culture are related to male bloodlines. The patrilineal concept is closely related to the idea of worshiping ancestors. Ancestor worship is one of belief in Megalithic culture and in many communities this belief affecting various aspects of cultural community life. In this regard, Nias culture can be recognized through understanding the existence of ancestors in Nias people's lives. This study also describing the relation of ancestor existence to economic and social aspects in Nias culture. Descriptive-qualitative approach is used to examining archeological and ethnographic data. The conclusion of this study indicates that the existence of ancestors is closely related to patrilineal and power. Masyarakat Nias menganut pola kekerabatan patrilineal, yang dalam berbagai aspek kebudayaannya sangat terkait dengan garis keturunan laki-laki. Konsep patrilineal tersebut sangat terkait dengan ide konsepsi pemujaan terhadap leluhur. Konsepsi pemujaan terhadap leluhur itu merupakan salah satu konsepsi religi pada budaya Megalitik dan berkaitan dengan konsepsi ekonomi dan sosial. Berkenaan dengan itu maka konsepsi pemujaan leluhur menjadi sangat berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Jadi, upaya memahami kebudayaan masyarakat Nias itu diantaranya dapat juga dikenali melalui pemahaman tentang eksistensi leluhur, dengan berbagai peranannya di masyarakat. Pencapaiannya melalui alur pemikiran deskriptif-kualitatif yang dilakukan atas hasil penelitian arkeologis, etnografis dan juga mikrobiologi, pada akhirnya data yang terhimpun dianalisis dan dibandingkan dengan berbagai aspek pada kebudayaan dalam kaitannya dengan konsep leluhur pada masyarakat tradisional lainnya. Metode itu akan membantu mengidentifikasi berbagai aspek yang berkaitan dengan leluhur masyarakat Nias, seperti halnya aspek asal muasal dan waktu migrasinya ke Pulau Nias beserta berbagai peran konsepsi leluhur pada kehidupan masyarakatnya.
RUANG JELAJAH HOABINHIAN DI PULAU SUMATRA Ketut Wiradnyana
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 1, APRIL 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1834.381 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i1.114

Abstract

This research intends to interpret the Hoabinh culture dispersal from the Hoabinh culture presence on the western part of Sumatra island, with different activities period. It can be achieved by recognizing archaeological material and carbon analysis, as parts of survey and excavation results. The result of this research relates to Hoabinh occupation range at coastal and highlands. Carbon analysis explains that Hoabinh migrated from the coast to the higlands. Interpretasi alur sebaran atas keberadaan situs budaya Hoabinh di Pulau Sumatra bagian utara dengan berbagai perbedaan masa aktivitasnya merupakan tujuan dari penelitian ini. Hal tersebut dapat dicapai dengan mengenali sisa tinggalan arkeologisnya dan juga hasil analisa karbon yang merupakan bagian dari hasil kegiatan survei dan ekskavasi. Hasil dari penelitian ini menyangkut ruang jelajah pendukung budaya Hoabinh di pesisir dan dataran tinggi. Dari data analisa karbon diketahui bahwa sebaran pendukung budaya Hoabinh itu berlangsung dari pesisir Pulau Sumatra ke wilayah dataran tinggi.