Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Permukiman Gua di Kabupaten Bener Meriah (Sebuah Analisis Pendahuluan) Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 16 No 1 (2013)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6921.384 KB) | DOI: 10.24832/bas.v16i1.114

Abstract

AbstractSince the year 2009, the Archaeological Office of Medan has carried out various research in the hinterland of Aceh, at the Regency of Central Aceh. The research resulted in the finding of cave settlements that have been inhabited since 7000 thousand years ago. The data then raises a question on how people at that time found and settled there. This question later inspires a research trying to discover the possible route taken by the people at that time to reach the caves. A preliminary research was conducted at Bener Meriah Regency at the north of Central Aceh Regency by considering the existence of a river begins in the area and ends at the eastern coast of Aceh as well as the formation of limestone where caves and niches can be found. Lanscape archaeology approach is used in this paper to answer the question matter that focuses on physical and cultural aspects of the area. The rearch began with a topographic map study, a geological map, and digital elevation model (DEM). The second phase was a field survey to acquire caves and niches data and continued wth archaeological testing. The sites data was teh analyzed for potential archaeology and relation patterns between the sites and their surrounding. The provide pictorial description of such patterns, the nearest neighbouring analysis is used through the use of Arc-View 3.2 and ArcGIS 9.3 softwares with the extension of Network and Spatial analyses. The analyses of the settlement potential of the caves in Bener Meriah Regency show two caves of potential categori I, five caves of category II and four caves of no potential. The patterns of settlement are of scattered ones following the random patterns of limestone distribution.AbstrakSejak tahun 2009, Balai Arkeologi Medan telah mulai melakukan penelitian arkeologi di daerah pedalaman Aceh, tepatnya di Kabupaten aceh Tengah. Dari penelitian tersebut telah didapatkan adanya gua hunian yang telah dihuni sejak 7000 tahun yang lalu. Data tersebut tentunya memberikan pertanyaan bagaimana manusia dapat menemukan dan kemudian menghuni lokasi tersebut. Bertolak dari pertanyaan tersebut maka dilakukan penelitian yang ditujukan untuk mengetahui jalur yang kemungkinan digunakan oleh manusia pada masa itu hingga sampai pada lokasi tersebut. Sebagai tahap awal, penelitian dilakukan di Kabupaten Bener Meriah yang berada di bagian utara Kabupaten Aceh Tengah dengan memperhatikan pada keberadaan sungai yang berhulu di lokasi ini dan berhilir di pesisir timur Aceh dan formasi batugamping dimana gua dan ceruk dapat ditemukan. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan model pendekatan arkeologi lansekap yang memperhatikan pada beberapa aspek fisik serta budaya pada lokasi tersebut. Penelitian diawali dengan melakukan studi peta topografi, peta geologi, serta Digital Elevation Model (DEM). Tahap kedua adalah melakukan survei lapangan untuk mendapatkan data gua dan ceruk serta melakukan pengujian arkeologis. Dari data sebaran situs tersebut kemudian dianalisis potensi arkeologisnya dan analisis kemungkinan pola-pola hubungan antara situs dan lingkungannya. Untuk lebih menggambarkan hal tersebut digunakan juga analisis tetangga terdekat dengan bantuan perangkat lunak Arc-View 3.2 dan ArcGIS 9.3 dengan ekstensi Network Analysis dan Spasial Analysis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang situs-situs gua yang potensial hunian dan gambaran tentang bentuk interaksi yang mungkin dilakukan dengan pendekatan arkeologi lingkungan.
Permukiman Gua di Sub-Cekungan Payakumbuh Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6368.227 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i2.126

Abstract

AbstractPre-historic men's life mainly relied on the availability of natural resources in the surrounding area. The settlements had inevitably to provide their needs of food and tools. Payakumbuh’s sub-basin, a strategic location for settlement, is a plain with a river in the middle that provides a place to shade and settle at its ‘Ngalau’ (caves and rock shelters). This location is also supported by the presence of hills and Sinamar River. Culturally, archaeological findings on the use of this site as a settlement are also found. This writing tries to describe the patterns of distribution and the use of caves at the Payakumbuh’s sub-basin. Archaeological landscape approach method is used to observe some physical and cultural aspects in that area. To provide further pictures, analyses on the neighbouring area are also done through the use of such softwares as Arc-View 3.2 and ArcGIS 9.3 with the extension of Network Analysis and Spatial Analysis.AbstrakKehidupan manusia pada masa prasejarah masih mengandalkan pada ketersediaan sumberdaya lingkungannya. Lokasi yang mereka jadikan sebagai lokasi permukiman harus menyediakan kebutuhan mereka akan makanan dan juga peralatannya. Sub-Cekungan Payakumbuh merupakan salah satu lokasi yang baik digunakan sebagai permukiman. Secara fisik, lokasi ini memiliki bentuklahan dataran dengan sungai yang mengalir pada bagian tengahnya, serta tersedianya lokasi berteduh dan bermukim di ‘Ngalau’ (gua dan ceruk). Lokasi ini didukung dengan bentangalam pedataran dengan bukit-bukit yang muncul di beberapa tempat dan juga didukung dengan keberadaan Sungai Sinamar. Secara budaya, pada lokasi ini juga telah ditemukan data arkeologi tentang pemanfaatanny sebagai lokasi permukiman. Pada tulisan ini akan membahas bagaimana pola sebaran dan pemanfaatan gua di Sub-Cekungan Payakumbuh. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan model pendekatan arkeologi lansekap yang memperhatikan pada beberapa aspek fisik serta budaya pada lokasi tersebut. Untuk lebih menggambarkan hal tersebut digunakan juga analisis tetangga terdekat dengan bantuan software Arc-View 3.2 dan ArcGIS 9.3 dengan ekstensi Network Analysis, Buffer Wizard, dan Spasial Analysis.
Pola Pemanfaatan Ruang Situs Loyang Mendale Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3175.944 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i2.150

Abstract

AbstractSimilar to present-day dwellings, cave and rock shelter as prehistoric settlement also had patterns of space use. Scuh indication is shown by a cave at the Loyang Mendale site in Takengon. Based on distribution, classification and analysis on excavation findings, there were such use of caves as sites of dwellings and special uses of cave space, which was as dailiy activities, workshop, and burial/religious sites.AbstrakSeperti halnya rumah, gua dan ceruk sebagai lokasi hunian pada masa prasejarah memiliki pola pemanfaatan ruang. Salah satu gua yang mengindikasikan hal tersebut adalah Situs Loyang Mendale di Takengon,. Berdasarkan sebaran, klasifikasi, serta analisis temuan ekskavasinya dapatkan terlihat adanya pemanfaatan gua sebagai lokasi hunian menetap dan pemanfaatan ruangan gua secara khusus, yaitu sebagai lokasi aktivitas sehari-hari, lokasi perbengkelan, dan lokasi penguburan/religi.
Sistem Penguburan Terlipat Takengon: Tambahan Data Baru Penguburan Dalam Gua di Indonesia Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 27 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1555.375 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i27.165

Abstract

AbstractArchaelogical data about prehistoric burial inside of prehistoric cave or rock-shelter site in Indonesia has been found in some sites that spread at some different provinces, such as Central Java, West Java, East Java, East Borneo, and also South Sumatra. Now, there is addition one that found in Loyang(cave) Mendale and Loyang Ujung Karang in Takengon, Central Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.
Fotografi Mikro untuk Arkeologi (Metode Alternatif Perekaman Data Visual) Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 13 No 26 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.75 KB) | DOI: 10.24832/bas.v13i26.179

Abstract

AbstractVisual data recording is one activity that must be performed on archaeological research as a supporting data description of data obtained. However, not all data can be easily documented. Sometimes, the data obtained are in a small size and must be documented with a micro camera which is not owned by any research institution. Therefore, an alternative method is needed to accommodate the limitation that is owned by the research institution.
Bentuk Adaptasi Lingkungan Pada Permukiman Tradisional di Danau Toba Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 13 No 25 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3027.722 KB) | DOI: 10.24832/bas.v13i25.196

Abstract

AbstractBatak traditional settlements around Toba Lake have pattern and specific forms. Those are very influenced by some supporting factors, ie. environment factors, landform, potential resources and accessibility. There are also important elements that must be exist within.That elements a result of the adaptation process of Batak Toba communities to their environment.
Sarkofagus Samosir: Kreativitas Lokal Masyarakat Samosir Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 12 No 23 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2204.71 KB) | DOI: 10.24832/bas.v12i23.207

Abstract

AbstractOne of the megalithic culture is sarcophagus. It appeared in someplace in Indonesia, such as Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, and also Sumatera. All has same function, as a sarcophagus, yet each has spescial characteristic.
Loyang Mendale Situs Hunian Prasejarah di Pedalaman Aceh: Asumsi Awal Terhadap Hasil Penelitian Gua-gua di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 12 No 24 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.386 KB) | DOI: 10.24832/bas.v12i24.222

Abstract

AbstractIn Central of Aceh, there were an indications of the use of cave and rock shelter as a prehistoric settlement site. Indications of prehistoric settlement site was found among others in Loyang Mendali, Loyang Koro, Loyang Datu and also in Putri Pukes. To prove that indication, further research has been done with the excavation of the cave and rock shelter. Therefore, Balai Arkeologi Medan did the excavation in one of the cave, Loyang Mendali and obtained some data that provided an initial description on prehistoric settelment in Central Aceh.
Tipe Hunian Gua dan Ceruk Arkeologis Masa Prasejarah di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul (Sebuah Analisis Pendahuluan) Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 21 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3214.414 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i21.235

Abstract

AbstractThe prehistoric hunter and gatherers have two type of cave or rock-shelter settlement. The first one is homebase, which they stay here for a long time and gather their food from environtment natural sources. When their environment sources empty, they hunt or gather in the other natural sources. They need other cave or rock-shelter as transit-site, make energy efficiency for a good hunting strategy trap.
Sungai Wampu, Pendukung Kehidupan Pemukim Bukit Kerang Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 22 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.011 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i22.249

Abstract

AbstractAs one of an ancient river in north Sumatera, the Wampu river has taken an important part in supporting a settlement area in Kitchen Midden on 5000--7000 BP.