Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUTA DI TOMBAK SITUMORANG: Perubahan Kosmologi Pada Masyarakat Batak Toba Ketut Wiradnyana; Taufiqurrahman Setiawan; Rytha Tambunan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.224 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i2.364

Abstract

Huta merupakan satu kesatuan sosial yang merupakan bentuk sistem kepemilikan tanah yang berbaur dengan sistem kosmologi masyarakat Batak Toba. Huta merupakan elemen tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya sawah/ladang dan hutan (tombak). Sebuah huta dapat merupakan menjadi tanda keberadaan sebuah kelompok masyarakat dan juga penguasa kelompok marga dalam sebuah tatanan kosmologi, sehingga keberadaan huta menjadi sangat penting bagi eksistensi sebuah kelompok marga. Jadi sebuah huta tidak hanya bermakna ekonomi dan sosial juga bermakna religius. Sehingga ketiga elemen tersebut merupakan sebuah simbol makrokosmos dan mikrokosmosnya dapat dilihat pada bangunan rumah adatnya. Mengingat huta itu bagian dari elemen kosmologi, maka keberadaannya terpisah antara elemen sawah dan hutan/tombak. Di Hutan Tele Situmorang, huta berada di tengah hutan (tombak), hal ini sangat berbeda dengan pemahaman konsepsi kosmologi masyarakat Batak Toba. Berkenaan dengan itu, maka tujuan uraian ini adalah untuk memahami keberadaan huta yang berada di tengah hutan/tombak dalam kaitannya dengan kosmologi masyarakat Batak Toba. Metode yang digunakan dalam pengungkapan ini yaitu dengan mendeskripsi tinggalan arkeologis di huta tersebut untuk mengetahui objek sebagai sebuah huta, dengan segenap perangkatnya. Kemudian dilakukan metode etnoarkeologi atas konsepsi yang terkait dengan kosmologi masyarakat Batak Toba untuk dibandingkan dengan masyarakat tradisional lainnya guna memahami konsepsi kosmologi sebuah hunian. Diharapkan dengan metode tersebut dan folklor yang ada pada masyarakat dapat menggambarkan penyebab dari perubahan kosmologi sistem hunian masyarakat Batak Toba pada huta di hutan Tele Situmorang.
ANALISIS STRATIGRAFIKRONOLOGI HUNIAN SITUS LOYANG UJUNG KARANG, ACEH TENGAH Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Vol 34 No 1 (2014)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3187.658 KB) | DOI: 10.30883/jba.v34i1.15

Abstract

This paper tries to describe the chronolgy of settlement in Loyang Ujung Karang site by using stratigraphic data from excavation data in 2010, 2011, and 2012, to correlate it with the archaeological data, five human remains found from different burial systemand radiocarbon dating results.From the pottery, human remains, leaf casting and woven rattan found in this cave showed that cave was inhabited before 4400 + 120 BP. This site was abandoned around 2590 + 120 BP because there was a flood inside  the cave during the rise of Lut Tawar Lake surface level.This site then reoccupied between 2590 + 120 BP until 1900 + 100 BP based on the burial remains. Further occupation could not be determinated because it is not analyzed yet. However, based on Ming’s ceramicwas found, shows us that this cave was inhabited continually from 4280 BP until 200B. 
GUA MABITCE: DATA BARU SITUS HOABINH DI SUMATRA BAGIAN UTARA Taufiqurrahman Setiawan; Anton Ferdianto; Nenggih Susilowati; Aswan Aswan; Andi Irfan; Anggun Ibowo Saputra; Dwi Wahyudi; Deni Andreian; Muhammad Bahrum; Primawan Primawan
AMERTA Vol. 38 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Gua Mabitce: New Evidence of Hoabinh Site in Northern Sumatra. Gua Mabitce Cave is one of the caves that have the potential for archaeological research on the western coast of Aceh. The surface archaeological data of Sumatralith and the shell layers indicated this location possibly occupied in the past. How occupation and cultural characteristics are found at this site? What questions can be answered by conducting excavations to collect the underground archaeological data? The excavation data are analyzed and interpreted to describe the occupation in Gua Mabitce Cave. Although the dating of this site chronology cannot be obtained because the samples have not been analyzed, the results of the analysis of stone artifacts showed the cultural character of Hoabinh with stone tools artifacts, Sumatralith and flakes as its main equipment. The use of direct percussion is a very dominant technique for making stone tools. The cultural and residential characteristics of the Mabitce Cave are similar to other pre-neolithic sites in northern Sumatra, such as open sites on the east coast of northern Sumatra and cave/rock-shelter sites in the Bukit Barisan Mountains in the Aceh and North Sumatra regions. Abstrak. Gua Mabitce merupakan salah satu gua di Pesisir Barat Aceh yang memiliki potensi untuk diteliti secara arkeologis. Temuan kapak batu sumatralit dan fitur lapisan cangkang kerang di permukaan lantainya memberikan gambaran awal kemungkinan adanya hunian pada masa lalu. Bagaimana hunian dan karakter budaya yang ditemukan di lokasi ini? Jawaban pertanyaan itu perlu dilakukan ekskavasi di Gua Mabitce untuk memperoleh data arkeologi di bawah permukaan. Data artefak, ekofak, fitur, dan sebarannya dianalisis dan diinterpretasikan untuk menemukan gambaran kronologi dan penghunian di Gua Mabitce. Walaupun kronologi waktu situs belum dapat diperoleh karena sampel pertanggalan belum dapat dianalisis, hasil analisis artefak batu menunjukkan karakter budaya Hoabinh dengan artefak batu, sumatralith, dan serpih batu sebagai peralatan utamanya. Penggunaan kerakal yang dipangkas pada satu sisi sangat dominan ditemukan. Karakter budaya dan hunian di Gua Mabitce memiliki kesamaan dengan situs-situs pre-Neolitik lainnya di Sumatra bagian utara, seperti situs terbuka di pesisir timur Sumatra bagian utara dan situs gua/ceruk di Pegunungan Bukit Barisan di wilayah Aceh dan Sumatra Utara.
ANALISIS STRATIGRAFI KRONOLOGI HUNIAN SITUS LOYANG UJUNG KARANG, ACEH TENGAH Taufiqurrahman Setiawan
Berkala Arkeologi Vol. 34 No. 1 (2014)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v34i1.15

Abstract

This paper tries to describe the chronolgy of settlement in Loyang Ujung Karang site by using stratigraphic data from excavation data in 2010, 2011, and 2012, to correlate it with the archaeological data, five human remains found from different burial systemand radiocarbon dating results.From the pottery, human remains, leaf casting and woven rattan found in this cave showed that cave was inhabited before 4400 + 120 BP. This site was abandoned around 2590 + 120 BP because there was a flood inside the cave during the rise of Lut Tawar Lake surface level.This site then reoccupied between 2590 + 120 BP until 1900 + 100 BP based on the burial remains. Further occupation could not be determinated because it is not analyzed yet. However, based on Ming’s ceramicwas found, shows us that this cave was inhabited continually from 4280 BP until 200B.