Marlin Sefrila
Department Of Agronomy And Horticulture Postgraduate, Faculty Of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia; Department Of Agronomy, Faculty Of Agriculture, Universitas Sriwijaya, Indralaya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Uji Kompatibilitas Sumber Inokulan FMA Lokal dan Periode Penjenuh Terhadap Karakteristik Agronomi Tebu (Saccharum officinarum L.) Sefrila, Marlin; Ghulamahdi, Munif; Purwono, Purwono; Melati, Maya; Mansur, Irdika
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.62360

Abstract

Permasalahan pada lahan pasang surut dapat diatasi dengan penerapan sistem teknologi pertanian spesifik lokasi seperti penerapan sistem budidaya jenuh air dan pemanfaatan mikroorganisme lokal seperti jamur mikoriza arbuskular (FMA) sehingga lahan pasang surut marginal dapat menjadi lahan produktif dan tanaman tebu dapat berproduksi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan beberapa sumber inokulan FMA lokal dan periode pasang surut dan jenuh air terhadap karakteristik agronomi tebu. Percobaan menggunakan Rancangan Blok Lengkap Teracak dengan dua faktor. Faktor pertama adalah inokulasi FMA yang terdiri dari tanpa inokulasi, inokulan jagung, inokulan kedelai, inokulan tebu, dan inokulan tanaman gabungan (tebu-kedelai). Faktor kedua adalah lamanya kejenuhan yaitu 0, 2 dan 4 bulan setelah tanam, sehingga terdapat 15 perlakuan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara sumber inokulan dan lama kejenuhan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan fisiologis. Aplikasi berbagai sumber inokulan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan fisiologi tanaman tebu, khususnya sumber inokulan jagung. Baik pada umur 2 maupun 4 bulan setelah tanam, kondisi jenuh tanah menunjukkan pertumbuhan dan respons fisiologis terbaik dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional (tanpa kondisi jenuh).