Abdul Majid
Bagian Keperawatan Medikal Bedah, Fakultas Keperawatan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Effectiveness of Paired-Share Gallery Walk (PSGW) on Students’ Critical Appraisal Skill (CAS) Improvement During The Medical Surgical Nursing Clinical Placement Andina Setyawati; Mohammad Syafar Sangkala; Abdul Majid; Rini Rachmawaty
INDONESIAN NURSING JOURNAL OF EDUCATION AND CLINIC (INJEC) Vol 2, No 2 (2017): INJEC
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.918 KB) | DOI: 10.24990/injec.v2i2.150

Abstract

Introductions: Less critical nurses in Indonesia may happen due to the lack of contribution of the nursing institutions in enhancing the critical thinking skill. The PSGW is one of clinical teaching methods that facilitates students to criticize the current literatures. This study aimed at identifying the effectiveness of the PSGW on students’ critical appraisal skill (CAS) improvement during the medical surgical nursing clinical placement.Methods: This quasy-experimental study used pre-posttest control group design. The subjects were students who are currently in the professional practice stage of medical surgical nursing area. They were randomly assigned into two groups: 30 subjects in intervention group who conducted PSGW and 30 subjects in control group who conducted standard method of journal presentation. CAS questionnaires developed by Oxford University had been used to measure students’ CAS in criticizing the journal. The data was analyzed using Wilcoxon, Mann-Whitney, paired  t-test, and independent t-test with level of significance at 0.05.Results: The intervention group experienced a significant increase in CAS score (p=0.0001) after performing the PSGW, while the control group experienced an insignificant decrease (p=0.596) after performing the standard method of journal reading. When comparing the posttest CAS of both groups, the result showed that there were significant differences in the posttest CAS scores (p=0.0001) with large effect size (r=0.63).Conclusions: The PSGW is an effective learning method for clinical teaching. Further study needs to be performed to investigate the effectiveness of PSGW on the academic learning process.
PELATIHAN VAKSIN DAN KEJADIAN IKUTAN PASKA IMUNISASI COVID-19 SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN KADER KESEHATAN DI PUSKESMAS BATUA MAKASSAR Elly Lilianty Sjattar; Yuliana Syam; Abdul Majid; Indra Gaffar; Silvia Malasari
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2023
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v7i3.21829

Abstract

Knowledge about vaccines and follow-up events after COVID-19 immunization is essential for the public to know. This reduces anxiety due to incorrect reporting. The results of interviews with the Covid-19 Surveillance and Korim (Immunization Coordinator) at Batua Health Center stated that the coverage of the 2nd vaccination was still lacking, there were still residents who were more than six months apart from the first and second vaccines, there were still residents who did not want to vaccinate. 2nd for fear of side effects from vaccines. Healthcare assistants are extensions of health workers who live in the community in the working area of the Health Center. The role of health care assistant. The role of cadres motivates residents to carry out vaccines and find out the reaction of AEFI after the COVID-19 vaccine, as well as report to the nearest health service center if there is an AEFI reaction in its citizens. The service was carried out at Batua Health Center with the preparation, implementation, and evaluation stages. Knowledge of health care assistants has increased after training; this is evidenced by the results of the pre-post test, which shows ability in the excellent category has increased by 30%, while the less type has decreased by 20%. The development of healthcare assistants is significant to advance knowledge in identifying signs and symptoms of follow-up events after COVID-19 immunization and motivating residents to vaccinate to create herd immunity. Therefore, it is hoped that healthcare assistants can report follow-up events after the COVID-19 immunization to the Batua Health Center if residents have symptoms after the COVID-19 vaccination.  ---    Pengetahuan tentang vaksin dan kejadian ikutan paska imunisasi Covid-19 sangatlah penting untuk diketahui oleh masyarakat, hal ini berfungsi untuk mengurangi kecemasan akibat pemberitaan yang tidak benar. Hasil wawancara terhadap Surveilans Covid-19 dan Korim (koordinator imunisasi) di Puskesmas Batua, menyatakan bahwa cakupan vaksinasi ke-2 masih kurang, masih terdapat warga yang sudah lebih dari 6 bulan jarak dari vaksin pertama dan vaksin ke-2, masih ada warga yang tidak mau melakukan vaksin ke-2 karena takut efek samping dari vaksin. Kader kesehatan merupakan perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan yang berdomisili ditengah-tengah masyarakat diwilayah kerja Puskesmas. Peran kader berfungsi untuk memotivasi warga disekitar untuk melaksanakan vaksin dan mengetahui reaksi KIPI Paska pemberian vaksin Covid-19, serta melaporkan ke pusat layanan kesehatan terdekat jika terdapat reaksi KIPI pada warganya. Pengabdian dilakukan di Puskesmas Batua dengan tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengetahuan kader mengalami peningkatan setelah pelatihan, hal ini dibuktikan dengan hasil pre-pos tes yang memperlihatkan pengetahuan dengan kategori baik mengalami peningkatan sebanyak 30%, sedangkan kategori kurang mengalami penurunan sebanyak 20%. Pendampingan terhadap kader kesehatan sangatlah penting untuk meningkatkan pengetahuan dalam mengidentifikasi tanda dan gejala kejadian ikutan paska imunisasi Covid-19 dan memotivasi warga sekitar untuk melakukan vaksinasi, sehingga tercipta herd immunity. Olehkarena itu, diharapkan kader dapat melaporkan kejadian ikutan paska imunisasi Covid-19 ke Puskesmas Batua jika ditemukan warga yang memiliki gejala paska vaksinasi Covid-19.
PELATIHAN PENCEGAHAN KEJADIAN LUKA KAKI PADA PASIEN DIABETES DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UNIVERSITAS HASANUDDIN Elly Lilianty Sjattar; Saldy Yusuf; Yuliana Syam; Nurhaya Nurdin; Abdul Majid; Nur Ila; Zulfahmi
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Panrita Abdi - April 2024
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v8i2.31363

Abstract

Diabetes is one of the global health issues that can have severe consequences if left unmanaged. One of the long-term effects of untreated diabetes is the occurrence of diabetic foot ulcers that can lead to amputation. One effort to prevent diabetic foot ulcers in diabetic patients is by fulfilling their self-care needs through early detection education of the risk of diabetic foot ulcers. The purpose of this activity is to improve the knowledge of diabetic patients, thereby minimizing the risk of diabetic foot ulcers. The target of this community service is 53 diabetic patients and their families who visit the Internal Medicine Polyclinic at Hasanuddin University Hospital. The community service activities use presentation and Q&A methods, as well as demonstrations of each stage of physical activity training. The result of this activity is an increase in patient knowledge regarding the prevention of diabetic foot ulcers. Before the education, only 3 participants (5.7%) answered correctly, and there was an improvement at the end of the activity, with 12 participants (22.6%) answering correctly. The education on the prevention of the risk of diabetic foot ulcers went very smoothly, and diabetic patients and their families could learn ways to prevent complications, with the hope that they can apply this knowledge to their daily activities.   ||    Diabetes merupakan salah satu masalah kesehatan global yang memiliki dampak  buruk jika tidak tertangani. Salah satu efek jangka panjang dari diabetes yang tidak tertangani adalah terjadinya luka kaki yang berujung amputasi. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya luka kaki pada pasien diabetes adalah dengan pemenuhan kebutuhan self care melalui edukasi deteksi dini resiko terjadinya luka kaki diabetik. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan pasien diabetes. Sehingga resiko terjadinya luka kaki diabetes dapat diminimalisir. Sasaran pengabdian ini adalah 53 orang pasien diabetes dan keluarganya yang berkunjung ke Poliklinik Penyakit Dalam RSP. Universitas Hasanuddin. Kegiatan pengabdian menggunakan metode presentasi dan tanya jawab, serta demontrasi tiap tahapan latihan aktifitas fisik. Hasil dalam kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan pasien mengenai pencegahan kejadian luka kaki, dapat dilihat dari hasil analisis sebelum dilakukan penyuluhan hanya 3 orang peserta yang menjawab benar (5,7%) dan terjadi peningkatan diakhir kegiatan dengan menjawab benar sebanyak 12 orang (22,6%) menjawab dengan benar. Kegiatan penyuluhan tentang pencegahan resiko terjadinya luka kaki diabetes berjalan dengan sangat lancar, pasien diabetes dan keluarganya dapat mengetahui cara-cara pencegahan terjadinya komplikasi dan diharapkan dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam aktifitas kesehariannya.
Efektifitas Terapi Akupresur Terhadap Peningkatan Kualitas Tidur pada Pasien dengan Cardiovaskular Disease: Tinjauan Sistematis Hasdi Hasdi; Natalia Somalangi; Elly Lilianty Sjattar; Abdul Majid
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 8 No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v8i3.560

Abstract

Cardiovascular Disease (CVD) is a disease with the highest morbidity and mortality in the world today. Short sleep duration and poor sleep quality are associated with CVD incidence. Acupressure therapy is an alternative to improve sleep quality. The purpose of this review is to evaluate the effectiveness of acupressure therapy on improving the sleep quality of CVD patients. Method of the literature review follows PRISMA model. Data were retrieved through PubMED, ProQUEST, Science Direct, CINHAL, Wiley Online Library, Cochrane Library, Google Schoolar from 2016-2021 by using keywords: cardiovascular disease, quality of sleep, acupressure. The inclusions were full paper, In English language. The results showed six research articles: 4 articles reporting the RCT method and 2 articles using the Quasy Experiment method. The results of the study showed that acupressure therapy with a dose once a day for 2 minutes was effective in improving the sleep quality of CVD patients (score: 14-23) even though it was carried out with different variations and techniques in the procedure (p=0,00-0,05). The conclusion of this study shows that acupressure therapy has a positive impact on improving the sleep quality of CVD patients even though it is carried out with different variations and techniques.
Edukasi Bridging Exercise untuk Meningkatkan Kemampuan Kontrol Mikturisi pada Kelompok Lansia di Puskesmas Rappang Kabupaten Sidrap Abdul Majid; Wa Ode Nur Isnah; Ita Rini; A Muflihah Darwis; Yeri Mustari
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v8i1.988

Abstract

Urinary control disorders in the elderly are significant health problems that greatly affect quality of life, including decreased self-confidence and an increased risk of social isolation. Data from the Rappang Public Health Center, Sidrap Regency, in 2024  showed that approximately 35% of older adults experienced this condition. One effective intervention to address this problem is Bridging Exercise, a simple exercise aimed at strengthening the pelvic floor muscles. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of older adults in performing Bridging Exercise independently through education and demonstration. The activity was conducted at the Rappang Public Health Center, Sidenreng Rappang Regency, on Thursday, June 12, 2025, involving 51 older adults aged ≥65 years. The educational media used included PowerPoint presentations and leaflets, accompanied by direct demonstrations of Bridging Exercise movements. The pre-test and post-test results showed an increase in older adults knowledge from 2.0% to 76.5% after the intervention. These findings indicate that education combined with demonstration is effective in improving older adults’ understanding and skills and has the potential to be applied as a promotive and preventive intervention in older adult health services
Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen Dan Posisi Supine 45 Derajat Terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak Dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna Fahila Azmi Marasabessy; Abdul Majid
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v11i1.787

Abstract

Pneumonia menyumbang angka kesakitan yang tinggi dengan lebih dari setengah juta kasus yang dilaporkan setiap tahunnya pada anak usia di bawah lima tahun di Indonesia. Efektivitas oksigenasi pada pasien anak tidak hanya ditentukan oleh metode pemberian oksigen, tetapi juga oleh posisi tubuh selama perawatan. Berbagai posisi seperti prone, semirecumbent, fowler, dan lateral terbukti dapat meningkatkan saturasi oksigen, menstabilkan hemodinamik, dan mencegah kejadian ventilator-associated pneumonia (VAP). Tujuan dari tulisan ini, untuk menjelaskan Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen dan Posisi Supine 45 Derajat terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap An. A, pasien perempuan usia 4 tahun 7 bulan dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian oksigen 8 liter/menit melalui Simple Mask dan perubahan posisi menjadi supine dengan elevasi kepala 45°. Parameter vital signs dan saturasi oksigen dipantau setiap 30 menit. Berdasarkan hasil studi kasus yang dilakukan terhadap seorang pasien anak dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa; pemberian oksigen melalui Simple Mask dengan aliran 8 liter/menit yang dikombinasikan dengan posisi supine elevasi kepala 45° memberikan dampak positif terhadap stabilitas hemodinamik dan oksigenasi pasien selama fase awal observasi. Terjadi peningkatan tekanan darah dan MAP, penurunan frekuensi nadi dan napas, serta peningkatan saturasi oksigen secara signifikan hingga mencapai kondisi stabil selama kurang lebih 4 jam. Namun, efektivitas intervensi menurun pada fase akhir meskipun alat bantu pernapasan telah ditingkatkan, mengindikasikan bahwa intervensi lanjutan lebih invasif mungkin diperlukan pada kondisi yang memburuk. Secara keseluruhan, kombinasi terapi ini terbukti bermanfaat sebagai tindakan awal yang efektif, aman, dan dapat diterapkan di ruang IGD anak untuk pasien dengan kondisi serupa.
Pemantauan Hemodinamik Pada Tata Laksana Resusitasi Cairan Pasien Bradikardia Asimptomatik Dengan Riwayat Hipertensi Zilvia Muallim; Abdul Majid
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v11i1.796

Abstract

Kualitas hidup merupakan persepsi seseorang terhadap posisi mereka dalam kehidupan, yang dipengaruhi oleh konteks budaya, sistem nilai, dan lingkungan tempat tinggal. Kualitas hidup mencakup kesehatan fisik dan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan diri, serta interaksi dengan lingkungan sekitar. Pada pasien Diabetes Melitus, kualitas hidup dapat terpengaruh oleh kondisi penyakit kronis, pengelolaan kesehatan, serta dukungan sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dengan 12 item pertanyaan berdasarkan alat ukur WHOQOL-BREF. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kualitas hidup responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, 14 orang (46,7%) memiliki kualitas hidup baik, sedangkan 16 orang (53,3%) memiliki kualitas hidup kurang baik. Karakteristik responden didominasi oleh usia di atas 48 tahun (21 responden, 70%), perempuan (19 responden, 63,3%), pendidikan menengah (18 responden, 60%), dan sebagian besar tidak bekerja (22 responden, 73,3%). Kesimpulannya, sebagian besar pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih optimal, baik melalui manajemen kesehatan, dukungan psikologis, maupun interaksi sosial, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.