M Heni Winahyuningsih
ISI Yogyakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ABHILLANI ABHA’: KOREOGRAFI YANG TERILHAMI DARI NILAI HARGA DIRI DI MADURA Fatmawati Sugiono Putri; Maria Heni Winahyuningsih; Darmawan Dadijono
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6350

Abstract

RINGKASANAbhillani Abha’ merupakan judul karya penciptaan tari Abhillani merupakan istilah bahasa Madura yang berarti membela, dan Abha’ merupakan istilah bahasa Madura yang berarti diri (harga diri). Karya ini bersumber dari kebiasaan masyarakat Madura khususnya di daerah Bangkalan, dengan kasus carok yang dilakukan oleh laki-laki untuk melindungi atau mempertahankan harga dirinya. Secara signifikan carok dijadikan sumber materi dramatik dan sumber materi artistik pada penciptaan karya tari ini. Pelecehan dijadikan tema pada penciptaan karya tari. Berangkat dari pengalaman menyaksikan peristiwa carok, dan mengamati gerak pelaku carok dalam melakukan gerak silat serta ketrampilannya memainkan clurit, memicu ide gagasan dan ide kinestetik dalam proses penciptaan karya tari. Karya Tari ini merupakan karya koreografi kelompok, maka dipilih metode penciptaan tari dengan menggunakan konsep yang diutarakan oleh Jacqueline Smith dalam bukunya Dance Compotitions: A Practical Guide for Teacher (1976), tentang metode konstruksi tari yang terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap 1 tentang rangsang awal, tahap 2 tentang memilih motif menjadi komposisi, tahap 3 tentang menjadikan motif menuju komposisi kelompok, tahap 4 tentang bentuk tari, dan tahap 5 tentang elemen konstruksi. Properti celurit, motif Tari jawatimuran (Surabayan, Madura), gerak dasar silat, dan pola iringan jawatimuran (Surabayan, Madura) menjadi bahan- bahan untuk melakukan proses kreatif penciptaan Abhillani Abha’.ABSTRACTAbhillani Abha' is the title of a dance creation work. This work originated from the custom of the Madurese community, especially in the Bangkalan area, with the carok case committed by men to protect or maintain their dignity. Carok was significantly used as a source of dramatic material and a source of artistic material for the creation of this dance work. Harassment was used as a theme in the creation of dance work. Departing from the experience of witnessing the carok event, and observing the carok actor's movements in performing silat movements and his skills in playing clurit, triggering kinesthetic ideas and ideas in the process of creating dance works.This dance work is a group choreography, then the method of creating dance using the concept expressed by Jacqueline Smith in his book Dance Compotitions: A Practical Guide for Teachers (1976), about the dance construction method consisting of 5 stages, namely stage 1 about excitement beginning, stage 2 about choosing motifs into compositions, stage 3 about making motifs towards group composition, stage 4 about dance forms, and stage 5 about construction elements. The sickle property, the Jawatimuran dance motif (Surabayan, Madura), the basic movements of silat, and the Jawatimuran accompaniment pattern (Surabayan, Madura) became the materials to carry out the creative process of creating Abhillani Abha'.
PROSES ADAPTASI PERTUNJUKAN PANGGUNG KE VIDEO: Studi Kasus Karya Tari COLOHOK Ciptaan Anter Asmorotedjo Ammy Aulia Renata Anny; Koes Yuliadi; Maria Heni Winahyuningsih
Joged Vol 20, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v20i2.8206

Abstract

AbstrakPertunjukan panggung yang dialihmediakan menjadi video, merupakan contoh fenomena adaptasi dalam penciptaan karya seni. Begitupula yang terjadi dalam karya tari Colohok, ciptaan Anter Asmorotedjo dari Yogyakarta. Pada awal penciptaannya tahun 2014 silam, karya tari Colohok berbentuk pertunjukan panggung. Pada tahun 2020 dialihmediakan ke dalam format video tari, akibat kondisi pandemi Covid 19 melanda dan akses terhadap panggung pertunjukan menjadi terbatas. Kedua bentuk karya Colohok mengangkat topik ide penciptaan yang sama, yakni tokoh Petruk. Alih media dari pertunjukan panggung menjadi bentuk video, berdampak pada perbedaan metode penciptaan dan hasil akhir karya. Menurut Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Adaptation, adaptasi adalah proses repetisi akan tetapi bukan upaya duplikasi. Proses adaptasi menyangkut tiga aspek yang saling berhubungan. Transposisi yang ekstensif, dari suatu karya tertentu. Interpretasi ulang terhadap karya asal, kemudian penciptaan ulang menjadi bentuk karya baru. Ketiga, sebagai hasil resepsi intertekstual, yakni keterhubungan antara teks karya lain yang memiliki keterhubungan. Teori adaptasi ini digunakan sebagai kerangka, dalam menganalisis proses alihmedia dalam karya Colohok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, untuk menganalisis dan menguraikan topik penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus, dipilih karena menyelidiki dan menganalisis sebuah karya secara spesifik dan dianggap memenuhi kriteria dalam topik penelititan ini. Data didapatkan melalui pengamatan terhadap proses kerja yang dilakukan oleh kreator dalam mengadaptasi karya, yakni berdasarkan perspektif sutradara dan videografer. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, karya Colohok diresepsi dari teks Petruk dalam wujud wayang gaya Yogyakarta, adegan gara-gara, lakon carangan berjudul Petruk Dadi Ratu, mitos atau kapitayan tentang Petruk, simbol segitiga, film Opera Jawa, serta novel berjudul Gerbang Nuswantara. Re interpretasi bentuk pertunjukan panggung, dengan menetapkan tokoh, alur, dan adegan secara garis besar sama, kemudian di re kreasi dengan merespon bentuk, situasi, dan kondisi tempat pengambilan gambar yang telah ditetapkan. Pada tahap transposisi terdapat tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi terkait penyuntingan gambar berpengaruh besar terhadap hasil karya video tari ColohokAbstract Stage performances which are converted into videos, are example of the phenomenon of adaptation in the creation of art works. The same thing happened in the Colohok dance, created by Anter Asmorotedjo from Yogyakarta. At the beginning of its creation in 2014, Colohok dance were in the form of stage performances. In 2020 it was converted into dance video, due to the Covid 19 pandemic and access to the stage for performance was limited. Both forms of Colohok's work, raise the same idea of creation namely Petruk one of character in Javanese puppets. Transfer media from stage performances in to video forms, has an impact on differences in the method of creation and the final result of the work. According to Linda Hutcheon in her book A Theory of Adaptation, adaptation is a process of repetition but not duplication. In the adaptation process, involves three interrelated aspects. First, extensive transposition of a particular work. Second is re-interpretation of the original work, then re-creation into a new form. Third, as a result of intertextual reception, between the texts of other works that have a connection. This adaptation theory, is used as a framework to analyzing the process of media transfer in Colohok's work. This study uses qualitative methods, to analyze and describe the research topic. The approach used is a case study, because it investigates and analyzes a work specifically and is considered to meet the criteria in this research topic. The data is obtained through observing the work process carried out by the creator in adapting the Colohok’s work, based on the perspective of the director and videographer. The results of this study indicate that Colohok's works are reception from Petruk specifically in Yogyakarta-style puppets, the Gara-gara on of scene in puppet show, the carangan play entitled ‘Petruk Dadi Ratu’, myth or Kapitayan in Yogyakarta’ people, the triangle symbol, the Opera Jawa film, and the novel entitled Gerbang Nuswantara. Re-interpreting the form of stage performances, by setting the characters, plots, and scenes in the same outline, then re-creating them by responding to the shape, situation, and condition of the shooting location that has been determined. At the transposition process, have a pre-production, production, and post-production process related to editing the image which have a big influence on the work of the Colohok dance video and make it not just a documentation work.
Tatag De Penyawo: Perenungan Atas Identitas Kesukuan Winahyuningsih, M Heni
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v14i1.391

Abstract

ABSTRAK Tatag de Penyawo adalah sebuah koreografi kelompok yang ditampilkan oleh 9 orang penari laki-laki. Karya ini lahir dari hasil perenungan penata tari yang gelisah dengan identitas kesukuan. Paham animisme merupakan citra yang melekat pada kehidupan masyarakat suku Dayak, yang sebagaian besar dari kehidupan mereka sangat dekat dengan roh-roh leluhur, hal-hal supranatural, dan keyakinan yang kuat terhadap gejala-gejala alam dan tingkah laku binatang. Kepercayaan leluhur yang disebut kaharingan memberi ruang yang luas untuk melakukan berbagai upacara adat dengan penampilan berbagai kesenian. Ketika agama-agama besar mulai dikenal dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Dayak, tradisi upacara adat mulai ditinggalkan, dan keberadaan kesenian pun mulai terancam. Ada sebagaian sub suku Dayak yang ketika mulai memeluk agama baru tidak lagi mengakui sebagai bagian dari Suku Dayak, tetapi menyebut suku Melayu sebagai identitas kesukuannya. Hal inilah yang dialami oleh penata tari. Dia dilahirkan oleh seorang perempuan Suku Tidung yang memeluk agama Islam, sehingga harus menanggalkan kedayakannya, dan menjadi warga suku Melayu. Panggilan hati untuk terus menghormati tradisi kesukuan leluhurnya melalui aktivitas kesenian membuatnya tidak ingin kehilangan identitas sebagai orang Dayak yang beragama Islam. Melalui karya tari Tatag De Penyawo ini ia ingin merefl eksikan identitas kesukuannya, dengan mengeksplorasi pola-pola gerak yang terdapat dalam tari tradisi Dayak, Hudoq Kita`. Kata kunci: Dayak, identitas suku, Hudoq Kita`  ABSTRACT Tatag De Penyawo : The contemplation of ethnic identity. Tatag de Penyawo is a group of coreography performed by nine male performers. This piece was born from the coreographer’s contemplation who worries about the ethnic identity. Animism is an image which attaches to the social life of Dayak Tribe, which is very close to their ancestor’s spirit, supernatural things, and strong belief to the natural phenomena and animal behavior. The ancestral belief, which is called Kaharingan, gives a lot of opportunities to perform traditional ceremonies featuring a variety of arts. When the major religions _ rstly known and believed by Dayak people, the traditional ceremony had been left behind. The situation endangered the existence of arts. When some people of Dayak tribe started to follow the new religion, they claimed themselves as Melayu Tribe for their ethnic identity instead of Dayak Tribe. The situation had also affected the choreographer’s life. He was born by a Muslim Dayak lady, and consequently, the Dayak culture has been abandoned since he becomes a part of Melayu Tribe. The coreographer’s desire to honor his ancestor tradition with arts activities leads him to maintain his identity as a part of Dayak Tribe who follows Islam. By this piece of arts, Tatag De Penyawo, he wants to re_ ect his ethnical identity by exploring the movement pattern in traditional dance of Dayak, Hudoq Kita`. Keywords: Dayak dance, Ethnic identity, Hudoq Kita`
Fungsi Tari Gunungsari Kalibagoran di Masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas Suryaningsih, Suryaningsih; Winahyuningsih, M. Heni; Anggraeni, Agustin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13660

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan fungsi tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Tari Gunungsari Kalibagoran adalah tari tradisional tunggal putri gaya banyumasan. Penelitian terkait fungsi tari ini mencakup tiga elemen pokok yakni objek tari Gunungsari Kalibagoran, masyarakat Kalibagor, dan teori fungsi. Persoalan fungsi diselesaikan dengan teori Robert K. Merton yang menyatakan fungsi ke dalam dua kategori yaitu fungsi manifest yakni akibat atau konsekuensi positif yang tampak dan fungsi latent yakni akibat atau konsekuensi positif yang tersembunyi. Fungsi latent walaupun tersembunyi namun terus mengikuti dan suatu saat dapat muncul dan menjadi penjaga keutuhan dalam suatu masyarakat. Merton tidak menyebutkan secara spesifik fungsi tari, maka dalam penelitian ini teori fungsi Merton dibantu oleh konsep Kraus untuk memudahkan kategorisasi fungsi tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi manifest dalam tari Gunungsari Kalibagoran ialah bentuk tarinya, berfungsi sebagai hiburan, dan berfungsi sebagai pekerjaan. Fungsi latent atau fungsi yang tersembunyi dalam tari tersebut yakni fungsi konseptual (nilai sosial, nilai historis, nilai kesuburan, dan nilai estetis), fungsi kontinyuitas atau keberlangsungan tari, fungsi pemelihara sistem kelas sosial, serta fungsi penguat identitas bagi masyarakat Banyumas.The Function of the Gunungsari Kalibagoran Dance in the Community of Kalibagor Village, Kalibagor District, Banyumas RegencyThis article describes the functions of the Gunungsari Kalibagoran dance within the community of Kalibagor Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency. The Gunungsari Kalibagoran dance is a traditional solo female dance in the Banyumasan style. The research on the functions of this dance encompasses three key elements: the dance as an object, the Kalibagor community, and functional theory. The issue of function is analyzed using Robert K. Merton's theory, which categorizes functions into two types: manifest functions, which are visible positive outcomes, and latent functions, which are hidden positive outcomes. Latent functions, although concealed, persist and may emerge to serve as a unifying force within society. Since Merton does not explicitly address dance functions, this research integrates Merton's functional theory with Kraus's concepts to categorize dance functions. The findings reveal that the manifest functions of the Gunungsari Kalibagoran dance include its form, its role as entertainment, and its economic function as a livelihood. The latent functions of the dance include conceptual functions (social, historical, fertility, and aesthetic values), the continuity of the dance tradition, its role in maintaining the social class system, and its reinforcement of Banyumas's communal identity.
BENTUK PENYAJIAN BEKSAN AJI SAKA YASAN SRI SULTAN HB KA-10 PADA UYON-UYON HADILUHUNG 1 FEBRUARI 2021 DI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT Suprobo, Warih Sungging; Winarti, Tutik; Winahyuningsih, M. Heni
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17922

Abstract

ABSTRAKBeksan Ajisaka merupakan salah satu tarian Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 yang terilhami dari Serat Ajisaka. Serat tersebut merupakan pemaknaan dari aksara Jawa yang berisi ajaran luhur kehidupan manusia di dunia, yakni tindakan hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia kepada Tuhan. Penciptaan Beksan Ajisaka mengalami proses intermedialitas yang berawal dari Serat Ajisaka kemudian menjadi sebuah wujud sajian karya tari. Pijakan garap Beksan Ajisaka adalah tari klasik gaya Yogyakarta, yang dikembangkan dari konsep beksan sekawanan (4 orang), namun dibawakan dua pasang sehingga menjadi delapan orang sebagai Wadya. Ditambah dengan dua orang penari sebagai tokoh Ajisaka sehingga keseluruhan penari berjumlah sepuluh orang. Sepuluh orang penari Beksan Ajisaka merepresentasikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Beksan Ajisaka yang disajikan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung tanggal 1 Februari 2021 bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Manis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdurasi kurang lebih 50 menit. Penyajian Beksan Ajisaka ini merupakan sajian yang paling utuh dan lengkap, karena pada perjalanan selanjutnya ada pemangkasan durasi pertunjukan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tekstual untuk menganalisis bentuk penyajian dan makna yang terkandung dalam Beksan Ajisaka.ABSTRACTBeksan Ajisaka is one of the dances of the Yogyakarta Palace created by Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 which was inspired by Serat Ajisaka. The fiber is the meaning of the Javanese script which contains the noble teachings of human life in theworld, namely the act of relationship between fellow humans and human relationships with God. The creation of Beksan Ajisaka experienced an intermediacy process starting from Serat Ajisaka which later became a form of presentation of dance works. The footing of Beksan Ajisaka is a Yogyakarta-style classical dance, which was developed from the concept of a flock of people (4 people), but performed by two pairs so that it became eight people as Wadya. Coupled with two dancers as Ajisaka figures, the total number is ten people. Ten Beksan Ajisaka dancers represent the throne of Sri Sultan Hamengku Bawono Ka- 10.Beksan Ajisaka is a dance presentation with the concept of bedhayan by adapting some of the essence of the Yogyakarta style bedhaya 9 dance concept with different visual development and meaning. In the presentation, Beksan Ajisaka packaged the development of the existing Yogyakarta style tradition such as dance movements, floor patterns, accompaniment, clothing, and the form of the presentation. The form of dance movements, floor patterns, accompaniment and clothing are symbolic messages of the Sultan that will be conveyed through the form of presentation of Beksan Ajisaka.
Peningkatan Budidaya Bunga Telang Melalui Teknologi Rumah Paranet untuk Pengendalian Hama dan Peningkatan Produktivitas Kuswarsantyo; Wakid, Muhkamad; Asri Widowati; Heni Winahyuningsih; Aisyah Rohmatunnisa; Sabrina Aisyah; Zafaron Wasillah Khajati; Maulina Jazhilatul Khikmiah
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpmmp.v10i1.94535

Abstract

Pengembangan Sendangsari sebagai Desa Mandiri Budaya memerlukan pasokan komoditas lokal yang berkelanjutan untuk menopang ekonomi kreatif dan UMKM desa. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah bunga telang (Clitoria ternatea L.), tetapi budidaya lahan terbuka menghadapi hambatan utama berupa serangan hama defoliator (belalang dan ulat pemakan daun) serta fluktuasi lingkungan tumbuh yang menyebabkan pembungaan tidak stabil. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan menerapkan teknologi budidaya terlindung sebagai strategi mitigasi risiko hama dan mikroklimat, sekaligus memperkuat kapasitas kelompok mitra dalam pengelolaan sistem produksi. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok Global Gotong Royong Tetrapreneur (G2RT) melalui siklus perencanaan–aksi–refleksi: diagnosis masalah budidaya, pembangunan rumah paranet (screen house paranet #65%) untuk uji coba pada 200 tanaman, penguatan SOP budidaya (sanitasi kebun, pemangkasan, pemupukan, dan standar panen), serta monitoring berbasis logbook panen dan catatan tekanan hama. Hasil menunjukkan bahwa pada kebun terpusat, produksi lahan terbuka mencapai rata-rata ±2000 g/hari (Feb–Mar 2025), tetapi rentan terhadap serangan hama; pada periode Okt–Des 2025, produksi agregat kebun mencapai ±2500 g/hari, dengan kontribusi ±1925 g/hari dari 800 tanaman terbuka dan ±575 g/hari dari 200 tanaman dalam unit terlindung. Produktivitas indikatif per tanaman pada unit terlindung lebih tinggi (±2,88 g/tanaman/hari) dibandingkan unit terbuka (±2,41 g/tanaman/hari) pada periode yang sama. Mitra juga melaporkan adanya perbaikan dalam konsistensi mutu visual bunga. Temuan ini menunjukkan bahwa paket mitigasi berbasis budidaya terlindung yang dipadukan dengan pendampingan PAR dan SOP dapat membantu menstabilkan produksi dan memperkuat keberlanjutan pasokan bahan baku bagi UMKM desa.