Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Factors Influencing Musculoskeletal Disorder (MSDs) Complaints Among Shallot Farmers in Tempo Hamlet, Enrekang Regency Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Ade Rivai
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61424

Abstract

Gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang paling umum terjadi pada sektor pertanian, terutama pada petani yang bekerja dengan postur tidak ergonomis dan beban fisik yang berulang. Petani bawang merah menghadapi risiko tinggi karena pekerjaan mereka melibatkan posisi membungkuk dan jongkok dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keluhan MSDs pada petani bawang merah di Dusun Tempo, Desa Tempo, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petani bawang merah di Dusun Tempo yang berjumlah 67 orang, yang seluruhnya direkrut melalui teknik total sampling. Keluhan MSDs diukur menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM), sedangkan postur kerja dinilai dengan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, dengan uji Fisher's Exact diterapkan pada tabel yang memiliki frekuensi harapan kecil. Sebagian besar responden (80,6%) melaporkan keluhan MSDs pada kategori nyeri. Postur kerja (p=0,018), masa kerja (p<0,001), usia (p=0,011), dan jenis kelamin (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan keluhan MSDs, sedangkan durasi kerja harian tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,545). Keluhan MSDs pada petani bawang merah dipengaruhi oleh postur kerja, masa kerja, usia, dan jenis kelamin, tetapi tidak dipengaruhi oleh durasi kerja harian. Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi ergonomi, pengaturan jadwal kerja-istirahat yang lebih baik, serta deteksi dini keluhan otot, terutama bagi petani berusia lanjut dengan masa kerja yang panjang.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Dermatitis Kontak Iritan Pada Karyawan Pencucian Mobil di Kota Makassar Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Qizas Afandi Umar
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.287

Abstract

Kesehatan kerja merupakan aspek atau unsur kesehatan yang erat berkaitan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Mencegah timbulnya gangguan Kesehatan yang disebabkan oleh kondisi kerja, melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang timbul akibat pekerjaan, dan menempatkan tenaga kerja pada suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisik atau faal tubuh dan mental psikologis tenaga kerja yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ontri yang berhubungan dengan kejadian gejala dermatitis kontak iritan pada karyawan pencucian mobil di Kota Makassar. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah jenis penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di pencucian mobil di jalan perintis kemerdekaan Kota Makassar. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan personal hygne seluruh pekerja tidak menerapkan kriteria secara benar dimana seluruh responden hanya mencuci tangan, Dermatitis kontak akibat kerja didefinisikan sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan ontri penyebab yang utama serta ontri ontributor, Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja, karena dengan mengunakan APD dapat terhindar dari cipratan bahan kimia dan menghindari kontak langsung dengan bahan kimi, Riwayat penyakit kulit dalam penelitian ini merupakan pekerja yang sebelumnya atau sedang menderita penyakit kulit akibat kerja. Saran dari penelitian ini adalah penyediaan APD, menggunakan APD untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja.
Penempatan Alat Pemadam Api Ringan Di PT. Sinar Kasih Soroako Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur Muhammad Akbar Salcha; Adji Irsandy
Jurnal Ilmiah OHSE (Occupational Health Safety Environment) MEDIA Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah OHSE Media (Occupational Health Safety Environment)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi dimana bertemunya 3 unsur kebakaran yakni bahan yang mudah terbakar, oksigen yang terdapat di udara. APAR adalah salah satu sistem proteksi kebakaran yang wajib ada di setiap perusahaan atau tempat kerja. Dimana setiap perusahaan termaksud PT Sinar Kasih Soroako harus mempunyai Kesedian APAR sesuai dengan Peraturan yang berlaku yaitu menurut Permenakertrans No. 04 tahun 1980 tentang syarat-syarat Pemasangan dan pemeliharaan APAR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penempatan dan pemeliharaan APAR di PT. Sinar Kasih Soroako sesuai dengan Permenakertrans No. 04 tahun 1980. Penelitian ini menggunakan metode deksriftif kualitatif dengan objek penelitian APAR yang digunakan yang berjumlah 15 APAR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penempatan APAR yang tidak sesuai berjumlah 9 APAR (60.0%), jenis APAR yang digunakan yaitu Dry Chemical Powder dan pemeliharan APAR yang dilakukan sudah sesuai dengan Permenakertrans No. 04 tahun 1980. Kesimpulan dalam penelitian ini penempatan Apar yang ada di PT. Sinar Kasih Soroako sudah sesuai dengan Permenakertrans No 4 Tahun 1980 dan jenis Apar yang ada di PT.Sinar Kasih Soroako yaitu Jenis Apar Dry Chemical Powder serta pemeliharan Apar yang ada di PT. Sinar Kasih Soroako sudah sesuai dengan Permenakertrans No 4 Tahun 1980. Diharapkan pihak perusahaan lebih memperhatikan tentang penempatan APAR, meningkatkan kemampuan pekerja dalam penggunaan APAR serta meningkatkan kegiatan pemeliharaan APAR.